<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Betawi &#8211; Gerbang Betawi</title>
	<atom:link href="https://gerbangbetawi.com/tag/betawi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://gerbangbetawi.com</link>
	<description>Gerakan Kebangkitan Betawi</description>
	<lastBuildDate>Sat, 29 Aug 2026 01:33:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1</generator>

<image>
	<url>https://res.cloudinary.com/du66xc8mf/images/w_32,h_32,c_fill,g_auto/f_webp,q_auto:low/v1725435610/cropped-gerbang-betawi-4-1/cropped-gerbang-betawi-4-1.webp?_i=AA</url>
	<title>Betawi &#8211; Gerbang Betawi</title>
	<link>https://gerbangbetawi.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tradisi Perayaan Maulid Nabi di Betawi: Antara Keberkahan dan Ancaman Kepunahan</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/tradisi-perayaan-maulid-nabi-di-betawi/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/tradisi-perayaan-maulid-nabi-di-betawi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 29 Aug 2026 01:30:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Maulid]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=829</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Murodi al-Batawi]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Setiap bulan Rabiul Awal tiba, denyut kehidupan masyarakat Betawi di Jakarta berdetak lebih kencang. Bagi mereka, yang akrab disapa &#8220;orang Betawi&#8221; atau &#8220;orang Jakarta&#8221;, Maulid Nabi Muhammad SAW bukan sekadar peringatan tahunan. Ia adalah napas budaya yang telah mengalir selama bergenerasi—sebuah harmoni antara ritual keagamaan dan ekspresi seni yang khas. Tradisi perayaan kelahiran Nabi yang dikenal dengan istilah *Muludan* ini menjadi cermin bagaimana masyarakat Betawi memaknai Islam dengan cara yang unik dan penuh warna.</p>
<p><strong>Ruh Tradisi: Kitab Barzanji dan Samrah Betawi.</strong></p>
<p>Jika ada satu elemen yang paling identik dengan Maulid di Betawi, itu adalah pembacaan Kitab Barzanji. Karya Syaikh Ja&#8217;far al-Barzanji ini berisi syair dan prosa yang menuturkan riwayat kelahiran, kehidupan, dan kemuliaan akhlak Nabi Muhammad SAW. Masyarakat Betawi membacakannya secara bergantian bab demi bab dalam berbagai kesempatan—bukan hanya saat Maulid, tetapi juga di acara pernikahan, khitanan, majelis taklim, hingga tasyakuran.</p>
<p>Yang menarik, pembacaan Barzanji di Betawi selalu diawali dengan *tawasul*, yaitu pengiriman doa dan bacaan Al-Fatihah, Surat Yasin, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas untuk sanak saudara yang telah meninggal dunia. Setelah itu, barulah pembacaan Maulid Nabi dilakukan. Tradisi ini menjadi pembeda yang khas dibandingkan tempat lain.</p>
<p>Keunikan lainnya adalah hadirnya Samrah Betawi, sebuah seni pertunjukan teater yang mengiringi perayaan Maulid. Awalnya, Samrah dianggap sebagai seni sakral karena selalu dimainkan setelah ritual Maulid Nabi. Dalam pertunjukannya, Samrah mengangkat kisah-kisah kehidupan masyarakat Betawi—bagaimana menyikapi berbagai permasalahan hidup dengan bimbingan seorang ulama. Unsur Islam sangat terasa, mulai dari lagu pembuka &#8220;Assalamualaikum&#8221; yang berisi doa-doa, hingga isi lagu yang sarat nasihat tentang hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama .</p>
<p><strong>Tanda Kebersamaan: Petasan dan Nasi Kebuli</strong></p>
<p>Selain Barzanji dan Samrah, ada tradisi yang tak kalah khas: penggunaan petasan dan kembang api. Bagi masyarakat Betawi, petasan bukan sekadar hiburan. Ia adalah kode undangan antar-kampung sebagai media komunikasi tradisional. Bunyi petasan yang meriah mampu menarik perhatian warga dari kampung lain untuk berbondong-bondong hadir di lokasi perayaan. Menariknya, petasan tradisional Betawi dibuat dari bambu atau bledugan yang diberi bahan tertentu, lalu diledakkan dengan air dan percikan api—jauh sebelum petasan pabrikan dikenal.</p>
<p>Tak lengkap rasanya perayaan Maulid tanpa hidangan khas. Nasi Kebuli Betawi menjadi sajian wajib yang menyertai setiap peringatan. Nasi yang kaya rempah ini disajikan bersama daging kambing atau ayam sebagai simbol kemeriahan dan kebersamaan. Dulu, masyarakat Betawi juga menyantap &#8220;menu berkah bersama&#8221;—makanan yang dibawa dari rumah masing-masing dan dinikmati secara lesehan .</p>
<p><strong>Kitab Maulid Berbahasa Betawi: Akar yang Menguat</strong></p>
<p>Salah satu bukti kuatnya akar tradisi Maulid di Betawi adalah adanya kitab <em>Az-Zahrul Basim fi Athwari Abil Qasim</em>, yang ditulis oleh Sayyid Utsman bin Yahya dalam bahasa Melayu Betawi dengan aksara Jawi . Kitab ini sengaja disiapkan untuk masyarakat Betawi yang gemar shalawat dan maulid, karena selama ini kitab maulid yang beredar umumnya berbahasa Arab yang jarang dimengerti . Kitab ini berisi riwayat kelahiran Nabi, mukjizat, irhash, hingga perangai terpuji Rasulullah—semuanya dalam bahasa yang akrab di telinga orang Betawi .</p>
<p>Ini menunjukkan bahwa tradisi Maulid di Betawi bukanlah sekadar tiruan dari budaya Arab, melainkan hasil akulturasi yang mendalam antara ajaran Islam dan kearifan lokal. Sebagaimana diungkapkan peneliti BRIN Halimatusadiyah, Maulid Nabi, tahlilan, dan Lebaran Betawi adalah &#8220;bukan hanya ibadah, tapi juga ekspresi budaya yang melekat dalam keseharian warga&#8221; .</p>
<p><strong>Ancaman di Tengah Modernisasi</strong></p>
<p>Namun, di balik kekayaan tradisi ini, ada kabar yang memprihatinkan. Halimatusadiyah mencatat bahwa banyak tradisi Maulid di Betawi kini hanya tinggal kenangan akibat penggusuran kampung dan hilangnya mushola . Lebaran Betawi yang dulu menjadi ritual warga kini diadakan di panggung besar Monas, &#8220;lebih terasa sebagai konten wisata daripada ritual budaya warga&#8221; . Samrah Betawi pun, yang dulu merupakan pertunjukan sakral, kini sering menjadi hiburan semata karena tidak lagi disandingkan dengan ritual Maulid Nabi .</p>
<p><strong>Menjaga Warisan untuk Generasi Mendatang</strong></p>
<p>Di tengah gempuran modernisasi dan arus informasi yang deras, tradisi Maulid Betawi membutuhkan perhatian serius. Bukan untuk dibiarkan menjadi museum, melainkan untuk dihidupkan kembali dengan cara yang relevan dengan zaman. Sebagaimana dicontohkan di Masjid Al-Alam Marunda pada 2010, perayaan Maulid dapat dipadukan dengan budaya Betawi seperti ondel-ondel, tari zapin, dan sajian lesehan di sepanjang jalan—sebuah upaya melestarikan tradisi sekaligus memperkenalkannya kepada generasi muda .</p>
