<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pesantren &#8211; Gerbang Betawi</title>
	<atom:link href="https://gerbangbetawi.com/tag/pesantren/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://gerbangbetawi.com</link>
	<description>Gerakan Kebangkitan Betawi</description>
	<lastBuildDate>Wed, 16 Apr 2025 02:47:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8.2</generator>

<image>
	<url>https://res.cloudinary.com/du66xc8mf/images/w_32,h_32,c_fill,g_auto/f_webp,q_auto:low/v1725435610/cropped-gerbang-betawi-4-1/cropped-gerbang-betawi-4-1.webp?_i=AA</url>
	<title>Pesantren &#8211; Gerbang Betawi</title>
	<link>https://gerbangbetawi.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Pesantren: Asal-usul Kelembagaan</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/pesantren-asal-usul-kelembagaan/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/pesantren-asal-usul-kelembagaan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 16 Apr 2025 02:47:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=506</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Murodi al-Batawi Pesantren yang kita kenal sekarang ini, memiliki latar histotis <a class="read-more" href="https://gerbangbetawi.com/pesantren-asal-usul-kelembagaan/" title="Pesantren: Asal-usul Kelembagaan" itemprop="url"></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Pesantren yang kita kenal sekarang ini, memiliki latar histotis yang sangat lama dan panjang. Institusi ini merupakan lembaga pendidikan tertua dan khas Indonesia. Ia telah memainkan peran yang sangat penting dalam proses pencerdasan generasi Muslim Indonesia.</p>
<p>Dari lembaga inilah lahir para Ulama, Mujahid, Pemikir, budayawan dan intelektual hebat serta para pejuang kemerdekaan Indonesia dan ternama. Sebut saja, miisalnya, KH. Wahab Hasbullah. KH. Hasyim Asy’ari, KH. Holil Bangkalan. Syeikh Nawai al-Bantani, KH. Nur Ali, dan lain sebagainya.</p>
<p>Mereka telah memainkan persan pada posisi mssing, dengan tidak meninggalkan peran dan fungsinya sebagai Ulama. Bahkan tidak hanya sebatas perjuangan kemerdekaan Indonesia, juga pra kemerdekaan dan pascakemerdekaan. Menjadi penyuluh di tengah gulitanya ilmu pengetahuan.</p>
<h3>Pengertian dan Asal Usul Pesantren</h3>
<p>Banyak ahli berbeda pendapat mengenai asal usul dan penamaan pesantren. Salah seorang di antaranya, Abu Hamid. Ia mengatakan bahwa diksi pesantren berasal dari bahasa Sanskerta yang memperoleh wujud dan pengertiannya tersendiri dalam bahasa Indonesia. Kata Pesantren berasal dari kata Sant yang berarti orang baik.</p>
<p>Kemudian disambung dengan kata tra/tri, yang betarti Suka Menolong. Di diksi Santri diberi awalan Pe dan akhiran an. Jadi kata Pesantreaan dan kemudian berubah menjadi Pesantren, yang berarti tempat pendidikan anak-anak supaya menjadi orang baik. Institusi ini sudah ada jauh sebelum agama Islam datang ke Indonesia.</p>
<p>Pada saat itu, Pesantren merupakan lembaga pendidikan agama Budha dan Hindu. Dan Pesantren mengalami transformasi luar biasa semenjak awal kedatangan Islam di Infonesia.</p>
<p>Sedangkan menurut Zamakhsyari Dhofier, bahwa kata Pesantren berasal dari kata dasar Santri yang berasal dari bahasa Tamil yang berarti Guru Mengaji. Sedangkan menurut CC. Berg, diksi pesantren berasal dari kata Shastra yang berarti Buku-Buku Suci, Buku-buku Agama dan Buku-buku pengetahuan.</p>
<p>Dengan demikian, istilah pesantren tersebut masuk ke Indonesia bersamaan dengan kedatangan dan perkembangan agama Hindu sebelum kedatangan agama Islam. Setelah datangnya agama Islam institusi ini ditransformasikan ke dalam sistem Islam dan kemudian kontens lembaga pesantren ini diisi dengan program pendidikan Islam sesuai dengan tujuan program pengembangan agama Islam.</p>
