Oleh: Murodi al-Batawi
Sejarah perjuangan bangsa Indonesia tidak akan lengkap tanpa menyebut peran sentral para ulama. Mereka bukan sekadar pemuka agama yang duduk tenang di balik mimbar, tetapi juga panglima perang, diplomat, dan arsitek kebangsaan yang menggerakkan massa untuk merebut kemerdekaan. Di balik setiap langkah perjuangan mereka, terdapat pesantren sebagai lembaga yang mencetak dan membentuk karakter ulama pejuang. Pesantren bukanlah sekadar tempat menimba ilmu agama, melainkan pabrik pembentuk manusia-manusia unggul yang menggabungkan ketajaman intelektual, kedalaman spiritual, dan keberanian luar biasa dalam membela kebenaran dan keadilan.
Apa yang membedakan ulama pesantren dengan pemuka agama lainnya? Jawabannya terletak pada sistem pendidikan yang holistik dan integratif. Di pesantren, seorang santri tidak hanya diajarkan ilmu fiqih, tafsir, dan hadits, tetapi juga dididik untuk memiliki jiwa kepemimpinan, keberanian menghadapi tantangan, dan kepekaan terhadap penderitaan rakyat. Kurikulum pesantren yang mengajarkan kitab-kitab klasik seperti *Ihya’ Ulumuddin* karya Imam Al-Ghazali, *Al-Hikam* karya Ibnu Athaillah, dan *Ta’limul Muta’allim* karya Al-Zarnuji, tidak hanya memberikan wawasan keagamaan, tetapi juga membentuk etos kerja, kesederhanaan, dan ketawakalan yang menjadi bekal perjuangan. Seorang ulama pesantren dididik untuk tidak mencintai dunia secara berlebihan, sehingga ketika dipanggil untuk berjuang, mereka tidak ragu mempertaruhkan segalanya, termasuk nyawa.
Munculnya Ulama Pejuang.
Salah satu contoh paling monumental dari ulama pejuang yang lahir dari pesantren adalah KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama dan pengasuh Pesantren Tebuireng. Beliau tidak hanya dikenal sebagai ulama besar yang menguasai berbagai disiplin ilmu keislaman, tetapi juga sebagai pahlawan nasional yang fatwanya mampu mengguncang penjajah. Resolusi Jihad yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 menjadi bukti nyata bahwa ulama pesantren memiliki keberanian spiritual dan politik yang luar biasa. Fatwa yang mewajibkan setiap muslim untuk berjihad mempertahankan kemerdekaan Indonesia ini menjadi pemicu langsung Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945, yang melibatkan puluhan ribu santri dan rakyat dari berbagai kalangan. KH. Hasyim Asy’ari tidak hanya berbicara dari mimbar, tetapi juga turun ke medan perang, memimpin laskar-laskar santri, dan memberikan semangat juang yang tak tergoyahkan.
Tidak kalah penting adalah KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah yang juga merupakan lulusan pesantren. Beliau adalah ulama pejuang yang menggerakkan perubahan sosial melalui pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat. Dalam pandangan KH. Ahmad Dahlan, perjuangan melawan penjajah tidak hanya melalui senjata, tetapi juga melalui pencerahan dan pembebasan dari kebodohan serta keterbelakangan. Beliau mendirikan sekolah-sekolah modern yang mengintegrasikan ilmu agama dan umum, mencetak generasi yang tidak hanya saleh secara ritual tetapi juga cerdas dan mandiri. Pendekatan ini menjadi model perjuangan yang tidak kalah efektif dalam melawan kolonialisme.
Di Sumatera Barat, sosok Haji Rasul atau Dr. H. Abdullah Ahmad adalah contoh ulama pejuang yang lahir dari tradisi pesantren. Beliau memimpin gerakan pembaruan Islam di Minangkabau yang dikenal dengan Pergerakan Kaum Muda, yang tidak hanya mengkritik praktik keagamaan yang menyimpang, tetapi juga melawan kebijakan kolonial yang menindas rakyat. Melalui tulisan-tulisan dan pidato-pidatonya, Haji Rasul membangkitkan kesadaran nasional di kalangan masyarakat Minangkabau dan menjadi inspirasi bagi lahirnya tokoh-tokoh seperti Haji Agus Salim dan Mohammad Natsir.
Revolusi Fisik.
Di masa revolusi fisik, ulama pejuang dari pesantren juga muncul dengan gagah berani. KH. Bisri Syansuri, ulama besar dari Pesantren Denanyar di Jombang, adalah salah satu tokoh kunci yang turut merumuskan konstitusi negara dan menjadi anggota Konstituante. Beliau adalah contoh ulama yang berjuang tidak hanya di medan perang tetapi juga di meja perundingan, memperjuangkan agar nilai-nilai Islam dan keadilan sosial tercermin dalam dasar negara dan undang-undang. Perjuangan KH. Bisri Syansuri menunjukkan bahwa ulama pesantren memiliki wawasan kebangsaan yang luas dan tidak terjebak dalam sempitnya sektarianisme.
Faktor munculnya Ulama Pejuang.
Apa yang membuat pesantren begitu efektif dalam melahirkan ulama pejuang? Ada beberapa faktor kunci. *Pertama*, pendidikan di pesantren mengajarkan kesederhanaan dan pengendalian diri. Para santri terbiasa hidup dengan fasilitas minimum, sehingga mereka tidak mudah tergoda oleh kenikmatan duniawi yang dapat melunturkan semangat juang. *Kedua*, pesantren menanamkan nilai loyalitas yang tinggi kepada guru (kyai) dan kepada tanah air. Kepatuhan santri kepada kyai bukanlah kepatuhan buta, melainkan kepatuhan berbasis pada keteladanan dan kepercayaan bahwa kiai adalah pemimpin spiritual yang membawa misi suci. *Ketiga*, pesantren mengajarkan pentingnya kerja sama dan solidaritas. Para santri hidup dalam komunitas yang saling mendukung, sehingga mereka terbiasa bekerja dalam tim dan mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.
Kini, setelah Indonesia merdeka, peran ulama pejuang dari pesantren tidak pernah usai. Mereka tetap menjadi garda terdepan dalam menjaga moral bangsa, mengawal keadilan sosial, dan menangkal paham-paham radikal serta liberal yang dapat merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Ulama pejuang masa kini adalah mereka yang berani melawan korupsi, kebodohan, dan kemiskinan dengan senjata pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Mereka adalah penerus estafet perjuangan para kyai terdahulu yang tidak pernah lelah mengabdi untuk agama dan bangsa.
Penutup
Peringatan Hari Santri setiap 22 Oktober adalah momentum untuk mengenang dan menghargai jasa para ulama pejuang yang telah mengorbankan segalanya demi kemerdekaan. Namun, penghargaan terbaik adalah dengan menjaga semangat perjuangan mereka tetap hidup dalam diri setiap santri dan setiap anak bangsa. Karena dari pesantrenlah akan lahir ulama-ulama pejuang baru yang akan menjadi penjaga moral, penegak keadilan, dan penerus peradaban bangsa Indonesia. Demikian dan terima kasih. Semoga bermanfaat(odie).
Wallahua’lambishawab.
Pamulang, 06 Agustus 2026.
Murodi al-Batawi.
