<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kitab Kuning &#8211; Gerbang Betawi</title>
	<atom:link href="https://gerbangbetawi.com/tag/kitab-kuning/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://gerbangbetawi.com</link>
	<description>Gerakan Kebangkitan Betawi</description>
	<lastBuildDate>Sat, 26 Oct 2024 06:32:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8.2</generator>

<image>
	<url>https://res.cloudinary.com/du66xc8mf/images/w_32,h_32,c_fill,g_auto/f_webp,q_auto:low/v1725435610/cropped-gerbang-betawi-4-1/cropped-gerbang-betawi-4-1.webp?_i=AA</url>
	<title>Kitab Kuning &#8211; Gerbang Betawi</title>
	<link>https://gerbangbetawi.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Pesantren dan Bisnis Kitab Kuning</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/pesantren-dan-bisnis-kitab-kuning/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/pesantren-dan-bisnis-kitab-kuning/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 Oct 2024 06:32:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab Kuning]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=284</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Murodi al-Batawi Pondok Pesantren dan Kitab Kuning, selama ini tidak bisa <a class="read-more" href="https://gerbangbetawi.com/pesantren-dan-bisnis-kitab-kuning/" title="Pesantren dan Bisnis Kitab Kuning" itemprop="url"></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Pondok Pesantren dan Kitab Kuning, selama ini tidak bisa dipisahkan. Dua komponen ini merupakan elemen penting dalam sebuah proses pembelajaran di sebuah pesantren.</p>
<p>Kitab Kuning merupakan referensi utama yang menjadi bahan ajar bagi para santri. Mereka menjadikannya sebagai sebuah pegangan yang mesti dimiliki. Sebab jika tidak, mereka tidak bisa mengikuti pelajaran pendidikan agama yang bersumber dari Kitab Kuning.</p>
<p>Karena itu, dahulu, banyak toko buku agama Islam yang memproduksi dan menjualnya secara langsung kepada masyarakat. Jika para santri ingin memilikinya, mereka, baik secara sendiri-sendiri atau berkelompok, harus pergi ke toko buku tersebut untuk membelinya.</p>
<p>Biasanya, mereka tidak hanya membeli satu judul buku, tapi bisa membeli beberapa judul dan jilid buku kuning tersebut. Para santri bisa membeli buku berjudul Safinatun Naja, Taqribb, atau al-Jurumiyah.</p>
<p>Jika dalam satu daerah terdapat lebih dari tiga pondok pesantren, dengan masing memiliki minimal 1000 orang santri, berarti sudah dapat memproduksi Kitab Kuning sekitar 3000 eksemplar.</p>
<p>Ini merupakan potensi besar secara ekonomis. Bagaimana kalau bisnis ini ditangani langsung oleh pondok pesantren, pasti sangat menguntungkan buat pondok pesantren itu sendiri.</p>
<h3><strong>Kitab Kuning dan Percetakan</strong></h3>
<p>Jika dahulu banyak penerbit lokal yang bisa memproduksi referensi Kitab Kuning sekaligus menjualnya, sekarang, sepertinya sudah mulai berkurang bahkan banyak yang sudah bubar.</p>
<p>Salah satu penerbit Kitab Kuning yang masih eksis sampai hari ini adalah Penerbit Toha Putera, Semarang. Perusahaan ini kian besar, karena ia, selain memiliki mesin percetakan sendiri, juga memiliki pabrik kertas. Ia tidak memerlukan pasokan kertas dari pihak luar jika ingin mencetak dan menerbitkan kitab-kitab baru.</p>
<p>Perusahaan penerbitan ini semakin berjaya, karena ia juga mencetak dan menerbitkan buku-buku pelajaranan Agama untuk sekolah, mulai dari tingkat MI,MTs,dan MA, selain mencetak dan menerbitkan buku-buku umum.</p>
<p>Khusus untuk pencetakan dan penerbitan Kitab Kuning, Penerbit ini terus saja mrmproduksi kitab tersebut, bahkan bisa menualnya langsung ke pasar, karena ia juga memiliki toko dan perwakilannya di setiap daerah, sehingga orang nudah mendapatkannya.</p>
<p>Selain menerbitkan karya para ulama Indonesia, Toha Putera juga melakukan reproduksi karya ulama Nusantara yang pernah diterbitkan di luar negeri; seperti penerbit dari Singapore, Libanon, Mesir dan lain-lain. Seperti karya Imam Nawawi al-Bantani, dan lain-lain.</p>
<p>Hasil reproduksi Kitab Kuning tersebut, tetap selalu dicari banyak santri yang ingin mengetahui dan mendalami pemikiran para ulama terdahulu.</p>
<h3>Kitab Kuning dan Peluang Bisnis<br />
Pondok Pesantren</h3>