<p>Berdasarkan alasan terminologis, persamaan bentuk antara pesantren dan pendifikan Hindu di India dapat dianggap sebagai petunjuk untuk menjelaskan mengenai asal usul sistem pendidikan pesantren.</p>
<p>Pada zaman kerajaan dahulu, ada kebijakan yang dikeluarkan oleh kerajaan untuk memberikan satu wilayah atau daerah yang diperuntukan bagi pengembangan pendidikan dan diserahkan kepada tokoh agama untuk dimanfaatkan sebagai daerah otonomi penuh untuk pengembangan ajaran agama Hindu. Daerah itu diberi nama Perdikan, yang dibebaskan dari berbagai pungutan pajak, seperti yang dikenakan pada daerah lain.</p>
<p>Para pengelola dan guru di lembaga pendidikan Hindu ini tidak mendapat gaji, tetapi mendapatkan penghormatan luar biasa dari kerajaan dan masyarakat. Daerah perdikan biasanya terketak di pedesaan dan jauh dari pusat kota dan keramaian, sehingga mereka, baik para guru maupun para murid terbebas dari pengaruh dari luar, dan mereka hanya fokus mengajarkan dan mengembangkan ajaran agama Hindu dan Budha.</p>
<p>Diperkirakan, menurut Ziemek, pesantren di Indonesia mencontoh bentuk lembaga pendidikan Hindu-Budha dengan mengubah bentuk pendidikan Asrama dan Mandala, seperti lembaga pendidikan yang ada di Infia, Burma/Myanmar dan Muangthai ataupun di Jawa pra Islam.</p>
<p>Sedangkan menurut Clifford Geertz mengatakan bahwa pengertian Santri diturunkan dari bahasa Sanskerta, Shasstri yang berarti ilmuan Hindu yang pandai menulis. Kata Shashtri punya arti seirang pelajar yang ingin memperdalam ilmu agama. Kemudian diksi ini dalam tradisi penduduk Jawa muslim diadopsi menjadi penduduk Jawa yang menganut Islam dengan sunguh-sungguh, rajin shalat, dan sebagainya. Demikian pengertian istilah Santri dan pesantren. {Odie}</p>
<p><em><strong>Murodi Al Batawi</strong></em></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/pesantren-asal-usul-kelembagaan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/www.senibudayabetawi.com/wp-content/uploads/2022/08/pesantren-lama.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Pesantren Lansia: Smart Ideas</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/pesantren-lansia-smart-ideas/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/pesantren-lansia-smart-ideas/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 27 Oct 2024 09:27:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=287</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Murodi al-Batawi Pernahkah kita melihat, mengunjungi atau minimal mendengar, instilah <a class="read-more" href="https://gerbangbetawi.com/pesantren-lansia-smart-ideas/" title="Pesantren Lansia: Smart Ideas" itemprop="url"></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></p>
<p>Pernahkah kita melihat, mengunjungi atau minimal mendengar, instilah Pesantren Lansia.? Sebuah lembaga pendidikan Islam yang dikhususkan buat para Manula, Manusia Lanjut Usia. Jika sudah pernah mendengar, berarti kita termasuk orang yang cukup gaul dan peduli dengan kondisi masyarakat kita, terutama masyarakat muslim lanjut usia.</p>
<p>Jika belum, kemungkinan hanya sekadar celotehan para ahli pendidikan dan masyarakat umum saat mereka sedang berkumpul. Kenapa…? Karena, memang, model pesantren seperti ini belum belum ada. Dan hanya baru sekadar gagasan saja. Karena, mungkin, secara ekonomis, tidak menguntungkan. Mungkin juga karena belum dicoba. Jadi, masyarakat masih <em>wait and see</em>.</p>
<p>Pertanyaannya, siapa sebenarnya penggagas keinginan mendirikan Pondok Pesantren Lansia ini..? Tidak ada yang tahu pasti, siapa sebenarnya orang yang punya ide seperti ini.</p>