<p>Masyarakat Betawi pada umumnya adalah penganut Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang menjunjung tinggi tradisi puji-pujian dan shalawat kepada Nabi . Perayaan Maulid bukanlah sekadar seremonial. Ia adalah momen untuk mempererat silaturahmi, menjaga keutuhan masyarakat, dan meneladani akhlak mulia Rasulullah—nilai-nilai yang tak pernah lekang oleh waktu. Sudah saatnya kita bersama menjaga warisan budaya ini agar tidak punah ditelan zaman. Demikian dan terima kasih(odie).</p>
<p>Wallahua’lambishawab.</p>
<p>Palembang, 29 Agustus 2026.<br />
Murodi al-Batawi.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/tradisi-perayaan-maulid-nabi-di-betawi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://www.senibudayabetawi.com/wp-content/uploads/2023/09/maulidd.jpg" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Festival Maulid Nasional 13 Hadirkan Tradisi Betawi di JIC</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/festival-maulid-nasional-13-hadirkan-tradisi-betawi-di-jic-2/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/festival-maulid-nasional-13-hadirkan-tradisi-betawi-di-jic-2/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 26 Aug 2026 04:44:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Betawi Event]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[JIC]]></category>
		<category><![CDATA[Maulid]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=818</guid>

					<description><![CDATA[Festival Maulid Nusantara (FMN) 13 resmi digelar di Halaman Parkir Convention Hall Jakarta Islamic Centre]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JAKARTA</strong> &#8211; Festival Maulid Nusantara (FMN) 13 resmi digelar di Halaman Parkir Convention Hall Jakarta Islamic Centre (JIC), Selasa (25/8/2026). Kegiatan berlangsung meriah dengan memadukan syiar Islam, seni, budaya Betawi, serta kreativitas anak dan generasi muda.</p>
<p>Pembukaan FMN 13 diawali dengan tradisi Betawi Palang Pintu yang ditampilkan oleh Sanggar Sinar Batavia, dilanjutkan dengan pertunjukan tari Betawi. Penampilan tersebut menjadi pembuka yang menarik sekaligus menunjukkan komitmen Jakarta Islamic Centre dalam menjaga dan melestarikan kekayaan budaya lokal.</p>
<p>Kegiatan secara resmi dibuka oleh Prof. Dr. Agus Suradika, Kepala Divisi Umum PPIJ, yang hadir mewakili Kepala PPIJ KH. Muhyiddin Ishaq. Turut hadir Ir. Sukri Kardjono selaku Ketua Panitia Festival Maulid Nusantara 2026 atau FMN 13.</p>
<p>Dalam sambutannya, Prof. Dr. Agus Suradika mengaku terkesan melihat kemeriahan kegiatan dan antusiasme masyarakat yang hadir.</p>
<p>“Berkesan sekali hari ini, sangat ramai, apalagi dibuka dengan Palang Pintu sebagai tradisi Betawi. Semoga hari ini seluruh rangkaian Festival Maulid Nusantara dapat berjalan dengan baik,” ujar Prof. Agus.</p>
<p>Menurutnya, pelaksanaan kegiatan yang memadukan nilai keislaman dengan seni dan budaya lokal merupakan bagian dari implementasi visi besar Jakarta Islamic Centre sebagai pusat peradaban.</p>
<p>“JIC sangat peduli dengan upaya untuk melestarikan dan mengembangkan budaya lokal, seperti budaya Betawi,” ungkapnya.</p>
<p>Ia juga menyampaikan bahwa Jakarta Islamic Centre berencana menggelar Festival Palang Pintu pada tahun depan sebagai bagian dari upaya memperkuat pelestarian budaya Betawi.</p>
<p>Usai sambutan, Prof. Agus Suradika secara resmi membuka rangkaian Lomba Hadroh se-DKI Jakarta yang diikuti oleh 20 grup. Perlombaan tersebut menjadi salah satu agenda utama FMN 13 dalam menyemarakkan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW melalui seni musik Islami.</p>
<p>Pada waktu yang bersamaan, digelar pula Lomba Mewarnai yang diikuti sekitar 1.000 anak se-DKI Jakarta di Koridor Gedung Bisnis JAkarta Islamic Centre. Antusiasme terlihat dari kehadiran para guru dan wali murid yang memadati lokasi perlombaan.</p>
<p>Para peserta tampak antusias mewarnai gambar Masjid Raya Jakarta Islamic Centre. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang mengembangkan kreativitas anak, tetapi juga menjadi sarana mengenalkan Jakarta Islamic Centre sebagai salah satu pusat kegiatan keislaman dan kebudayaan kepada generasi muda.</p>
<p>Selain perlombaan, FMN 13 menghadirkan Workshop Seni Peran serta Cipta dan Baca Puisi yang berlangsung di Lobby Convention Hall. Kegiatan tersebut mendapat antusiasme dari para guru seni dan guru Bahasa Indonesia.</p>
<p>Sebanyak 60 peserta telah terdaftar melalui Google Form dan mengikuti kegiatan yang juga mendapat dukungan serta penugasan dari Suku Dinas Pendidikan Wilayah 2 Jakarta Utara. Workshop ini menjadi ruang bagi para pendidik untuk mengembangkan kreativitas dalam seni peran, penulisan, serta pembacaan puisi.</p>
<p>Sementara itu, Ketua Panitia FMN, Ir. Sukri Kardjono, menyampaikan rasa syukur atas kelancaran seluruh rangkaian kegiatan.</p>
<p>“Kami sangat senang karena acara berjalan dengan lancar. Seluruh rangkaian acara berjalan dengan baik dan mendapat antusiasme yang luar biasa,” kata Sukri.</p>
<p>Ia berharap pelaksanaan Festival Maulid Nusantara pada tahun mendatang dapat dikemas lebih menarik, lebih meriah, serta menghadirkan kegiatan yang semakin memberikan manfaat bagi masyarakat.</p>
<p>Rangkaian FMN 13 kemudian ditutup dengan pembagian hadiah kepada para pemenang lomba dan ramah tamah. Festival ini tidak hanya menjadi momentum memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menjadi ruang untuk mempertemukan nilai-nilai keislaman dengan seni, pendidikan, kreativitas, dan pelestarian budaya lokal.</p>
<p>Melalui FMN 13, Jakarta Islamic Centre kembali menegaskan perannya sebagai ruang yang mendorong tumbuhnya kehidupan keislaman sekaligus pelestarian budaya Nusantara, khususnya budaya Betawi, sebagai bagian penting dari identitas Jakarta.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/festival-maulid-nasional-13-hadirkan-tradisi-betawi-di-jic-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://res.cloudinary.com/uttpsgry/images/c_scale,w_625,h_417,dpr_2/f_webp,q_auto:low/v1787718187/IMG-20260826-WA0007/IMG-20260826-WA0007.jpg?_i=AA" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Majelis Kaum Betawi Berubah jadi Lembaga Adat Kebudayaan Betawi</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/majelis-kaum-betawi-jadi-lembaga-adat-kebudayaan-betawi/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/majelis-kaum-betawi-jadi-lembaga-adat-kebudayaan-betawi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 22 Aug 2026 04:50:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=791</guid>

