<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Betawi &#8211; Gerbang Betawi</title>
	<atom:link href="https://gerbangbetawi.com/tag/betawi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://gerbangbetawi.com</link>
	<description>Gerakan Kebangkitan Betawi</description>
	<lastBuildDate>Mon, 04 Aug 2025 12:59:46 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8.2</generator>

<image>
	<url>https://res.cloudinary.com/du66xc8mf/images/w_32,h_32,c_fill,g_auto/f_webp,q_auto:low/v1725435610/cropped-gerbang-betawi-4-1/cropped-gerbang-betawi-4-1.webp?_i=AA</url>
	<title>Betawi &#8211; Gerbang Betawi</title>
	<link>https://gerbangbetawi.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Melacak Sanad Keilmuan: Merajut kembali Rihlah Ilmiah</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/melacak-sanad-keilmuan-merajut-kembali-rihlah-ilmiah/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/melacak-sanad-keilmuan-merajut-kembali-rihlah-ilmiah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 Aug 2025 12:58:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[History]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=599</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Murodi al-Batawi Para ulama dahulu, selalu melakukan perjalanan keilmuan untuk <a class="read-more" href="https://gerbangbetawi.com/melacak-sanad-keilmuan-merajut-kembali-rihlah-ilmiah/" title="Melacak Sanad Keilmuan: Merajut kembali Rihlah Ilmiah" itemprop="url"></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Para ulama dahulu, selalu melakukan perjalanan keilmuan untuk mencari ilmu pengetahuan dari sumber aslinya, para Syeikh. Ada ulama yang memperdalam Ilmu Tauhid, Ilmu Fiqh, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits, dan berbagai ilmu pengetahuan Islam. Mereka, para Ulama tersebut, melakukan Rihlah Ilmiah dari satu guru ke guru lainya. Dari suatu daerah ke daerah lainnya hanya untuk memperdalam suatu disiplin ilmu pengetahuan. Ada yang belajar dengan seorang cuma satu tahun atau lebih. Ada juga yang hanya singgah sementara hanya untuk menguji kemampuan ilmu yang dimilikinya.</p>
<p>Dengan cara seperti itu, banyaklah mata rantai atau Sanad keilmuan seseorang, sehingga ia boleh disebut sebagai seorang ilmuan yang mumpuni dalam bidang tertentu, misalnya Ustadz Marzuki, ia terus belajar dan memperdalam ilmu fiqh, maka mata rantai keilmuannya terus bersambung sanadnya hingga ke imam fiqh empat mazhab; Imam Syafi’i, Imam Maliki, Imam Hanbali, dan Imam Hanafi. Begitu juga mereka yang memperdalam keilmuan Islam lainnya, pasti semua memiliki sanad yang jelas. Ternyata, tidak hanya mereka yang memiliki mata rantai keilmuan, kita juga memilikinya.</p>
<p>Dahulu kita pernah belajar keilmuan Islam di IAIN Syatif Hidayatullah, Jakarta. Kita mencari ilmu dan belajar dari para dosen yang sangat hebat. Misalnya, Kita belajar Bahasa Arab dari Prof.Dr. D. Hidayat,MA. Beliau, sekira tahun 1980-an masih sangat energik. Pintar, muda dan ganteng. Ia menjadi salah seorang dosen favorit, karena wajahnya yang mirip musisi musik pop legendaris, A.Riyanto.</p>
<p>Kemudian di fakultas yang sama, kita juga belajar ‘Arudh dari Prof. Khotibul Umam. Sepertinya, saat itu, hanya beliau yang bisa mengajar ilmu ‘Arudh, sebuah disiplin ilmu yang jarang dikuasai seseorang. Begitu juga dengan materi Ilmu Bayan dan Ma’ani, yang diberikan oleh Dr. AM. Hidayatullah, MA. Dosen yang satu ini memiliki khas tersendiri. Selain menguasai ilmu tersebut, beliau juga seorang qari’. Suaranya sangat bagus. Itu kami buktikan sendiri. Hampir di setiap acara fakultas, ia menjadi pembaca al-Qur’an.</p>
<p>Selain mereka, ada salah seorang dosen asli Betawi, yang pernah menjabat pemantu dekan. Kemudian ia menjadi dekan fakultas Adab periode pasca prof. Dr. Nabilah Lubis. Ia juga mengajar kami ilmu sejarah. Ia adalah Dr. Abdul Choir, MA. Bahkan saya sendiri saat menulis Risalah Sarjana Muda (BA), beliaulah yang menjadi pembimbing. Saat itu, ia tengah menjabat Pembantu Dekan I Bidan Akademik.</p>
<p>Di samping yang telah disebutkan di stas, ada salah seorang dosen asli Mesir, bernama Prof.Dr. Nabilah Lubis, MA. Ia juga pernah menakhodai fakultas Adab pada periode ‘96-an. Kita belajar banyak tentang bahasa dan Sastra Arab. Belajar Bahasa Arab dari native speaker, menjadi lebih menarik.</p>
<p>Kini, mereka sudah pensiun dan tinggal menikmati masa tua yang bahagia. Karena itu, untuk memperkuat ikatan tali silaturrahmi antara guru-murid, kami punya program melakukan kunjungan ke tempat tinggal mereka. Harapannya, ilmu yang kita peroleh bermanfaat untuk umat bangsa dan negara. Selain tengah melacak jaringan dan sanad keilmuan kita. Semoga bermanfaat(Odie).</p>
<p><em>Murodi al-Batawi</em><br />
<em>Pamulang,03-08-2025</em></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/melacak-sanad-keilmuan-merajut-kembali-rihlah-ilmiah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/image.idntimes.com/post/20201022/ulama-betawi1-1520674aaf182cfa89a3a7c1bc120880.JPG?tr=w-1200%2Cf-webp%2Cq-75&#038;width=1200&#038;format=webp&#038;quality=75&#038;ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Perlunya Pembentukan Lembaga Adat Masyarakat Betawi</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/perlunya-pembentukan-lembaga-adat-masyarakat-betawi/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/perlunya-pembentukan-lembaga-adat-masyarakat-betawi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Jun 2025 04:44:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Lembaga Adat Masyarakat Betawi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=581</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Murodi al-Batawi Setiap tanggal 22 Juni, Jakarta selalu diperingati hari <a class="read-more" href="https://gerbangbetawi.com/perlunya-pembentukan-lembaga-adat-masyarakat-betawi/" title="Perlunya Pembentukan Lembaga Adat Masyarakat Betawi" itemprop="url"></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Setiap tanggal 22 Juni, Jakarta selalu diperingati hari jadinya. Pada 22 Juni kemarin, Jakarta sudah memasuki usia 498, waktu yang tidak pendek. Setengah millenium, jika dihitung sejak 1527. Sejak saat itu hingga kini, Jakarta terus berbenah diri, terutama ketika dijadikan sebagai Ibu Kota Negara, sehingga Jakarta dikenal sebagai Kota Megapolitan. Pembangunan fisik, mulai dari infrastruktur jalan dan fasilitas lainnya terus dibangun, seperti perumahan dan kawasan pemukiman, gedung perkantoran, pasar modern dan gedung-gedung bertingkat tumbuh bagai jamur yang tumbuh di musim hujan. Semuanya itu menjadi daya tarik tersendiri bagi para pendatang dari berbagai daerah di tanah air hingga mancanegara, untuk mengadu nasib tinggal di Jakarta. Mereka sukses meniti karier dan kehidupan di Jakarta. Tapi, bagaimana nasib penduduk asli Jakarta yang dikenal dengan komunitas etnis Betawi. Untuk menjawab ini, sangat panjang penjelasannya. Pasti ada yang sukses dan juga ada yang tergusur dan terpinggirkan, terutama berkaitan dengan lahan pemukiman dan perkembangan adat istiadat. Salah satu kemungkinannya, karena di Betawi, belum ada Lembaga Adat yang bisa membantu menyelesaikan itu semua.</p>
