<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Maulid &#8211; Gerbang Betawi</title>
	<atom:link href="https://gerbangbetawi.com/tag/maulid/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://gerbangbetawi.com</link>
	<description>Gerakan Kebangkitan Betawi</description>
	<lastBuildDate>Sat, 29 Aug 2026 01:33:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.2</generator>

<image>
	<url>https://res.cloudinary.com/du66xc8mf/images/w_32,h_32,c_fill,g_auto/f_webp,q_auto:low/v1725435610/cropped-gerbang-betawi-4-1/cropped-gerbang-betawi-4-1.webp?_i=AA</url>
	<title>Maulid &#8211; Gerbang Betawi</title>
	<link>https://gerbangbetawi.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tradisi Perayaan Maulid Nabi di Betawi: Antara Keberkahan dan Ancaman Kepunahan</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/tradisi-perayaan-maulid-nabi-di-betawi/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/tradisi-perayaan-maulid-nabi-di-betawi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 29 Aug 2026 01:30:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Maulid]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=829</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Murodi al-Batawi]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Setiap bulan Rabiul Awal tiba, denyut kehidupan masyarakat Betawi di Jakarta berdetak lebih kencang. Bagi mereka, yang akrab disapa &#8220;orang Betawi&#8221; atau &#8220;orang Jakarta&#8221;, Maulid Nabi Muhammad SAW bukan sekadar peringatan tahunan. Ia adalah napas budaya yang telah mengalir selama bergenerasi—sebuah harmoni antara ritual keagamaan dan ekspresi seni yang khas. Tradisi perayaan kelahiran Nabi yang dikenal dengan istilah *Muludan* ini menjadi cermin bagaimana masyarakat Betawi memaknai Islam dengan cara yang unik dan penuh warna.</p>
<p><strong>Ruh Tradisi: Kitab Barzanji dan Samrah Betawi.</strong></p>
<p>Jika ada satu elemen yang paling identik dengan Maulid di Betawi, itu adalah pembacaan Kitab Barzanji. Karya Syaikh Ja&#8217;far al-Barzanji ini berisi syair dan prosa yang menuturkan riwayat kelahiran, kehidupan, dan kemuliaan akhlak Nabi Muhammad SAW. Masyarakat Betawi membacakannya secara bergantian bab demi bab dalam berbagai kesempatan—bukan hanya saat Maulid, tetapi juga di acara pernikahan, khitanan, majelis taklim, hingga tasyakuran.</p>
<p>Yang menarik, pembacaan Barzanji di Betawi selalu diawali dengan *tawasul*, yaitu pengiriman doa dan bacaan Al-Fatihah, Surat Yasin, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas untuk sanak saudara yang telah meninggal dunia. Setelah itu, barulah pembacaan Maulid Nabi dilakukan. Tradisi ini menjadi pembeda yang khas dibandingkan tempat lain.</p>
<p>Keunikan lainnya adalah hadirnya Samrah Betawi, sebuah seni pertunjukan teater yang mengiringi perayaan Maulid. Awalnya, Samrah dianggap sebagai seni sakral karena selalu dimainkan setelah ritual Maulid Nabi. Dalam pertunjukannya, Samrah mengangkat kisah-kisah kehidupan masyarakat Betawi—bagaimana menyikapi berbagai permasalahan hidup dengan bimbingan seorang ulama. Unsur Islam sangat terasa, mulai dari lagu pembuka &#8220;Assalamualaikum&#8221; yang berisi doa-doa, hingga isi lagu yang sarat nasihat tentang hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama .</p>
<p><strong>Tanda Kebersamaan: Petasan dan Nasi Kebuli</strong></p>
<p>Selain Barzanji dan Samrah, ada tradisi yang tak kalah khas: penggunaan petasan dan kembang api. Bagi masyarakat Betawi, petasan bukan sekadar hiburan. Ia adalah kode undangan antar-kampung sebagai media komunikasi tradisional. Bunyi petasan yang meriah mampu menarik perhatian warga dari kampung lain untuk berbondong-bondong hadir di lokasi perayaan. Menariknya, petasan tradisional Betawi dibuat dari bambu atau bledugan yang diberi bahan tertentu, lalu diledakkan dengan air dan percikan api—jauh sebelum petasan pabrikan dikenal.</p>
