Oleh: Murodi al-Batawi.
Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, telah membuktikan bahwa pesantren bukan hanya pusat pendidikan agama, tetapi juga motor penggerak ekonomi umat. Berakar dari pengajian sederhana K.H. Ishak Bahsin pada 1918, pesantren ini telah bertransformasi menjadi model pesantrenpreneur yang mandiri dan menginspirasi .
Dari Madrasah Menuju Ekosistem Ekonomi
Perjalanan Al-Ittifaqiah menuju kemandirian ekonomi tidak terjadi dalam semalam. Pada 1967, saat gagasan menegerikan madrasah di Sakatiga muncul, para murid K.H. Ishak Bahsin di Indralaya memilih mempertahankan nilai sejarah dan keberkahan sang guru dengan memindahkan Madrasah Menengah Atas Al-Ittifaqiah ke Indralaya . Keputusan ini menjadi fondasi bagi pengembangan pesantren yang kemudian merambah ke sektor ekonomi.
K.H. Fuad Affandi, sosok yang disebut sebagai pembaru besar pesantren, memainkan peran kunci dalam transformasi ini. Ia berani mengubah lima hal yang dilarang di pesantren tradisional—mulai dari hubungan dengan pejabat pemerintah, penggunaan listrik, hingga pembangunan rumah tembok—demi adaptasi dengan perkembangan zaman. Wasiat terakhirnya agar nilai-nilai Al-Ittifaqiah tersebar ke seluruh Indonesia kini mulai terwujud .
Lebih dari 20 Unit Usaha
Saat ini, sejak 1998, pascareformasi, kepemimpinan Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah berada di tangan KH. Dr. Mudrik Kori, MA, telah memiliki lebih dari 20 unit usaha yang dikelola secara profesional. Lahan produktif seluas 83 hektare dan potensi pengembangan hingga ratusan hektare di kawasan Bagdad City menjadi modal utama pesantren. Berbagai sektor digarap: perdagangan, pertanian, peternakan, jasa, hingga travel umrah.
Unit usaha yang berjalan antara lain BUMY Air Kemasan Sima’an, Q-Bakery BMT, Kantin, Mini market, Kebun Sawit 50 hektare, Kebun Karet 5 hektare, Peternakan Ikan, Peternakan Sapi 25 ekor, Komposting sampah, Apotek, Guest House, Penerbitan, Percetakan, Media online, Radio 93 FM, TV online “Ittifaqiah TV”, Pangkas Rambut, Pertashop, hingga Kebun Cengkeh dan Pisang.
Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Al-Ittifaqiah bahkan meraih Juara II Koperasi Terbaik se-Sumatera Selatan dan pada Rapat Anggota Tahunan membagikan Sisa Hasil Usaha (SHU) sebesar Rp57 juta kepada 275 anggota. Wakil Menteri Koperasi RI, Ferry Juliantono, dalam kunjungannya pada April 2025 meresmikan Gedung BMT Al-Ittifaqiah. Menurutnya, BMT Al-Ittifaqiah berpotensi menjadi garda terdepan dalam memerangi pinjaman online dan rentenir yang meresahkan masyarakat.
Santripreneur: Membekali Santri dengan Keterampilan Hidup
Visi pesantrenpreneur tidak berhenti pada unit usaha. Al-Ittifaqiah secara sistematis membekali santri dengan keterampilan kewirausahaan melalui program-program ekstrakurikuler: pelatihan seni baca Al-Qur’an, kursus bahasa asing, pelatihan khutbah dan pidato, praktikum keterampilan (komputer, menjahit, tenun, sablon), pendidikan organisasi, kewirausahaan dan akuntansi, hingga pelatihan jurnalistik. Pendidikan yang seimbang antara duniawi dan ukhrawi menjadi ciri khas pesantren ini.
Penelitian tentang pelaksanaan program kewirausahaan di Al-Ittifaqiah mengungkap bahwa program ini dirancang khusus bagi santri kurang mampu secara finansial, namun memiliki jiwa wirausaha. Faktor pendukung keberhasilan program meliputi sarana prasarana memadai, komitmen tinggi dari ketua yayasan dan pengurus, serta kerja sama dengan berbagai pihak seperti PT Pusri, Bank Mandiri, alumni, dan masyarakat. Adapun tantangan utama yang dihadapi adalah masalah pendanaan atau pembiayaan.
Dampak Sosial dan Apresiasi Nasional
Keberadaan Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah memberikan dampak sosial yang luas bagi masyarakat sekitar. Unit usaha pesantren tidak hanya memberdayakan santri, tetapi juga masyarakat sekitar. Pada 2023, tim pengabdian dari Universitas Sriwijaya melakukan sosialisasi kewirausahaan berbasis pengolahan ikan di pesantren ini, dan hasilnya 55 persen santri sangat setuju dengan pengembangan tersebut.
Apresiasi terhadap model pesantrenpreneur Al-Ittifaqiah datang dari berbagai pihak. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhaimin Iskandar, menyatakan bahwa Al-Ittifaqiah harus direplikasi di mana-mana karena sektor pertanian dan koperasi di pesantren menjadi fondasi ekonomi nasional. Wakil Ketua MPR, Ahmad Muzani, turut mendukung pengembangan koperasi pesantren (Kopontren).
Penutup
Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya adalah bukti nyata bahwa pesantren dapat menjadi pusat keunggulan di berbagai bidang. Dengan lebih dari 20 unit usaha yang dikelola profesional, lahan produktif yang luas, dan komitmen membekali santri dengan keterampilan hidup, Al-Ittifaqiah telah menjadi model pesantren preneur yang inspiratif. Di tengah tantangan ekonomi yang semakin kompleks, pesantren ini menunjukkan bahwa tradisi dan modernitas dapat bersinergi untuk menciptakan kemandirian, memberdayakan masyarakat, dan mencerdaskan umat. Demikian dan terima kasih. Semoga bermanfaat[odie].
Wallahua’lambishawab.
Pamulang, 29 Juli 2026.
Murodi al-Batawi.