<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kolom &#8211; Gerbang Betawi</title>
	<atom:link href="https://gerbangbetawi.com/kategori/kolom/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://gerbangbetawi.com</link>
	<description>Gerakan Kebangkitan Betawi</description>
	<lastBuildDate>Mon, 02 Feb 2026 06:02:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://res.cloudinary.com/du66xc8mf/images/w_32,h_32,c_fill,g_auto/f_webp,q_auto:low/v1725435610/cropped-gerbang-betawi-4-1/cropped-gerbang-betawi-4-1.webp?_i=AA</url>
	<title>Kolom &#8211; Gerbang Betawi</title>
	<link>https://gerbangbetawi.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Nisfu Sya&#8217;ban, Tradisi Islam yang Terus Dipertahankan</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/nisfu-syaban-tradisi-islam-yang-terus-dipertahankan/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/nisfu-syaban-tradisi-islam-yang-terus-dipertahankan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Feb 2026 06:02:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=646</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Murodi al-Batawi* Insya Allah, nanti malam merupakan pertengahan bulan Sya’ban, <a class="read-more" href="https://gerbangbetawi.com/nisfu-syaban-tradisi-islam-yang-terus-dipertahankan/" title="Nisfu Sya&#8217;ban, Tradisi Islam yang Terus Dipertahankan" itemprop="url"></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi*</strong></em></p>
<p>Insya Allah, nanti malam merupakan pertengahan bulan Sya’ban, dalam tradisi Islam dikenal dengan istilah Nisfu Sya’ban.</p>
<p>Nisfu Sya&#8217;ban yang berarti pertengahan bulan Sya&#8217;ban, merupakan salah satu malam yang dimuliakan dalam tradisi Islam, meskipun terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai status hukum perayaannya.</p>
<p>Tulisan ini mengkaji hikmah perayaan malam Nisfu Sya’ban. Berdasarkan studi literatur terhadap sumber-sumber primer dan sekunder, tulisan ini menemukan bahwa Nisfu Sya&#8217;ban mengandung dimensi spiritual yang kaya sebagai momentum introspeksi diri, pengampunan, dan persiapan menyambut Ramadan, serta dimensi sosial sebagai sarana penguatan solidaritas komunitas Muslim.</p>
<p>Selain itu, tulisan ini juga menganalisis perkembangan tradisi Nisfu Sya&#8217;ban di berbagai budaya Muslim dengan tetap memperhatikan perbedaan pandangan fikih yang ada.</p>
<p>Nisfu Sya&#8217;ban, yang jatuh pada tanggal 15 bulan Sya&#8217;ban dalam kalender Hijriyah, telah menjadi bagian dari tradisi spiritual Muslim selama berabad-abad.</p>
<p>Meskipun terdapat perdebatan di kalangan ulama mengenai legalitas perayaan khusus pada malam ini, praktiknya telah mengakar dalam banyak budaya Muslim dunia. Momentum ini diyakini sebagai waktu istimewa untuk introspeksi, permohonan ampunan, dan persiapan spiritual menyambut bulan Ramadan.</p>
<p>Terdapat banyak hadis tentang perayaan malam Nisfu Sya’ban, salah sayunya hadits dari Mu&#8217;adz bin Jabal RA: Rasulullah SAW bersabda: &#8220;<em>Allah memperhatikan semua makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya&#8217;ban, maka Dia mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan</em>.&#8221;</p>
<p>Kemudian ada hadits dari Aisyah RA: <em>Rasulullah SAW keluar pada malam itu (Nisfu Sya&#8217;ban), lalu beliau shalat di pemakaman Baqi&#8217;, dan beliau mendoakan mereka&#8230; .</em></p>
<p>Sementara ada beberapa pendapat. Ulama tentang tradisi perayaan malam Nisfu Sya’ban, di antaranya pendapat Imam Syafi&#8217;i yang menganjurkan shalat sunnah khusus pada malam Nisfu Sya&#8217;ban. Sementara Imam al-Ghazali menganggapnya sebagai malam yang mustajab untuk berdoa.</p>
<p>Sementara para fuqaha lain memiliki pandangan berbeda mengenai tradisi perayaan malam Nisfu Sya’ban. Ada kelompok yang menganjurkan dan ada kelompok yang meragukan.</p>
<p>Sementara kelmpok yang menganjurkan perayaan malam Nisfu Sya’ban berargumen berdasarkan hadits-hadits yang diriwayatkan menelankan pada aspek spiritual dan pendidikan dan menganggapnya sebagai tradisi yang baik <em>(bid&#8217;ah hasanah)</em>.</p>
<p>Sedang kelompok yang meragukan selalu mempertanyakan kualitas sanad beberapa hadis dan dikhawatirkan Nisfu Sya’ban menyerupai perayaan non-Muslim, selain menganggapnya sebagai bid&#8217;ah yang tidak berdasar.</p>
<h3>Hikmah Spiritual Nisfu Sya&#8217;ban</h3>
<p><strong>Momentum Introspeksi Diri (Muhasabah)</strong></p>
<p>Nisfu Sya&#8217;ban berfungsi sebagai waktu khusus untuk berdo’a dan bertaubat. Selain itu juga sebagai bagian dari Evaluasi spiritual, Menilai amalan setahun terakhir. Juga sebagai persiapan datangnya bulan. Ramadan dan menyusun agenda spiritual tahun tahun berikutnya.</p>
<ul>
<li>Persiapan Ramadan: Mental dan spiritual untuk bulan puasa</li>
<li>Perencanaan ibadah: Menyusun agenda spiritual tahun depan.</li>
</ul>
<p>Disamping itu, perayaan malam Nisfu Sya’ban saat yang tepat untuk taubat dan minta ampunan dari Allah Swt. Selain itu juga sebagai media dan momentum untuk mendekatkan diri pada Allah swt. Sang Pencipta.</p>
<p>Ada hal menarik yang perlu ditegaskan di sini, yaitu <strong>Transfer catatan amalan.</strong></p>
<p>Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa pada malam Nisfu Sya&#8217;ban:</p>
<ul>
<li>Catatan amalan tahun sebelumnya diangkat</li>
<li>Catatan baru untuk tahun berikutnya dimulai</li>
<li>Penentuan takdir tahunan dilakukan.</li>
</ul>
<p>Selain itu, perayaan malam Nisfu Sya’ban juga merupakan momentum dalam penyambutan bulan suci Ramadan.</p>
<p>Selain memperbanyak amalan spiritual, seperti shalat-shalat sunnah, berdo’a dan berdzikir, juga dianjurkan untuk melaksanakan amalan sosial, seperti bersilaturrahim untuk mempererat ikatan persaudaraan dan perbanyak sadaqah.</p>
<p>InsyaAllah kalau semua itu diamalkan, semua kesalahan yang kita lakukan akan diampuni Allah swt. Aamiiin.</p>
<p>Semoga bermanfaat. [Odie].</p>
<p>Pamulang, 02 Februari 2026.</p>
<p>*<em>Murodi Al Batawi adalah nama pena dari Prof. Dr. Murodi, M.A., Guru Besar Sejarah dan Kebudayaan Islam di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta</em></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/nisfu-syaban-tradisi-islam-yang-terus-dipertahankan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/asset.tribunnews.com/glOQxchz88ORQRyKAelQ9kQFljU=/1200x675/filters:upscale():quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260127_malam-Nisfu-Syaban_jadwal-puasa-Nisfu-Syaban_niat.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>HARI SANTRI NASIONAL: Perspektif Sosiohistoris Filosofis</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/hari-santri-nasional-perspektif-sosiohistoris-filosofis/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/hari-santri-nasional-perspektif-sosiohistoris-filosofis/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Oct 2025 07:12:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=633</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Murodi al-Batawi Tulisan ini mencoba berusaha menganalisis Hari Santri Nasional (HSN) <a class="read-more" href="https://gerbangbetawi.com/hari-santri-nasional-perspektif-sosiohistoris-filosofis/" title="HARI SANTRI NASIONAL: Perspektif Sosiohistoris Filosofis" itemprop="url"></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Tulisan ini mencoba berusaha menganalisis Hari Santri Nasional (HSN) yang diperingati setiap 22 Oktober di Indonesia melalui pendekatan sosio-historis filosofis. HSN bukan hanya sekadar penanda tanggal, tetapi merupakan konstruksi sosial yang merepresentasikan narasi historis, nilai filosofis, dan identitas keagamaan dalam konteks _*nation-building_*. Melalui pendekatan sosio-historis. Selain itu, tulisan ini mencoba menelusuri akar historis penetapan HSN yang merujuk pada _*Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama tahun 1945_*. Sementara melalui pendekatan filosofis, tulisan ini mengkaji makna mendalam di balik konsep &#8220;santri&#8221; dan relevansinya dengan filosofi kebangsaan Indonesia. Analisis menunjukkan bahwa HSN berfungsi sebagai medium reaktualisasi peran santri sebagai _*agent of change_*, peneguh identitas keislaman yang moderat, serta penyatu relasi antara Islam dan nasionalisme dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.</p>