					<description><![CDATA[Majelis Kaum Betawi (MKB) melakukan Kongres Luar Biasa (KLB) di Jakarta pada Jumat (21/8)]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://gerbangbetawi.com"><strong>JAKARTA</strong></a> &#8211; Majelis Kaum Betawi (MKB) melakukan Kongres Luar Biasa (KLB) di Jakarta pada Jumat (21/8) yang membahas perubahan nomenklatur organisasi menjadi Lembaga Adat Kebudayaan Betawi (LAKB).</p>
<p>Mantan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo atau Bang Foke juga ditetapkan dan dikukuhkan sebagai Ketua Dewan Adat LAKB sekaligus menetapkan kaidah dasar kelembagaan.</p>
<p>Foke dalam keterangannya di Jakarta, pada Sabtu, mengatakan perubahan kelembagaan bukan sekadar persoalan pergantian nama, tetapi bagian dari upaya membangun wadah bersama yang memiliki dasar hukum dan mampu menaungi seluruh elemen masyarakat Betawi.</p>
<p>&#8220;Majelis Kaum Betawi sudah ada lebih dulu. Setelah UU Daerah Khusus Jakarta (DKJ) terbit, kita menyesuaikan diksi yang tercantum dalam undang-undang,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Penyesuaian tersebut berkaitan dengan Pasal 31 UU Nomor 2 Tahun 2024 yang menyebut Lembaga Adat dan Kebudayaan Betawi.</p>
<p>Foke menilai semangat utama dari proses tersebut adalah membangun kebersamaan dan memperkuat persatuan masyarakat Betawi. Dengan demikian, berbagai unsur yang selama ini berada dalam organisasi maupun komunitas berbeda tetap dapat memiliki ruang untuk berhimpun dalam satu wadah adat.</p>
<p>Sementara itu, Ketua Pelaksana KLB MKB M Ichwan Ridwan menjelaskan bahwa pelaksanaan kongres merupakan bagian dari perjalanan panjang konsolidasi masyarakat Betawi.</p>
<p>Menurut Ichwan, deklarasi Majelis Amanah Persatuan Kaum Betawi (MAPKB) pada 22 Desember 2022 di Balai Kota DKI Jakarta menjadi salah satu tonggak penting penyatuan dua organisasi besar masyarakat Betawi, yakni Bamus Betawi dan Bamus Suku Betawi 1982.</p>
<p>Konsolidasi kemudian berlanjut melalui Pra-Kongres pada 13 Mei 2023 dan Kongres Perdana pada 9–10 Juni 2023 yang dipusatkan di kawasan Taman Impian Jaya Ancol. MAPKB selanjutnya berkembang dan menggunakan nama Majelis Kaum Betawi.</p>
<p>Rangkaian konsolidasi kembali dilanjutkan melalui Kongres Istimewa Kaum Betawi yang diselenggarakan MKB di Padepokan Pencak Silat TMII pada 18 Oktober 2025.</p>
<p>Saat ini, melalui KLB pada 21 Agustus 2026, MKB kembali menegaskan arah konsolidasi dengan agenda penguatan institusi adat, perubahan nomenklatur menjadi LAKB, pengukuhan kepemimpinan Dewan Adat, serta penyampaian rekomendasi kepada pemerintah daerah.</p>
<p>Kongres tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat persatuan masyarakat Betawi dan menghimpun kembali berbagai potensi Betawi yang selama ini masih tersebar, dengan tetap menjaga nilai adat, budaya, sejarah, serta identitas masyarakat Betawi di tengah perkembangan Jakarta.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/majelis-kaum-betawi-jadi-lembaga-adat-kebudayaan-betawi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://img.antaranews.com/cache/1200x800/2026/08/22/1000329349.jpg.webp" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cerita Betawi Jangan Sampai Hilang, Dari Folklor ke Fiksi Jadi Cara Gen Z Mengenal Warisan Budaya</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/cerita-betawi-jangan-sampai-hilang-dari-folklor-ke-fiksi-jadi-cara-gen-z-mengenal-warisan-budaya/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/cerita-betawi-jangan-sampai-hilang-dari-folklor-ke-fiksi-jadi-cara-gen-z-mengenal-warisan-budaya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 13 Aug 2026 03:46:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi Event]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=750</guid>

					<description><![CDATA[Cerita Betawi tak sekadar kisah masa lalu. Di dalamnya tersimpan ingatan, nilai, tradisi, dan cara pandang masyarakat]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://gerbangbetawi.com"><b>JAKARTA</b></a> – Cerita Betawi tak sekadar kisah masa lalu. Di dalamnya tersimpan ingatan, nilai, tradisi, dan cara pandang masyarakat yang dapat terus hidup jika diwariskan dalam bentuk yang dekat dengan generasi baru.</p>
<p>Pesan itulah yang mengemuka dalam pelatihan penulisan kreatif “Dari Folklor ke Fiksi: Menulis Cerita Betawi untuk Generasi Baru”, yang digelar Perkumpulan Betawi Kita bekerja sama dengan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin dan Perpustakaan Jakarta di Balai Sastra Hans Bague Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Rabu (12/8/2026).</p>
<p>Kegiatan ini mempertemukan penulis, sastrawan, budayawan, akademisi, serta generasi muda untuk menggali kembali kekayaan folklor Betawi dan mengolahnya menjadi cerita pendek yang lebih kontekstual.</p>
<figure id="attachment_2253" aria-describedby="caption-attachment-2253" style="width: 1199px" class="wp-caption aligncenter"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="lazyloaded wp-post-750 wp-image-2253 size-full" src="https://kabarbetawi.id/wp-content/uploads/2026/08/IMG-20260813-WA0022.jpg" sizes="(max-width: 1199px) 100vw, 1199px" srcset="https://kabarbetawi.id/wp-content/uploads/2026/08/IMG-20260813-WA0022.jpg 1199w, https://kabarbetawi.id/wp-content/uploads/2026/08/IMG-20260813-WA0022-768x510.jpg 768w, https://kabarbetawi.id/wp-content/uploads/2026/08/IMG-20260813-WA0022-465x309.jpg 465w, https://kabarbetawi.id/wp-content/uploads/2026/08/IMG-20260813-WA0022-695x461.jpg 695w" alt="" width="1199" height="796" data-src="https://kabarbetawi.id/wp-content/uploads/2026/08/IMG-20260813-WA0022.jpg" data-srcset="https://kabarbetawi.id/wp-content/uploads/2026/08/IMG-20260813-WA0022.jpg 1199w, https://kabarbetawi.id/wp-content/uploads/2026/08/IMG-20260813-WA0022-768x510.jpg 768w, https://kabarbetawi.id/wp-content/uploads/2026/08/IMG-20260813-WA0022-465x309.jpg 465w, https://kabarbetawi.id/wp-content/uploads/2026/08/IMG-20260813-WA0022-695x461.jpg 695w" data-sizes="(max-width: 1199px) 100vw, 1199px" /><figcaption id="caption-attachment-2253" class="wp-caption-text">Fadjriah Nurdiarsih, budayawan Betawi sekaligus ketua pelaksana</figcaption></figure>