<h3>Lembaga Adat Masyarakat Betawi</h3>
<p>Latar Belakang Perlunya Pembentukan Lembaga Adat Masyarakat Betawi, karena Masyarakat Betawi memiliki kekayaan budaya yang unik dan beragam, yang telah berkembang selama berabad-abad di Jakarta. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, budaya Betawi menghadapi ancaman erosi dan kehilangan identitas, terutama di kalangan generasi muda. Oleh karena itu, pembentukan Lembaga Adat Masyarakat Betawi (LAMB) menjadi sangat penting untuk melestarikan dan mengembangkan budaya Betawi.</p>
<p>Argumen Filosofis Perlunya Lembaga Adat Masyarakat Betawi. Secara filosofis, Lembaga Adat Masyarakat Betawi memiliki makna yang mendalam dalam konteks kebudayaan dan identitas masyarakat Betawi. Berikut beberapa makna filosofis Lembaga Adat Betawi:</p>
<p><strong>1. Pelestarian Identitas Budaya:</strong><br />
Lembaga Adat Masyarakat Betawi memiliki makna sebagai wadah pelestarian identitas budaya Betawi, yang mencakup nilai-nilai, norma, dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.</p>
<p><strong>2. Pengakuan dan Penghargaan terhadap Warisan Leluhur:</strong><br />
Lembaga Adat Masyarakat Betawi memiliki makna sebagai pengakuan dan penghargaan terhadap warisan leluhur Betawi, yang mencakup sejarah, budaya, dan tradisi yang telah berkembang selama berabad-abad.</p>
<p><strong>3. Pengembangan Masyarakat yang Berbudaya:</strong><br />
Lembaga Adat Betawi memiliki makna sebagai wadah untuk pengembangan masyarakat yang berbudaya, yang mencakup pengembangan nilai-nilai, norma, dan tradisi yang positif dan konstruktif.</p>
<p><strong>4. Penguatan Jati Diri Masyarakat Betawi:</strong><br />
Lembaga Adat Betawi memiliki makna sebagai wadah penguatan jati diri masyarakat Betawi, yang mencakup pengakuan dan penghargaan terhadap identitas budaya dan sejarah Betawi.</p>
<p><strong>5. Simbol Kebersamaan dan Solidaritas:</strong><br />
Lembaga Adat Betawi memiliki makna sebagai simbol kebersamaan dan solidaritas masyarakat Betawi, yang mencakup nilai-nilai gotong royong, silaturahmi, dan rasa hormat.</p>
<h2>Landasan Filosofis</h2>
<p>Pembentukan LAMB didasarkan pada beberapa landasan filosofis, antara lain:</p>
<p>&#8211; Pancasila: Sebagai ideologi negara, Pancasila menekankan pentingnya pelestarian budaya dan identitas nasional.</p>
<p>&#8211; Kebudayaan Nasional: Kebudayaan nasional Indonesia merupakan kekayaan yang sangat berharga dan perlu dilestarikan dan dikembangkan.</p>
<p>&#8211; Hak Asasi Manusia: Hak asasi manusia untuk melestarikan dan mengembangkan budaya sendiri merupakan hak yang sangat penting.</p>
<h3>Tujuan</h3>
<p>Tujuan pembentukan LAMB adalah:</p>
<p>&#8211; Melestarikan Budaya Betawi:</p>
<p>LAMB bertujuan untuk melestarikan dan mengembangkan budaya Betawi, termasuk bahasa, adat istiadat, kesenian, dan tradisi lainnya.</p>
<p>&#8211; Mengembangkan Identitas Masyarakat Betawi:<br />
LAMB bertujuan untuk mengembangkan identitas masyarakat Betawi dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya melestarikan budaya Betawi.</p>
<p>&#8211; Meningkatkan Kualitas Hidup Masyarakat Betawi:</p>
<p>LAMB bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat Betawi melalui pengembangan budaya dan ekonomi.</p>
<h4>Program</h4>
<p>LAMB memiliki beberapa program yang bertujuan untuk mencapai tujuannya, antara lain:</p>
<p>&#8211; Pengembangan Bahasa dan Sastra Betawi:<br />
LAMB mengembangkan program pengembangan bahasa dan sastra Betawi, termasuk pelatihan bahasa dan sastra Betawi, serta penerbitan buku-buku tentang bahasa dan sastra Betawi.</p>
<p>&#8211; Pelestarian Adat Istiadat Betawi:<br />
LAMB mengembangkan program pelestarian adat istiadat Betawi, termasuk upacara adat, tarian tradisional, dan musik tradisional.</p>
<p>&#8211; Pengembangan Kesenian Betawi:<br />
LAMB mengembangkan program pengembangan kesenian Betawi, termasuk teater, musik, dan tarian tradisional.</p>
<h3>Prospek</h3>
<p>LAMB memiliki prospek yang cerah untuk melestarikan dan mengembangkan budaya Betawi, antara lain:</p>
<p>&#8211; Meningkatkan Kesadaran Masyarakat:</p>
<p>LAMB dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya melestarikan budaya Betawi.</p>
<p>&#8211; Mengembangkan Identitas Masyarakat Betawi:<br />
LAMB dapat mengembangkan identitas masyarakat Betawi dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat Betawi.</p>
<p>&#8211; Meningkatkan Kerjasama dengan Lembaga Lain:</p>
<p>LAMB dapat meningkatkan kerjasama dengan lembaga lain, baik pemerintah maupun swasta, untuk memperoleh dukungan dan sumber daya untuk melestarikan budaya Betawi.</p>
<h3>Tantangan</h3>
<p>LAMB juga menghadapi beberapa tantangan, antara lain:</p>
<p>&#8211; Kurangnya Sumber Daya: LAMB menghadapi keterbatasan sumber daya, baik dari segi finansial maupun sumber daya manusia, untuk melaksanakan program dan kegiatan pelestarian budaya Betawi.<br />
&#8211; Pengaruh Globalisasi: Globalisasi dapat mempengaruhi keberlangsungan budaya Betawi, karena budaya asing dapat masuk dan mempengaruhi budaya lokal.<br />
&#8211; Kurangnya Minat Generasi Muda: Generasi muda Betawi saat ini lebih tertarik dengan budaya populer dan teknologi digital daripada budaya tradisional Betawi.</p>
<p>Dengan demikian, LAMB perlu melakukan upaya yang strategis untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut dan mencapai tujuannya untuk melestarikan dan mengembangkan budaya Betawi {Odie}.</p>
<p><em><strong>Pamulang, 24 Juni 2025</strong></em><br />
<em><strong>Murodi al-Batawi</strong></em></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/perlunya-pembentukan-lembaga-adat-masyarakat-betawi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/imgsrv2.voi.id/p_V2er-Occsi2X4NuLLFbDXZBxRZa0UvfhpFiOO5ITY/auto/1200/675/sm/1/bG9jYWw6Ly8vcHVibGlzaGVycy8zMDU4MDMvMjAyMzA4MjkyMTU1LW1haW4uY3JvcHBlZF8xNjkzMzIwOTcwLmpwZWc.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Komitmen Mempertahankan Kebudayaan Betawi</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/komitmen-mempertahankan-kebudayaan-betawi/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/komitmen-mempertahankan-kebudayaan-betawi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Jun 2025 05:57:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=566</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Murodi al-Batawi Meski selama ini sudah ada komitmen dari berbagai pihak <a class="read-more" href="https://gerbangbetawi.com/komitmen-mempertahankan-kebudayaan-betawi/" title="Komitmen Mempertahankan Kebudayaan Betawi" itemprop="url"></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Meski selama ini sudah ada komitmen dari berbagai pihak terkait pengembangan dan penguatan kebudayaan Betawi, kenyataannya masih belum juga mengalami perkembangan kebudayaan Betawi yang cukup signifikan. Sebab, masih banyak institusi, baik pemerintah maupun swasta, yang belum menetapkan corak kebudayaan Betawi, seperti seni arsitektur bangunan dan lain-lain.</p>