<p>22 Oktober Sebagai Hari Santri Nasional</p>
<p>Hari Santri Nasional (HSN), yang ditetapkan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015 oleh Presiden Joko Widodo, merupakan sebuah kebijakan negara yang memiliki muatan makna yang dalam dan kompleks. Secara permukaan, HSN merupakan bentuk apresiasi negara terhadap kontribusi kaum santri dalam perjalanan sejarah bangsa. Namun, di balik itu, HSN adalah sebuah fenomena sosial-budaya yang dapat dibaca sebagai sebuah teks besar tentang relasi agama dan negara, rekonstruksi memori kolektif, dan formasi identitas keindonesiaan.</p>
<p>Tulisan ini berusaha mengurai lapisan-lapisan makna HSN dengan menggunakan pisau analisis **sosio-historis** dan **filosofis**. Pendekatan sosio-historis digunakan untuk melacak akar peristiwa sejarah yang melatarbelakangi penetapan tanggal 22 Oktober, serta dampak sosial dari dikembangkannya narasi tersebut dalam kesadaran masyarakat kontemporer. Sementara pendekatan filosofis dipakai untuk menyelami esensi konsep &#8220;santri&#8221; dan nilai-nilai filsafat apa yang terkandung dalam peringatan HSN, khususnya dalam kaitannya dengan filosofi bangsa Indonesia, yaitu Pancasila.</p>
<p>Konstruksi Sosio-Historis:<br />
Dari Resolusi Jihad 1945 ke Hari Santri Nasional 2015</p>
<p>Latar belakang historis penetapan HSN pada 22 Oktober tidak dapat dilepaskan dari peristiwa bersejarah yang dikenal sebagai **Resolusi Jihad** yang dikeluarkan oleh Pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy&#8217;ari pada 22 Oktober 1945 di Surabaya. Resolusi ini merupakan seruan religius yang mewajibkan umat Islam, khususnya santri, untuk berjihad mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman kembalinya penjajah Belanda yang membonceng Sekutu.</p>
<p>Resolusi Jihad menjadi pemicu spiritual dan moral bagi meletusnya pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan. Pidato Bung Tomo yang membakar semangat arek-arek Suroboyo tidak dapat dipisahkan dari atmosfer religius yang diciptakan oleh Resolusi Jihad tersebut. Dengan demikian, narasi historis ini membangun sebuah *historical claim* bahwa kaum santri memiliki andil yang absolut dalam mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan Republik Indonesia yang masih muda.</p>
<p>Namun, selama puluhan tahun, narasi heroik ini cenderung terpinggirkan dalam historiografi nasional yang lebih dominan diwarnai oleh perspektif militer-sekuler. Penetapan HSN pada 2015, oleh karena itu, dapat dilihat sebagai sebuah proses rekonstruksi dan reaktualisasi memori kolektif Negara, melalui kebijakannya, secara resmi mengakui dan mengintegrasikan peran sejarah kaum santri ke dalam narasi besar sejarah nasional. Ini adalah sebuah bentuk *nation-building* yang inklusif, di mana kelompok-kelompok yang sebelumnya merasa terpinggirkan mendapatkan pengakuan simbolis.</p>
<p>Dari perspektif sosiologis, HSN juga menjadi alat konsolidasi identitas &#8220;santri&#8221; yang lebih luas. Istilah &#8220;santri&#8221; tidak lagi hanya merujuk pada siswa yang belajar di pesantren tradisional (salaf), tetapi juga meliputi muslim Indonesia yang mengidentifikasikan diri dengan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama&#8217;ah, Islam yang moderat (wasathiyah), dan berkontribusi untuk bangsa. HSN dengan demikian menjadi medium untuk memperkuat identitas keislaman yang sejalan dengan cita-cita nasional.</p>
<p>_*Esensi &#8220;Santri&#8221; dan Filsafat Kebangsaan_*</p>
<p>Secara filosofis, konsep &#8220;santri&#8221; melampaui makna sosiologisnya sebagai sebuah kelompok masyarakat. &#8220;Santri&#8221; adalah sebuah entitas yang mengandung nilai-nilai filsafat hidup yang relevan dengan bangsa Indonesia.</p>
<p>_*Pertama. Filsafat Ilmu Pengetahuan_*.</p>
<p>Pesantren sebagai institusi utama kaum santri memiliki tradisi keilmuan (*sanad ilmu*) yang kuat. Dalam tradisi _*Turats_* ada proses pembelajaran _*Kitab Ta’lim Muta’allim_* seorang santri diajarkan untuk menghormati pengetahuan, guru (*ta&#8217;dzim al-ustadz*), dan proses pembelajaran sepanjang hayat (*long life education*). Nilai ini sejalan dengan semangat mencerdaskan kehidupan bangsa yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945.</p>
<p>_*Kedua,Filsafat Moral dan Etika_*</p>
<p>Dunia pesantren menekankan pada pembentukan akhlakul karimah (budi pekerti yang luhur). Seorang santri tidak hanya dinilai dari kepintarannya, tetapi dari integritas moral dan karakternya. Nilai-nilai seperti kejujuran, kesederhanaan (*zuhud*), tanggung jawab, dan sikap menghormati perbedaan (*tawasuth, tawazun, tasamuh*) merupakan fondasi karakter bangsa yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi tantangan modernitas.</p>
<p>_*Ketiga,Filsafat Politik dan Kebangsaan_*</p>
<p>Sumpah setia kaum santri kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Pancasila memiliki dasar teologis yang kuat. Frasa *hubbul wathan minal iman* (cinta tanah air adalah bagian dari iman) yang digaungkan oleh KH. Hasyim Asy&#8217;ari telah menjadi filosofi politik kaum santri. Frasa ini memadukan secara dialektis antara nasionalisme dan religiositas. Cinta tanah air bukan sekadar emosi semata, tetapi merupakan ekspresi dari keimanan. Dalam perspektif ini, membela Indonesia sama halnya dengan membela agama. Ini adalah landasan filosofis yang sangat kokoh untuk menjaga keutuhan NKRI.</p>
<p>Hari Santri Nasional, dengan demikian, merupakan penegasan kembali (*reaffirmation*) dari filosofi *hubbul wathan minal iman*. Peringatan ini adalah momentum untuk merefleksikan dan mengaktualisasikan nilai-nilai luhur kepesantrenan—seperti ketawadhuan, keilmuan, dan patriotisme—dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara di abad ke-21.</p>
<p>Berdasarkan analisis sosio-historis filosofis, dapat disimpulkan bahwa Hari Santri Nasional adalah sebuah konstruksi sosial yang memiliki legitimasi historis yang kuat, berakar pada peristiwa Resolusi Jihad 1945. HSN bukanlah penciptaan sejarah baru, melainkan pengakuan negara terhadap narasi sejarah yang telah hidup di kalangan masyarakat santri.</p>
