Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang serba cepat dan individualistis, ada sebuah kelompok masyarakat yang kerap terpinggirkan: para lanjut usia. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada tahun 2024, sekitar 12,2 persen penduduk Indonesia adalah lansia, dengan angka absolut mencapai 29 juta jiwa pada tahun 2023. Angka ini diproyeksikan terus meningkat, membawa serta tantangan serius berupa epidemi kesepian dan merosotnya kualitas hidup di usia senja. Riset bahkan mengungkapkan bahwa hampir separuh lansia di Tanah Air berisiko mengalami gangguan kesehatan mental. Di sinilah hadir sebuah terobosan yang menyegarkan: pesantren lansia, sebuah ruang spiritual yang mengubah paradigma tentang masa tua.
Pesantren lansia adalah jawaban atas kegelisahan spiritual kaum sepuh. Bukan sekadar tempat tinggal atau panti jompo, pesantren ini menjadi oase di tengah gurun kesepian. Di Pondok Pesantren Lansia, Garut milik Prof. Dr. KH. Ahmad Tjahaya Nugraha, mampu menampung 40-50 orang lansia yang betasal dari sekitar Garut, Tasik dan Bandung untuk mondok sambil belajar ilmu agama di sisa hidupnya.
Dengan kurikulum yang disesuaikan dengan usia mereka. Direktur pesantren, menjelaskan tiga layanan dasar yang mereka sebut olah raga (raga), olah jiwa(jiwa), dan olah rasa (rasa). Layanan ini bertujuan menjaga kesehatan jasmani dan ruhani santri agar mereka mencapai husnul khatimah di akhir hayat. Pesantren ini bahkan telah menjadi salah satu rujukan nasional dalam pengelolaan pesantren bagi para lansia.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di satu tempat. Di Semarang, Pesantren Lansia At-Taqwa di Masjid At-Taqwa Ngaliyan hadir sebagai ruang spiritual dan sosial yang menyegarkan. Program yang digelar rutin setiap bulan pada akhir pekan pertama ini telah memasuki gelombang keempat dengan antusiasme yang terus meningkat. Ketua Takmir Masjid At-Taqwa, Ahwan Fanani, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk pelayanan sosial dan spiritual bagi kelompok masyarakat yang sering terabaikan. “Kami niatkan ini sebagai ruang silaturahmi, tempat hati saling bertaut, bukan sekadar tempat berkumpul,” ujarnya. Di masa tua, mereka butuh tempat untuk merasa hidup kembali, bukan hanya menunggu waktu.
Uniknya, pesantren lansia tidak berhenti pada kegiatan tatap muka. Ada inovasi berkelanjutan berupa grup pendampingan daring bernama PA (Pengembangan Akhlak) yang menyatukan semua angkatan dengan tiga ustaz pembimbing yang siap memberikan bimbingan dan motivasi setiap saat. Ini membuktikan bahwa teknologi dapat menjadi sahabat bagi para lansia, menjaga mereka tetap terhubung dan terhindar dari rasa sepi. Para peserta pun merasakan dampak spiritual yang mendalam. Salah seorang santri, sebut saha Solihin, mengungkapkan, “Pesantren Lansia ini bukan sekadar mengisi waktu luang. Ini adalah tempat yang menghadirkan pengalaman spiritual mendalam. Ada momen yang terasa seperti sedang berada di Mekkah. Kami mendapatkan energi baru”. Endang (64 tahun), peserta lainnya, bahkan berkata, “Serasa di Mekah” .
Bahkan di tingkat ranting, semangat yang sama bergelora. Pimpinan Ranting Muhammadiyah Ketunggeng di Magelang meluncurkan Pesantren Lansia “Al-Ma’un” dengan kuota 30 orang yang ludes dalam waktu singkat. Ketua PDM Kabupaten Magelang, M. Nasirudin, memberikan apresiasi tinggi, “Lansia itu usia yang sangat menentukan. Melalui pesantren ini, mereka mendapat bekal untuk khusnul khotimah sehingga meraih surga” . Ini bukan sekadar program seremonial, tetapi gerakan fastabiqul khairat yang nyata.
Pesantren lansia adalah wajah baru dakwah yang inklusif. Kehadirannya mengingatkan kita bahwa Islam adalah agama yang memuliakan setiap tahap kehidupan, termasuk masa tua yang sering dianggap purna tugas. Di tengah gegap gempita generasi muda, pesantren lansia hadir sebagai pengingat bahwa menuntut ilmu dan mendekatkan diri kepada Allah adalah kewajiban seumur hidup, tanpa batas usia. Semoga fenomena ini terus berkembang, merawat generasi emas bangsa dengan kasih sayang, dan menjadi jalan menuju husnul khatimah bagi setiap insan yang meniti usia senja.
Demikian dan terima kasih. Semoga bermanfaat(odie).
Wallahua’lambishawab.
Pamulang, 11 September 2026.
Murodi al-Batawi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banten/foto/bank/originals/ponpes-daar-el-qolam-ponpes-la-tansa.jpg?w=300&resize=300,178&ssl=1)