<p>Melihat kenyataan ini, gubernur DKI Jakarta, Dr. Pramono Anung, MSi, dalam sambutannya ada acara Sarasehan Kaukus Kaum Muda Betawi, menghendaki agar semua kebudayaan Betawi, tidak hanya sebagai ikon kebudayaan DKJ (Daerah Khusus Jakarta), juga harus diterapkan dalam setiap aspek kehidupan, sehingga kebudayaan Betawi kian kuat. Salah satu kebudayaan Betawi yang menjadi ikon adalah Ondel-ondel.</p>
<p>Gubernur DKJ, Pramono Anung meminta agar ondel-ondel, jangan dijadikan bahan komoditi. Tidak boleh dipertunjukkan dalam ngamen di masyarakat, karena sejatinya, ondel-ondel alat sakral, yang dahulunya dijadikan sebagai alat pengusir ruh jahat.</p>
<p>Jika sudah dipertontonkan dan dipertunjukkan di jalan,ngamen, maka nilai sakralitas akan tidak bermakna. Maka salah satu hasil kebudayaan tersebut, dapat dipertujukkan dan dipasang di pintu masuk setiap hotel.</p>
<h3>Kuliner Betawi jadi menu spesial di beberapa hotel</h3>
<p>Pak Gubernur DKJ, Pramono Anung, menghendaki agar kuliner Betawi, dijadikan, yang sangat banyak itu, dijadikan sebagai makanan khas yang dapat disajikan di setiap hotel di DKJ, bahkan di hotel berbintang. Dengan demikian, maka Betawi tidak hanya komunitasnya yang egaliter, juga kebudayaan dan kulinernya yang merupakan hasil perpaduan kuliner Betawi dengan kuliner komunitas masyarakat Nusantara, sehingga menjadi salah satu media komunikasi dengan komunitas etnis masyarakat, minimal ASEAN, sehingga dalam perkembangan selanjutnya Betawi akan dikenal secara menyeluruh.</p>
<h3>Tradisi dan Adat Betawi yang nyaris tak terdengar</h3>
<p>Adat Betawi memiliki berbagai aspek yang unik dan kaya. Berikut beberapa contoh adat Betawi yang lengkap:</p>
<p><strong>Adat Pernikahan</strong><br />
1. Lamaran: Proses melamar calon pengantin perempuan kepada orang tuanya.<br />
2. Siraman: Tradisi memandikan calon pengantin sebelum pernikahan.<br />
3. Pemberian Mahar: Pemberian mahar kepada calon pengantin perempuan.<br />
4. Akad Nikah: Upacara pernikahan yang dilakukan di masjid atau rumah calon pengantin.<br />
5. Resepsi Pernikahan: Pesta pernikahan yang dihadiri oleh keluarga dan tamu undangan.</p>
<p><strong>Adat Kematian</strong><br />
1. Pengurusan Jenazah: Proses pengurusan jenazah sesuai dengan adat Betawi.<br />
2. Pemakaman: Proses pemakaman jenazah sesuai dengan adat Betawi.<br />
3. Tahlilan: Ritual doa untuk arwah yang meninggal.<br />
4. Kenduri: Pesta makan-makan untuk mendoakan arwah yang meninggal.</p>
<p><strong>Adat Kemasyarakatan</strong><br />
1. Gotong Royong: Kerja sama masyarakat untuk membantu satu sama lain.<br />
2. Silaturahmi: Hubungan baik antara masyarakat yang dilakukan melalui kunjungan dan pemberian hadiah.<br />
3. Musyawarah: Proses musyawarah untuk mencapai keputusan bersama.</p>
<p><strong>Adat Lainnya</strong><br />
1. Adat Kelahiran: Adat yang mengatur proses kelahiran, seperti pemberian nama dan akikah.<br />
2. Adat Khitanan: Adat yang mengatur proses khitanan, seperti upacara dan pemberian hadiah.</p>
<p>Dengan demikian, adat Betawi memiliki berbagai aspek yang unik dan kaya, serta dapat menjadi sumber inspirasi dan kebanggaan bagi masyarakat Betawi. Tetapi semua itu hanya ada dalam aturan tidak terlaksana dengan baik. Semuanya seperti _nyaris_tak terdengar. Lalau apa yang mesti dilakukan dan bagaimana Lembaga Adat Betawi.</p>
<p><strong>Adat dan Lembaga Adat Betawi</strong><br />
merupakan bagian penting dari kebudayaan Betawi yang memiliki peran dalam menjaga dan melestarikan tradisi dan nilai-nilai masyarakat Betawi. Berikut beberapa aspek tentang Adat dan Lembaga Adat Betawi:</p>
<h3>Adat Betawi</h3>
<p>Adat Betawi merupakan sistem nilai dan norma yang mengatur perilaku masyarakat Betawi dalam berbagai aspek kehidupan, seperti:<br />
&#8211; Adat Pernikahan: Adat yang mengatur proses pernikahan, seperti proses lamaran, akad nikah, dan upacara pernikahan.<br />
&#8211; Adat Kematian: Adat yang mengatur proses kematian, seperti proses pemakaman dan ritual kematian.<br />
&#8211; Adat Kemasyarakatan: Adat yang mengatur hubungan antara masyarakat, seperti gotong royong dan silaturahmi.</p>
<p>Lembaga Adat Betawi merupakan organisasi yang bertanggung jawab untuk menjaga dan melestarikan adat dan tradisi Betawi. Lembaga ini memiliki peran dalam:<br />
&#8211; Mengembangkan Adat dan Tradisi: Mengembangkan adat dan tradisi Betawi melalui berbagai kegiatan, seperti pelatihan dan pertunjukan.<br />
&#8211; Melestarikan Nilai-Nilai: Melestarikan nilai-nilai masyarakat Betawi, seperti nilai-nilai agama, moral, dan sosial.<br />
&#8211; Mengatasi Permasalahan: Mengatasi permasalahan yang terkait dengan adat dan tradisi Betawi.</p>
<p><strong>Fungsi Lembaga Adat Betawi</strong><br />
Lembaga Adat Betawi memiliki beberapa fungsi, seperti:<br />
&#8211; Sebagai Pengawal Adat: Mengawal adat dan tradisi Betawi agar tetap lestari dan berkembang.<br />
&#8211; Sebagai Pembina Masyarakat: Membina masyarakat Betawi untuk memahami dan mengamalkan adat dan tradisi.<br />
&#8211; Sebagai Mediator: Mengatasi konflik dan permasalahan yang terkait dengan adat dan tradisi Betawi.</p>
<p>Dengan demikian, Adat dan Lembaga Adat Betawi memiliki peran penting dalam menjaga dan melestarikan kebudayaan Betawi.<br />
Demikian dan semoga bermanfaat.<br />
(Odie).</p>
<p>Ancol, 02 Juni 2025</p>
<p>Murodi al-Batawi</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/komitmen-mempertahankan-kebudayaan-betawi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/img.okezone.com/content/2020/02/11/338/2166461/mengenal-7-tradisi-unik-ciri-khas-betawi-kHABAue4g3.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Bangkitnya Intelektual Betawi di Hari Kebangkitan Nasional</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/bangkitnya-intelektual-betawi-di-hari-kebangkitan-nasional/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/bangkitnya-intelektual-betawi-di-hari-kebangkitan-nasional/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 May 2025 12:24:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi’s Profesor Club]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=534</guid>

					<description><![CDATA[JAKARTA &#8211; Di hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei 2025, sejumlah intelektual <a class="read-more" href="https://gerbangbetawi.com/bangkitnya-intelektual-betawi-di-hari-kebangkitan-nasional/" title="Bangkitnya Intelektual Betawi di Hari Kebangkitan Nasional" itemprop="url"></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://gerbangbetawi.com/"><strong>JAKARTA</strong></a> &#8211; Di hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei 2025, sejumlah intelektual Betawi mengadakan acara Silaturrahim di Assyiik Resto, Setu Cipayung, Kecamatan Setu Cipayung, Jakarta Timur. Sejumlah intelektual Betawi itu terdiri dari para Profesor dari beberapa Perguruan Negeri dan Swasta, di Jakarta dan sekitarnya.</p>
<p>Selain itu, juga dihadiri oleh salah seorang Jenderal TNI AD (purnawirawan), yang juga berasal dari Betawi. Beliau juga yang memfasilitasi pertemuan tersebut di restonya.</p>