<p>Tak lengkap rasanya perayaan Maulid tanpa hidangan khas. Nasi Kebuli Betawi menjadi sajian wajib yang menyertai setiap peringatan. Nasi yang kaya rempah ini disajikan bersama daging kambing atau ayam sebagai simbol kemeriahan dan kebersamaan. Dulu, masyarakat Betawi juga menyantap &#8220;menu berkah bersama&#8221;—makanan yang dibawa dari rumah masing-masing dan dinikmati secara lesehan .</p>
<p><strong>Kitab Maulid Berbahasa Betawi: Akar yang Menguat</strong></p>
<p>Salah satu bukti kuatnya akar tradisi Maulid di Betawi adalah adanya kitab <em>Az-Zahrul Basim fi Athwari Abil Qasim</em>, yang ditulis oleh Sayyid Utsman bin Yahya dalam bahasa Melayu Betawi dengan aksara Jawi . Kitab ini sengaja disiapkan untuk masyarakat Betawi yang gemar shalawat dan maulid, karena selama ini kitab maulid yang beredar umumnya berbahasa Arab yang jarang dimengerti . Kitab ini berisi riwayat kelahiran Nabi, mukjizat, irhash, hingga perangai terpuji Rasulullah—semuanya dalam bahasa yang akrab di telinga orang Betawi .</p>
<p>Ini menunjukkan bahwa tradisi Maulid di Betawi bukanlah sekadar tiruan dari budaya Arab, melainkan hasil akulturasi yang mendalam antara ajaran Islam dan kearifan lokal. Sebagaimana diungkapkan peneliti BRIN Halimatusadiyah, Maulid Nabi, tahlilan, dan Lebaran Betawi adalah &#8220;bukan hanya ibadah, tapi juga ekspresi budaya yang melekat dalam keseharian warga&#8221; .</p>
<p><strong>Ancaman di Tengah Modernisasi</strong></p>
<p>Namun, di balik kekayaan tradisi ini, ada kabar yang memprihatinkan. Halimatusadiyah mencatat bahwa banyak tradisi Maulid di Betawi kini hanya tinggal kenangan akibat penggusuran kampung dan hilangnya mushola . Lebaran Betawi yang dulu menjadi ritual warga kini diadakan di panggung besar Monas, &#8220;lebih terasa sebagai konten wisata daripada ritual budaya warga&#8221; . Samrah Betawi pun, yang dulu merupakan pertunjukan sakral, kini sering menjadi hiburan semata karena tidak lagi disandingkan dengan ritual Maulid Nabi .</p>
<p><strong>Menjaga Warisan untuk Generasi Mendatang</strong></p>
<p>Di tengah gempuran modernisasi dan arus informasi yang deras, tradisi Maulid Betawi membutuhkan perhatian serius. Bukan untuk dibiarkan menjadi museum, melainkan untuk dihidupkan kembali dengan cara yang relevan dengan zaman. Sebagaimana dicontohkan di Masjid Al-Alam Marunda pada 2010, perayaan Maulid dapat dipadukan dengan budaya Betawi seperti ondel-ondel, tari zapin, dan sajian lesehan di sepanjang jalan—sebuah upaya melestarikan tradisi sekaligus memperkenalkannya kepada generasi muda .</p>
<p>Masyarakat Betawi pada umumnya adalah penganut Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang menjunjung tinggi tradisi puji-pujian dan shalawat kepada Nabi . Perayaan Maulid bukanlah sekadar seremonial. Ia adalah momen untuk mempererat silaturahmi, menjaga keutuhan masyarakat, dan meneladani akhlak mulia Rasulullah—nilai-nilai yang tak pernah lekang oleh waktu. Sudah saatnya kita bersama menjaga warisan budaya ini agar tidak punah ditelan zaman. Demikian dan terima kasih(odie).</p>
<p>Wallahua’lambishawab.</p>
<p>Palembang, 29 Agustus 2026.<br />