<p>Secara filosofis, HSN mengandung makna yang mendalam sebagai peneguh identitas keindonesiaan yang religius. Konsep &#8220;santri&#8221; membawa nilai-nilai filsafat yang esensial bagi pembangunan karakter bangsa, yaitu filsafat ilmu, moral, dan kebangsaan. Filsafat *hubbul wathan minal iman* menjadi jembatan yang menyatukan komitmen keagamaan dan nasionalisme, menjadikan santri sebagai pilar penting dalam menjaga persatuan dan mengisi kemerdekaan.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/hari-santri-nasional-perspektif-sosiohistoris-filosofis/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/ik.imagekit.io/goodid/gnfi/uploads/articles/large-desain-poster-hari-santri-nasional-2025-6wTaUQrbI9.jpg?tr=w-449%2Ch-252%2Cfo-center&#038;ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Tradisi Menyambut Hari Santri di Indonesia</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/tradisi-menyambut-hari-santri-di-indonesia/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/tradisi-menyambut-hari-santri-di-indonesia/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 11 Oct 2025 13:09:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=628</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Murodi al-Batawi Para Santri, Kyai dan Pesantren kini memiliki tradisi baru <a class="read-more" href="https://gerbangbetawi.com/tradisi-menyambut-hari-santri-di-indonesia/" title="Tradisi Menyambut Hari Santri di Indonesia" itemprop="url"></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Para Santri, Kyai dan Pesantren kini memiliki tradisi baru setelah pemerintah menetapkan hari jadi Santri pada setiap 22 Oktober 2015. Semua merasa senang karena secara langsung sejak ratusan tahun lalu, sejak keberadaan santri dan pesantren, baru ada pengakuan negara atas peran dan kontribusi para Santri dalam berbagai bidang; pendidikan, ekonomi dan politik dan lain sebagainya. Karena itu, menjelang peringatan HSN(Hari Santri Nadional), dilakukan berbagai kegiatan yang kemudian menjadi sebuah tradisi yang dikembangkan oleh Muslim Indonedia.</p>
<p>Untuk itu, tulisan ini bermaksud menganalisis berbagai tradisi dan bentuk perayaan dalam menyambut Hari Santri Nasional (HSN) yang diperingati setiap 22 Oktober di Indonesia. Paling tidak ada tiga bentuk utama tradisi perayaan HSN: (1) tradisi seremonial-kenegaraan, (2) tradisi keagamaan-edukatif, dan (3) tradisi kultural-kreatif. Berbagai tradisi tersebut tidak hanya bersifat seremonial belaka, tetapi mengandung makna simbolis yang dalam sebagai medium revitalisasi identitas santri, konsolidasi sosial, dan transformasi citra santri dalam konteks masyarakat modern. Tulisan ini juga mengkaji dinamika perkembangan tradisi HSN dari tahun 2015 hingga sekarang yang menunjukkan semakin inklusif, kreatif, dan terintegrasi dengan perkembangan zaman.</p>
<p><strong>HSN dan Lahirnya Tradisi Baru</strong></p>
<p>Hari Santri Nasional (HSN) yang ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 tidak hanya sekadar penanda kalender nasional, tetapi telah melahirkan berbagai tradisi dan praktik perayaan yang khas di seluruh Indonesia. Perayaan HSN telah berkembang menjadi sebuah fenomena sosial-budaya yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari level pemerintah, organisasi keagamaan, pesantren, hingga masyarakat umum.</p>
<p>Tradisi-tradisi yang muncul dalam menyambut HSN menarik untuk dikaji karena merepresentasikan dinamika kontemporer dari identitas kesantrian di Indonesia. Jika dahulu santri sering diidentikkan dengan komunitas yang tertutup dan tradisional, maka perayaan HSN menunjukkan wajah santri yang modern, kreatif, dan terlibat aktif dalam ruang publik.</p>
<p>Penulisan ini juga bertujuan untuk: (1) Mengidentifikasi berbagai bentuk tradisi dalam menyambut HSN; (2) Menganalisis makna simbolis di balik tradisi-tradisi tersebut; (3) Mengkaji dinamika perkembangan tradisi perayaan HSN dari masa ke masa.</p>
<h3>Bentuk-Bentuk Tradisi Menyambut Hari Santri Nasional</h3>
<p><strong>Tradisi Seremonial-Kenegaraan</strong></p>
<p>Tradisi ini bersifat formal dan melibatkan institusi negara. Bentuk-bentuknya antara lain:</p>
<p><strong>Upacara Kenegaraan</strong></p>
<p>Dilaksanakan di istana negara dan di berbagai instansi pemerintah daerah. Upacara ini biasanya dihadiri oleh presiden, menteri, dan pimpinan organisasi keagamaan.</p>
<p><strong>Penganugerahan Penghargaan</strong></p>
<p>Pemberian penghargaan kepada santri, kyai, dan pesantren yang berprestasi dalam berbagai bidang, seperti pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan perdamaian.</p>
<p><strong>Pembacaan Resolusi Jihad</strong></p>
<p>Menghidupkan kembali pembacaan teks Resolusi Jihad KH. Hasyim Asy&#8217;ari sebagai pengingat historis peran santri dalam perjuangan kemerdekaan.</p>
<p><strong>Tradisi Keagamaan-Edukatif</strong></p>
<p>Tradisi ini berpusat di pesantren dan lembaga pendidikan Islam:</p>
<p><strong>Pengajian Akbar</strong></p>
<p>Diselenggarakan di masjid-masjid besar maupun di lapangan terbuka, menghadirkan ulama-ulama terkemuka sebagai pembicara.</p>
<p><strong>Lomba-Lomba Keislaman</strong></p>
<p>Berbagai kompetisi seperti MTQ, pidato agama, kaligrafi, dan debat islami yang melibatkan santri dari berbagai pesantren.</p>
<p><strong>Diskusi dan Seminar</strong></p>
<p>Membahas tema-tema aktual terkait peran santri di era modern, moderasi beragama, dan kontribusi santri untuk bangsa.</p>
<p><strong>Tradisi Kultural-Kreatif</strong></p>
<p>Tradisi ini mencerminkan adaptasi santri dengan perkembangan zaman:</p>
<p><strong>Festival Budaya Santri</strong></p>
<p>Menampilkan kesenian khas pesantren seperti sholawat, hadrah, teatrikal santri, dan pembacaan syi&#8217;ir.</p>
<p><strong>Bazar Produk Pesantren</strong></p>
<p>Memamerkan dan menjual berbagai produk unggulan pesantren, mulai dari makanan, kerajinan tangan, hingga produk fashion muslim.</p>
<p><strong>Kampanye Media Sosial</strong></p>
<p>Gerakan serentak di platform digital seperti twibbon, hashtag #HariSantriNasional, dan konten kreatif yang menampilkan aktivitas santri.</p>
<p>Makna Simbolis di Balik Tradisi Perayaan</p>
<p>1. Revitalisasi Identitas Santri</p>
<p>Berbagai tradisi perayaan HSN berfungsi sebagai medium untuk menghidupkan dan memperkuat identitas kesantrian di tengah arus modernisasi. Melalui tradisi-tradisi ini, nilai-nilai dan karakter santri seperti keilmuan, akhlak mulia, dan nasionalisme terus dilestarikan dan diaktualisasikan.</p>
<p>2.Konsolidasi Sosial</p>
<p>HSN menjadi momentum untuk mempererat solidaritas dan jejaring di antara komunitas santri. Sebagaimana dikemukakan oleh Durkheim tentang &#8220;collective effervescence&#8221;, perayaan bersama menciptakan ikatan emosional dan memperkuat kohesi sosial.</p>
<p>3. Transformasi Citra Santri</p>
<p>Tradisi-tradisi kreatif dan modern dalam perayaan HSN berperan dalam mentransformasi citra santri dari yang sempat dianggap tradisional dan tertinggal, menjadi citra yang modern, kreatif, dan relevan dengan perkembangan zaman. Santri tidak lagi dipandang sebagai komunitas yang terisolasi, tetapi sebagai bagian aktif dari masyarakat global.</p>
<h4>Dinamika Perkembangan Tradisi HSN</h4>
<p>Sejak pertama kali ditetapkan pada 2015, tradisi perayaan HSN menunjukkan perkembangan yang dinamis: 2015-2017 Fase awal yang didominasi oleh tradisi seremonial dan keagamaan yang bersifat konvensional. 2018-2020 Mulai muncul inovasi dengan integrasi teknologi digital dan pendekatan yang lebih kreatif. 2021-Sekarang. Masa pandemi COVID-19 memicu percepatan adaptasi digital, dengan banyak tradisi dialihkan ke platform online tanpa mengurangi makna dan esensinya.</p>
<p>Dari data tersebut dapat dikatakan bahwa tradisi menyambut Hari Santri Nasional di Indonesia sangat beragam, mencakup aspek seremonial-kenegaraan, keagamaan-edukatif, dan kultural-kreatif. Setiap tradisi tidak hanya memiliki bentuk yang khas, tetapi juga mengandung makna simbolis yang dalam sebagai medium revitalisasi identitas, konsolidasi sosial, dan transformasi citra santri.</p>
<p>Dinamika perkembangan tradisi HSN dari tahun ke tahun menunjukkan kemampuan adaptasi yang tinggi dari komunitas santri dalam merespons perubahan zaman. Hal ini mencerminkan bahwa santri bukanlah entitas yang statis, tetapi mampu bergerak dinamis tanpa kehilangan jati dirinya.</p>
<p>Ke depan, tradisi perayaan HSN diprediksi akan semakin berkembang dengan integrasi teknologi yang lebih masif dan pendekatan yang semakin inklusif, sehingga dapat memperkuat kontribusi santri dalam membangun peradaban Indonesia yang lebih. {Odie}.</p>
<p>Semoga bermanfaat.</p>