<p>Dari hasil bincang dengan Dr. KH. Cholil Nafis,MA, dari MUI pusat dan Prof.Dr.KH.Ahmad Tjahaya Nugraha,<br />
Pembina dan Pemilik Pondok Pesantren Roudhatun Nawawi, Lebak Agung, Garut, Jawa Barat, mereka mengatakan bahwa gagasan pendirian Pondok Pesantren Lansia, merupakan ide dari banyak ulama. Tapi yang telah merealisasikan gagasan tersebut, baru Prof.Ahmad Tjahaya Nugraha, di daerah Lebak Agung, Garut, Jawa Barat.</p>
<p>Sementara Dr.KH.Cholil Nafis, baru mempersiapkan lahan di Depok untuk pembangunan Pondok Pesantren Lansia.</p>
<p><strong>Kurikulum dan Pengasuh</strong></p>
<p>Karena hanya baru usekadar gagasan, maka yang perlu mendapatkan perhatian khusus adalah pembuatan kurikulum dan para pengasuhnya. Karena pesantren ini dikhususkan bagi para lansia, maka dalam pembuatan kurikulum sangat berbeda dengan kurulikulum pondok pesantren pada umumnya. Tidak mungkin mereka akan menggunakan kurikulum pesantren yang ada, baik di Kementerian Agama atau mengadopsi kurikulum pondok pesantren lain untuk diterapkan pada Pesantren Lansia.</p>
<p>Begitu juga terkait para pengasuh pesantren Lansia, harus berbeda dengan para pengasuh pesantren biasa. Mereka harus terdidik dan memiliki pengetahuan dan keterampilan, terutama ilmu agama yang mumpuni dan ilmu psikologi, agar mereka memiliki kepedulian dan empati kepada para santrinya, karena para santrinya juga khusus, diperlakukan secara khusus juga.</p>
<p><strong>Pesantren Lansia dan Panti Jompo</strong></p>
<p>Persamaan antara Pesantren Lansia dengan Panti Jompo, sama-sama menampung para Lansia. Bedanya, jika di Panti Jompo, tidak ada pengajaran dan pembimbingan ilmu agama dan praktik keagamaan, maka di peesantren Lansia harus ada bimbingan ibadah, pengajian dan praktik ibadah. Mereka harus mengikuti shalat jama’ah setiap waktu, berdzikir dan berdo’a. Mereka terus dibimbing agar imannya semakin kuat dan ilmunya bertambah, sehingga ketika saat ajsl menjemput, mereka sudah siap menetima kedatangan malaikat maut.</p>
<p>Jadi, menurut saya, ide pembangunan Pondok Pesantren Lansia, merupakan ide genial yang sangat smart, karena bisa memberikan pelajaran agama dan bimbingan ruhani bagi para lansia. Semoga terealisir.[Odie].</p>
<p>Pamulang, 27 Oktober 2024</p>
<p>Murodi al-Batawi</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/pesantren-lansia-smart-ideas/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn%3AANd9GcRB-1pZVCghWX_o9HzYhPQVZnq07a25cLzmDQ&#038;usqp=CAU&#038;ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Pesantren dan Bisnis Kitab Kuning</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/pesantren-dan-bisnis-kitab-kuning/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/pesantren-dan-bisnis-kitab-kuning/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 Oct 2024 06:32:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab Kuning]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=284</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Murodi al-Batawi Pondok Pesantren dan Kitab Kuning, selama ini tidak bisa <a class="read-more" href="https://gerbangbetawi.com/pesantren-dan-bisnis-kitab-kuning/" title="Pesantren dan Bisnis Kitab Kuning" itemprop="url"></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Pondok Pesantren dan Kitab Kuning, selama ini tidak bisa dipisahkan. Dua komponen ini merupakan elemen penting dalam sebuah proses pembelajaran di sebuah pesantren.</p>
<p>Kitab Kuning merupakan referensi utama yang menjadi bahan ajar bagi para santri. Mereka menjadikannya sebagai sebuah pegangan yang mesti dimiliki. Sebab jika tidak, mereka tidak bisa mengikuti pelajaran pendidikan agama yang bersumber dari Kitab Kuning.</p>
