Pesantren Mathla’ul Anwar dan Lahirnya Para Pejuang Banten

Oleh: Murodi al-Batawi.

Sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak hanya ditulis di kota-kota besar seperti Jakarta atau Surabaya. Di ujung barat Pulau Jawa, tanah Banten yang dikenal dengan julukan “Bumi Jawara” menyimpan kisah heroik yang tak kalah menggetarkan. Di sanalah, Pesantren Mathla’ul Anwar berdiri sebagai benteng perlawanan dan pusat kelahiran para pejuang yang gagah berani. Lembaga pendidikan yang didirikan di tengah kungkungan kolonial ini menjadi bukti bahwa pesantren tidak hanya mengajarkan kitab kuning, tetapi juga menanamkan semangat jihad melawan penjajahan.

Pesantren Mathla’ul Anwar lahir dari rahim perjuangan para ulama Banten pada masa yang sangat kritis. Pada tahun 1916, tepatnya 10 Ramadan 1334 H atau 10 Juli 1916, sekelompok kyai berkumpul di rumah Tubagus Sholeh di Menes, Pandeglang, Banten. Mereka adalah KH Mas Abdurrahman, KH Entol Muhammad Yasin, KH Tubagus Muhammad Sholeh, KH Abdul Mu’thi, dan para ulama lainnya. Pertemuan ini dilatarbelakangi oleh kekhawatiran mendalam terhadap kebijakan Politik Etis yang digagas pemerintah kolonial Belanda sejak 1901—kebijakan yang dianggap membawa sekularisasi dan westernisasi melalui sekolah-sekolah bentukan Belanda yang mengancam eksistensi pesantren tradisional.

Para ulama Banten mengambil langkah berani: mendirikan lembaga pendidikan Islam yang mampu mengimbangi sekolah-sekolah kolonial. Mereka menamai madrasah ini dengan nama “Mathla’ul Anwar” yang berarti “sumber cahaya”—sebuah nama yang mencerminkan harapan agar lembaga ini menjadi pelita penerang di tengah kegelapan penjajahan. KH Mas Abdurrahman, yang merupakan murid dari ulama besar Banten Syekh Nawawi Al-Bantani dan teman sejawat KH Hasyim Asy’ari serta KH Ahmad Dahlan saat belajar di Makkah, ditunjuk sebagai direktur pendidikan.

Hal yang membuat Mathla’ul Anwar begitu istimewa adalah pendekatannya yang menggabungkan tradisi pesantren dengan semangat modernitas. Sejak awal, lembaga ini tidak hanya mengajarkan kitab kuning, tetapi juga mengadopsi sistem madrasah yang terstruktur. Pada tahun 1929, Mathla’ul Anwar bahkan menginisiasi madrasah khusus untuk anak perempuan—sebuah langkah maju dalam pemberdayaan perempuan di bidang pendidikan. Pada tahun 1930-an, lembaga ini telah berhasil mendirikan ratusan madrasah di Pandeglang, Lebak, Serang, Tangerang, Bogor, Karawang, hingga Lampung. Inilah yang kemudian melahirkan julukan Mathla’ul Anwar sebagai “sumber cahaya para ulama dari Banten”.

Peran Mathla’ul Anwar dalam melahirkan pejuang kemerdekaan tidak dapat dipungkiri. Para pendiri dan alumninya terlibat aktif dalam perlawanan terhadap kolonialisme. KH Mas Abdurrahman bahkan pernah ditembak oleh pasukan Belanda karena dituduh menyebarkan kebencian di kalangan masyarakat. Para santri Mathla’ul Anwar tidak hanya berjuang melalui dakwah dan pendidikan, tetapi juga melalui perlawanan fisik. Pada tahun 1926, ketika kerusuhan pecah di Banten melawan pemerintah kolonial, sejumlah tokoh Mathla’ul Anwar ikut terlibat. Tubagus Sholeh, salah satu pendiri, ditangkap ketika sedang shalat di masjid pesantrennya dan ditahan selama dua bulan—pengalaman yang kemudian merenggut kesehatannya hingga meninggal dunia.

Kiprah Mathla’ul Anwar dalam perjuangan juga terlihat dari hubungannya dengan Nahdlatul Ulama (NU). Pada tahun 1928, dua tahun setelah NU berdiri, para pendiri Mathla’ul Anwar yang merupakan teman sejawat KH Hasyim Asy’ari memutuskan untuk menjadikan Pesantren Mathla’ul Anwar sebagai basis NU cabang pertama di Banten. KH Mas Abdurrahman ditunjuk sebagai rais syuriyah, dan KH Entol Muhammad Yasin sebagai naib rais. Keputusan ini memperkuat jaringan perjuangan antara pesantren di Banten dengan NU di Jawa Timur, membentuk front perlawanan yang lebih solid melawan penjajah.

Penutup.

Kini, setelah lebih dari satu abad berdiri, Mathla’ul Anwar tetap menjadi lembaga pendidikan yang melahirkan kader-kader pejuang—pejuang pendidikan, pejuang moral, dan pejuang bangsa. Dengan lebih dari 50 jaringan perguruan dan sebuah universitas di Pandeglang, warisan perjuangan KH Mas Abdurrahman dan para pendirinya terus hidup. Semangat “Mathla’ul Anwar” sebagai sumber cahaya yang menerangi kegelapan penjajahan dan kebodohan tetap menjadi inspirasi bagi generasi penerus untuk terus mengabdi pada agama, bangsa, dan tanah air.

Demikian dan terima kasih.
Semoga bermanfaat.

Wallahua’lambishawab.

Padarincang, 09 Agustus 2026.

Murodi al-Batawi.