Murodi al-Batawi.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/tradisi-perayaan-maulid-nabi-di-betawi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://www.senibudayabetawi.com/wp-content/uploads/2023/09/maulidd.jpg" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Festival Maulid Nasional 13 Hadirkan Tradisi Betawi di JIC</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/festival-maulid-nasional-13-hadirkan-tradisi-betawi-di-jic-2/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/festival-maulid-nasional-13-hadirkan-tradisi-betawi-di-jic-2/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 26 Aug 2026 04:44:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Betawi Event]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[JIC]]></category>
		<category><![CDATA[Maulid]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=818</guid>

					<description><![CDATA[Festival Maulid Nusantara (FMN) 13 resmi digelar di Halaman Parkir Convention Hall Jakarta Islamic Centre]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JAKARTA</strong> &#8211; Festival Maulid Nusantara (FMN) 13 resmi digelar di Halaman Parkir Convention Hall Jakarta Islamic Centre (JIC), Selasa (25/8/2026). Kegiatan berlangsung meriah dengan memadukan syiar Islam, seni, budaya Betawi, serta kreativitas anak dan generasi muda.</p>
<p>Pembukaan FMN 13 diawali dengan tradisi Betawi Palang Pintu yang ditampilkan oleh Sanggar Sinar Batavia, dilanjutkan dengan pertunjukan tari Betawi. Penampilan tersebut menjadi pembuka yang menarik sekaligus menunjukkan komitmen Jakarta Islamic Centre dalam menjaga dan melestarikan kekayaan budaya lokal.</p>
<p>Kegiatan secara resmi dibuka oleh Prof. Dr. Agus Suradika, Kepala Divisi Umum PPIJ, yang hadir mewakili Kepala PPIJ KH. Muhyiddin Ishaq. Turut hadir Ir. Sukri Kardjono selaku Ketua Panitia Festival Maulid Nusantara 2026 atau FMN 13.</p>
<p>Dalam sambutannya, Prof. Dr. Agus Suradika mengaku terkesan melihat kemeriahan kegiatan dan antusiasme masyarakat yang hadir.</p>
<p>“Berkesan sekali hari ini, sangat ramai, apalagi dibuka dengan Palang Pintu sebagai tradisi Betawi. Semoga hari ini seluruh rangkaian Festival Maulid Nusantara dapat berjalan dengan baik,” ujar Prof. Agus.</p>
<p>Menurutnya, pelaksanaan kegiatan yang memadukan nilai keislaman dengan seni dan budaya lokal merupakan bagian dari implementasi visi besar Jakarta Islamic Centre sebagai pusat peradaban.</p>
<p>“JIC sangat peduli dengan upaya untuk melestarikan dan mengembangkan budaya lokal, seperti budaya Betawi,” ungkapnya.</p>
<p>Ia juga menyampaikan bahwa Jakarta Islamic Centre berencana menggelar Festival Palang Pintu pada tahun depan sebagai bagian dari upaya memperkuat pelestarian budaya Betawi.</p>
<p>Usai sambutan, Prof. Agus Suradika secara resmi membuka rangkaian Lomba Hadroh se-DKI Jakarta yang diikuti oleh 20 grup. Perlombaan tersebut menjadi salah satu agenda utama FMN 13 dalam menyemarakkan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW melalui seni musik Islami.</p>
<p>Pada waktu yang bersamaan, digelar pula Lomba Mewarnai yang diikuti sekitar 1.000 anak se-DKI Jakarta di Koridor Gedung Bisnis JAkarta Islamic Centre. Antusiasme terlihat dari kehadiran para guru dan wali murid yang memadati lokasi perlombaan.</p>
<p>Para peserta tampak antusias mewarnai gambar Masjid Raya Jakarta Islamic Centre. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang mengembangkan kreativitas anak, tetapi juga menjadi sarana mengenalkan Jakarta Islamic Centre sebagai salah satu pusat kegiatan keislaman dan kebudayaan kepada generasi muda.</p>
<p>Selain perlombaan, FMN 13 menghadirkan Workshop Seni Peran serta Cipta dan Baca Puisi yang berlangsung di Lobby Convention Hall. Kegiatan tersebut mendapat antusiasme dari para guru seni dan guru Bahasa Indonesia.</p>
<p>Sebanyak 60 peserta telah terdaftar melalui Google Form dan mengikuti kegiatan yang juga mendapat dukungan serta penugasan dari Suku Dinas Pendidikan Wilayah 2 Jakarta Utara. Workshop ini menjadi ruang bagi para pendidik untuk mengembangkan kreativitas dalam seni peran, penulisan, serta pembacaan puisi.</p>