<p>Pertemuan Silaturrahim itu digagas oleh Prof. Murodi dan Prof. Sylvia Murni, yang merupakan penggagas dan pendiri Betawi’s Profesor Club.</p>
<p>Berawal dari keinginan sejumlah profesor Betawi untuk mengadakan Silaturrahim guna menggagas berdirinya sebuah forum atau lembaga yang menghimpun potensi intelektual Betawi dari berbagai Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta di daerah Jakarta dan sekitarnya.</p>
<p>Selama ini, potensi itu masih berserakan tidak termanfaatkan secara maksimal, baik oleh lembaga pendidikan atau Pemerintah Daerah Jakarta, terutama terkait pemberdayaan masyarakat Betawi dan kebudayaannya.</p>
<p>Padahal, banyak profesor dan doktor dari komunitas etnis masyarakat Betawi yang bisa diajak kerjasama, semisal Prof. Yasmin Shihab, anteopolog UI, Prof. Bahrullah Akbar, Mantan Ketua BPK RI, Prof. Hasbullah Thabrani, seorang dokter senior. Prof. Zulkifli, Dekan FKM UI, Prof. Agus Suradika, dan masih banyak lagi yang lain.</p>
<p>Mereka adalah orang-orang hebat dan potensial. Karena itu, meski dalam kedibukan luar biasa, mereka mau menyempatkan diri hadir guna menggagas berdirinya sebuah organisasi atau forum intelektual Betawi.</p>
<p>Meski belum disepakati namanya, tapi mereka bersepakat untuk secara bersama membentuk sebuah lembaga untuk menghimpun para intelektual Betawi potensial.</p>
<h3>Betawi’s Intellectual Circle</h3>
<p>Gagasan mendirikan forum atau semisal Betawi’s Intellectual Circle bertjuan, antara lain untuk:</p>
<p>Pertama meningkatkan kualitas pemikiran dan penelitian di bidang kebudayaan Betawi.</p>
<p>Kedua Mengembangkan program pengabdian masyarakat yang berbasis kebudayaan Betawi.</p>
<p>Ketiga Meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap kebudayaan Betawi.</p>
<p>Keempat. Membangun jaringan dan kerjasama dengan institusi pendidikan dan penelitian lainnya.</p>
<p>Semua gagasan tersebuat akan dituangkan dalam bentuk Program Diskusi Ilmiah, tentang topik-topik yang relevan dengan kebudayaan Betawi. Selain itu, juga melakukan penelitian kolaboratif dengan institusi pendidikan dan penelitian lainnya tentang kebudayaan Betawi.</p>
<p>Kemudian, ada juga program publikasi Jurnal ilmiah tentang kebudayaan Betawi. Terakhir, program kegiatan budaya yang mempromosikan kebudayaan Betawi, seperti festival, pameran, dan pertunjukan seni.</p>
<p>Dengan demikian, Betawi&#8217;s Intellectual Circle dapat menjadi wadah bagi intelektual Betawi untuk memajukan pemikiran, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang berbasis pada nilai-nilai kebudayaan Betawi.</p>
<p>Hal Itu semua impian kami sebagai intelektual masyarakat Betawi yang tergabung dalam Betawi’s Intellectual Circle. Semoga terwujud semua impian tersebut dalam waktu dekat.</p>
<p><em><strong>Murodi al-Batawi.</strong></em></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/bangkitnya-intelektual-betawi-di-hari-kebangkitan-nasional/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://res.cloudinary.com/du66xc8mf/images/f_webp,q_auto:low/v1747743774/Betawis-Profesor-Club-FILEminimizer/Betawis-Profesor-Club-FILEminimizer.jpg?_i=AA" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Lembaga Kebudayaan Betawi dan Forum Jurnalis Betawi Bikin Program Podcast Serial: Betawi-verse Jadi Perbincangan</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/lembaga-kebudayaan-betawi-dan-forum-jurnalis-betawi-bikin-program-podcast-serial-betawi-verse-jadi-perbincangan/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/lembaga-kebudayaan-betawi-dan-forum-jurnalis-betawi-bikin-program-podcast-serial-betawi-verse-jadi-perbincangan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 Apr 2025 00:53:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[LKB]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=516</guid>

					<description><![CDATA[JAKARTA – Forum Jurnalis Betawi (FJB) dan Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) membuat <a class="read-more" href="https://gerbangbetawi.com/lembaga-kebudayaan-betawi-dan-forum-jurnalis-betawi-bikin-program-podcast-serial-betawi-verse-jadi-perbincangan/" title="Lembaga Kebudayaan Betawi dan Forum Jurnalis Betawi Bikin Program Podcast Serial: Betawi-verse Jadi Perbincangan" itemprop="url"></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://gerbangbetawi.com/"><strong>JAKARTA</strong></a> – Forum Jurnalis Betawi (FJB) dan Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) membuat siniar alias podcast bersama. Kolaborasi kekinian ini bertajuk Podcast Betawi: Serial.</p>
<p>Episode perdana Podcast Betawi: Serial mengundang narasumber Dr Siti Elda Hiererra, SKom, MMSI, CDMS, CME. Biasa disapa Elda, adalah dosen di Binus University dan Direktur Program ISACA Indonesia.</p>
<p>Menariknya, Elda adalah anak Betawi asal Rawa Belong, Jakarta Barat, yang pakar di bidang metaverse.</p>
<p>Di episode perdana ini, Mpok Elda menjelaskan apa itu metaverse dan bagaimana implementasinya dapat diterapkan dalam upaya pelestarian dan pengembangan seni-budaya masyarakat Betawi. Termasuk ceritanya mengembangkan metaverse untuk Candi Borobudur di Magelang, sebagai salah satu destinasi wisata superprioritas di Indonesia.</p>
<p>“Dengan memanfaatkan teknologi metaverse, aye punya harapan untuk membuat Betawi-verse sehingga konten dan literasi Betawi dapat lebih dinikmati oleh banyak kalangan terutama generasi muda, Gen Z, yang punya gaya hidup digital,” jelasnya bersemangat.</p>
<p>Ketua Umum Lembaga Kebudayaan Betawi Beky Mardani menyambut setiap kolaborasi yang disampaikan pada LKB demi literasi Betawi. Sebab kegiatan pelestarian dan pengembangan seni-budaya Betawi tidak dapat dilakukan sendirian, tapi memerlukan kerja sama dengan segala pihak yang peduli dan cinta terhadap Betawi.</p>
<p>“Jadi LKB siap berkolaborasi dengan pihak mana pun, termasuk bersama Forum Jurnalis Betawi (FJB) untuk meninggikan konten dan literasi Betawi. Salam kolaborasi!” kata Bang Beky.</p>
<p>M Syakur Usman, Ketua FJB, menambahkan program podcast, hasil kolaborasi FJB dengan LKB sebagai lembaga paling depan untuk upaya pelestarian dan pengembangan seni-budaya Betawi di Jakarta.</p>
<p>“Menyambut perayaan 5 Abad kota Jakarta pada 2027, FJB dan LKB memandang perlu memperbanyak konten-konten tentang Betawi di dunia maya, supaya literasi tentang Betawi semakin tinggi bagi penikmat media sosial zaman sekarang, supaya lebih mengenal dan cinta terhadap Betawi sebagai masyarakat inti kota Jakarta,” ujar Bang Syakur Usman.</p>
<h3>Live di TikTok LKB</h3>
<p>Episode perdana Podcast Betawi: Serial ini dipandu oleh Mpok Amira Kareem, mantan None Jakarta dan pengurus LKB. Alhasil, podcast berjalan lancar, mengalir, dan jenaka saat disiarkan secara langsung (live) di akun TikTok @lkbtiktok123.</p>
<p>Bang Syakur Usman menjelaskan, secara umum FJB dan LKB mempunyai beberapa tujuan dengan menggagas Podcast Betawi: Serial pada tahun ini: upaya pelestarian budaya Betawi dengan mendiskusikannya dari berbagai perspektif keilmuan.</p>
<p>Kedua, meningkatkan kesadaran publik/warga tentang Betawi dengan segala aspek dan sistem nilainya, sekaligus sebagai sarana edukasi yang informatif serta menghibur. Ketiga, membangun kebanggaan terhadap identitas dan warisan budaya Betawi melalui cerita dan diskusi inspiratif.</p>