<p>Karena itu, dahulu, banyak toko buku agama Islam yang memproduksi dan menjualnya secara langsung kepada masyarakat. Jika para santri ingin memilikinya, mereka, baik secara sendiri-sendiri atau berkelompok, harus pergi ke toko buku tersebut untuk membelinya.</p>
<p>Biasanya, mereka tidak hanya membeli satu judul buku, tapi bisa membeli beberapa judul dan jilid buku kuning tersebut. Para santri bisa membeli buku berjudul Safinatun Naja, Taqribb, atau al-Jurumiyah.</p>
<p>Jika dalam satu daerah terdapat lebih dari tiga pondok pesantren, dengan masing memiliki minimal 1000 orang santri, berarti sudah dapat memproduksi Kitab Kuning sekitar 3000 eksemplar.</p>
<p>Ini merupakan potensi besar secara ekonomis. Bagaimana kalau bisnis ini ditangani langsung oleh pondok pesantren, pasti sangat menguntungkan buat pondok pesantren itu sendiri.</p>
<h3><strong>Kitab Kuning dan Percetakan</strong></h3>
<p>Jika dahulu banyak penerbit lokal yang bisa memproduksi referensi Kitab Kuning sekaligus menjualnya, sekarang, sepertinya sudah mulai berkurang bahkan banyak yang sudah bubar.</p>
<p>Salah satu penerbit Kitab Kuning yang masih eksis sampai hari ini adalah Penerbit Toha Putera, Semarang. Perusahaan ini kian besar, karena ia, selain memiliki mesin percetakan sendiri, juga memiliki pabrik kertas. Ia tidak memerlukan pasokan kertas dari pihak luar jika ingin mencetak dan menerbitkan kitab-kitab baru.</p>
<p>Perusahaan penerbitan ini semakin berjaya, karena ia juga mencetak dan menerbitkan buku-buku pelajaranan Agama untuk sekolah, mulai dari tingkat MI,MTs,dan MA, selain mencetak dan menerbitkan buku-buku umum.</p>
<p>Khusus untuk pencetakan dan penerbitan Kitab Kuning, Penerbit ini terus saja mrmproduksi kitab tersebut, bahkan bisa menualnya langsung ke pasar, karena ia juga memiliki toko dan perwakilannya di setiap daerah, sehingga orang nudah mendapatkannya.</p>
<p>Selain menerbitkan karya para ulama Indonesia, Toha Putera juga melakukan reproduksi karya ulama Nusantara yang pernah diterbitkan di luar negeri; seperti penerbit dari Singapore, Libanon, Mesir dan lain-lain. Seperti karya Imam Nawawi al-Bantani, dan lain-lain.</p>
<p>Hasil reproduksi Kitab Kuning tersebut, tetap selalu dicari banyak santri yang ingin mengetahui dan mendalami pemikiran para ulama terdahulu.</p>
<h3>Kitab Kuning dan Peluang Bisnis<br />
Pondok Pesantren</h3>
<p>Jika hipotesis ini benar bahwa Kitab Kuning tetap menjadi rujukan para Kyai dan santri di pondok pesantren, maka ini merupakan potensi ekonomi yang sangat luar biasa yang mesti menjadi bahan pemikiran bagaimana kyai dan pimpinan pondok menjadikannya sebagai lahan bisnis yang dapat menguntungkan pihak pesantren. Dan dana yang diperoleh dari keuntungan penjualan Kitab Kuning, dapat dijadikan tanbahan dana untuk pembiayaan para santri, sehingga para santri yang mondok menjadi gratis. Semuanya dibiayai oleh dana keuntungan penjualan Kitab Kuning.</p>
<p>Berdasarkan data yang ada di Kemeterian Agama pada 2024 diperoleh informasi bahwa jumlah pondok pesantren dan para Santri<br />
Indonesia ada sekitar 25 ribu Pondok Pesantren dan 3.65 juta jiwa.</p>
<p>Data ini sekali menunjukkan bahwa ada potensi besar jika Jitab Kuning ini dikelola dengan baik oleh pondok pesantren itu sendiri. Ini merupakan peluang bisnis yang luar biasa, jika kyai dan pimpinan pondok pesantren<br />
ini memiliki jiwa enterpreneurshif untuk berbisnis, maka Ini adalah potensi ekonomi yang sangat besar dari bisnis produksidan jual beli Kitab Kuning saja.</p>
<p>Bagaimana kalau keseluruhan potensi ini benar-benar dimanfaatkan oleh para kyai dan pimpinan Pondok Pesanten, pasti perekonomian di sekita Pondok Pesantren akan hidup dan berkembang dengan sangat pesat. Dan keuntungan tersebut dapst dipergunakan untuk membetikan bessiswa bagi para santri yang membutuhkan. {Odie}.</p>
