<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Suryalaya &#8211; Gerbang Betawi</title>
	<atom:link href="https://gerbangbetawi.com/tag/suryalaya/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://gerbangbetawi.com</link>
	<description>Gerakan Kebangkitan Betawi</description>
	<lastBuildDate>Wed, 09 Sep 2026 23:58:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1</generator>

<image>
	<url>https://res.cloudinary.com/du66xc8mf/images/w_32,h_32,c_fill,g_auto/f_webp,q_auto:low/v1725435610/cropped-gerbang-betawi-4-1/cropped-gerbang-betawi-4-1.webp?_i=AA</url>
	<title>Suryalaya &#8211; Gerbang Betawi</title>
	<link>https://gerbangbetawi.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Pesantren Suryalaya dan Program Inabah: Embun Pagi yang Tak Pernah Surut</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/pesantren-suryalaya-dan-program-inabah-embun-pagi-yang-tak-pernah-surut/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/pesantren-suryalaya-dan-program-inabah-embun-pagi-yang-tak-pernah-surut/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 09 Sep 2026 23:58:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[Suryalaya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=862</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Murodi al-Batawi]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Di lereng selatan Tasikmalaya, di sebuah kampung bernama Godebag, telah berdiri sejak 120 tahun lalu sebuah pesantren yang menjadi salah satu episentrum peradaban Islam di Jawa Barat. Namanya Suryalaya—secara harfiah bermakna &#8220;tempat matahari terbit&#8221; . Sejak didirikan oleh Syekh Abdullah bin Nur Muhammad atau yang akrab disapa Abah Sepuh pada 5 September 1905, pesantren ini telah menjadi saksi bisu perjalanan bangsa, lebih tua bahkan daripada akta kelahiran Negara Kesatuan Republik Indonesia.</p>
<p>Keistimewaan Suryalaya tidak hanya terletak pada usianya yang senja, tetapi pada bagaimana ia mampu memadukan napas agama dan roh kebudayaan tanpa kehilangan identitasnya. Di sini, tarekat dan tradisi lokal berjalan beriringan. Suryalaya dikenal sebagai pusat pengamalan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah (TQN), tarekat terbesar di Indonesia, terutama di Pulau Jawa. Pangeran Abah Sepuh dan penerusnya, KH Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin atau Abah Anom, berhasil membawa dialog antara budaya dan agama ke tingkat yang lebih dalam—tidak berhenti pada syariat, tetapi memasuki alam batin rohaniah (tarekat) dan bahkan menyentuh hakikat. Mereka mewariskan naskah Tanbih, semacam wasiat spiritual yang hingga kini menjadi pegangan bagi para ikhwan (pengikut) dalam menjalani kehidupan yang selaras dengan ajaran agama dan negara.</p>
<p>Namun, Suryalaya tidak tenggelam dalam romantisme masa lalu. Di tengah tantangan modernitas yang makin kompleks—geng motor, pinjaman online, dan degradasi moral generasi muda—pesantren ini hadir dengan jawaban konkret: pendidikan tasawuf. Seperti diketahui bahwa Pendidikan tasawuf dapat membentuk manusia yang ruh dan hatinya bersih sehingga mampu mengendalikan nafsu. Inilah jawaban atas problem sosial hari ini&#8221;.</p>
<p>Salah satu inovasi paling monumental yang lahir dari Suryalaya adalah Program Inabah, sebuah metode rehabilitasi religius bagi korban narkoba dan perilaku menyimpang . Inabah, yang berarti &#8220;kembali&#8221; atau &#8220;wadah pertaubatan&#8221;, menggabungkan terapi spiritual seperti mandi taubat, salat intensif hingga 120 rakaat per hari, serta praktik zikir jahar dan zikir khafi selama empat bulan masa rehabilitasi. Keberhasilan metode ini bahkan diakui oleh cendekiawan Muslim Azyumardi Azra, yang menilai Abah Anom sebagai sosok sufi yang peka terhadap persoalan sosial.</p>
<p>Lebih dari itu, Suryalaya juga menunjukkan bahwa pesantren bisa menjadi motor inovasi teknologi untuk keselamatan masyarakat. Pada peringatan Milad ke-120, pesantren ini menghibahkan empat unit Early Warning System (EWS) untuk mendeteksi bencana longsor, banjir, dan tsunami kepada Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya—sebuah langkah nyata yang menunjukkan bahwa nilai-nilai keagamaan dapat diwujudkan dalam bentuk nyata demi kemaslahatan umat.</p>
<p>Peringatan 120 tahun Suryalaya yang dihadiri ribuan jamaah dari berbagai negara, termasuk Malaysia dan Singapura, menjadi bukti bahwa kharisma dan ajaran pesantren ini telah menembus batas geografis. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam sambutannya menekankan pentingnya inklusivitas dan memperkuat infrastruktur pesantren sebagai dukungan nyata terhadap peran strategis Suryalaya dalam membina umat.</p>
<p>Pesantren Suryalaya adalah cermin bahwa Islam di Nusantara tidak pernah berhenti menyejarah. Ia tetap relevan, terus bersemi, dan menjadi &#8220;embun pagi&#8221;—memberi kehidupan dan kesegaran bagi siapa pun yang mendekat. Di usianya yang ke-120, Suryalaya mengajarkan kita bahwa pesantren bukanlah monumen masa lalu, melainkan ladang amal yang terus memberi jawaban bagi tantangan zaman.</p>
<p>Demikian dan terima kasih. Semoga bermanfaat( odie).</p>
<p>Wallahua’lambishawab.</p>
<p>Ciputat, 10 September 2026.<br />
Murodi al-Batawi.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/pesantren-suryalaya-dan-program-inabah-embun-pagi-yang-tak-pernah-surut/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://www.suryalaya.org/images/main-slider/img4.jpg" medium="image"></media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