<p>Sebanyak 50 peserta, yang berasal dari kalangan pelajar, mahasiswa, penulis pemula, pegiat literasi, dan masyarakat umum, mengikuti pelatihan sejak pagi hingga sore.</p>
<p>Sejumlah narasumber dihadirkan, yakni Sasti Gotama, sastrawan dan pemenang KSK 2025; Ige Azmin, dosen Sastra Indonesia Universitas Negeri Jakarta (UNJ); Fadjriah Nurdiarsih, budayawan Betawi sekaligus ketua pelaksana; serta Yahya Andi Saputra, penyair dan pemerhati sastra lisan Betawi. Diskusi dipandu Nicky Rosadi sebagai moderator.</p>
<p><strong>Folklor Jadi Bahan Bakar Cerita</strong></p>
<p>Bagi Ige Azmin, kekayaan folklor Betawi sebenarnya tersedia begitu dekat dengan kehidupan masyarakat. Cerita, tradisi, benda, kebiasaan, hingga berbagai praktik budaya dapat menjadi bahan bakar bagi penulis untuk menemukan ide.</p>
<p>Penulis, kata dia, tidak harus menguasai seluruh detail budaya Betawi sejak awal. Justru proses menulis dapat menjadi pintu untuk menggali lebih jauh kekayaan budaya tersebut.</p>
<p>“Folklor itu berkaitan dengan segala sesuatu yang ada di dalam kelompok masyarakat. Bisa berupa cerita, tradisi, benda-benda, maupun hal-hal lain yang hidup di masyarakat,” ujar Ige.</p>
<p>Ia juga mengingatkan pentingnya membuat premis dan kerangka sebelum mulai menulis. Perencanaan tersebut dapat membantu penulis mengatasi writer’s block dan membuat proses kreatif lebih terarah.</p>
<figure id="attachment_2254" class="wp-caption aligncenter" aria-describedby="caption-attachment-2254">
<p><figure id="attachment_2254" aria-describedby="caption-attachment-2254" style="width: 1213px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" class="lazyloaded wp-post-750 wp-image-2254 size-full" src="https://kabarbetawi.id/wp-content/uploads/2026/08/IMG_20260813_094318.jpg" sizes="(max-width: 1213px) 100vw, 1213px" srcset="https://kabarbetawi.id/wp-content/uploads/2026/08/IMG_20260813_094318.jpg 1213w, https://kabarbetawi.id/wp-content/uploads/2026/08/IMG_20260813_094318-768x590.jpg 768w, https://kabarbetawi.id/wp-content/uploads/2026/08/IMG_20260813_094318-465x357.jpg 465w, https://kabarbetawi.id/wp-content/uploads/2026/08/IMG_20260813_094318-651x500.jpg 651w" alt="" width="1213" height="932" data-src="https://kabarbetawi.id/wp-content/uploads/2026/08/IMG_20260813_094318.jpg" data-srcset="https://kabarbetawi.id/wp-content/uploads/2026/08/IMG_20260813_094318.jpg 1213w, https://kabarbetawi.id/wp-content/uploads/2026/08/IMG_20260813_094318-768x590.jpg 768w, https://kabarbetawi.id/wp-content/uploads/2026/08/IMG_20260813_094318-465x357.jpg 465w, https://kabarbetawi.id/wp-content/uploads/2026/08/IMG_20260813_094318-651x500.jpg 651w" data-sizes="(max-width: 1213px) 100vw, 1213px" /><figcaption id="caption-attachment-2254" class="wp-caption-text">Budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra saat menyampaikan materi sastra lisan</figcaption></figure></figure>
<p>&nbsp;</p>
<figure id="attachment_2254" class="wp-caption alignnone" aria-describedby="caption-attachment-2254">“Kalau kita menjadikan folklor tersebut sebagai sumber inspirasi dan bahan cerita pendek, itu justru bisa membuat kita lebih lancar menulis,” katanya.</figure>
<p><strong>Cerita Lama, Sudut Pandang Baru</strong></p>
<p>Sementara itu, Sasti Gotama melihat cerita rakyat Betawi memiliki banyak kemungkinan untuk dihidupkan kembali melalui sudut pandang baru.<br />
Cerita seperti Si Mirah, Si Pitung, maupun Si Manis Jembatan Ancol tidak harus sekadar ditulis ulang. Penulis dapat mengambil “ruh” cerita, kemudian membawanya ke persoalan masa kini tanpa menghilangkan pesan moralnya.<br />
Menurut Sasti, kedekatan dengan persoalan generasi muda menjadi kunci agar cerita lama kembali menarik.</p>
<p>“Bagaimana menjadikan cerita masa lalu itu tetap relate, bisa mengambil roh dari cerita-cerita yang lalu dengan setting masa kini tanpa kehilangan ruh cerita-cerita rakyat Betawi,” ujarnya.<br />
Ia menilai generasi muda akan lebih mudah tertarik ketika cerita yang dibaca memiliki hubungan dengan kehidupan mereka.</p>
<p>“Biasanya orang tertarik membaca karena merasa relate, merasa terhubung dengan cerita tersebut,” kata Sasti.</p>
<p>Tantangannya, sastra kini harus bersaing dengan media sosial yang menawarkan pengalaman visual dan audio secara cepat.</p>
<p>Karena itu, pengenalan sastra Betawi tidak cukup hanya dengan meminta generasi muda membaca. Mereka perlu diberi ruang untuk mengenal, berdiskusi, menulis, dan mengolah cerita dengan cara yang sesuai dengan zaman mereka.</p>
<p>“Tidak kenal, tidak sayang. Makanya salah satu forum seperti ini adalah mengenalkan kepada mereka. Semakin banyak pemaparan, saya pikir akan membuat mereka tertarik dengan sendirinya,” tuturnya.</p>
<p><strong>Jangan Berhenti di Pelatihan</strong></p>
<p>Ketua Perkumpulan Betawi Kita, Fadjriah Nurdiarsih, mengatakan kegiatan tersebut berangkat dari kegelisahannya perihal masih banyaknya generasi muda yang belum mengenal cerita maupun penulis Betawi.<br />
Karena itu, pelatihan menjadi langkah awal untuk memperkenalkan kembali khazanah tersebut sekaligus merangsang lahirnya penulis-penulis baru.</p>
<p>Fadjriah, yang akrab dipanggil Mpok Iyah, berharap proses tersebut tidak berhenti setelah pelatihan. Karya peserta dapat terus dikembangkan, dibukukan, bahkan menjadi bagian dari ekosistem sastra Betawi yang lebih luas.<br />
Dengan demikian, budaya Betawi tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang kuno atau hanya menjadi artefak masa lalu.</p>
<p>Sebaliknya, cerita lama dapat menemukan kehidupan baru melalui cerpen, teater, film pendek, maupun berbagai bentuk kreativitas yang dekat dengan generasi muda.</p>