<p>Demikian dan semoga bermanfaat.</p>
<p>Murodi al-Batawi<br />
Lebak Agung, Garut</p>
<p>26 Oktober 2024</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/pesantren-dan-bisnis-kitab-kuning/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/storage.nu.or.id/storage/post/16_9/mid/kitab-via-islamrforg_1635740030.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Kitab Kuning dan Tradisi Pesantren</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/kitab-kuning-dan-tradisi-pesantren/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/kitab-kuning-dan-tradisi-pesantren/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 Oct 2024 02:08:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab Kuning]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[Santri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=281</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Murodi al-Batawi Paling tidak, ada empat komponen yang harus diketahui <a class="read-more" href="https://gerbangbetawi.com/kitab-kuning-dan-tradisi-pesantren/" title="Kitab Kuning dan Tradisi Pesantren" itemprop="url"></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Paling tidak, ada empat komponen yang harus diketahui ketika kita berbicara soal pondok pesantren; yaitu, Pondok Pesantren, Kyai, Santri dan Kitab Kuning.</p>
<h3>Pondok</h3>
<p>Pondok merupakan tempat para santri menginap dan beristirahat. Di tempat inilah para santri banyak beraktifitas di luar mengaji atau bersekolah. Para santri dari berbagai daerah yang datang ke suatu pesantren berkumpul. Mereka bertemu, berdiskusi, tidur, terkadang para santri salafiyah memasak dan makan di pondok tersebut. Kegiatan rutin yang mereka lakukan ini terjadi setiap saat. Dari mulai bangun tidur hingga tidur kembali. Mereka belajar kelompok dan berdiskusi tentang materi yang baru diterima dari pimpinan pondok (kyai) atau dari para asatidz. Mereka saling memperkenalkan diri, mulai dati nama, asal usul dan lain sebagainya. Pada beberapa Pondok Pesantren tradisional, Salafiyah, mereka tidur dalam barak yang luas. Mereka, dahuli, membeli kasur sendiri atau cukup hanya tikar sebagai alas tidur mereka. Namun sekarang, hampir semua Pondok Pesantren sudah memiliki kamar untuk para santri, sehingga jarang yang tidur di barak. Mereka tidur di kamar dengan tempat tidur bertongkat dua. Dalam satu kamar ada yang diisi maksimal delapan orang.</p>
<h3>Kyai atau Ajengan dan Tuan Guru</h3>
<p>Sementara Kyai merupakan ungkapan atau gelar yang diberikan masyarakat Jawa, bagi orang yang dituakan atau berilmu. Sementara Ajengan, merupakan gelar keagamaan yang diberikan oleh masyarakat Jawa Barat. Sedang Guru atau Tuan Guru, gelar yang diberikan oleh masyarakat Betawi dan masyarakat Nusa Tenggara Barat. Dan Buya, merupakan gelar yang diberikan oleh masyarakat Melayu Sumatera. Mereka ini adalah role model bagi masyarakat kebanyakan. Kyai, Ajengan, Guru dan Tuan Guru, merupakan seorang alim pemilik pondok tersebut. Ia memiliki kompetensi keilmuan agama yang mumpuni dan memiliki otoritas keilmuan untuk mengajarkannya pada para santri.</p>
<p>Dahulu, sebelum menjadi Kyai dan pemilik Pondok Pesantren, mereka juga pasti pernah monfok pada pondok pesantren tertentu. Bahkan tidak hanya satu pondok mereka belajar mencari ilmu, selesai menguasai suat bidang ilmu tertentu, mereka pindah ke pondok pesantren lain untuk belajar dan mencari ilmu keagamaan lainnya, seperti usai mondok pada Kyai yang mengusai ilmu hadits, ia belajar pada kyai yang mengajarkan ilmu tafsir dan ilmu hadits. Begitulah tradisi rihlah ilmiah yang dilakukan para santri dahulu dan mungkin juga saat ini. Mereka berpindah dari satu kyai ke kyai lain untuk mempelajari ilmu keagamaan.</p>
