Oleh: Murodi al-Batawi.
Beberapa waktu lalu, saya pernah berkunjung ke sebuah pondok pesantren Modern, di Desa Kembangelor, Pacet, Mojokerto. Pondok Pesantren ini dikenal sebagai Pondok Pesantren Enterpreneur, karena kreatifitas pimpinannya, sehingga banyak dikenal kalangan luas, tidak hanya di Jawa Timur, juga se-Nusantara.
Pondok Pesantren Amanatul Ummah yang terletak di lereng Gunung Penanggungan, Desa Kembangbelor, Pacet, Mojokerto, telah menjelma menjadi fenomena tersendiri dalam peta pendidikan Islam Nusantara. Didirikan oleh Prof. Dr. KH Asep Saifuddin Chalim, MA, pada tahun 1988 dengan hanya 24 santri di Surabaya, pesantren ini kini menjadi rumah bagi lebih dari 15 ribu santri. Namun, yang paling menarik dari perjalanan institusi ini bukanlah kuantitas, melainkan visi besarnya: menjadikan pesantren sebagai pusat kemandirian ekonomi melalui pengembangan jiwa kewirausahaan—yang mereka sebut sebagai Pesantrenpreneur.
Lebih dari Sekadar Pengajian
Di balik hiruk-pikuk kegiatan keagamaan yang padat, Amanatul Ummah membangun fondasi ekonomi yang kokoh. Sejak tahun 2019, mereka mendirikan Badan Usaha Milik Pesantren (BUMP) dengan tiga pilar utama: Pesantrenpreneur untuk kemandirian pesantren, Santripreneur untuk pembekalan keterampilan santri, dan Sociopreneur untuk menjalin kemitraan dengan pihak eksternal . Pilar-pilar ini bukan sekadar slogan, melainkan diwujudkan dalam sebelas unit usaha yang dikelola secara profesional.
Salah satu produk unggulan yang mencuri perhatian adalah Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) “Afia”. Usaha ini mampu memproduksi hingga 250 dus per hari dengan omzet bulanan mencapai Rp304 juta dan keuntungan bersih sekitar Rp121 juta. Hal yang lebih penting, 50 persen dari keuntungan tersebut disetorkan kepada pesantren untuk operasional dan pengembangan. Selain itu, usaha keripik tempe “Nikmat Raos” berhasil mendistribusikan 500 bungkus per hari dengan omzet Rp97 juta per bulan. Angka-angka ini membuktikan bahwa pesantren mampu menjadi penggerak ekonomi yang signifikan.
Dampak Sosial yang Meluas
Kehadiran Amanatul Ummah tidak hanya berdampak pada internal pesantren, tetapi juga mengubah lanskap ekonomi masyarakat sekitar. Desa Kembangbelor yang sebelumnya didominasi oleh petani dengan tingkat kemiskinan tinggi, kini merasakan efek berganda dari keberadaan pesantren. Penyerapan tenaga kerja menjadi nyata: masyarakat dipekerjakan sebagai satpam, juru masak, petugas kebersihan, hingga pekerja di unit-unit usaha pesantren. Peluang usaha baru pun bermunculan di sekitar pesantren—warung, kios, hingga penginapan—yang memberikan nafas ekonomi baru bagi warga.
Pemerintah Jawa Timur melalui program One Pesantren One Product (OPOP) turut mendukung pengembangan ini. Produk-produk Amanatul Ummah mendapat kemudahan dalam perizinan, sertifikasi halal, dan pemasaran. Kolaborasi dengan Bank Indonesia untuk pembangunan *greenhouse* dan pelatihan literasi keuangan juga memperkuat ekosistem bisnis pesantren.
Santripreneur: Benih Wirausaha Muda
Tidak hanya pesantren yang mandiri, para santri pun dibekali jiwa kewirausahaan. Internalisasi nilai-nilai religius melalui kegiatan wirausaha terbukti efektif menanamkan disiplin, tanggung jawab, dan percaya diri pada santri . Bahkan, prestasi membanggakan baru saja diraih oleh tiga santri SMAU BP Amanatul Ummah yang berhasil menyabet Juara 1 Lomba Business Plan di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Mereka menciptakan inovasi “Thunas”, formulasi pembangkit listrik alternatif berbahan dasar batang pohon di sekitar pesantren. Ini menunjukkan bahwa santri tidak hanya menguasai agama, tetapi juga mampu berpikir kreatif dan kompetitif di tingkat nasional.
Tantangan dan Integritas
Namun, perjalanan menuju kemandirian tidak selalu mulus. Baru-baru ini, nama besar Amanatul Ummah sempat dicatut oleh koperasi yang menjalankan aktivitas pertambangan ilegal di Mojokerto. Prof.Dr.KH Asep Saifuddin Chalim,MA, dengan tegas membantah keterlibatan pesantren dan meminta penertiban, menegaskan bahwa praktik yang merusak lingkungan bertentangan dengan visi pesantren. Sikap ini memperkuat citra Amanatul Ummah sebagai lembaga yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga menjunjung tinggi etika dan tanggung jawab sosial.
Penutup
Pesantrenpreneur Amanatul Ummah membuktikan bahwa pesantren modern bisa menjadi kekuatan ekonomi sekaligus benteng moral. Kemandirian yang dibangun melalui unit-unit usaha bukan hanya menjamin keberlangsungan pesantren, tetapi juga memberdayakan santri dan masyarakat sekitar. Di tengah tantangan zaman, model ini menawarkan jalan tengah yang ideal: menjaga tradisi keilmuan Islam sambil merangkul modernitas ekonomi. Semoga jejak Amanatul Ummah menjadi inspirasi bagi pesantren-pesantren lain di Nusantara untuk terus berinovasi tanpa kehilangan jati diri.
Demikian dan terima kasih. Semoga bermanfaat {odie}.
Wallahua’lambishawab
Pamulang,01 Agustus 2026.
Murodi al-Batawi.