<figure id="attachment_2256" aria-describedby="caption-attachment-2256" style="width: 2560px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" class="lazyloaded wp-post-750 wp-image-2256 size-full" src="https://kabarbetawi.id/wp-content/uploads/2026/08/IMG-20260813-WA0026-scaled.jpg" sizes="(max-width: 2560px) 100vw, 2560px" srcset="https://kabarbetawi.id/wp-content/uploads/2026/08/IMG-20260813-WA0026-scaled.jpg 2560w, https://kabarbetawi.id/wp-content/uploads/2026/08/IMG-20260813-WA0026-768x455.jpg 768w, https://kabarbetawi.id/wp-content/uploads/2026/08/IMG-20260813-WA0026-1536x909.jpg 1536w, https://kabarbetawi.id/wp-content/uploads/2026/08/IMG-20260813-WA0026-2048x1212.jpg 2048w, https://kabarbetawi.id/wp-content/uploads/2026/08/IMG-20260813-WA0026-465x275.jpg 465w, https://kabarbetawi.id/wp-content/uploads/2026/08/IMG-20260813-WA0026-695x411.jpg 695w" alt="" width="2560" height="1515" data-src="https://kabarbetawi.id/wp-content/uploads/2026/08/IMG-20260813-WA0026-scaled.jpg" data-srcset="https://kabarbetawi.id/wp-content/uploads/2026/08/IMG-20260813-WA0026-scaled.jpg 2560w, https://kabarbetawi.id/wp-content/uploads/2026/08/IMG-20260813-WA0026-768x455.jpg 768w, https://kabarbetawi.id/wp-content/uploads/2026/08/IMG-20260813-WA0026-1536x909.jpg 1536w, https://kabarbetawi.id/wp-content/uploads/2026/08/IMG-20260813-WA0026-2048x1212.jpg 2048w, https://kabarbetawi.id/wp-content/uploads/2026/08/IMG-20260813-WA0026-465x275.jpg 465w, https://kabarbetawi.id/wp-content/uploads/2026/08/IMG-20260813-WA0026-695x411.jpg 695w" data-sizes="(max-width: 2560px) 100vw, 2560px" /><figcaption id="caption-attachment-2256" class="wp-caption-text">Sasti Gautama salah satu narasumber menyampaikan materinya</figcaption></figure>
<p>“Sebenarnya banyak pihak yang harus terlibat jika kita mau menciptakan lebih banyak sastrawan Betawi ataupun mengenalkan sastra Betawi. Saat ini, penulis baru hampir tidak ada. Makanya harus ada langkah serius. Bahkan, urusan sastra Indonesia saja diatur oleh setingkat Kementerian,” ujarnya.<br />
Lebih lanjut, ia yang baru saja menyelesaikan tugasnya di Dewan Kesenian Jakarta ini berharap DKI Jakarta segera memiliki kantor bahasa atau balai bahasa. “Dengan demikian, urusan sastra dan bahasa Betawi ini bisa lebih terarah dan dapat terus dilestarikan,” pungkasnya.</p>
<p><strong>Sastra Lisan, Ingatan yang Harus Dijaga</strong></p>
<p>Pada sesi lainnya, Yahya Andi Saputra mengajak peserta memahami posisi sastra lisan sebagai bagian penting dari warisan budaya.</p>
<p>Sastra lisan lahir, tumbuh, dan diwariskan melalui tuturan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di dalamnya terdapat cerita, mitos, nasihat, nilai budaya, serta kearifan lokal yang merekam kehidupan masyarakat.</p>
<p>Namun, tradisi lisan menghadapi tantangan ketika ingatan kolektif masyarakat mulai berubah dan generasi muda semakin jauh dari sumber-sumber cerita tersebut.</p>
<p>Karena itu, mengolah folklor menjadi karya fiksi dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga ingatan tersebut tetap hidup.</p>
<p>Pada akhirnya, pelatihan “Dari Folklor ke Fiksi” bukan sekadar mengajarkan teknik menulis cerpen.<br />
Lebih dari itu, kegiatan ini mengajak generasi baru untuk kembali menemukan harta karun budaya yang berada di sekitar mereka—membacanya, memahami nilai yang terkandung di dalamnya, lalu menciptakan cerita baru yang tetap berakar pada identitas Betawi.</p>
<p>Sebab, warisan budaya tidak akan benar-benar hidup jika hanya disimpan sebagai cerita masa lalu. Ia harus terus diceritakan, ditulis, ditafsirkan, dan diberi ruang untuk tumbuh bersama generasi berikutnya.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/cerita-betawi-jangan-sampai-hilang-dari-folklor-ke-fiksi-jadi-cara-gen-z-mengenal-warisan-budaya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://kabarbetawi.id/wp-content/uploads/2026/08/IMG_20260813_094318.jpg" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Melacak Sanad Keilmuan: Merajut kembali Rihlah Ilmiah</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/melacak-sanad-keilmuan-merajut-kembali-rihlah-ilmiah/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/melacak-sanad-keilmuan-merajut-kembali-rihlah-ilmiah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 Aug 2025 12:58:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[History]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=599</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Murodi al-Batawi Para ulama dahulu, selalu melakukan perjalanan keilmuan untuk <a class="read-more" href="https://gerbangbetawi.com/melacak-sanad-keilmuan-merajut-kembali-rihlah-ilmiah/" title="Melacak Sanad Keilmuan: Merajut kembali Rihlah Ilmiah" itemprop="url"></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Para ulama dahulu, selalu melakukan perjalanan keilmuan untuk mencari ilmu pengetahuan dari sumber aslinya, para Syeikh. Ada ulama yang memperdalam Ilmu Tauhid, Ilmu Fiqh, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits, dan berbagai ilmu pengetahuan Islam. Mereka, para Ulama tersebut, melakukan Rihlah Ilmiah dari satu guru ke guru lainya. Dari suatu daerah ke daerah lainnya hanya untuk memperdalam suatu disiplin ilmu pengetahuan. Ada yang belajar dengan seorang cuma satu tahun atau lebih. Ada juga yang hanya singgah sementara hanya untuk menguji kemampuan ilmu yang dimilikinya.</p>
<p>Dengan cara seperti itu, banyaklah mata rantai atau Sanad keilmuan seseorang, sehingga ia boleh disebut sebagai seorang ilmuan yang mumpuni dalam bidang tertentu, misalnya Ustadz Marzuki, ia terus belajar dan memperdalam ilmu fiqh, maka mata rantai keilmuannya terus bersambung sanadnya hingga ke imam fiqh empat mazhab; Imam Syafi’i, Imam Maliki, Imam Hanbali, dan Imam Hanafi. Begitu juga mereka yang memperdalam keilmuan Islam lainnya, pasti semua memiliki sanad yang jelas. Ternyata, tidak hanya mereka yang memiliki mata rantai keilmuan, kita juga memilikinya.</p>
<p>Dahulu kita pernah belajar keilmuan Islam di IAIN Syatif Hidayatullah, Jakarta. Kita mencari ilmu dan belajar dari para dosen yang sangat hebat. Misalnya, Kita belajar Bahasa Arab dari Prof.Dr. D. Hidayat,MA. Beliau, sekira tahun 1980-an masih sangat energik. Pintar, muda dan ganteng. Ia menjadi salah seorang dosen favorit, karena wajahnya yang mirip musisi musik pop legendaris, A.Riyanto.</p>