<p>Pamulang,<br />
Oktober 2025</p>
<blockquote><p>Murodi al-Batawi</p></blockquote>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/tradisi-menyambut-hari-santri-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/cdn.kemenag.go.id/storage/posts/16_9/big/1758602112.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Tradisi Perayaan Maulid Nabi Muhamad saw di Indonedia</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/tradisi-perayaan-maulid-nabi-muhamad-saw-di-indonedia/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/tradisi-perayaan-maulid-nabi-muhamad-saw-di-indonedia/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 Sep 2025 06:38:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=623</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Murodi al-Batawi. Jum’at, esok tepat tanggal 12 Rabi’ul Awwal, bertepatan <a class="read-more" href="https://gerbangbetawi.com/tradisi-perayaan-maulid-nabi-muhamad-saw-di-indonedia/" title="Tradisi Perayaan Maulid Nabi Muhamad saw di Indonedia" itemprop="url"></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi.</strong></em></p>
<p>Jum’at, esok tepat tanggal 12 Rabi’ul Awwal, bertepatan tanggal 05 September 2025, libur nadional, karena ada tradisi memperingati hari kelahiran Nabi Muhamad Saw. Tradisi ini dilskukan setiap memasuki bulan Rabi’ul Awwal, Muslim di seluruh dunia selalu memperingati hari kelahiran Nabi Muhamad atau HUT (Hari Ulang Tahun) baginda Rasulullah saw. Persyaan tersebut tidak hanya dilaksanakan pada 12 Rabi’ul Awwal, persis dihari ulang tahun Nabi Muhamad Saw, bahjan sudah ada yang mepetingatunya sejak hari pertama bulan Rabi’ul Awwal, umat Islam sudah ada yang memulai memeringatinya. Dan penguasa Dinasti Fatimiyah di Mesir pada abad ke-11, tepatnya pada masa pemerintahan al-Mu&#8217;izz li Dinillah yang berkuasa pada pertengahan abad X Masehi (953-975 M). Tujuan utama perayaan ini adalah untuk memperkuat legitimasi politik dan mempererat tali persaudaraan antar-umat Islam dalam menghadapi pasukan tentara Salib dalam Perang Salib pertama yang terjadi pada 1096 M, dan dimenangkan oleh tentara Salib. Untuk memberikan semangat pasukan tentara Islam, dibuatlah acara memperingati hari kelahiran Nabi Muhamad sebagai motivasi pasukan muslim. Dan tradisi ini terus dilakukan hingga kini.</p>
<p>Tokoh Penting dalam Sejarah Maulid Nabi.</p>
<p>Para tokoh penting pelopor tradisi memperingati Maulid Nabi Muhamad Saw adalah:</p>
<p>Al-Mu&#8217;izz li Dinillah, Penguasa Dinasti Fatimiyah pertama yang merayakan Maulid Nabi di Mesir untuk memperkuat legitimasi politiknya.</p>
<p>Kemudian Sultan Attabiq Nuruddin,. Penguasa Suriah yang pertama kali menggelar peringatan Maulid Nabi di kalangan Sunni.</p>
<p>Dan tokoh penting dalam tradisi ini adalah Sultan Salahuddin al-Ayyubi. Ia menghidupkan kembali tradisi Maulid Nabi untuk membangkitkan semangat juang umat Islam dalam menghadapi Perang Salib.</p>
<p>Tujuan Perayaan Maulid Nabi</p>
<p>Memperkuat legitimasi politik dan mempererat tali persaudaraan antar-umat Islam</p>
<p>Membentuk kecintaan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW.</p>
<p>Meningkatkan semangat juang dan kesadaran umat Islam dalam menjalankan ajaran agama.</p>
<p>Tradisi Perayaan Maulid Nabi Muhamad Saw di Indonesia.</p>
<p>Tradisi memperingati Maulid Nabi Muhamad Saw terus dipertahankan hingga kini, termasuk di Indonesia.<br />
Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia memiliki akar sejarah yang kuat dan berkembang seiring dengan penyebaran Islam di Nusantara. Tradisi ini tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga telah berbaur dengan berbagai dimensi budaya dan sosial masyarakat Indonesia.</p>
<p>Sejarah Maulid Nabi di Indonesia</p>
<p>Perayaan Maulid Nabi Saw di Indonesia diperkirakan mulai berlangsung pada masa kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara, terutama setelah Islam mulai mengakar kuat di wilayah pesisir pada abad ke-13 hingga ke-16 Masehi. Salah satu kerajaan yang mempopulerkan peringatan Maulid adalah Kesultanan Demak, kerajaan Islam pertama di Jawa. Pada masa itu, peringatan Maulid bukan sekadar acara keagamaan, tetapi juga digunakan sebagai medium untuk memperkuat legitimasi politik kerajaan melalui syiar Islam.</p>
<p>Di Indonesia, perayaan Maulid Nabi tidak hanya dilakukan pada tanggal 12 Rabiul Awal, tetapi bisa berlangsung sepanjang bulan tersebut atau bahkan di luar bulan Rabiul Awal. Beberapa tradisi lokal yang terkenal di Indonesia antara lain:</p>
<p>Sekaten di Jawa.<br />
IPerayaan Maulid dengan menabuh gamelan di halaman Masjid Demak untuk menarik perhatian masyarakat agar mendekat kepada ajaran Islam.</p>
<p>Grebeg Maulud di Yogyakarta dan Solo.</p>
<p>Perayaan Maulid dengan kirab budaya dan upacara-upacara keagamaan.</p>
<p>Panjang Mulud di Banten.</p>
<p>Perayaan Maulid dengan arak-arakan dan membagi-bagikan makanan kepada sesama sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur atas kelahiran Nabi.</p>
<p>Maulud Lam Lampo di Aceh.</p>
<p>Perayaan Maulid dengan pembacaan syair-syair pujian kepada Nabi dan kegiatan keagamaan lainnya.</p>
<p>Makna Filosofis Perayaan Maulid Nabi Muhamad Saw.</p>
<p>Perayaan Maulid Nabi memiliki makna filosofis yang mendalam sebagai bentuk kecintaan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Melalui perayaan ini, umat Islam dapat meneladani sikap dan perbuatan Rasulullah, terutama akhlak mulia dan agung yang dimiliki oleh beliau. Perayaan Maulid juga menjadi momentum untuk memperkuat ikatan sosial dan solidaritas antar-umat Islam.</p>
<p>Kontroversi Perayaan Maulid Nabi.</p>
<p>Perayaan Maulid Nabi masih menjadi perdebatan di kalangan ulama, dengan sebagian menganggapnya sebagai bid’ah yang tidak diperbolehkan. Namun, mayoritas ulama memandang bahwa perayaan Maulid dapat dilakukan sebagai bentuk kecintaan dan penghormatan kepada Nabi, selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam.</p>
<p>Dalam konteks sosial, perayaan Maulid Nabi memiliki peran penting dalam mempererat jalinan sosial antar-umat Islam. Tradisi ini membangun jembatan antara berbagai lapisan masyarakat melalui ritual bersama yang melibatkan partisipasi kolektif. Perayaan Maulid juga menjadi momentum untuk memperkuat ikatan sosial di tengah masyarakat yang beragam.</p>
<p>Dengan demikian, perayaan Maulid Nabi di Indonesia merupakan salah satu peringatan keagamaan yang sangat penting dan dirayakan dengan penuh semangat oleh umat Islam. Melalui perayaan ini, umat Islam dapat meneladani sikap dan perbuatan Rasulullah, memperkuat ikatan sosial, dan meningkatkan kecintaan kepada agama.</p>
<p>Demikian dan semoga bermanfaat.<br />
Aamiiinnn ya Mujibassaailiinnn.</p>
<p>Pamulang, 04 September 2025.</p>