<p>Sementara itu, Ketua Panitia FMN, Ir. Sukri Kardjono, menyampaikan rasa syukur atas kelancaran seluruh rangkaian kegiatan.</p>
<p>“Kami sangat senang karena acara berjalan dengan lancar. Seluruh rangkaian acara berjalan dengan baik dan mendapat antusiasme yang luar biasa,” kata Sukri.</p>
<p>Ia berharap pelaksanaan Festival Maulid Nusantara pada tahun mendatang dapat dikemas lebih menarik, lebih meriah, serta menghadirkan kegiatan yang semakin memberikan manfaat bagi masyarakat.</p>
<p>Rangkaian FMN 13 kemudian ditutup dengan pembagian hadiah kepada para pemenang lomba dan ramah tamah. Festival ini tidak hanya menjadi momentum memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menjadi ruang untuk mempertemukan nilai-nilai keislaman dengan seni, pendidikan, kreativitas, dan pelestarian budaya lokal.</p>
<p>Melalui FMN 13, Jakarta Islamic Centre kembali menegaskan perannya sebagai ruang yang mendorong tumbuhnya kehidupan keislaman sekaligus pelestarian budaya Nusantara, khususnya budaya Betawi, sebagai bagian penting dari identitas Jakarta.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/festival-maulid-nasional-13-hadirkan-tradisi-betawi-di-jic-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://res.cloudinary.com/uttpsgry/images/c_scale,w_625,h_417,dpr_2/f_webp,q_auto:low/v1787718187/IMG-20260826-WA0007/IMG-20260826-WA0007.jpg?_i=AA" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pesantren dan Tradisi Maulid: Cinta yang Berbudaya</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/pesantren-dan-tradisi-maulid-cinta-yang-berbudaya/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/pesantren-dan-tradisi-maulid-cinta-yang-berbudaya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 23 Aug 2026 22:20:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Maulid]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[Santri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=801</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Murodi al-Batawi.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Murodi al-Batawi</strong></em>.</p>
<p>Setiap bulan Rabiul Awal tiba, pesantren-pesantren di seluruh Nusantara berdenyut dengan semangat istimewa. Itulah saatnya tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW dihidupkan dengan segala kekhasannya. Lebih dari sekadar peringatan tahunan, Maulid di pesantren adalah cerminan bagaimana cinta kepada Rasulullah diterjemahkan ke dalam budaya yang hidup, mengakar, dan terus berkembang dari generasi ke generasi.</p>
<p>Pesantren memiliki posisi sentral dalam melestarikan tradisi Maulid di Indonesia. Di Pondok Pesantren Sunan Ampel, misalnya, peringatan Maulid digelar selama sepuluh hari berturut-turut—mulai tanggal satu hingga sepuluh Rabiul Awal. Ini bukan sekadar ritual, melainkan sebuah prosesi panjang yang sarat makna: pembacaan shalawat, doa pembuka, pembacaan dan pemaknaan kitab Barzanji, hingga puncaknya pembacaan Maulid Simtudduror. Dalam setiap rangkaian itu, terhampar pesan dakwah tentang akidah, syariah, dan akhlak yang diserap para santri.</p>
<p><strong>Kitab Barzanji: Denyut Jantung Maulid Pesantren</strong></p>
<p>Jika ada satu tradisi yang paling identik dengan Maulid di pesantren,adalah pembacaan kitab Al-Barzanji. Kitab karya Sayyid Ja&#8217;far al-Barzanji ini berisi syair dan prosa yang menuturkan biografi Nabi—nasab, kehidupan, hingga kemuliaan akhlaknya. Lantunannya yang merdu, dibaca secara beramai-ramai, menciptakan suasana spiritual yang mendalam.</p>