<p>Kemudian di fakultas yang sama, kita juga belajar ‘Arudh dari Prof. Khotibul Umam. Sepertinya, saat itu, hanya beliau yang bisa mengajar ilmu ‘Arudh, sebuah disiplin ilmu yang jarang dikuasai seseorang. Begitu juga dengan materi Ilmu Bayan dan Ma’ani, yang diberikan oleh Dr. AM. Hidayatullah, MA. Dosen yang satu ini memiliki khas tersendiri. Selain menguasai ilmu tersebut, beliau juga seorang qari’. Suaranya sangat bagus. Itu kami buktikan sendiri. Hampir di setiap acara fakultas, ia menjadi pembaca al-Qur’an.</p>
<p>Selain mereka, ada salah seorang dosen asli Betawi, yang pernah menjabat pemantu dekan. Kemudian ia menjadi dekan fakultas Adab periode pasca prof. Dr. Nabilah Lubis. Ia juga mengajar kami ilmu sejarah. Ia adalah Dr. Abdul Choir, MA. Bahkan saya sendiri saat menulis Risalah Sarjana Muda (BA), beliaulah yang menjadi pembimbing. Saat itu, ia tengah menjabat Pembantu Dekan I Bidan Akademik.</p>
<p>Di samping yang telah disebutkan di stas, ada salah seorang dosen asli Mesir, bernama Prof.Dr. Nabilah Lubis, MA. Ia juga pernah menakhodai fakultas Adab pada periode ‘96-an. Kita belajar banyak tentang bahasa dan Sastra Arab. Belajar Bahasa Arab dari native speaker, menjadi lebih menarik.</p>
<p>Kini, mereka sudah pensiun dan tinggal menikmati masa tua yang bahagia. Karena itu, untuk memperkuat ikatan tali silaturrahmi antara guru-murid, kami punya program melakukan kunjungan ke tempat tinggal mereka. Harapannya, ilmu yang kita peroleh bermanfaat untuk umat bangsa dan negara. Selain tengah melacak jaringan dan sanad keilmuan kita. Semoga bermanfaat(Odie).</p>
<p><em>Murodi al-Batawi</em><br />
<em>Pamulang,03-08-2025</em></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/melacak-sanad-keilmuan-merajut-kembali-rihlah-ilmiah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://image.idntimes.com/post/20201022/ulama-betawi1-1520674aaf182cfa89a3a7c1bc120880.JPG?tr=w-1200,f-webp,q-75&#038;width=1200&#038;format=webp&#038;quality=75" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perlunya Pembentukan Lembaga Adat Masyarakat Betawi</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/perlunya-pembentukan-lembaga-adat-masyarakat-betawi/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/perlunya-pembentukan-lembaga-adat-masyarakat-betawi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Jun 2025 04:44:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Lembaga Adat Masyarakat Betawi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=581</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Murodi al-Batawi Setiap tanggal 22 Juni, Jakarta selalu diperingati hari <a class="read-more" href="https://gerbangbetawi.com/perlunya-pembentukan-lembaga-adat-masyarakat-betawi/" title="Perlunya Pembentukan Lembaga Adat Masyarakat Betawi" itemprop="url"></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Setiap tanggal 22 Juni, Jakarta selalu diperingati hari jadinya. Pada 22 Juni kemarin, Jakarta sudah memasuki usia 498, waktu yang tidak pendek. Setengah millenium, jika dihitung sejak 1527. Sejak saat itu hingga kini, Jakarta terus berbenah diri, terutama ketika dijadikan sebagai Ibu Kota Negara, sehingga Jakarta dikenal sebagai Kota Megapolitan. Pembangunan fisik, mulai dari infrastruktur jalan dan fasilitas lainnya terus dibangun, seperti perumahan dan kawasan pemukiman, gedung perkantoran, pasar modern dan gedung-gedung bertingkat tumbuh bagai jamur yang tumbuh di musim hujan. Semuanya itu menjadi daya tarik tersendiri bagi para pendatang dari berbagai daerah di tanah air hingga mancanegara, untuk mengadu nasib tinggal di Jakarta. Mereka sukses meniti karier dan kehidupan di Jakarta. Tapi, bagaimana nasib penduduk asli Jakarta yang dikenal dengan komunitas etnis Betawi. Untuk menjawab ini, sangat panjang penjelasannya. Pasti ada yang sukses dan juga ada yang tergusur dan terpinggirkan, terutama berkaitan dengan lahan pemukiman dan perkembangan adat istiadat. Salah satu kemungkinannya, karena di Betawi, belum ada Lembaga Adat yang bisa membantu menyelesaikan itu semua.</p>
<h3>Lembaga Adat Masyarakat Betawi</h3>
<p>Latar Belakang Perlunya Pembentukan Lembaga Adat Masyarakat Betawi, karena Masyarakat Betawi memiliki kekayaan budaya yang unik dan beragam, yang telah berkembang selama berabad-abad di Jakarta. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, budaya Betawi menghadapi ancaman erosi dan kehilangan identitas, terutama di kalangan generasi muda. Oleh karena itu, pembentukan Lembaga Adat Masyarakat Betawi (LAMB) menjadi sangat penting untuk melestarikan dan mengembangkan budaya Betawi.</p>
<p>Argumen Filosofis Perlunya Lembaga Adat Masyarakat Betawi. Secara filosofis, Lembaga Adat Masyarakat Betawi memiliki makna yang mendalam dalam konteks kebudayaan dan identitas masyarakat Betawi. Berikut beberapa makna filosofis Lembaga Adat Betawi:</p>
<p><strong>1. Pelestarian Identitas Budaya:</strong><br />
Lembaga Adat Masyarakat Betawi memiliki makna sebagai wadah pelestarian identitas budaya Betawi, yang mencakup nilai-nilai, norma, dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.</p>
<p><strong>2. Pengakuan dan Penghargaan terhadap Warisan Leluhur:</strong><br />
Lembaga Adat Masyarakat Betawi memiliki makna sebagai pengakuan dan penghargaan terhadap warisan leluhur Betawi, yang mencakup sejarah, budaya, dan tradisi yang telah berkembang selama berabad-abad.</p>
<p><strong>3. Pengembangan Masyarakat yang Berbudaya:</strong><br />
Lembaga Adat Betawi memiliki makna sebagai wadah untuk pengembangan masyarakat yang berbudaya, yang mencakup pengembangan nilai-nilai, norma, dan tradisi yang positif dan konstruktif.</p>
<p><strong>4. Penguatan Jati Diri Masyarakat Betawi:</strong><br />
Lembaga Adat Betawi memiliki makna sebagai wadah penguatan jati diri masyarakat Betawi, yang mencakup pengakuan dan penghargaan terhadap identitas budaya dan sejarah Betawi.</p>
<p><strong>5. Simbol Kebersamaan dan Solidaritas:</strong><br />
Lembaga Adat Betawi memiliki makna sebagai simbol kebersamaan dan solidaritas masyarakat Betawi, yang mencakup nilai-nilai gotong royong, silaturahmi, dan rasa hormat.</p>
<h2>Landasan Filosofis</h2>
<p>Pembentukan LAMB didasarkan pada beberapa landasan filosofis, antara lain:</p>
<p>&#8211; Pancasila: Sebagai ideologi negara, Pancasila menekankan pentingnya pelestarian budaya dan identitas nasional.</p>
<p>&#8211; Kebudayaan Nasional: Kebudayaan nasional Indonesia merupakan kekayaan yang sangat berharga dan perlu dilestarikan dan dikembangkan.</p>