<p>Jika hipotesis ini benar bahwa Kitab Kuning tetap menjadi rujukan para Kyai dan santri di pondok pesantren, maka ini merupakan potensi ekonomi yang sangat luar biasa yang mesti menjadi bahan pemikiran bagaimana kyai dan pimpinan pondok menjadikannya sebagai lahan bisnis yang dapat menguntungkan pihak pesantren. Dan dana yang diperoleh dari keuntungan penjualan Kitab Kuning, dapat dijadikan tanbahan dana untuk pembiayaan para santri, sehingga para santri yang mondok menjadi gratis. Semuanya dibiayai oleh dana keuntungan penjualan Kitab Kuning.</p>
<p>Berdasarkan data yang ada di Kemeterian Agama pada 2024 diperoleh informasi bahwa jumlah pondok pesantren dan para Santri<br />
Indonesia ada sekitar 25 ribu Pondok Pesantren dan 3.65 juta jiwa.</p>
<p>Data ini sekali menunjukkan bahwa ada potensi besar jika Jitab Kuning ini dikelola dengan baik oleh pondok pesantren itu sendiri. Ini merupakan peluang bisnis yang luar biasa, jika kyai dan pimpinan pondok pesantren<br />
ini memiliki jiwa enterpreneurshif untuk berbisnis, maka Ini adalah potensi ekonomi yang sangat besar dari bisnis produksidan jual beli Kitab Kuning saja.</p>
<p>Bagaimana kalau keseluruhan potensi ini benar-benar dimanfaatkan oleh para kyai dan pimpinan Pondok Pesanten, pasti perekonomian di sekita Pondok Pesantren akan hidup dan berkembang dengan sangat pesat. Dan keuntungan tersebut dapst dipergunakan untuk membetikan bessiswa bagi para santri yang membutuhkan. {Odie}.</p>
<p>Demikian dan semoga bermanfaat.</p>
<p>Murodi al-Batawi<br />
Lebak Agung, Garut</p>
<p>26 Oktober 2024</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/pesantren-dan-bisnis-kitab-kuning/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/storage.nu.or.id/storage/post/16_9/mid/kitab-via-islamrforg_1635740030.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Kitab Kuning dan Tradisi Pesantren</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/kitab-kuning-dan-tradisi-pesantren/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/kitab-kuning-dan-tradisi-pesantren/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 Oct 2024 02:08:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab Kuning]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[Santri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=281</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Murodi al-Batawi Paling tidak, ada empat komponen yang harus diketahui <a class="read-more" href="https://gerbangbetawi.com/kitab-kuning-dan-tradisi-pesantren/" title="Kitab Kuning dan Tradisi Pesantren" itemprop="url"></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Paling tidak, ada empat komponen yang harus diketahui ketika kita berbicara soal pondok pesantren; yaitu, Pondok Pesantren, Kyai, Santri dan Kitab Kuning.</p>
<h3>Pondok</h3>
<p>Pondok merupakan tempat para santri menginap dan beristirahat. Di tempat inilah para santri banyak beraktifitas di luar mengaji atau bersekolah. Para santri dari berbagai daerah yang datang ke suatu pesantren berkumpul. Mereka bertemu, berdiskusi, tidur, terkadang para santri salafiyah memasak dan makan di pondok tersebut. Kegiatan rutin yang mereka lakukan ini terjadi setiap saat. Dari mulai bangun tidur hingga tidur kembali. Mereka belajar kelompok dan berdiskusi tentang materi yang baru diterima dari pimpinan pondok (kyai) atau dari para asatidz. Mereka saling memperkenalkan diri, mulai dati nama, asal usul dan lain sebagainya. Pada beberapa Pondok Pesantren tradisional, Salafiyah, mereka tidur dalam barak yang luas. Mereka, dahuli, membeli kasur sendiri atau cukup hanya tikar sebagai alas tidur mereka. Namun sekarang, hampir semua Pondok Pesantren sudah memiliki kamar untuk para santri, sehingga jarang yang tidur di barak. Mereka tidur di kamar dengan tempat tidur bertongkat dua. Dalam satu kamar ada yang diisi maksimal delapan orang.</p>
<h3>Kyai atau Ajengan dan Tuan Guru</h3>
<p>Sementara Kyai merupakan ungkapan atau gelar yang diberikan masyarakat Jawa, bagi orang yang dituakan atau berilmu. Sementara Ajengan, merupakan gelar keagamaan yang diberikan oleh masyarakat Jawa Barat. Sedang Guru atau Tuan Guru, gelar yang diberikan oleh masyarakat Betawi dan masyarakat Nusa Tenggara Barat. Dan Buya, merupakan gelar yang diberikan oleh masyarakat Melayu Sumatera. Mereka ini adalah role model bagi masyarakat kebanyakan. Kyai, Ajengan, Guru dan Tuan Guru, merupakan seorang alim pemilik pondok tersebut. Ia memiliki kompetensi keilmuan agama yang mumpuni dan memiliki otoritas keilmuan untuk mengajarkannya pada para santri.</p>