<p>Di Ponpes al-Masyhad, Cijurai, tradisi Berzanji ini bukan hanya digelar di lingkungan pesantren, tetapi juga bersama warga desa sekitar. Bahkan, tradisi ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kemendikbud sejak 2021. Ini menunjukkan bahwa tradisi pesantren telah menjadi bagian dari kekayaan budaya nasional.</p>
<p>Tidak hanya itu, penelitian menunjukkan bahwa pembacaan Barzanji di pesantren memiliki peran penting: sebagai media untuk mengimitasi dan menauladani akhlak serta sifat-sifat Nabi—shiddiq, amanah, tabligh, fathonah. Dengan mendengar dan menghayati kisah hidup Nabi, santri tidak sekadar mengenal, tetapi juga terdorong untuk meneladani. Dampaknya terasa dalam kehidupan santri: tumbuh rasa cinta kepada Nabi, berkurangnya gelisah, dan ketenangan hati.</p>
<p><strong>Tradisi Lokal yang Memperkaya Semangat Maulid</strong></p>
<p>Kekayaan tradisi Maulid di pesantren juga tercermin dari beragamnya ekspresi budaya lokal yang menyertainya. Di Banten misalnya, tradisi arak-arakan santri yang telah khatam Al-Qur&#8217;an dengan menaiki kuda jingkrak menjadi pemandangan khas setiap bulan Maulid. Diiringi lantunan rebana dan musik tradisional kencreng, prosesi ini menjadi simbol rasa syukur sekaligus kebanggaan masyarakat terhadap santri yang berhasil menuntaskan 30 juz Al-Qur&#8217;an. Tradisi yang telah berlangsung puluhan tahun ini memperkuat nuansa religius sekaligus menjadi hiburan rakyat yang mempererat hubungan pesantren dengan masyarakat.</p>
<p>Di tempat lain, seperti di Ponpes Al-‘Atiqiyah, Sukabumi, ratusan bahkan ribuan jamaah hadir dalam peringatan Maulid yang diisi ceramah agama. Pejabat setempat yang hadir menyatakan bahwa peringatan Maulid sudah menjadi tradisi warga, dan ia berharap ajaran Nabi selalu diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p><strong>Dari Seremoni Menuju Keteladanan</strong></p>
<p>Peringatan Maulid di pesantren bukanlah akhir dari segalanya. KH. Dr. Mudrik Kori Indra, MA, mengatakan dalam perayaan Maulid di Ponpes al-Ittifaqiyah, menegaskan bahwa Maulid bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum memperkuat keimanan dan memperdalam nilai-nilai keteladanan Rasulullah. &#8220;Kita semua dituntut meneladani kejujuran beliau dalam berdagang, amanah dalam kepemimpinan, dan kasih sayang kepada sesama,&#8221; ujarnya. Ia juga menyoroti peran strategis pesantren dalam menjaga keutuhan moral dan membentuk karakter generasi muda sebagai calon pemimpin dan ulama masa depan.</p>
<p>Pesan yang sama disampaikan KH. Dr. Dedy Suaedy, di Ponpes al-Firdausi, peringatan Maulid harus menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas iman dan akhlak, mengikuti Nabi sebagai rahmat bagi alam semesta.</p>
<p><strong>Maulid, Pesantren, dan Masa Depan Bangsa</strong></p>
<p>Di tengah arus modernisasi dan tantangan moral yang kian kompleks, pesantren melalui tradisi Maulid mengajarkan bahwa cinta kepada Nabi bukanlah sekadar pujian di atas mimbar, tetapi diwujudkan dalam budaya yang hidup, dalam aksi nyata untuk kemaslahatan umat. Pembacaan Barzanji mengingatkan pada akhlak mulia. Arak-arakan khataman Al-Qur&#8217;an menunjukkan penghargaan terhadap ilmu. Kebersamaan dalam perayaan mengikat ukhuwah antar-santri dan masyarakat.</p>
<p>Dari pesantren, tradisi Maulid terus bergema—mengingatkan bahwa meneladani Rasulullah adalah tanggung jawab yang harus diwariskan dari generasi ke generasi. Bukan sekadar untuk dikenang, tetapi untuk dihidupi.</p>
<p>Demikian dan terima kasih. Semoga bermanfaat (odie).</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/pesantren-dan-tradisi-maulid-cinta-yang-berbudaya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://almasoem.sch.id/wp-content/uploads/2022/10/Maulid.png" medium="image"></media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