<p>Murodi al-Batawi.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/tradisi-perayaan-maulid-nabi-muhamad-saw-di-indonedia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/blog.amikom.ac.id/wp-content/uploads/2025/08/Maulid-Nabi-Muhammad-SAW-Sejarah-Makna-Pengertian-Hikmahdan-Cara-Merayakannya.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Amook: Nomenklatur Indonesia dalam Kamus Bahasa Inggris</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/amook-nomenklatur-indonesia-dalam-kamus-bahasa-inggris/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/amook-nomenklatur-indonesia-dalam-kamus-bahasa-inggris/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Sep 2025 10:37:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=620</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Murodi al-Batawi Hampir setiap wisatawan dan tamu asing yang datang ke <a class="read-more" href="https://gerbangbetawi.com/amook-nomenklatur-indonesia-dalam-kamus-bahasa-inggris/" title="Amook: Nomenklatur Indonesia dalam Kamus Bahasa Inggris" itemprop="url"></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Hampir setiap wisatawan dan tamu asing yang datang ke Indonesia, dan bertemu dengan masyarakat Indonesia, mereka selalu memperoleh kesan positif bahwa masyarakat Indonesia sangat ramah, sopan, santun. Karena kebanyakan mereka disambut dengan senyum ramah. Tidak ada kesan gahar di muka penduduk Indonesia. Bahkan mempersilahkan para tetamu dan wisatawan singgah di tempat mereka. Ada yang mau mampir dan bercengkerama dengan penduduk probumi dan ada pula yang bilang terima kasih sudah disambut dan ditawarkan singgah, meski tidak mampir. Kesan pertama itulah yang mereka terima dan bawa pulang ke ngara masing-masing, kemudian mereka bercerita kepada keluarga besar di kampung halaman negara mereka. Tidak jarang ada lelaki atau perempuan asing yang jatuh cinta dan berlanjut hingga ke jenjang perkawinan, seperti ada seorang warga negara Canada yang jatuh cinta dengan seorang mojang priangan di Cianjur dan menikahinya hingga punya anak keturunan. Mereka tidak hanya jatuh cinta pada alam Indonesia yang indah, juga pada penduduknya yang ramah. Keramahan penduduk pribumi, memang sudah menjadi cerita indah bagi orang asing.</p>
<h3>Amook: Diksi Indonesia yang masuk Kamus Bahasa Inggris</h3>
<p>Tapi, benarkah masyarakat Indonesia ramah tamah semua…? Bisa ya bisa juga tidak. Memang, dalam situasi biasa saja atau dalam keadaan normal, sebagian besar masyarakat Indonesia bersikap ramah dan santun terhadap siapa saja. Tapi, dalam situasi tegang apalagi kacau, masyarakat Indonesia gaharnya luar biasa, terlebih dalam situasi peperangan. Diksi Amook kemungkinan muncul akibat situasi kacau karena perlawanan masyarakat terhadap para penjahah asing, Belanda, Inggris, Portugis dan Spanyol, yang ingin menguasai tanah air Indonesia.</p>
<p>Para penjajah yang berlomba datang ke Indonesia, berusaha menguasai wilayah dan hasil buminya yang akan menjadi barang komoditi sangat berhaga di Eropa. Para penjajah tersebut menggunakan kekuatan pasukannya yang dibantu oleh pribumi penjilat, seperti Demang dan Para Wedana terus memonopoli perdagangan, sehingga menimbulkan keresahan dan kemiskinan penduduk pribumi.</p>
<p>Karenanya, sering terjadi pemberontakan dan perlawanan yang dilakukan masyarakat pribumi. Mereka mengamuk melawan penjajah dengan alat sederhana. Karena penjajah asinga sering menyaksikan pemberontakan dan amukan masyarakat, kemungkinan diksi Amook masuk dalam kisa kata keseharian penjajah. Seperti Pemberontakan Petani Banten 1888 dan lain-lain.</p>
<h4>Amook dalam Demonstrasi</h4>
<p>Peristiwa demonstrasi yang terjadi sejak 25 Agustus 2025 dan puncaknya pada 29-31 Agustus 2025, membuktikan sekali lagi bahwa bangsa Indonesia dalam situasi labil, tidak seramah yang dibayangkan para wisatawan asing. Mereka mengamuk melawan kekerasan polisi yang menyebabkan Affan Kurniawan tewas ditabrak Rantis Bromob.</p>
<p>Tewasnya Affan Kurniawan menjadi triger perlawanan di seluruh wilayah Indonesia. Masyarakat yang berdemonstrasi di Jakarta, di Bandung, Semarang, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Malang, Lampung, Palembang, Medan, Aceh, Makassar, Gorontalo, Banjarmadin dan di daerah lainnya, sekali lagi, jika masyarakat sudah muak dengan perilaku para pejabat dan penguasa lainnya, mereka mengamuk, membakar dan menjarah apa saja yang bisa dijarah. Tak peduli apakah itu perbuatan dan hasilnya haram, mereka acuh tak acuh. Mereka terus mengamuk dan meratakan apa saja yang mereka jumpai dengan kekuatan tenaga yang luar biasa.</p>
<p>Jadi, _Amook merupakan diksi yang berkontribusi dalam pengayaan bahasa Inggris. Selain kata Orang Utan dan Bamboo.</p>
<p>Pamulang, 02 September 2025</p>
<p>Murodi al-Batawi.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/amook-nomenklatur-indonesia-dalam-kamus-bahasa-inggris/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/s9.picofile.com/file/8336371926/How_to_use_a_dictionary_in_English.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Merdeka Seratus Persen: Refleksi Kesejahteraan Dosen di HUT RI ke-80</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/merdeka-seratus-persen-refleksi-kesejahteraan-dosen-di-hut-ri-ke-80/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/merdeka-seratus-persen-refleksi-kesejahteraan-dosen-di-hut-ri-ke-80/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 16 Aug 2025 23:30:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[17 Agustus]]></category>
		<category><![CDATA[HUT RI ke-80]]></category>
		<category><![CDATA[Merdeka]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=615</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Murodi, Arief Subhan, dan Study Rizal LK* Delapan puluh tahun Indonesia <a class="read-more" href="https://gerbangbetawi.com/merdeka-seratus-persen-refleksi-kesejahteraan-dosen-di-hut-ri-ke-80/" title="Merdeka Seratus Persen: Refleksi Kesejahteraan Dosen di HUT RI ke-80" itemprop="url"></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Murodi, Arief Subhan, dan Study Rizal LK*</strong></em></p>
<p>Delapan puluh tahun Indonesia merdeka adalah momentum penuh makna. Bangsa ini telah melewati berbagai fase: perjuangan mempertahankan kedaulatan, pembangunan ekonomi, transisi demokrasi, hingga menghadapi era digital. Namun di balik gegap gempita perayaan HUT RI ke-80, ada pertanyaan reflektif yang tak kalah penting: apakah dosen—sebagai garda terdepan pembentuk intelektual bangsa—sudah benar-benar merdeka dalam kesejahteraan?</p>
<p>Dosen adalah sosok yang mengemban misi mulia. Mereka bukan hanya pengajar di ruang kelas, tetapi juga peneliti, pengabdi masyarakat, dan penjaga moral intelektual bangsa. Melalui tangan mereka, lahir para dokter, insinyur, politisi, aktivis, ulama, hingga birokrat. Tetapi, ironisnya, kesejahteraan dosen masih sering menjadi isu yang terpinggirkan. Gaji dan tunjangan sebagian besar dosen, baik di perguruan tinggi negeri maupun swasta, jauh dari kata memadai. Banyak dosen yang harus mencari pekerjaan tambahan untuk menopang kebutuhan keluarga. Tidak sedikit pula yang menghadapi beban kerja administratif yang menumpuk tanpa diiringi apresiasi setara.</p>
<p>Jika kita merenung sejenak, kemerdekaan seharusnya tidak hanya dipahami sebagai terbebas dari penjajahan kolonial, tetapi juga terbebas dari keterbelengguan struktural yang membuat insan akademik sulit mencapai kesejahteraan. Kemerdekaan sejati adalah saat para dosen dapat mengabdikan dirinya sepenuhnya pada tridharma perguruan tinggi—pendidikan, penelitian, dan pengabdian—tanpa dihantui kekhawatiran tentang kebutuhan dasar hidupnya.</p>
<p>Pada momentum HUT RI ke-80 ini, kita diajak untuk kembali pada semangat para pendiri bangsa yang bercita-cita melahirkan masyarakat adil dan makmur. Pertanyaannya: apakah adil jika dosen, yang menjadi fondasi peradaban, justru masih harus berjuang keras demi kebutuhan hidup sehari-hari? Apakah makmur jika profesi intelektual ini tak memberikan jaminan masa depan yang layak?</p>
<p>Refleksi ini bukan sekadar keluhan, melainkan ajakan moral. Negara perlu hadir lebih serius dalam memperjuangkan kesejahteraan dosen, bukan hanya dalam bentuk tunjangan dan gaji, tetapi juga ekosistem akademik yang sehat, penghargaan atas karya ilmiah, serta perlindungan sosial yang memadai. Sebab, ketika dosen sejahtera, bangsa ini akan menikmati buahnya dalam bentuk generasi yang lebih cerdas, kritis, dan berdaya saing.</p>