<p>“Yang juga penfing, podcast ini menjadi platform hub bagi komunitas-komunitas Betawi untuk berbagi ide, pengalaman, dan inovasi untuk masyarakat Betawi, selain memperluas jangkauan konten Betawi dengan memanfaatkan platform digital sehingga dapat menjadi rereferensi termasuk diaspora-diaspra Betawi di seluruh dunia,” pungkas Bang Syakur.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/lembaga-kebudayaan-betawi-dan-forum-jurnalis-betawi-bikin-program-podcast-serial-betawi-verse-jadi-perbincangan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/www.kebudayaanbetawi.com/wp-content/uploads/2025/04/WhatsApp-Image-2025-04-24-at-06.17.12-660x330.jpeg.webp?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Pesantren: Asal-usul Kelembagaan</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/pesantren-asal-usul-kelembagaan/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/pesantren-asal-usul-kelembagaan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 16 Apr 2025 02:47:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=506</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Murodi al-Batawi Pesantren yang kita kenal sekarang ini, memiliki latar histotis <a class="read-more" href="https://gerbangbetawi.com/pesantren-asal-usul-kelembagaan/" title="Pesantren: Asal-usul Kelembagaan" itemprop="url"></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Pesantren yang kita kenal sekarang ini, memiliki latar histotis yang sangat lama dan panjang. Institusi ini merupakan lembaga pendidikan tertua dan khas Indonesia. Ia telah memainkan peran yang sangat penting dalam proses pencerdasan generasi Muslim Indonesia.</p>
<p>Dari lembaga inilah lahir para Ulama, Mujahid, Pemikir, budayawan dan intelektual hebat serta para pejuang kemerdekaan Indonesia dan ternama. Sebut saja, miisalnya, KH. Wahab Hasbullah. KH. Hasyim Asy’ari, KH. Holil Bangkalan. Syeikh Nawai al-Bantani, KH. Nur Ali, dan lain sebagainya.</p>
<p>Mereka telah memainkan persan pada posisi mssing, dengan tidak meninggalkan peran dan fungsinya sebagai Ulama. Bahkan tidak hanya sebatas perjuangan kemerdekaan Indonesia, juga pra kemerdekaan dan pascakemerdekaan. Menjadi penyuluh di tengah gulitanya ilmu pengetahuan.</p>
<h3>Pengertian dan Asal Usul Pesantren</h3>
<p>Banyak ahli berbeda pendapat mengenai asal usul dan penamaan pesantren. Salah seorang di antaranya, Abu Hamid. Ia mengatakan bahwa diksi pesantren berasal dari bahasa Sanskerta yang memperoleh wujud dan pengertiannya tersendiri dalam bahasa Indonesia. Kata Pesantren berasal dari kata Sant yang berarti orang baik.</p>
<p>Kemudian disambung dengan kata tra/tri, yang betarti Suka Menolong. Di diksi Santri diberi awalan Pe dan akhiran an. Jadi kata Pesantreaan dan kemudian berubah menjadi Pesantren, yang berarti tempat pendidikan anak-anak supaya menjadi orang baik. Institusi ini sudah ada jauh sebelum agama Islam datang ke Indonesia.</p>
<p>Pada saat itu, Pesantren merupakan lembaga pendidikan agama Budha dan Hindu. Dan Pesantren mengalami transformasi luar biasa semenjak awal kedatangan Islam di Infonesia.</p>
<p>Sedangkan menurut Zamakhsyari Dhofier, bahwa kata Pesantren berasal dari kata dasar Santri yang berasal dari bahasa Tamil yang berarti Guru Mengaji. Sedangkan menurut CC. Berg, diksi pesantren berasal dari kata Shastra yang berarti Buku-Buku Suci, Buku-buku Agama dan Buku-buku pengetahuan.</p>
<p>Dengan demikian, istilah pesantren tersebut masuk ke Indonesia bersamaan dengan kedatangan dan perkembangan agama Hindu sebelum kedatangan agama Islam. Setelah datangnya agama Islam institusi ini ditransformasikan ke dalam sistem Islam dan kemudian kontens lembaga pesantren ini diisi dengan program pendidikan Islam sesuai dengan tujuan program pengembangan agama Islam.</p>
<p>Berdasarkan alasan terminologis, persamaan bentuk antara pesantren dan pendifikan Hindu di India dapat dianggap sebagai petunjuk untuk menjelaskan mengenai asal usul sistem pendidikan pesantren.</p>
<p>Pada zaman kerajaan dahulu, ada kebijakan yang dikeluarkan oleh kerajaan untuk memberikan satu wilayah atau daerah yang diperuntukan bagi pengembangan pendidikan dan diserahkan kepada tokoh agama untuk dimanfaatkan sebagai daerah otonomi penuh untuk pengembangan ajaran agama Hindu. Daerah itu diberi nama Perdikan, yang dibebaskan dari berbagai pungutan pajak, seperti yang dikenakan pada daerah lain.</p>
<p>Para pengelola dan guru di lembaga pendidikan Hindu ini tidak mendapat gaji, tetapi mendapatkan penghormatan luar biasa dari kerajaan dan masyarakat. Daerah perdikan biasanya terketak di pedesaan dan jauh dari pusat kota dan keramaian, sehingga mereka, baik para guru maupun para murid terbebas dari pengaruh dari luar, dan mereka hanya fokus mengajarkan dan mengembangkan ajaran agama Hindu dan Budha.</p>
<p>Diperkirakan, menurut Ziemek, pesantren di Indonesia mencontoh bentuk lembaga pendidikan Hindu-Budha dengan mengubah bentuk pendidikan Asrama dan Mandala, seperti lembaga pendidikan yang ada di Infia, Burma/Myanmar dan Muangthai ataupun di Jawa pra Islam.</p>
<p>Sedangkan menurut Clifford Geertz mengatakan bahwa pengertian Santri diturunkan dari bahasa Sanskerta, Shasstri yang berarti ilmuan Hindu yang pandai menulis. Kata Shashtri punya arti seirang pelajar yang ingin memperdalam ilmu agama. Kemudian diksi ini dalam tradisi penduduk Jawa muslim diadopsi menjadi penduduk Jawa yang menganut Islam dengan sunguh-sungguh, rajin shalat, dan sebagainya. Demikian pengertian istilah Santri dan pesantren. {Odie}</p>
<p><em><strong>Murodi Al Batawi</strong></em></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/pesantren-asal-usul-kelembagaan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/www.senibudayabetawi.com/wp-content/uploads/2022/08/pesantren-lama.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Halal bi Halal, Tradisi Silaturrahmi Muslim Indonesia</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/halal-bi-halal-tradisi-silaturrahmi-muslim-indonesia/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/halal-bi-halal-tradisi-silaturrahmi-muslim-indonesia/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Apr 2025 13:01:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=501</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Murodi al-Batawi Sepekan Sudah Idul Fitri 1446 H kita lewati. <a class="read-more" href="https://gerbangbetawi.com/halal-bi-halal-tradisi-silaturrahmi-muslim-indonesia/" title="Halal bi Halal, Tradisi Silaturrahmi Muslim Indonesia" itemprop="url"></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Oleh : Murodi al-Batawi</em></strong></p>
<p>Sepekan Sudah Idul Fitri 1446 H kita lewati. Dan hari ini pula baru ada Muslim Indonesia yang menjalani Lebaran Akbar atau Lebaran Ketupat di beberapa daerah di Jawa atau Lebaran Topat bagi Muslim Nusa Tenggara Barat. Mereka melakoni ini karena mereka punya tradisi puasa Syawwal, sehari setelah Idul Fitri 1446 H. Bagi mereka yang tidak mengikuti tradisi puasa sunnah Syawwal, biasanya melakukan silaturrahmi ke keluarga dekat dan keluarga yang tinggalnya tidak sekampung dengan mereka. Kegiatan Silaturrahmi ini jika mau dilakoni, tidak cukup waktu satu minggu bahkan bisa satu bulan jika berkeliling dari satu rumah ke rumah keluarga lain.</p>
