Oleh: Murodi al-Batawi.
Ketika kita menelusuri peta perjuangan kemerdekaan Indonesia, nama-nama besar dari Jawa sering kali mendominasi narasi sejarah. Namun, di ujung timur Nusantara, terdapat sebuah lembaga yang telah melahirkan kader-kader pejuang sejati—bukan hanya di medan perang, tetapi juga di medan pendidikan, dakwah, dan pembangunan moral bangsa. Lembaga itu adalah Darud Dakwah wal-Irsyad (DDI), yang lahir dari rahim perjuangan seorang ulama kharismatik, Anregurutta KH. Abdurrahman Ambo Dalle.
Dari Madrasah Sederhana di Tengah Penjajahan
Sejarah perjuangan DDI dimulai pada masa yang paling kelam—ketika Indonesia masih berada di bawah cengkeraman kolonialisme. Pada 21 Desember 1938, di Mangkoso, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, KH. Abdurrahman Ambo Dalle mendirikan Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI). Madrasah sederhana ini “muncul di tengah cekikan kolonialisme Jepang”—sebuah keberanian yang luar biasa di masa ketika pendidikan bagi pribumi sangat dibatasi oleh kekuasaan asing.
Hal yangmembuat perjuangan Ambo Dalle begitu istimewa adalah pendekatannya: ia tidak mengangkat senjata secara langsung, tetapi memilih jalan yang lebih strategis, yaitu melahirkan dan mendidik para pejuang pembela bangsa melalui pendidikan. Inilah yang kemudian diakui oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan sebagai bentuk perjuangan yang tak kalah heroik dari pertempuran fisik.
Menyulut Perlawanan di Bawah Tekanan Kolonial
Pada masa pendudukan Jepang, Ambo Dalle terus menyelenggarakan proses belajar-mengajar meskipun dalam situasi yang sangat sulit dan dibatasi oleh pemerintah Jepang. Ia dan para ulama lainnya bergerak dalam sunyi, merintis pendidikan di tengah ancaman serdadu Jepang yang setiap saat bisa membubarkan kegiatan-kegiatan yang dianggap subversif. Inilah bentuk perlawanan intelektual yang menjadi ciri khas perjuangan DDI—melawan penjajahan bukan dengan kekerasan, tetapi dengan mencerdaskan umat dan menanamkan kesadaran akan harga diri sebagai bangsa merdeka.
Pasca-Proklamasi: Dari MAI Menuju DDI
Setelah Proklamasi Kemerdekaan 1945, perjuangan belum usai. Agresi militer Belanda yang kembali ingin menguasai Indonesia membutuhkan perlawanan dari segala lini. Pada 17 Februari 1947, para ulama Sulawesi Selatan berkumpul dan sepakat mengubah MAI menjadi Darud Dakwah wal-Irsyad (DDI)—sebuah organisasi massa Islam yang bergerak di bidang pendidikan, dakwah, dan sosial kemasyarakatan.
Nama “Darud Dakwah wal-Irsyad” yang berarti “rumah dakwah dan bimbingan” dipilih dari usulan AGH. Abdurrahman Firdaus. Di bawah kepemimpinan Ambo Dalle sebagai ketua umum pertama, DDI menjadi wadah bagi para ulama dan santri untuk terus berjuang—bukan dengan senjata, tetapi dengan pendidikan dan dakwah yang membangun kesadaran kebangsaan. Dalam perjalanannya, DDI nyaris “dibunuh” bertubi-tubi dalam sejarahnya, namun berkat kecakapan dan taktik para ulama pendirinya, organisasi ini tetap kokoh berdiri.
Mendidik Pejuang, Bukan Sekadar Santri
Perjuangan Ambo Dalle melalui DDI memiliki visi yang jauh ke depan: mencerdaskan umat Islam di Sulawesi Selatan dan Indonesia Timur. Ia melakukan desentralisasi pesantren, menyebarkan pendidikan ke berbagai pelosok, tidak hanya fokus pada satu tempat belajar. Pemikiran ini melahirkan ratusan pesantren dan madrasah di berbagai daerah—di Sulawesi, Kalimantan, Papua, hingga ke Sumatera dan Jawa.
Hal yang membuat DDI begitu efektif melahirkan pejuang adalah sistem pendidikannya yang menggabungkan kurikulum pesantren tradisional dengan pengetahuan umum. Para santri tidak hanya mengaji kitab kuning, tetapi juga mengikuti pendidikan formal berjenjang. Mereka dibekali dengan ilmu agama yang mendalam sekaligus wawasan kebangsaan yang luas—persis seperti yang dilakukan oleh pesantren-pesantren besar lainnya di Jawa. Kader-kader yang lahir dari DDI kemudian tersebar di berbagai sektor: menjadi pejabat Kementerian Agama, guru besar di perguruan tinggi, bahkan pengusaha sukses yang turut membangun perekonomian bangsa.
Pengakuan atas Jasa Seorang Pejuang
Pengabdian KH. Abdurrahman Ambo Dalle tidak hanya diakui oleh masyarakat, tetapi juga oleh negara. Pada masa kepemimpinan Presiden BJ. Habibie, ia menerima tanda kehormatan Bintang Mahaputra Nararya atas kontribusinya bagi bangsa. Kini, DDI terus mengusulkan agar beliau ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional—sebuah pengakuan yang layak atas perjuangannya yang tidak pernah lelah. Ada lima poin yang menjadikan Ambo Dalle layak menyandang gelar pahlawan: pengabdian di bidang pendidikan, pengabdian di bidang agama, perjuangan melawan penjajahan, pengorbanan, dan keteladanan.
Kisah pengorbanan Ambo Dalle sungguh mengharukan. Ia pernah diculik dan hidup di hutan selama delapan tahun karena menolak ajakan pemberontakan, namun tetap melanjutkan pengabdiannya untuk mensyiarkan pendidikan Islam. Ini adalah bukti bahwa seorang pejuang sejati tidak pernah mengorbankan prinsipnya, bahkan ketika menghadapi tekanan yang luar biasa.
Penutup
Kini, setelah lebih dari delapan dekade Indonesia merdeka, DDI terus melanjutkan misi perjuangan para pendirinya. Dengan ribuan kader yang tersebar di seluruh Nusantara, DDI hadir sebagai organisasi yang mengabdi tanpa batas—menyelesaikan masalah kemiskinan, radikalisme, hingga pemerataan sektor pendidikan. Semangat perjuangan Anregurutta Ambo Dalle tetap hidup di setiap pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi yang didirikannya. Dari DDI, kita belajar bahwa perjuangan kemerdekaan tidak berhenti pada proklamasi, tetapi terus berlanjut dalam bentuk pengabdian kepada agama, bangsa, dan tanah air.
Demikian dan terima kasih. Semoga bermanfaat {odie}.
Wallahua’lambishawab.
Pamulang, 12 Agustus 2026.
Murodi al-Batawi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banten/foto/bank/originals/ponpes-daar-el-qolam-ponpes-la-tansa.jpg?w=300&resize=300,178&ssl=1)