<p>HUT RI ke-80 seharusnya menjadi momentum menegaskan kembali komitmen kemerdekaan yang holistik. Kemerdekaan tidak bisa hanya dirayakan dengan seremoni, melainkan diwujudkan dalam kebijakan nyata yang memastikan setiap anak bangsa, termasuk para dosen, dapat hidup bermartabat.</p>
<p>Maka, sebagai penutup ada satu pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama: sudahkah kita benar-benar merdeka, jika para dosen bangsa ini masih harus berjuang keras demi kesejahteraannya?</p>
<p>* Dosen MAS FDIKOM UIN Jakarta.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/merdeka-seratus-persen-refleksi-kesejahteraan-dosen-di-hut-ri-ke-80/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/storage.googleapis.com/sahabat-pegadaian-asset-prd/migrated-media/2024--07--makna-kemerdekaan-indonesia.webp?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>UIN Jakarta di Tengah Krisis Perguruan Tinggi Islam: Antara Teladan dan Tantangan</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/uin-jakarta-di-tengah-krisis-perguruan-tinggi-islam-antara-teladan-dan-tantangan/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/uin-jakarta-di-tengah-krisis-perguruan-tinggi-islam-antara-teladan-dan-tantangan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 16 Aug 2025 23:25:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[UIN]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=611</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Murodi, Arief Subhan, dan Study Rizal LK* Dua kasus yang baru-baru <a class="read-more" href="https://gerbangbetawi.com/uin-jakarta-di-tengah-krisis-perguruan-tinggi-islam-antara-teladan-dan-tantangan/" title="UIN Jakarta di Tengah Krisis Perguruan Tinggi Islam: Antara Teladan dan Tantangan" itemprop="url"></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Murodi, Arief Subhan, dan Study Rizal LK*</strong></em></p>
<p>Dua kasus yang baru-baru ini mencoreng wajah perguruan tinggi Islam—percetakan uang palsu di UIN Makassar dan gudang ganja di UIN Riau—membangkitkan kegelisahan publik. Kampus yang membawa nama Islam mestinya menjadi rumah ilmu dan akhlak, tetapi justru dikaitkan dengan praktik kriminal. Pertanyaan yang muncul kemudian: bagaimana dengan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, kampus yang kerap disebut sebagai barometer perguruan tinggi Islam di Indonesia?</p>
<p>Sebagai salah satu universitas Islam tertua dan terbesar, UIN Jakarta memiliki posisi istimewa. Dari kampus inilah lahir banyak tokoh nasional, ulama, akademisi, dan pemikir yang mewarnai perjalanan bangsa. UIN Jakarta juga dikenal dengan tradisi intelektualnya yang khas—sering disebut Mazhab Ciputat—yang menekankan keterbukaan, kritisisme, dan pembaruan pemikiran Islam. Karena itulah, publik berharap UIN Jakarta bisa tampil sebagai teladan, bukan sekadar bagi PTKIN, tetapi juga bagi dunia pendidikan tinggi di Indonesia.</p>
<p>Namun, reputasi besar tidak berarti bebas dari tantangan. Justru karena ukurannya yang besar dan pengaruhnya yang luas, kerentanan UIN Jakarta bisa lebih kompleks. Ribuan mahasiswa dari berbagai latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya datang ke Ciputat setiap tahun. Sebagian menghadapi tekanan ekonomi, sebagian lain berhadapan dengan godaan urbanisasi Jakarta. Situasi ini bisa menjadi lahan subur bagi penyimpangan jika tidak diimbangi dengan pembinaan yang memadai.</p>
<p>Di sisi dosen dan tenaga akademik, tuntutan administratif, persaingan akademik, dan problem kesejahteraan juga hadir. Beban ini berpotensi menggeser perhatian dari pembinaan nilai ke arah rutinitas teknis belaka. Jika itu terjadi, maka peran dosen sebagai teladan moral perlahan bisa terkikis.</p>
<p>Meski demikian, UIN Jakarta memiliki modal kuat yang membedakannya dari banyak kampus lain: kultur intelektual yang sudah terbentuk puluhan tahun. Tradisi diskusi, keterbukaan terhadap pemikiran modern, serta keterlibatan aktif dalam wacana kebangsaan adalah warisan yang seharusnya dijaga. Dengan modal ini, UIN Jakarta berpeluang besar menjaga dirinya dari krisis moral yang melanda kampus lain, dengan catatan tidak membiarkan tradisi itu mati tertelan birokratisasi.</p>
<p>Pertanyaannya: apakah UIN Jakarta cukup waspada? Kasus Makassar dan Riau seharusnya menjadi alarm dini. Jangan sampai UIN Jakarta terlena oleh reputasi dan sejarahnya. Label “universitas Islam” membawa tanggung jawab lebih berat dibanding kampus lain: ia dituntut bukan hanya menghasilkan sarjana pintar, tetapi juga pribadi berintegritas.</p>
<p>Langkah konkret yang perlu dilakukan antara lain memperkuat pengawasan internal, membangun sistem pembinaan mahasiswa yang holistik, memperhatikan kesejahteraan dosen, serta menjaga agar kultur intelektual kritis tetap hidup. Yang tidak kalah penting, UIN Jakarta perlu memastikan bahwa nilai Islam tidak hanya berhenti pada simbol atau jargon, tetapi hadir nyata dalam kehidupan kampus sehari-hari.</p>
<p>Dengan demikian, UIN Jakarta bisa membuktikan dirinya bukan sekadar besar secara kuantitas, tetapi juga kuat dalam kualitas moral dan spiritual. Karena jika tidak, ia bisa saja jatuh pada jebakan yang sama: menjadi universitas yang tampak modern dan berwibawa, tetapi kehilangan ruh Islam yang mestinya menjadi jiwanya.</p>
<p>Pada akhirnya, UIN Jakarta sedang berada di persimpangan: apakah ia akan tampil sebagai teladan bagi kampus Islam lainnya, atau sekadar menyusul dalam daftar panjang krisis yang mencoreng wajah perguruan tinggi Islam? Jawaban atas pertanyaan itu akan sangat ditentukan oleh pilihan dan langkah yang kita ambil hari ini.</p>
<p>* Dosen MAS FDIKOM UIN Jakarta.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/uin-jakarta-di-tengah-krisis-perguruan-tinggi-islam-antara-teladan-dan-tantangan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/asset.kompas.com/crops/U5rdp8Al1oX3FlYy_1L9XOC4-tA=/78x0:573x330/1200x800/data/photo/2022/01/11/61dd0460c9769.jpeg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Pati Melawan: Gelombang Rakyat Menentang Pajak Mencekik</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/pati-melawan-gelombang-rakyat-menentang-pajak-mencekik/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/pati-melawan-gelombang-rakyat-menentang-pajak-mencekik/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 15 Aug 2025 06:18:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=607</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Murodi, Arief Subhan, dan Study Rizal LK* Gelombang perlawanan rakyat di <a class="read-more" href="https://gerbangbetawi.com/pati-melawan-gelombang-rakyat-menentang-pajak-mencekik/" title="Pati Melawan: Gelombang Rakyat Menentang Pajak Mencekik" itemprop="url"></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Murodi, Arief Subhan, dan Study Rizal LK*</strong></em></p>
<p>Gelombang perlawanan rakyat di Kabupaten Pati meledak menjadi sorotan nasional setelah ribuan warga turun ke jalan pada 13 Agustus 2025. Demonstrasi itu dipicu oleh kebijakan kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) hingga 250 persen, sebuah kebijakan yang dinilai memberatkan di tengah situasi ekonomi masyarakat yang belum pulih sepenuhnya dari dampak pandemi. Beban hidup yang kian berat akibat harga pangan dan energi yang terus merangkak naik membuat keputusan ini terasa seperti pukulan tambahan yang tidak perlu.</p>
<p>Kemarahan rakyat memuncak setelah Bupati Pati, Sudewo, mengeluarkan pernyataan yang dianggap meremehkan aspirasi warganya. Ucapannya, “Silakan demo. Jangan hanya 5.000 orang, 50.000 pun kerahkan. Saya tidak akan gentar,” bukan hanya menantang, tetapi juga menyiram bensin ke api yang sudah menyala. Tantangan itu dijawab dengan pengerahan massa yang mencapai sekitar seratus ribu orang, menjadikannya salah satu demonstrasi terbesar dalam sejarah Pati modern.</p>
