Oleh: Murodi al-Batawi.
Ijo Royo-royo: Dari Metafora Menuju Gerakan
Istilah “ijo royo-royo” dalam tradisi budaya Jawa berarti “hijau sekali” atau “sangat hijau”. Dalam konteks sosial, ungkapan ini awalnya populer sebagai kode optimisme dan harapan, bahkan sempat menjadi metafora bagi proses “penghijauan” di berbagai bidang kehidupan. Namun, kini kata itu menemukan makna baru yang lebih konkret dan mendesak. Ijo royo-royo menjadi simbol gerakan ekologi yang diusung oleh pesantren. Bukan sekadar pepohonan yang rimbun, melainkan kesadaran kolektif untuk menjadikan lingkungan sebagai bagian dari ibadah dan tanggung jawab moral umat.
Diketahui bahwa Indonesia memiliki lebih dari 42.000 pesantren aktif yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Potensi ini luar biasa untuk melahirkan etika ekologis berbasis spiritualitas. Namun, potensi tersebut masih belum tergarap maksimal. Padahal, jika kita kembali kepada akar teks dan tradisi Islam, ajaran tentang tanggung jawab ekologis sangatlah kuat. Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia disebut sebagai khalifatullah fil-ardh, wakil Tuhan di muka bumi—yang diberi mandat bukan untuk menguasai, tetapi untuk memakmurkan dan menjaga keseimbangannya. Dengan demikian, merusak alam sama artinya dengan mengkhianati amanah kekhalifahan itu sendiri.
Di sinilah pesantren memiliki modal besar: nilai-nilai dasar seperti tawazun (keseimbangan), qana’ah (kesederhanaan), dan ihsan (berbuat baik secara sadar) adalah pilar etika yang sangat ekologis. Bila nilai-nilai ini dihidupkan, pesantren dapat menjadi pusat pembentukan kesadaran ekologis yang berakar pada spiritualitas Islam. Alam bukan objek eksploitasi, melainkan mitra spiritual dalam ibadah.
Jejak Hijau Pesantren: Dari Wacana ke Aksi
Gerakan eco-pesantren kini mulai menemukan momentumnya. Menteri Agama Nasaruddin Umar baru-baru ini meluncurkan Gerakan Eco-Pesantren sebagai bagian dari upaya strategis mendorong kemandirian pesantren berbasis lingkungan. Program ini mencakup penghijauan, pengelolaan sampah, konservasi air, serta pembiasaan hidup bersih dan sehat di lingkungan santri. Peluncuran ini menjadi sinyal penting bahwa pemerintah mulai serius mengintegrasikan isu lingkungan ke dalam kebijakan pendidikan pesantren.
Di lapangan, sejumlah pesantren telah menjadi pelopor. Pesantren Wali Barokah Kediri, misalnya, telah mengimplementasikan konsep eco-pesantren secara menyeluruh. Mereka menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk menyuplai energi, memanfaatkan kendaraan listrik, dan membangun sarana sanitasi yang memadai bagi lebih dari 4.000 penghuni. Wakil Ketua Pesantren, H. Agung Riyanto, menegaskan bahwa upaya ini adalah bagian dari menanamkan rasa tanggung jawab terhadap alam sebagai bagian dari ibadah dan pendidikan.
Pesantren As’adiyah Wajo di Sulawesi Selatan juga menjadi contoh nyata. Saat gelaran Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) Nasional beberapa waktu lalu, kawasan pesantren tampak ijo royo-royo- pohon-pohon tumbuh subur sehingga mampu menekan hawa panas di kawasan yang berada dekat garis khatulistiwa . Pemandangan ini bukan sekadar estetika, melainkan bukti bahwa pesantren dapat menjadi pusat gerakan hijau yang efektif.
Nalar Hijau: Menjembatani Spiritualitas dan Rasionalitas
Apa yang disebut sebagai “nalar hijau” pesantren menawarkan keseimbangan antara rasionalitas dan spiritualitas. Dunia modern sering terjebak pada dua ekstrem: satu sisi memuja rasionalitas sains yang kering nilai, sisi lain mengandalkan seruan moral minus basis ilmiah. Pada tataran ini, pesantren dapat menjadi jembatan di antara keduanya. Tradisi berpikir Islam klasik sesungguhnya sangat ilmiah—kitab-kitab turats mengajarkan berpikir mantiqiy (logis) dan ushuliy (prinsipil), sementara spiritualitas Tasawuf mengasah kepekaan batin terhadap tanda-tanda alam.
Dengan nalar hijau, santri tidak hanya diajak hafal dalil, tetapi juga memahami ekosistem, membaca data, dan mengkaitkan sains dengan nilai Tauhid. Ketika santri menanam pohon, ia tidak sekadar melakukan kegiatan sosial, tetapi menjalankan perintah Tuhan untuk memakmurkan bumi. Ketika ia menolak pemborosan air, ia sedang menegakkan zuhud ekologis—kesederhanaan yang lahir dari kesadaran spiritual .
Tantangan dan Jalan ke Depan
Meski demikian, perjalanan pesantren menuju ijo royo-royo masih panjang. Banyak pesantren yang belum menjadikan lingkungan sebagai bagian dari kurikulum dan budaya. Isu lingkungan sering masih dipandang sebagai persoalan sekuler, bukan bagian dari ibadah .
Untuk itu, dibutuhkan langkah strategis. Pertama, memasukkan perspektif lingkungan ke dalam kurikulum pesantren secara kontekstual. Fiqih, Tafsir, dan Tasawuf bisa diajarkan dengan perspektif ekologis.
Kedua, memperkuat jaringan pesantren hijau sebagai mitra pemerintah, kampus, dan komunitas lingkungan. Ketiga, membangun sistem pendanaan hijau berbasis zakat dan wakaf produktif.
Dengan pendekatan ini, gerakan lingkungan bukan sekadar proyek, tetapi menjadi bagian dari ibadah sosial yang berkelanjutan.
Penutup.
Iman yang Berakar di Bumi. Menjaga bumi adalah bagian dari menjaga iman. Iman sejati bukan hanya yang sujud di sajadah, tetapi juga yang menunduk hormat kepada pohon, air, dan tanah sebagai manifestasi menyembah kepada Allah. Di situlah letak hakikat *ibadah ekologis*—sebuah kesalehan yang berakar di bumi dan berbuah di langit. Jika pesantren mampu menumbuhkan nalar hijau itu, maka dari ruang-ruang ngaji sederhana di pelosok Nusantara akan tumbuh kesadaran baru bahwa mencintai Allah juga berarti mencintai bumi-Nya. Mari wujudkan pesantren ijo royo-roy*—hijau menghijau, sebagai bukti cinta kita pada Sang Pemilik Alam.
Demikian dan terima kasih. Semoga bermanfaar(odie).
Wallahua’lambishawab.
Pamulang, 31 Juli 2026.
Murodi al-Batawi.
