Oleh: Murodi.
Di tengah hiruk-pikuk Kabupaten Bekasi yang dikenal sebagai kawasan industri terbesar di Asia Tenggara, berdiri sebuah oase pendidikan yang telah menjadi saksi bisu perjalanan panjang perjuangan bangsa. Pondok Pesantren At-Taqwa, yang terletak di Kecamatan Babelan, bukanlah sekadar lembaga pendidikan agama biasa. Ia adalah monumen hidup dari semangat perlawanan, pengabdian, dan transformasi yang diwariskan oleh seorang pahlawan nasional, KH. Noer Ali. Dari masa revolusi fisik hingga era digital, At-Taqwa terus membuktikan bahwa pesantren bisa menjadi benteng moral sekaligus pusat peradaban modern.
Dari Laskar Hizbullah ke Lembaga Pendidikan
Sejarah At-Taqwa tidak bisa dilepaskan dari sosok KH. Noer Ali, ulama kharismatik yang juga merupakan pahlawan nasional asal Bekasi. Pada tahun 1950, di tengah situasi pasca-revolusi yang masih panas, KH. Noer Ali mendirikan Yayasan Pembangunan, Pemeliharaan, dan Pertolongan Islam (YP3I) di Kampung Ujung Malang—sebuah desa dengan akses sulit dan minim listrik. Nama “Ujung Malang” kemudian diubahnya menjadi “Ujung Harapan” sebagai simbol optimisme agar masyarakat selalu memiliki harapan.
Pendirian YP3I bukanlah tanpa alasan. Keprihatinan KH. Noer Ali muncul setelah menyaksikan banyaknya pesantren dan sekolah yang tutup pasca-Pertempuran Mempertahankan Kemerdekaan, akibat banyaknya pelajar dan santri yang gugur di medan perang. Pendirian YP3I pun dibantu oleh 13 orang guru yang juga merupakan rekannya selama masa perjuangan kemerdekaan dan aktif dalam pembentukan Laskar Hizbullah. Inilah akar kepahlawanan yang melekat kuat pada DNA At-Taqwa—ia lahir dari rahim perjuangan, bukan sekadar dari keinginan mendirikan sekolah.
Transformasi dari Salaf ke Khalaf: Menjaga Tradisi, Merangkul Modernitas
Selama lebih dari tujuh dekade perjalanannya, At-Taqwa telah mengalami transformasi yang signifikan. Yang semula merupakan pesantren dengan sistem tradisional (salaf)—mengandalkan metode halaqah, sorogan, dan bandongan dengan fasilitas sederhana yang terintegrasi dengan masjid—kini berkembang menjadi pesantren modern (khalaf) tanpa kehilangan ke-khas-an tradisinya.
Pada tahun 1954, didirikanlah Pesantren Bahagia, dan pada 1956 YP3I resmi terdaftar secara hukum. Titik balik utama terjadi pada 1980, ketika Yayasan P3I berubah nama menjadi Yayasan Pondok Pesantren At-Taqwa untuk menggabungkan lembaga pendidikan informal dan formal. Pada 1986, YP3I resmi berubah nama menjadi Yayasan Attaqwa berdasarkan Akta Notaris. Sejak saat itu, At-Taqwa secara tegas terpisah menjadi Pondok Pesantren Attaqwa Putra dan Putri dengan lokasi, kurikulum, dan struktur organisasi yang terpisah.
Kurikulum At-Taqwa saat ini telah mengintegrasikan kurikulum pemerintah (Kementerian Agama) dengan kurikulum khas pesantren (kitab kuning). Metode pembelajaran pun berkembang dari sekadar sorogan menjadi pembelajaran aktif yang interaktif. Fasilitas digital seperti laboratorium bahasa, komputer, IPA, pembelajaran daring (Zoom/Streaming), dan pemanfaatan media sosial untuk transparansi akademik telah diterapkan secara masif. Modernisasi sistem pendidikan ini dilakukan untuk memenuhi tuntutan zaman dan meningkatkan kualitas pendidikan, tanpa merusak karakter pesantren itu sendiri.
Melahirkan Generasi “Benar dan Pintar
Komitmen At-Taqwa terhadap kualitas pendidikan terbukti dari prestasi para lulusannya. Dalam Haflah Takharruj (wisuda) pada Mei 2026, sebanyak 289 santri resmi diwisuda dari jenjang Madrasah Aliyah Attaqwa Pusat Putra, Putri, dan Madrasah Tahfiz Attaqwa. Mereka harus melewati ujian ketat pada 20 mata pelajaran pokok pesantren—mulai dari tafsir, hadis, fikih, tauhid, hingga keterampilan menulis karya ilmiah dan praktik dakwah—dengan syarat nilai minimal 7 untuk setiap mata pelajaran.