<p>&#8211; Hak Asasi Manusia: Hak asasi manusia untuk melestarikan dan mengembangkan budaya sendiri merupakan hak yang sangat penting.</p>
<h3>Tujuan</h3>
<p>Tujuan pembentukan LAMB adalah:</p>
<p>&#8211; Melestarikan Budaya Betawi:</p>
<p>LAMB bertujuan untuk melestarikan dan mengembangkan budaya Betawi, termasuk bahasa, adat istiadat, kesenian, dan tradisi lainnya.</p>
<p>&#8211; Mengembangkan Identitas Masyarakat Betawi:<br />
LAMB bertujuan untuk mengembangkan identitas masyarakat Betawi dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya melestarikan budaya Betawi.</p>
<p>&#8211; Meningkatkan Kualitas Hidup Masyarakat Betawi:</p>
<p>LAMB bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat Betawi melalui pengembangan budaya dan ekonomi.</p>
<h4>Program</h4>
<p>LAMB memiliki beberapa program yang bertujuan untuk mencapai tujuannya, antara lain:</p>
<p>&#8211; Pengembangan Bahasa dan Sastra Betawi:<br />
LAMB mengembangkan program pengembangan bahasa dan sastra Betawi, termasuk pelatihan bahasa dan sastra Betawi, serta penerbitan buku-buku tentang bahasa dan sastra Betawi.</p>
<p>&#8211; Pelestarian Adat Istiadat Betawi:<br />
LAMB mengembangkan program pelestarian adat istiadat Betawi, termasuk upacara adat, tarian tradisional, dan musik tradisional.</p>
<p>&#8211; Pengembangan Kesenian Betawi:<br />
LAMB mengembangkan program pengembangan kesenian Betawi, termasuk teater, musik, dan tarian tradisional.</p>
<h3>Prospek</h3>
<p>LAMB memiliki prospek yang cerah untuk melestarikan dan mengembangkan budaya Betawi, antara lain:</p>
<p>&#8211; Meningkatkan Kesadaran Masyarakat:</p>
<p>LAMB dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya melestarikan budaya Betawi.</p>
<p>&#8211; Mengembangkan Identitas Masyarakat Betawi:<br />
LAMB dapat mengembangkan identitas masyarakat Betawi dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat Betawi.</p>
<p>&#8211; Meningkatkan Kerjasama dengan Lembaga Lain:</p>
<p>LAMB dapat meningkatkan kerjasama dengan lembaga lain, baik pemerintah maupun swasta, untuk memperoleh dukungan dan sumber daya untuk melestarikan budaya Betawi.</p>
<h3>Tantangan</h3>
<p>LAMB juga menghadapi beberapa tantangan, antara lain:</p>
<p>&#8211; Kurangnya Sumber Daya: LAMB menghadapi keterbatasan sumber daya, baik dari segi finansial maupun sumber daya manusia, untuk melaksanakan program dan kegiatan pelestarian budaya Betawi.<br />
&#8211; Pengaruh Globalisasi: Globalisasi dapat mempengaruhi keberlangsungan budaya Betawi, karena budaya asing dapat masuk dan mempengaruhi budaya lokal.<br />
&#8211; Kurangnya Minat Generasi Muda: Generasi muda Betawi saat ini lebih tertarik dengan budaya populer dan teknologi digital daripada budaya tradisional Betawi.</p>
<p>Dengan demikian, LAMB perlu melakukan upaya yang strategis untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut dan mencapai tujuannya untuk melestarikan dan mengembangkan budaya Betawi {Odie}.</p>
<p><em><strong>Pamulang, 24 Juni 2025</strong></em><br />
<em><strong>Murodi al-Batawi</strong></em></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/perlunya-pembentukan-lembaga-adat-masyarakat-betawi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://imgsrv2.voi.id/p_V2er-Occsi2X4NuLLFbDXZBxRZa0UvfhpFiOO5ITY/auto/1200/675/sm/1/bG9jYWw6Ly8vcHVibGlzaGVycy8zMDU4MDMvMjAyMzA4MjkyMTU1LW1haW4uY3JvcHBlZF8xNjkzMzIwOTcwLmpwZWc.jpg" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Komitmen Mempertahankan Kebudayaan Betawi</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/komitmen-mempertahankan-kebudayaan-betawi/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/komitmen-mempertahankan-kebudayaan-betawi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Jun 2025 05:57:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=566</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Murodi al-Batawi Meski selama ini sudah ada komitmen dari berbagai pihak <a class="read-more" href="https://gerbangbetawi.com/komitmen-mempertahankan-kebudayaan-betawi/" title="Komitmen Mempertahankan Kebudayaan Betawi" itemprop="url"></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Meski selama ini sudah ada komitmen dari berbagai pihak terkait pengembangan dan penguatan kebudayaan Betawi, kenyataannya masih belum juga mengalami perkembangan kebudayaan Betawi yang cukup signifikan. Sebab, masih banyak institusi, baik pemerintah maupun swasta, yang belum menetapkan corak kebudayaan Betawi, seperti seni arsitektur bangunan dan lain-lain.</p>
<p>Melihat kenyataan ini, gubernur DKI Jakarta, Dr. Pramono Anung, MSi, dalam sambutannya ada acara Sarasehan Kaukus Kaum Muda Betawi, menghendaki agar semua kebudayaan Betawi, tidak hanya sebagai ikon kebudayaan DKJ (Daerah Khusus Jakarta), juga harus diterapkan dalam setiap aspek kehidupan, sehingga kebudayaan Betawi kian kuat. Salah satu kebudayaan Betawi yang menjadi ikon adalah Ondel-ondel.</p>
<p>Gubernur DKJ, Pramono Anung meminta agar ondel-ondel, jangan dijadikan bahan komoditi. Tidak boleh dipertunjukkan dalam ngamen di masyarakat, karena sejatinya, ondel-ondel alat sakral, yang dahulunya dijadikan sebagai alat pengusir ruh jahat.</p>
<p>Jika sudah dipertontonkan dan dipertunjukkan di jalan,ngamen, maka nilai sakralitas akan tidak bermakna. Maka salah satu hasil kebudayaan tersebut, dapat dipertujukkan dan dipasang di pintu masuk setiap hotel.</p>
<h3>Kuliner Betawi jadi menu spesial di beberapa hotel</h3>
<p>Pak Gubernur DKJ, Pramono Anung, menghendaki agar kuliner Betawi, dijadikan, yang sangat banyak itu, dijadikan sebagai makanan khas yang dapat disajikan di setiap hotel di DKJ, bahkan di hotel berbintang. Dengan demikian, maka Betawi tidak hanya komunitasnya yang egaliter, juga kebudayaan dan kulinernya yang merupakan hasil perpaduan kuliner Betawi dengan kuliner komunitas masyarakat Nusantara, sehingga menjadi salah satu media komunikasi dengan komunitas etnis masyarakat, minimal ASEAN, sehingga dalam perkembangan selanjutnya Betawi akan dikenal secara menyeluruh.</p>
<h3>Tradisi dan Adat Betawi yang nyaris tak terdengar</h3>
<p>Adat Betawi memiliki berbagai aspek yang unik dan kaya. Berikut beberapa contoh adat Betawi yang lengkap:</p>
<p><strong>Adat Pernikahan</strong><br />