<p>Aksi ini memperlihatkan solidaritas sosial yang jarang terlihat dalam skala sebesar ini. Dari petani, pedagang, nelayan, pelajar, hingga tokoh agama, semua menyatu dalam barisan. Posko-posko donasi logistik bermunculan di Alun-Alun Simpang Lima Pati, menerima aliran bantuan berupa air mineral, mie instan, telur, hingga perlengkapan aksi. Warga dari berbagai penjuru daerah membawa sumbangan dengan sukarela, membangkitkan kembali semangat gotong royong yang sudah menjadi identitas kultural masyarakat Pati.</p>
<p>Pati sendiri memiliki sejarah panjang perlawanan terhadap pajak yang mencekik. Pada masa kolonial, wilayah ini berkali-kali menjadi arena perlawanan petani terhadap kebijakan tanam paksa dan pungutan yang memberatkan. Memori kolektif itu, meski telah melewati puluhan generasi, tetap hidup di bawah permukaan. Kini, kenaikan PBB yang dianggap sewenang-wenang memanggil kembali naluri perlawanan itu. Bagi banyak warga, ini bukan hanya soal angka atau nominal, melainkan simbol dari ketidakpekaan penguasa terhadap jeritan rakyatnya.</p>
<p>Fenomena perlawanan di Pati juga mencerminkan pola yang mulai menguat dalam gerakan sosial Indonesia pasca-reformasi. Seperti halnya protes nelayan di Batang dan Rembang terhadap proyek PLTU, atau gerakan petani Kendeng menolak tambang semen, aksi di Pati memperlihatkan bagaimana isu ekonomi dapat menjadi pemicu mobilisasi politik yang masif. Media sosial mempercepat proses ini—pesan, foto, dan video aksi menyebar cepat, memperluas simpati dan dukungan, bahkan dari luar daerah.</p>
<p>Secara sosiologis, yang terjadi di Pati adalah transformasi dari keluhan kolektif menjadi aksi kolektif yang terorganisir. Pernyataan bupati berfungsi sebagai katalis yang mengubah kemarahan tersembunyi menjadi gerakan terbuka. Jaringan komunitas lokal—mulai dari kelompok tani, forum warga, hingga jamaah masjid—menjadi infrastruktur sosial yang memudahkan koordinasi. Teknologi digital, pada gilirannya, memfasilitasi penyebaran narasi perlawanan dan memperkuat rasa persaudaraan di antara para demonstran.</p>
<p>Dampak politik dari peristiwa ini bisa signifikan. Demonstrasi sebesar ini berpotensi mengguncang legitimasi politik petahana, memunculkan tokoh-tokoh oposisi baru, dan mengubah dinamika Pilkada mendatang. Narasi “pajak mencekik” akan terus hidup dalam ingatan politik warga, menjadi tolok ukur bagi siapa pun yang ingin memimpin Pati di masa depan.</p>
<p>Pelajaran dari Pati jelas: legitimasi kekuasaan tidak dibangun dengan tantangan atau ancaman, melainkan dengan kemauan untuk mendengar dan memahami rakyat. Perlawanan ini bukan hanya soal menolak kebijakan pajak, tetapi juga menuntut kepemimpinan yang empatik dan berpihak. Dan sebagaimana yang sudah berulang kali ditunjukkan sejarah, ketika rakyat bersatu, bahkan kekuasaan yang paling kokoh pun dapat terguncang.</p>
<p>* Dosen MAS FDIKOM UIN Jakarta.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/pati-melawan-gelombang-rakyat-menentang-pajak-mencekik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/iniloh.id/wp-content/uploads/2025/08/iniloh-Gambar-18-1536x864.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Merdeka atau Mati Syahid</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/merdeka-atau-mati-syahid/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/merdeka-atau-mati-syahid/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 05 Aug 2025 01:59:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[17 Agustus]]></category>
		<category><![CDATA[Kemerdekaan]]></category>
		<category><![CDATA[Merdeka]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=602</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Murodi al-Batawi Pekikan para pejuang pergerakan kemerdekaan Indonesia menyeruak ke <a class="read-more" href="https://gerbangbetawi.com/merdeka-atau-mati-syahid/" title="Merdeka atau Mati Syahid" itemprop="url"></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Pekikan para pejuang pergerakan kemerdekaan Indonesia menyeruak ke permukaan yang selalu bergema saat bangsa Indonesia melakukan perlawanan terhadapa kolonial Belanda. Mereka bersatu padu, mulai rakyat biasa sampai para sultan, para ulama dan intelektual hingga mereka yang tak berpendidikan tinggi berjuang mengangkat senjata apa adanya, mulai dari bambu runcing, keris, golok, mandau, rencong dan semua senjata tradisional, hingga persenjataan modern, mereka pergunakan untuk mengusir dan melawan penjajah Belanda agar mereka segera meninggalkan wilayah Indonesia. Bangsa Indonesia sudah merasa muak dengan penindasan yang dilakukan Belanda dan antek-anteknya. Bangsa Indonesia ingin segera merdeka. Untuk itu, semua elemen masyarakat bergerak bersatu melawan ketidakadilan dan kesewenangan. Peperangan demi peperangan terus terjadi, seperti perang Aceh (1873-1904), Perang Paderi (1823-1836),Perang Diponegoro (1825-1830), dan peperangan lain terus bergejolak, sebagai bukti adanya perlawanan rakyat Indonesia. Dalam setiap peperangan, selalu ada pekik suara, Merdeka atau Mati Mati Syahid, dan pekikan suara Takbir,Allahu Akbar. Kalimat tersebut selalu keluar dari mulut para pejuang kemerdekaan untuk memberikan semangat juang bagi rakyat agar terus bergerak maju pantang mundur.</p>
<h3>Kehadiran Belanda di Indonesia</h3>
<p>Kedatangan orang Belanda ke Indonesia terjadi pada 1596. Kedatangannya pertama kali hanya untuk mencari bahan rempah produk Sumber Daya Alam asli Indonesia. Tujuh tahun kemudian, 1603 M, mereka hampir menguasai seluruh produk dan hasil rempah dari Indonesia. Belanda merasa membutuhkan perusahaan dan tempat penyimpanan barang sebelum dibawa ke Eropa. Untuk itu, pada 1603, Belanda mendirikan perusahaan pertama di Indonesia, yaitu *VOC(Vereenidge Oast Indiche Compagni)*. Sejak saat itulah terjadi hegemoni ekonomi atas wilayah Indonesia. Kekuatan ekonomi Belanda karena mendapat sokongan sumber daya alam berupa rempah dan hasil bumi lainnya, menyebabkan Belanda perlu memperkuat jeratannya agar wilayah penghasil rempah terbesar di dunia ini, tidak direbut bangsa Eropa lainnya yang memang tengah gencar melakukan penjarahan hasil bumi, seperti bangsa Porugis, Inggris, Spanyol dan lainnya.</p>
<h3>JV. Z. Coon datang</h3>
<p>Untuk mempermudah pengaturan wilayah dan jalur pedagangan VOC, maka dikirimlah seorang berstatus gubernur jenderal yang akan menjadi wakil kerajaan Belanda di Indonesia.<br />
Untuk itu, pada 1626 dikirimlan seorang wakil kerajaan Belanda bernama Jan Vieter Z Coon. Ia bertugas sebagai gubernur jenderal mewakili Kerajaan Belanda yang mengawasi produk dan hasil sumber daya alam Indonesia berupa rempah yang menjadi barang komoditi berharga di Eropa dan dunia saat itu. Karena menguntungkan, kekuatan hegemoni ekonomi ini terus berkembang menjadi hegemoni politik. Terutama setelah VOC dibubarkan karena merugi pada 1887, maka cengkeraman politik kian menjadi. Sejak saat itulah Belanda dan kekuatan politik militer kian menggasak kekuatan politik Indonesia. Dan terjadi perubahan otientasi Belanda dari sekadar berdagang dan menguasai wilayah (kolonialisme), menjadi mencampuri urusan politik pemerintahan para Sultan dan penguasa Indonesia (imperialisme). Sejak saat itulah, Belanda menerapkan politik devide et impera, politik adu domba dan pecah belah di antara sesama warga Indonesia. Tujuannya, agar ribumi tidak melakukan perlawanan menentang kehadiran Belanda.</p>
<h3>Rakyat Indonesia Bergerak</h3>