<p>Selain itu, ada juga Silaturrahmi dengan keluarga yang jauh yang tidak mungkin dijangkau dalam beberapa saat, mereka melakukannya dengan cara Silaturrahmi digita, lewat Video Call atau lewat Zoom dan media lainnya. Mereka melakukan Silaturrahmi digital karena, mereka sangat ingin bertemu meski lewat VC atau Zoom, di saat hari berbahagia ini. Ada juga yang berlebaran lewat WAG, sambil mengucapkan Selamat Idul Fitri 1446 H. Mereka saling bersahutan dalam kata indah dan saling mohon maaf atas segala khilaf dan dosa yang disengaja atau tidak disengaja. Mereka berharap dan berdo’a, semoga bisa berjumpa lagi dengan Ramadan dan Idul Fitri tahun berikutnya. Pokoknya, banyak kalimat indah terlontar dan terkirim ke anggota group yang ada.</p>
<p>Bahkan sudah ada yang merencanakan agenda kegiatan Halal Bi Halal (HBH), baik di tempat hiburan, restoran bahkan di hotel berbintang. Opini ini akan bercerita tentang HBH, sejarah dan makna dari HBH.</p>
<h3><strong>Sejarah Halal bi Halal</strong></h3>
<p>Sejak zaman Kerajaan Islam, hingga masa kolonial, kegiatan saling mengunjungi dan bermaafan, setelah Shalat Idul Fitri, sudah dilakukan. Tetapi belum menggunakan istilah Halal Bi Halal.<br />
Konsep ini baru muncul kemudian, terutama setelah kemerdekaan.</p>
<p>Pada masa pemerintahan Sukarno, sekira tahun 1948, saat krisis politik internal antara satu pemimpin partai politik tertentu dengan pimpinan lainnya terus bersiteru. Konflik internal tidak dapat dihindari, yang, hampir meruntuhkan Negara Indonesia yang baru seumur jagung.<br />
Pada saat itulah muncul seorang tokoh pendiri NO(Nahdlatul Oelama),<br />
KH Abdul Wahab Hasbullah, seorang ulama pendiri Nahdatul Oelama memperkenalkan *istilah Halal bi Halal* kepada Sukarno sebagai bentuk silaturahmi antar-pemimpin politik yang sedang konflik.</p>
<p>Untuk itu, kemudian Sukarno mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh politik di Istana Negara pada Hari Raya Idul Fitri 1948, yang diberi judul *Halal bi Halal*.</p>
<p>Pertemuan ini bertujuan untuk menyatukan kekuatan dan persatuan bangsa.</p>
<p>Kemudian tradisi baik ini dilanjutkan pada masa Orde Baru dan Orde reformasi, hingga sekarang. Istana Presiden selalu menjadi tempat terbaik untuk melaksanakan kegiatan Halal bi Halal dan menjadi agenda penting tahunan pemerintah.</p>
<p>Tradisi Halal bi Halal terus berkembang dan menjadi bagian dari budaya Indonesia. Berbagai instansi pemerintah dan masyarakat mengadakan acara Halal bi Halal sebagai bentuk silaturahmi dan saling memaafkan. Tradisi Halal bi Halal tetap berlanjut dan menjadi lebih populer dengan adanya teknologi digital. Dan ini terjadi pada masa dan pascapandemii Covid-19.</p>
<h3><strong>Makna Halal Bi Halal</strong></h3>
<p>Makna Halal bi Halal dapat dipahami dari beberapa aspek:</p>
<p><strong>Makna Agama</strong><br />
&#8211; Memaafkan dan meminta maaf: Halal bi Halal adalah kesempatan untuk memaafkan dan meminta maaf atas kesalahan dan dosa-dosa yang telah dilakukan.<br />
&#8211; Membersihkan diri: Halal bi Halal juga dapat diartikan sebagai kesempatan untuk membersihkan diri dari dosa-dosa dan kesalahan yang telah dilakukan.</p>
<p><strong>Makna Sosial</strong><br />
&#8211; Silaturahmi: Halal bi Halal adalah kesempatan untuk mempererat silaturahmi dan hubungan sosial dengan keluarga, teman, dan masyarakat.<br />
&#8211; Meningkatkan kesadaran sosial: Halal bi Halal dapat meningkatkan kesadaran sosial dan mempromosikan perdamaian dan harmoni di antara orang-orang.</p>
<p><strong>Makna Filosofis</strong><br />
&#8211; Memaafkan dan melupakan: Halal bi Halal dapat diartikan sebagai kesempatan untuk memaafkan dan melupakan kesalahan dan dosa-dosa yang telah dilakukan.<br />
&#8211; Meningkatkan kesadaran diri: Halal bi Halal dapat meningkatkan kesadaran diri dan mempromosikan introspeksi diri.</p>
<p>Makna Budaya<br />
&#8211; Tradisi dan kebudayaan: Halal bi Halal adalah bagian dari tradisi dan kebudayaan Indonesia yang telah menjadi bagian dari identitas bangsa.<br />
&#8211; Meningkatkan kesadaran budaya: Halal bi Halal dapat meningkatkan kesadaran budaya dan mempromosikan pelestarian tradisi dan kebudayaan Indonesia.</p>
<h3>Manfaat Kegiatan Halal bi Halal</h3>
<p>Kegiatan Halal bi Halal memiliki banyak manfaat, antara lain:</p>
<p>1. Meningkatkan hubungan sosial: Kegiatan Halal bi Halal dapat meningkatkan hubungan sosial dan mempromosikan perdamaian dan harmoni di antara orang-orang.<br />
2. Meningkatkan kesadaran agama: Kegiatan Halal bi Halal dapat meningkatkan kesadaran agama dan mempromosikan nilai-nilai Islam.<br />
3. Meningkatkan kesadaran filosofis: Kegiatan Halal bi Halal dapat meningkatkan kesadaran filosofis dan mempromosikan perdamaian dan harmoni di antara orang-orang.</p>
<p>Dengan demikian dapat dikatakan bahwa *Tradisi Halal bi Halal* adalah tradisi yang telah menjadi bagian dari budaya Indonesia, terutama di kalangan masyarakat Muslim. Tradisi ini memiliki makna sosial, agama, dan filosofis yang sangat penting, serta memiliki banyak manfaat. Oleh karena itu, kegiatan Halal bi Halal perlu dilestarikan dan dikembangkan untuk mempromosikan perdamaian dan harmoni di antara orang-orang.<br />
(Odie).</p>
<p>Pamulang, 07 April 2025.</p>
<p>Murodi al-Batawi</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/halal-bi-halal-tradisi-silaturrahmi-muslim-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/koropak.co.id/wp-content/uploads/artikel/menelusuri-lebih-dalam-sejarah-tradisi-halal-bihalal-di-indonesia_1680946554.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Mulai Langka, Yuk Bikin Kue Sengkulun Khas Betawi buat Lebaran</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/mulai-langka-yuk-bikin-kue-sengkulun-khas-betawi-buat-lebaran/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/mulai-langka-yuk-bikin-kue-sengkulun-khas-betawi-buat-lebaran/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Mar 2025 08:59:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Kue Sengkulun]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan Betawi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=483</guid>

					<description><![CDATA[GERBANG BETAWI &#8211; Sengkulun adalah kue mirip kue keranjang dengan permukaan berbintil <a class="read-more" href="https://gerbangbetawi.com/mulai-langka-yuk-bikin-kue-sengkulun-khas-betawi-buat-lebaran/" title="Mulai Langka, Yuk Bikin Kue Sengkulun Khas Betawi buat Lebaran" itemprop="url"></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://gerbangbetawi.com/"><strong>GERBANG BETAWI</strong></a> &#8211; Sengkulun adalah kue mirip kue keranjang dengan permukaan berbintil kasar, tekstur lunak, kenyal, dan lembut. Kue ini dibuat dengan bahan baku utama tepung ketan.</p>
<p>Penggunaan gula merah membuatnya berwarna coklat, walaupun ada juga variasi pewarna lain di berbagai daerah. Santan kental menambahkan rasa gurih.</p>