<p>Dahulu, sebelum menjadi Kyai dan pemilik Pondok Pesantren, mereka juga pasti pernah monfok pada pondok pesantren tertentu. Bahkan tidak hanya satu pondok mereka belajar mencari ilmu, selesai menguasai suat bidang ilmu tertentu, mereka pindah ke pondok pesantren lain untuk belajar dan mencari ilmu keagamaan lainnya, seperti usai mondok pada Kyai yang mengusai ilmu hadits, ia belajar pada kyai yang mengajarkan ilmu tafsir dan ilmu hadits. Begitulah tradisi rihlah ilmiah yang dilakukan para santri dahulu dan mungkin juga saat ini. Mereka berpindah dari satu kyai ke kyai lain untuk mempelajari ilmu keagamaan.</p>
<p>Selain mengajar para santri, ia juga mengajar para asatidz dan santri senior tentang disiplin suatu ilmu agama tertentu, seperti fiqh, tauhid, tafsir, hadits, nahwu sharaf dan lain-lain.</p>
<h3>Santri</h3>
<p>Santri merupakan para pelajar yang datang pada suatu lembaga pendidikan Islam, semisal Pondok Pesantren, untuk mempelajari bidang ilmu agama Islam. Mereka sengaja mendatangi dan mondok pada suatu Pondok Pesantren, sesuai dengan keinginan mereka untuk belajar bidang ilmu keagamaan yang menjadi minat besar mereka. Biasanya para santri belajar ilmu dasar terlebih dahulu sebelum melanjutkan ke jenjang lebih tinggi lagi. Seperti belajar ilmu nahwu, dimulai dengan mengkaji Kitab al- Jurumiyah, dilanjutkan dengan belajar kitab Nahwu al-Wadhih, kemudian Kawakib al-Durruyah dan al-Fiyah Ibnu Malik.</p>
<p>Untuk mengkaji kitab fiqh, para santri belajar kitab Safinah al-Najah dan lain sebagainya. Dalam tradidi pesantren, kita yang menjadi bahan belajar dan rujukan sering disebut dengan istilah Kitab Kuning.</p>
<h3>Kitab Kuning: Tradisi Pesantren</h3>
<p>Kitab Kuning meripakan sebuah istilah khas Indonesia. Disebut kitab kuning karena hampir sebagian besar kitab tersebut dicetak dengan kertas warna kuning. Dalam Undang-Undang No. 18 tahun 2019 tentang Pesantren telah ditegaskan bahwa kitab kuning adalah kitab keislaman berbahasa Arab atau kitab keislaman berbahasa lainnya yang menjadi rujukan tradisi keilmuan Islam di pesantren.</p>
<p>Sebagai sistem pengetahuan di pesantren, eksistensi Kitab Kuning sudah ada sejak abad 1-2 Hijriyah dan berkembang hingga sekarang. Tradisi literasi keislaman ini mampu tetap bertahan sebab ia memiliki khazanah keilmuan yang sangat luas(Fayumi). Dengan kata lain, Kitab Kuning ini merupakan hasil kreatifitas dan ijtihadi para ulama Pondok Pesantren yang terdiri dari berbagai bidang krilmuan Islam dan mampu bertahan hingga kini karena pesantren telah mengembangkan dan mempertahankan tradisi keilmuan Islam ini dengan baik, sehingga generasi muslim selalu mencarinya dengan mendatangi dan mondok di sebuah pesantren di Indonesia.</p>
<p>Kitab kuning memiliki banyak bidang keilmuan seperti tafsir, hadis, fikih, sejarah, dan lain sebagainya. Dalam bidang fikih saja sangat luas macamnya, misalnya ada fikih umum, fikih ibadah, fikih perkawinan, fikih perdagangan (mu’amalah), fikih perbandingan madzhab, fikih kontemporer, fikih lingkungan hidup, fikih perempuan, fikih politik, dan lain-lain. Selain itu, ada juga macam kitab kuning yang menggunakan model syarakh (penjelasan) sebagai Meski Kitab Kuning menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa yang digunakan. Tetapi, ada Kitab Kuning yang ditulis dalam huruf Arab berbahasa Melayu atau seting disebut dengan Arab Pegon atau Arab Jawi.</p>
<p>Tradisi mengaji Kitab Kuning biasanya dilakukan dengan model pengajaran Sorogan, Wtonan dan Bandongan. Model sorogan, santri biasanya mendatangi Kyai ata Ustadz dengan membawa kitab tertentu untuk dipelajari. Sedang Wetonsn, bissanya santri belsjar Kitab Kuning sesuai waktu yang ditentukan oleh Kyai. Sementara Bandongan, para ssntri membentuk lingkaran untuk mengkaji Kitab Kuning bersama para santri lsinnya. Dsn sang Kyai berada di tengah lingkaran menjadi pengajarnya (Odie).</p>
<p><em>Pamulang,</em><br />
<em>25 Oktober 2025.</em></p>
<p><em>Murodi al-Batawi</em></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/kitab-kuning-dan-tradisi-pesantren/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn%3AANd9GcSnAyyz425nawVnN6xTOJaWkNqrrilbhmqVPQ&#038;usqp=CAU&#038;ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
	</channel>
</rss>