<p>Sejak terjadinya kolonialisme dan imperialisme atas wilayah dan pemerintahan para Sultan di Indonesia, semua rakyat dan para Sultan bersatu bergerak melawan penjajah Belanda yang dianggap kafir. Rakyat, terdiri dari para ulama dan masyarakat biasa terus menyuarakan pekikan kemerdekaan. Sampai seorang ulama terkenal dari Palembang, Syeikh Abdushamad al-Palimbani menulis satu karya monumental yang dapat membangkitan semangat juang untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Karya tersebut adalah Jihad fi Sabilillah, yang menganjurkan masyarakat Muslim Indonesia untuk berjihad di jalan Allah demi memerdekakan Negara Republik Indonesia.</p>
<p>Bahkan, para pemuda, baik yang ada di tanah air, di Timur Tengah dan Belanda, mereka selalu berdiskusi secara intens mengenai situasi saat itu tentang Indonesia yang masih di bawah pemerintahan Kerajaan Belanda. Untuk menyatukan visi dan misi gerakan kemerdekaan Indonesia, para Pemuda melakukan Kongres Pemuda pada 1928. Kongres ini menyepakati adanya persamaan persepsi tentang Indonesia. Mereka bersepakat tentang wilayah, Indonesia, menyatukan suku bangsa menjadi satu bangsa, Indonesia. Menyatukan bahasa pemersatu, yaitu bahasa Indonsia. Visi tersebut perlu disatukan untuk memudahkan jalannya pergerakan menuju cita-cita tunggal, Indonesia merdeka.</p>
<p>Setelah terjadinya kesepakatan tersebut, semua elemen hanya mengakui wilayahnya adalah Indonesia. Tidak ada yang bergerak cuma mengatasnamakan daerahnya saja. Pengakuan Indonesia sebagai bangsa, membuat mereka bergerak atas nama Indonesia. Tidak ada lagi yang bergerak atas nama penguasa daerah atau wilayah tertentu. Bahkan, mereka hanya sepakat bahwa bahasa yang dijadikan bahasa nasional sebagai bahasa komunikasi adalah bahasa Indonesia. Menghilangkan keegoan bahasa daerah masing-masing. Setelah adanya kesepakatan tersebut, maka semua elemen masyarakat bergerak lebih fokus hanya satu tujuan: Indonesia Merdeka. Di tengah gencarnya perjuangan bangsa untuk mencapai kemerdekaan, pada 1943 tentara Jepang datang dan menguasai Indonesia (1943-1945). Meski begitu, rakyat terus bergerak melawan tentara Dainippon, tanpa rasa takut. Perpaduan antara perang fisik dengan diplomasi, akhirnya pergerakan tersebut mencapai puncaknya pada 17 Agustus 1945, yaitu Hari Kemerdekaan Indonesia, dengan pembacaan teks Proklamasi oleh Soekarno dan Muhammad Hatta atas nama bangsa Indonesia. Tapi kemerdekaan hari itu tidak diakui oleh Belanda. Tetapi, negara-negara Islam, seperti Palestina, Mesir dengan tegas mengakui kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Karenanya Belanda dan sekutunya datang kembali untuk menguasai Indonesia kembali. Maka terjadilah Perang Kemerdekaan hingga Belanda dan sekutunya pergi meninggalkan Indonesia tanpa memperoleh apapun. Bahkan Jenderal WS. Mallaby tewas dalam perang kemerdekaan Indonesia. Semua berjuang dengan senjata apa adanya diringi pekikan suara takbir, Allahu Akbar, dan kata Merdeka. Indonesia bisa merdeka.</p>
<p>Demikian dan terima kasih. Semoga bermanfaat.{odie}.</p>
<p>Pamulang, 05 Agustus 2025<br />
Murodi al-Batawi</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/merdeka-atau-mati-syahid/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/suaraislam.id/wp-content/uploads/2021/08/merdeka-atau-mati.jpg?fit=640%2C420&#038;ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Melacak Sanad Keilmuan: Merajut kembali Rihlah Ilmiah</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/melacak-sanad-keilmuan-merajut-kembali-rihlah-ilmiah/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/melacak-sanad-keilmuan-merajut-kembali-rihlah-ilmiah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 Aug 2025 12:58:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[History]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=599</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Murodi al-Batawi Para ulama dahulu, selalu melakukan perjalanan keilmuan untuk <a class="read-more" href="https://gerbangbetawi.com/melacak-sanad-keilmuan-merajut-kembali-rihlah-ilmiah/" title="Melacak Sanad Keilmuan: Merajut kembali Rihlah Ilmiah" itemprop="url"></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Para ulama dahulu, selalu melakukan perjalanan keilmuan untuk mencari ilmu pengetahuan dari sumber aslinya, para Syeikh. Ada ulama yang memperdalam Ilmu Tauhid, Ilmu Fiqh, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits, dan berbagai ilmu pengetahuan Islam. Mereka, para Ulama tersebut, melakukan Rihlah Ilmiah dari satu guru ke guru lainya. Dari suatu daerah ke daerah lainnya hanya untuk memperdalam suatu disiplin ilmu pengetahuan. Ada yang belajar dengan seorang cuma satu tahun atau lebih. Ada juga yang hanya singgah sementara hanya untuk menguji kemampuan ilmu yang dimilikinya.</p>
<p>Dengan cara seperti itu, banyaklah mata rantai atau Sanad keilmuan seseorang, sehingga ia boleh disebut sebagai seorang ilmuan yang mumpuni dalam bidang tertentu, misalnya Ustadz Marzuki, ia terus belajar dan memperdalam ilmu fiqh, maka mata rantai keilmuannya terus bersambung sanadnya hingga ke imam fiqh empat mazhab; Imam Syafi’i, Imam Maliki, Imam Hanbali, dan Imam Hanafi. Begitu juga mereka yang memperdalam keilmuan Islam lainnya, pasti semua memiliki sanad yang jelas. Ternyata, tidak hanya mereka yang memiliki mata rantai keilmuan, kita juga memilikinya.</p>
<p>Dahulu kita pernah belajar keilmuan Islam di IAIN Syatif Hidayatullah, Jakarta. Kita mencari ilmu dan belajar dari para dosen yang sangat hebat. Misalnya, Kita belajar Bahasa Arab dari Prof.Dr. D. Hidayat,MA. Beliau, sekira tahun 1980-an masih sangat energik. Pintar, muda dan ganteng. Ia menjadi salah seorang dosen favorit, karena wajahnya yang mirip musisi musik pop legendaris, A.Riyanto.</p>
<p>Kemudian di fakultas yang sama, kita juga belajar ‘Arudh dari Prof. Khotibul Umam. Sepertinya, saat itu, hanya beliau yang bisa mengajar ilmu ‘Arudh, sebuah disiplin ilmu yang jarang dikuasai seseorang. Begitu juga dengan materi Ilmu Bayan dan Ma’ani, yang diberikan oleh Dr. AM. Hidayatullah, MA. Dosen yang satu ini memiliki khas tersendiri. Selain menguasai ilmu tersebut, beliau juga seorang qari’. Suaranya sangat bagus. Itu kami buktikan sendiri. Hampir di setiap acara fakultas, ia menjadi pembaca al-Qur’an.</p>
<p>Selain mereka, ada salah seorang dosen asli Betawi, yang pernah menjabat pemantu dekan. Kemudian ia menjadi dekan fakultas Adab periode pasca prof. Dr. Nabilah Lubis. Ia juga mengajar kami ilmu sejarah. Ia adalah Dr. Abdul Choir, MA. Bahkan saya sendiri saat menulis Risalah Sarjana Muda (BA), beliaulah yang menjadi pembimbing. Saat itu, ia tengah menjabat Pembantu Dekan I Bidan Akademik.</p>
<p>Di samping yang telah disebutkan di stas, ada salah seorang dosen asli Mesir, bernama Prof.Dr. Nabilah Lubis, MA. Ia juga pernah menakhodai fakultas Adab pada periode ‘96-an. Kita belajar banyak tentang bahasa dan Sastra Arab. Belajar Bahasa Arab dari native speaker, menjadi lebih menarik.</p>
<p>Kini, mereka sudah pensiun dan tinggal menikmati masa tua yang bahagia. Karena itu, untuk memperkuat ikatan tali silaturrahmi antara guru-murid, kami punya program melakukan kunjungan ke tempat tinggal mereka. Harapannya, ilmu yang kita peroleh bermanfaat untuk umat bangsa dan negara. Selain tengah melacak jaringan dan sanad keilmuan kita. Semoga bermanfaat(Odie).</p>
<p><em>Murodi al-Batawi</em><br />
<em>Pamulang,03-08-2025</em></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/melacak-sanad-keilmuan-merajut-kembali-rihlah-ilmiah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/image.idntimes.com/post/20201022/ulama-betawi1-1520674aaf182cfa89a3a7c1bc120880.JPG?tr=w-1200%2Cf-webp%2Cq-75&#038;width=1200&#038;format=webp&#038;quality=75&#038;ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
	</channel>
</rss>