<p>Kue ini dibuat dengan cara dikukus dalam waktu sekitar 2 jam, dan dimakan dengan kelapa parut.</p>
<p>Bagi masyarakat Betawi, kue ini dianggap sakral. Mereka akan selalu menyajikan saat mengadakan berbagai acara kebudayaan atau acara penting lainnya.</p>
<p>Sayangnya kue Sengkulun semakin langka dan hanya bisa ditemui saat acara-acara tertentu saja.</p>
<p>Sengkulun tidak hanya dikenal karena rasanya yang khas, tetapi juga karena kehadirannya dalam perayaan-perayaan khusus.</p>
<p>Kue ini sering ditemukan pada perayaan Hari Raya Idulfitri dan Iduladha, di mana ia menjadi bagian dari hidangan yang disajikan untuk merayakan bersama sanak keluarga setelah salat id.</p>
<p>Selain itu, Sengkulun juga sering digunakan sebagai makanan ringan dalam berbagai acara. Orang Betawi amat suka menyantap kue ini saat dikombinasikan dengan secangkir teh atau kopi pahit.</p>
<h3>Resep Kue Sengkulun Khas Betawi</h3>
<h4>Bahan:</h4>
<ul>
<li>200 gr tepung beras ketan</li>
<li>100 gr kelapa parut sedang (jangan pilih kelapa yang terlalu tua)</li>
<li>8 sdm gula pasir</li>
<li>1/2 sdt garam</li>
<li>1/2 sdt vanili bubuk pewarna merah secukupnya</li>
</ul>
<h4>Cara Membuat:</h4>
<ol>
<li>Masukkan tepung beras ketan, kelapa, gula pasir, garam dan vanili ke dalam wadah. Campur merata.</li>
<li>Ambil sebagian adonan, tambahkan pewarna merah secukupnya, aduk hingga pewarna merata dan tidak ada yang menggumpal.</li>
<li>Panaskan kukusan hingga mendidih.</li>
<li>Siapkan loyang atau cetakan, oles minyak dan lapisi dengan daun pisang di bagian dasarnya. Masukkan adonan putih, ratakan sambil ditekan-tekan. Masukkan adonan merah, ratakan sambil sesekali ditekan.</li>
<li>Kukus selama 25-30 menit.</li>
<li>Angkat dan biarkan dingin, lepaskan dari loyang.</li>
<li>Kue sengkulun siap dinikmati.</li>
</ol>
<p>Mudah sekali bukan membuat kue sengkulun?</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/mulai-langka-yuk-bikin-kue-sengkulun-khas-betawi-buat-lebaran/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/cdn0-production-images-kly.akamaized.net/KTbDb_2OigfE0fo1czyTV2ETwBQ=/1x66:1000x629/1280x720/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3418500/original/062538700_1617414957-shutterstock_1080705338.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Tahlilan dan Selametan Malam Takbiran: Tradisi yang Nyaris Tak Terdengar lagi di Betawi</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/tahlilan-dan-selametan-malam-takbiran-tradisi-yang-nyaris-tak-terdengar-lagi-di-betawi/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/tahlilan-dan-selametan-malam-takbiran-tradisi-yang-nyaris-tak-terdengar-lagi-di-betawi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Mar 2025 02:45:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=476</guid>

					<description><![CDATA[Oleh:Murodi al-Batawi Dahulu, sekira tahun 1970-an, ada satu tradisi Betawi yang saya <a class="read-more" href="https://gerbangbetawi.com/tahlilan-dan-selametan-malam-takbiran-tradisi-yang-nyaris-tak-terdengar-lagi-di-betawi/" title="Tahlilan dan Selametan Malam Takbiran: Tradisi yang Nyaris Tak Terdengar lagi di Betawi" itemprop="url"></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh:Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Dahulu, sekira tahun 1970-an, ada satu tradisi Betawi yang saya alami dan lakukan sendiri; yaitu *Tahlilan dan Selametan Keliling* dari satu ke rumah tetangga lainnya. Tradisi itu dilakukan oleh masyarakat di bawah pimpinan tokoh agama dan tetua kampung, pada malam takbiran. Kegiatan tersebut dilakukan hanya pada masyarakat satu atau dua rukun tetangga saja, tidak secara keseluruhan satu kelurahan, karena terlalu luas. Hal yang sama juga dilakukan oleh masyarakat Betawi lain rukun tetangga. Jadi, kalau boleh dibilang, hampir semua masyarakat Betawi melakukan tradisi *Tahlilan dan Selametan Keliling* ini pada malam takbiran, dipimpin oleh tokoh agama masing-masing dan tetua masyarakatnya.</p>
<p><strong>Tradisi Tahlilan dan Selametan Malam Takbiran</strong></p>
<p>Tradisi Tahlilan ini tidak ada hubungannya dengan acara kematian.Tapi acara dzikir dan do’a bersama pada malam takbiran menjelang Iedul Fitri 1 Syawwal. Acara ini dilakukan pada mulanya di Masjid atau Mushalla setelah Shalat Isya. Kemudian diikuti oleh anggota masyarakat kampung itu yang ikut Shalat Isya. Selesai Tahlilan di Masjid atau Mushalla mereka menyambangi satu persatu rumah penduduk.</p>
<p>Ketika mereka mendatangi dan memasuki rumah salah seorang anggota masyarakat, hal yang sudah pasti tersaji di dalam acara tahlilan tersebut adalah panganan dan kuliner khas Betawi; mulai dari Ketupat, Sayur Godog, Dodol, Uli, Nasi, Lauk Pauk, seperti Semur Daging Kebo, Bekakak Ayam, Opor Ayam, Ikan Bandeng, Serundeng dan lain sebagainya.</p>
<p>Panganan dan Menu yang sama juga terdapat pada rumah selanjutnya. Paling ada tambahannya sedikit, seperti Rengginang, buah pisang. Panganan dan menu tersebut tidak dimakan di lokasi, semua dicicipi dan sebagian besar dibawa pulang. Hampir sebagian besar mereka membawa kantong terigu bekas, karena saat itu belum tersedia kantung plastik kresek. Jadi, semua makanan yang diambil dan dibawa pulang, dimasukkan ke kantong terigu dan hanya dipisahkan oleh daun pisang agar tidak tercampur antara satu makanan dengan yang lainnya.</p>
<p>Acara Tahlilan dan Selametan Keliling ini dilakukan sampai larut malam. Terkadang sampai jam 01 malam. Usai itu, mereka kembali lagi ke Masjid atau Mushalla untuk mengikuti kegiatan *Takbiran* hingga menjelang Shalat Subuh. Selesai Shalat Subuh, mereka pulang ke rumah dan mempersiapkan diri untuk melakukan Shalat Iedul Fitri berjama’ah di Masjid. Jika Masjid dianggap tidak dapat menampung para jama’ah, karena jama’ah yang akan melakukan Shalat Iedul Fitri tidak hanya jana’ah tetap Masjid tersebut, juga diikuti oleh ibu-ibu dan anak-anak, maka panitia sudah mempersiapkan lapangan untuk dijadikan tempat pelaksanaan Shalat Iedul Fitri.</p>
<p><strong>Makna Tahlilan dan Selametan Keliling</strong></p>
<p>Banyak makna yang terdapat dari acara Tahlilan dan Selametan Keliling ini antara lain; Solidaritas Sosial dan kebersamaan. Perasaan kebersamaan timbul karena hati esok adalah hari kemenangan mat Islam setelah selama satu bulan berpuasa. Mereka ingin mengucapkan rasa syukur atas anugerah yang telah diberikan oleh Allah, sehingga mereka bisa bertemu kembali dengan Ramadhan dan Iedul Fitri.</p>
<p>Selain itu, kegiatan tersebut juga untuk mengingat nilai-nilai kebaikan yang terdapat pada bulan penuh ampunan tersebut. Mereka berharap dapat berjumpa kembali dengan Ramdhan di tahun betikutnya.</p>
<p>Makna lain dari Tahlilan dan Selametan Malam Takbiran adalah Makna Filosofis.</p>
<p><strong>Makna Filosofis</strong></p>
<p>1. Refleksi Diri: Tahlilan malam takbiran menjelang 1 Syawwal merupakan momentum untuk melakukan refleksi diri. Dengan berdzikir dan Tahlil, masyarakat diingatkan tentang pentingnya merefleksikan diri dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan.</p>