Prestasi para santri ini juga terlihat dari capaian mereka. Sebanyak 186 santri berhasil diterima di berbagai perguruan tinggi ternama, baik PTN, PTKIN, maupun universitas internasional di Jepang, Mesir, dan Arab Saudi. Sementara itu, 34 santri terbaik melanjutkan pendidikan di Ma’had Aly Attaqwa KH. Noer Alie sebagai bagian dari program kaderisasi ulama dan intelektual masa depan. Di bidang non-akademik, 15 santri telah mengkhatamkan hafalan 30 juz Al-Qur’an, 10 santri menghafal lebih dari 1.000 hadis, dan 12 santri menguasai 1.000 bait syair Alfiyah Ibnu Malik. Santri At-Taqwa juga meraih medali Perak dan Perunggu pada International Kangaroo Mathematics Contest serta Juara 1 dan 2 Pencak Silat tingkat nasional.
Pimpinan Perguruan Attaqwa, Dr. KH. Irfan Mas’ud, menegaskan visi besar pendidikan di lembaga ini: *Tujuan pendidikan kami bukan sekadar mencetak anak-anak yang pintar, tetapi membentuk insan yang benar dan pintar. Pintar saja tidak cukup, jika tidak dibimbing dengan akhlak mulia, nilai tauhid yang lurus, dan rasa tanggung jawab besar kepada umat”*. Ini adalah warisan KH. Noer Ali yang terus hidup—menghasilkan santri yang ikhlas, berzikir, berpikir, dan beramal.
Misi Sosial: Menjembatani Elite dan Rakyat
At-Taqwa tidak hanya fokus pada pendidikan internal, tetapi juga memiliki misi sosial yang kuat. Pondok pesantren ini mengajarkan nilai *al-Musawah* (kesamaan) dan *al-Tasanuh* (toleransi) yang terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kegiatan perayaan Idul Adha, misalnya, daging kurban dibagikan tidak hanya kepada sesama muslim, tetapi juga kepada warga non-Muslim sebagai bentuk toleransi dan penguatan tali persaudaraan antar sesama warga negara Indonesia.
Nilai kesamaan di pesantren ini berakibat positif terhadap habitat kehidupan sehari-hari. Santri dari berbagai latar belakang ekonomi mendapatkan fasilitas yang sama, tanpa adanya sekat perbedaan. Hal ini menciptakan komunikasi yang baik antara santri dan masyarakat sekitar, sehingga syiar dakwah Islam diterima dengan mudah.
Bupati Bekasi Ade Kuswara Kunang dalam berbagai kesempatan mengapresiasi peran strategis Ponpes Attaqwa dalam mencetak generasi muda yang berakhlak, intelektual, serta mendukung pembangunan daerah. Beliau menyatakan bahwa At-Taqwa adalah “pondok pesantren yang legendaris” yang merupakan karomah dan pengaruh dari tokoh dan pahlawan nasional KH. Noer Ali. Ketua DPRD Kabupaten Bekasi Ade Sukron, yang merupakan alumni At-Taqwa, bahkan menyebut bahwa pesantren ini harus tetap menjadi “barometer pengembangan Islam di Kabupaten Bekasi”.
Penutup.
Dari sebuah dapur perjuangan di Kampung Ujung Harapan hingga menjadi salah satu pesantren terbesar dan termodern di Bekasi, At-Taqwa telah membuktikan bahwa pesantren bisa menjadi pusat peradaban yang memadukan tradisi dan modernitas, iman dan ilmu pengetahuan, serta pengabdian sosial dan keunggulan akademik. Warisan KH. Noer Ali—sang pahlawan nasional yang mengubah Ujung Malang menjadi Ujung Harapan—terus hidup di setiap santri yang lahir dari rahim At-Taqwa. Generasi “benar dan pintar” yang dicetaknya adalah bukti bahwa perjuangan seorang pahlawan tidak pernah berakhir; ia hanya berubah bentuk, dari medan perang ke ruang kelas, dari bambu runcing ke buku dan pena.
Demikian dan terima kasih. Semoga bermannfaat[odie].
Wallahua’lambishawab.
Pamulang,11 Agustus 2026.
Murodi al-Batawi.