<p>Selain mengajar para santri, ia juga mengajar para asatidz dan santri senior tentang disiplin suatu ilmu agama tertentu, seperti fiqh, tauhid, tafsir, hadits, nahwu sharaf dan lain-lain.</p>
<h3>Santri</h3>
<p>Santri merupakan para pelajar yang datang pada suatu lembaga pendidikan Islam, semisal Pondok Pesantren, untuk mempelajari bidang ilmu agama Islam. Mereka sengaja mendatangi dan mondok pada suatu Pondok Pesantren, sesuai dengan keinginan mereka untuk belajar bidang ilmu keagamaan yang menjadi minat besar mereka. Biasanya para santri belajar ilmu dasar terlebih dahulu sebelum melanjutkan ke jenjang lebih tinggi lagi. Seperti belajar ilmu nahwu, dimulai dengan mengkaji Kitab al- Jurumiyah, dilanjutkan dengan belajar kitab Nahwu al-Wadhih, kemudian Kawakib al-Durruyah dan al-Fiyah Ibnu Malik.</p>
<p>Untuk mengkaji kitab fiqh, para santri belajar kitab Safinah al-Najah dan lain sebagainya. Dalam tradidi pesantren, kita yang menjadi bahan belajar dan rujukan sering disebut dengan istilah Kitab Kuning.</p>
<h3>Kitab Kuning: Tradisi Pesantren</h3>
<p>Kitab Kuning meripakan sebuah istilah khas Indonesia. Disebut kitab kuning karena hampir sebagian besar kitab tersebut dicetak dengan kertas warna kuning. Dalam Undang-Undang No. 18 tahun 2019 tentang Pesantren telah ditegaskan bahwa kitab kuning adalah kitab keislaman berbahasa Arab atau kitab keislaman berbahasa lainnya yang menjadi rujukan tradisi keilmuan Islam di pesantren.</p>
<p>Sebagai sistem pengetahuan di pesantren, eksistensi Kitab Kuning sudah ada sejak abad 1-2 Hijriyah dan berkembang hingga sekarang. Tradisi literasi keislaman ini mampu tetap bertahan sebab ia memiliki khazanah keilmuan yang sangat luas(Fayumi). Dengan kata lain, Kitab Kuning ini merupakan hasil kreatifitas dan ijtihadi para ulama Pondok Pesantren yang terdiri dari berbagai bidang krilmuan Islam dan mampu bertahan hingga kini karena pesantren telah mengembangkan dan mempertahankan tradisi keilmuan Islam ini dengan baik, sehingga generasi muslim selalu mencarinya dengan mendatangi dan mondok di sebuah pesantren di Indonesia.</p>
<p>Kitab kuning memiliki banyak bidang keilmuan seperti tafsir, hadis, fikih, sejarah, dan lain sebagainya. Dalam bidang fikih saja sangat luas macamnya, misalnya ada fikih umum, fikih ibadah, fikih perkawinan, fikih perdagangan (mu’amalah), fikih perbandingan madzhab, fikih kontemporer, fikih lingkungan hidup, fikih perempuan, fikih politik, dan lain-lain. Selain itu, ada juga macam kitab kuning yang menggunakan model syarakh (penjelasan) sebagai Meski Kitab Kuning menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa yang digunakan. Tetapi, ada Kitab Kuning yang ditulis dalam huruf Arab berbahasa Melayu atau seting disebut dengan Arab Pegon atau Arab Jawi.</p>
<p>Tradisi mengaji Kitab Kuning biasanya dilakukan dengan model pengajaran Sorogan, Wtonan dan Bandongan. Model sorogan, santri biasanya mendatangi Kyai ata Ustadz dengan membawa kitab tertentu untuk dipelajari. Sedang Wetonsn, bissanya santri belsjar Kitab Kuning sesuai waktu yang ditentukan oleh Kyai. Sementara Bandongan, para ssntri membentuk lingkaran untuk mengkaji Kitab Kuning bersama para santri lsinnya. Dsn sang Kyai berada di tengah lingkaran menjadi pengajarnya (Odie).</p>
<p><em>Pamulang,</em><br />
<em>25 Oktober 2025.</em></p>
<p><em>Murodi al-Batawi</em></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/kitab-kuning-dan-tradisi-pesantren/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn%3AANd9GcSnAyyz425nawVnN6xTOJaWkNqrrilbhmqVPQ&#038;usqp=CAU&#038;ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
	</channel>
</rss>