<p>2. Pengembangan Diri. Tahlilan malam takbiran menjelang 1 Syawwal juga mengajarkan masyarakat tentang pentingnya pengembangan diri. Dengan membaca dzikir dan Tahlil, masyarakat diingatkan tentang pentingnya meningkatkan kualitas diri dan menjadi pribadi yang lebih baik.</p>
<p>3. Kesadaran Spiritual: Tahlilan malam takbiran menjelang 1 Syawwal juga mengingatkan masyarakat tentang kesadaran spiritual. Dengan membaca surat Yasin dan Tahlil, masyarakat diingatkan tentang pentingnya meningkatkan kesadaran spiritual dan menjaga hubungan yang harmonis dengan Allah SWT.</p>
<p>4. Penghargaan terhadap Waktu Tahlilan malam takbiran menjelang 1 Syawwal juga mengajarkan masyarakat tentang pentingnya menghargai waktu. Dengan melakukan Tahlilan pada malam takbiran, masyarakat diingatkan tentang pentingnya menghargai waktu dan menggunakan waktu dengan bijak.</p>
<p>Untuk itu dapat disimpulkan bahwa acara Tradisi Tahlilan dan Selametan malam Takbiran menjelang 1 Syawwal sangatlah mendalam dan memiliki beberapa aspek yang penting dalam kehidupan masyarakat Muslim.</p>
<p>Dengan memahami dan menjalankan Tahlilan dan Selametan malam takbiran, masyarakat dapat lebih taat dalam menjalankan ibadah, dan lebih peduli dalam menjalankan kehidupan sosial.</p>
<p>Semoga bermanfaat[Odie].</p>
<p>Murodi al-Batawi</p>
<p>Pamulang, 27 Maret 2025.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/tahlilan-dan-selametan-malam-takbiran-tradisi-yang-nyaris-tak-terdengar-lagi-di-betawi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/eksotikadesa.id/wp-content/uploads/2022/10/Budaya-spiritual-Sembahyang-Tahlilan-desa-Bumiharjo.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Jurnalis Mantapkan Ide dan Gagasan Menuju 5 Abad Kota Jakarta</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/jurnalis-mantapkan-ide-dan-gagasan-menuju-5-abad-kota-jakarta/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/jurnalis-mantapkan-ide-dan-gagasan-menuju-5-abad-kota-jakarta/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 25 Mar 2025 03:06:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[FJB]]></category>
		<category><![CDATA[Forum Jurnalis Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=452</guid>

					<description><![CDATA[JAKARTA &#8211; Forum Jurnalis Betawi (FJB) menggelar kegiatan diskusi sekaligus buka puasa <a class="read-more" href="https://gerbangbetawi.com/jurnalis-mantapkan-ide-dan-gagasan-menuju-5-abad-kota-jakarta/" title="Jurnalis Mantapkan Ide dan Gagasan Menuju 5 Abad Kota Jakarta" itemprop="url"></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://gerbangbetawi.com/"><strong>JAKARTA</strong></a> &#8211; Forum Jurnalis Betawi (FJB) menggelar kegiatan diskusi sekaligus buka puasa bersama dengan mengusung tema &#8220;Kontribusi Jurnalis Betawi Menyongsong Lima Abad kota Jakarta&#8221; acara ini berlangsung di Saung Kembangan, Jakarta Barat, pada Ahad sore (23/3/2025).</p>
<p>Dengan menampilkan tiga orang narasumber yang cukup senior di dunia jurnalistik yakni H Beky Mardani yang juga sebagai Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), kemudian H Yusron Sjarief, Jurnalis TV (news anchor) senior dan Ahmad Buchori atau biasa disapa Bang Boy, yang merupakan jurnalis senior Antara.</p>
<p>Ketua Forum Jurnalis Betawi (FJB) M Syakur Usman mengawali dengan pembukaan, dirinya menekankan pentingnya Jurnalis Betawi berkontribusi dan berperan aktif dengan usulan-usulan kegiatan untuk menyongsong 5 Abad Kota Jakarta yang akan dirayakan pada 22 Juni 2027 nanti.</p>
<p>FJB sendiri sudah melakukan inisiatif dengan mengembangkan laman berita online: Kabarbetawi.id. Laman ini akan banyak menyajikan konten-konten masyarakat Betawi sebagai masyarakat inti kota Jakarta.</p>
<p>Pada acara bukber ini. FJB juga menyampaikan beberapa program yang akan digelar untuk menyongsong 5 Abad Kota Jakarta, antara lain roadshow jurnalistik ke kampus-kampus, penerbitan buku 500 Cerita Tanah Betawi, workshop platform digital bersama kreator-kreator konten kebetawian, dan sebagainya.</p>
<p>Tepat pukul 16.30 acara diskusi dimulai yang dipandu oleh Bang Faisal dari RRI.</p>
<p>Banyak bermunculan ide dan gagasan baru agar jurnalis Betawi punya peran besar menuju lima abad kota Jakarta.</p>
<p>Beky Mardani misalnya, dirinya berharap agar jurnalis Betawi punya karya dalam bentuk buku yang bisa mengabadikan jasa para tokoh Betawi dari masa ke masa.</p>
<p>Selain itu, dia juga ingin ada karya lain yang selama ini menjadi memory kolektif orang tua agar dituangkan dalam tulisan. Seperti bagaimana kisah kampung di Betawi dahulu sebelum pembangunan sangat massif mewarnai Jakarta.</p>
<p>“Anak sekarang mana ngerasain bisa ngelihat Monas dari atas pohon kecapi. Nah, itu yang kita rasain dulu. Mari kita tulis, kita mulai dari kampung kita. Saya akan mulai dari kampung saya, Meruya,” ujar Beky yang juga Ketua PMI Jakarta Barat.</p>
<p>Yusron Sjarief menambahkan, banyak tradisi berkembang di Jakarta dan itu sangat terasa hingga kini bagi mereka yang masih tinggal di pemukiman non perumahan.</p>
<p>“Saya kalau jadi juri Abnon (Abang-None) Jakarta peserta selalu saya tanya tinggal di perkampungan atau di kompleks perumahan. Mereka yang tinggal di kompleks perumahan biasanya tidak tahu ada tradisi apa yang masih ada di Betawi,” katanya.</p>
<p>Sedangkan Ahmad Buchori menyoroti peran Jurnalis Betawi di banyak media masa umum, bukan media khusus Betawi. Karena itu, dia menyambut positif hadirnya website kabarbetawi.id milik FJB dan berharap bisa menyuarakan aspirasi warga Betawi.</p>
<p>“Kayak kejadian di Bekasi ada permintaan THR (kepada perusahaan) mengatasnamakan Betawi. Itu perlu kita luruskan, agar stigma Betawi di masyarakat tidak menjadi negatif,” ucapnya.</p>
<p>Diskusi semakin menarik menjelang Magrib.</p>
<p>Beberapa tamu undangan juga tampak hadir antara lain, Kasudin Kesbangpol Jakarta Barat, Mohammad Matsani, Ketua LBIQ dan Sekjen Permata MHT, H Supli Ali, serta adik-adik KMB PTIQ, juga hadir Budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra dan Imbong Hasbullah dari LKB, serta Achmad Rizal (Sanggar Cingkrik S3 Rawa Belong).</p>
<p>Diakhir acara ada bagi-bagi buku, Bang Ipul: Simpul Betawi dari Gubernur ke Gubernur. Ada juga door prize tiket Ancol, dufan, dan Sea World, serta produk lainnya.</p>
<p>Kegiatan ini didukung oleh Gerakan Kebangkitan Betawi (Gerbang Betawi), Lembaga Bahasa dan Ilmu Al-Qur’an (LBIQ) DKI Jakarta, Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Perumda Paljaya, Permata MHT, Madrasah Aliyah Citra Cendekia, minuman isotonik dan yogurt Yoyic, Saung Kembangan, Taman Impian Ancol, dan Bir pletok Bang Isra. (*)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/jurnalis-mantapkan-ide-dan-gagasan-menuju-5-abad-kota-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://res.cloudinary.com/du66xc8mf/images/f_webp,q_auto:low/v1742871812/WhatsApp-Image-2025-03-25-at-07.52.45_80cdda57-FILEminimizer/WhatsApp-Image-2025-03-25-at-07.52.45_80cdda57-FILEminimizer.jpg?_i=AA" medium="image"></media:content>
            	</item>
	</channel>
</rss>