1. Lamaran: Proses melamar calon pengantin perempuan kepada orang tuanya.<br />
2. Siraman: Tradisi memandikan calon pengantin sebelum pernikahan.<br />
3. Pemberian Mahar: Pemberian mahar kepada calon pengantin perempuan.<br />
4. Akad Nikah: Upacara pernikahan yang dilakukan di masjid atau rumah calon pengantin.<br />
5. Resepsi Pernikahan: Pesta pernikahan yang dihadiri oleh keluarga dan tamu undangan.</p>
<p><strong>Adat Kematian</strong><br />
1. Pengurusan Jenazah: Proses pengurusan jenazah sesuai dengan adat Betawi.<br />
2. Pemakaman: Proses pemakaman jenazah sesuai dengan adat Betawi.<br />
3. Tahlilan: Ritual doa untuk arwah yang meninggal.<br />
4. Kenduri: Pesta makan-makan untuk mendoakan arwah yang meninggal.</p>
<p><strong>Adat Kemasyarakatan</strong><br />
1. Gotong Royong: Kerja sama masyarakat untuk membantu satu sama lain.<br />
2. Silaturahmi: Hubungan baik antara masyarakat yang dilakukan melalui kunjungan dan pemberian hadiah.<br />
3. Musyawarah: Proses musyawarah untuk mencapai keputusan bersama.</p>
<p><strong>Adat Lainnya</strong><br />
1. Adat Kelahiran: Adat yang mengatur proses kelahiran, seperti pemberian nama dan akikah.<br />
2. Adat Khitanan: Adat yang mengatur proses khitanan, seperti upacara dan pemberian hadiah.</p>
<p>Dengan demikian, adat Betawi memiliki berbagai aspek yang unik dan kaya, serta dapat menjadi sumber inspirasi dan kebanggaan bagi masyarakat Betawi. Tetapi semua itu hanya ada dalam aturan tidak terlaksana dengan baik. Semuanya seperti _nyaris_tak terdengar. Lalau apa yang mesti dilakukan dan bagaimana Lembaga Adat Betawi.</p>
<p><strong>Adat dan Lembaga Adat Betawi</strong><br />
merupakan bagian penting dari kebudayaan Betawi yang memiliki peran dalam menjaga dan melestarikan tradisi dan nilai-nilai masyarakat Betawi. Berikut beberapa aspek tentang Adat dan Lembaga Adat Betawi:</p>
<h3>Adat Betawi</h3>
<p>Adat Betawi merupakan sistem nilai dan norma yang mengatur perilaku masyarakat Betawi dalam berbagai aspek kehidupan, seperti:<br />
&#8211; Adat Pernikahan: Adat yang mengatur proses pernikahan, seperti proses lamaran, akad nikah, dan upacara pernikahan.<br />
&#8211; Adat Kematian: Adat yang mengatur proses kematian, seperti proses pemakaman dan ritual kematian.<br />
&#8211; Adat Kemasyarakatan: Adat yang mengatur hubungan antara masyarakat, seperti gotong royong dan silaturahmi.</p>
<p>Lembaga Adat Betawi merupakan organisasi yang bertanggung jawab untuk menjaga dan melestarikan adat dan tradisi Betawi. Lembaga ini memiliki peran dalam:<br />
&#8211; Mengembangkan Adat dan Tradisi: Mengembangkan adat dan tradisi Betawi melalui berbagai kegiatan, seperti pelatihan dan pertunjukan.<br />
&#8211; Melestarikan Nilai-Nilai: Melestarikan nilai-nilai masyarakat Betawi, seperti nilai-nilai agama, moral, dan sosial.<br />
&#8211; Mengatasi Permasalahan: Mengatasi permasalahan yang terkait dengan adat dan tradisi Betawi.</p>
<p><strong>Fungsi Lembaga Adat Betawi</strong><br />
Lembaga Adat Betawi memiliki beberapa fungsi, seperti:<br />
&#8211; Sebagai Pengawal Adat: Mengawal adat dan tradisi Betawi agar tetap lestari dan berkembang.<br />
&#8211; Sebagai Pembina Masyarakat: Membina masyarakat Betawi untuk memahami dan mengamalkan adat dan tradisi.<br />
&#8211; Sebagai Mediator: Mengatasi konflik dan permasalahan yang terkait dengan adat dan tradisi Betawi.</p>
<p>Dengan demikian, Adat dan Lembaga Adat Betawi memiliki peran penting dalam menjaga dan melestarikan kebudayaan Betawi.<br />
Demikian dan semoga bermanfaat.<br />
(Odie).</p>
<p>Ancol, 02 Juni 2025</p>
<p>Murodi al-Batawi</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/komitmen-mempertahankan-kebudayaan-betawi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/02/11/338/2166461/mengenal-7-tradisi-unik-ciri-khas-betawi-kHABAue4g3.jpg" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bangkitnya Intelektual Betawi di Hari Kebangkitan Nasional</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/bangkitnya-intelektual-betawi-di-hari-kebangkitan-nasional/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/bangkitnya-intelektual-betawi-di-hari-kebangkitan-nasional/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 May 2025 12:24:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi’s Profesor Club]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=534</guid>

					<description><![CDATA[JAKARTA &#8211; Di hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei 2025, sejumlah intelektual <a class="read-more" href="https://gerbangbetawi.com/bangkitnya-intelektual-betawi-di-hari-kebangkitan-nasional/" title="Bangkitnya Intelektual Betawi di Hari Kebangkitan Nasional" itemprop="url"></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://gerbangbetawi.com/"><strong>JAKARTA</strong></a> &#8211; Di hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei 2025, sejumlah intelektual Betawi mengadakan acara Silaturrahim di Assyiik Resto, Setu Cipayung, Kecamatan Setu Cipayung, Jakarta Timur. Sejumlah intelektual Betawi itu terdiri dari para Profesor dari beberapa Perguruan Negeri dan Swasta, di Jakarta dan sekitarnya.</p>
<p>Selain itu, juga dihadiri oleh salah seorang Jenderal TNI AD (purnawirawan), yang juga berasal dari Betawi. Beliau juga yang memfasilitasi pertemuan tersebut di restonya.</p>
<p>Pertemuan Silaturrahim itu digagas oleh Prof. Murodi dan Prof. Sylvia Murni, yang merupakan penggagas dan pendiri Betawi’s Profesor Club.</p>
<p>Berawal dari keinginan sejumlah profesor Betawi untuk mengadakan Silaturrahim guna menggagas berdirinya sebuah forum atau lembaga yang menghimpun potensi intelektual Betawi dari berbagai Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta di daerah Jakarta dan sekitarnya.</p>
<p>Selama ini, potensi itu masih berserakan tidak termanfaatkan secara maksimal, baik oleh lembaga pendidikan atau Pemerintah Daerah Jakarta, terutama terkait pemberdayaan masyarakat Betawi dan kebudayaannya.</p>
<p>Padahal, banyak profesor dan doktor dari komunitas etnis masyarakat Betawi yang bisa diajak kerjasama, semisal Prof. Yasmin Shihab, anteopolog UI, Prof. Bahrullah Akbar, Mantan Ketua BPK RI, Prof. Hasbullah Thabrani, seorang dokter senior. Prof. Zulkifli, Dekan FKM UI, Prof. Agus Suradika, dan masih banyak lagi yang lain.</p>
<p>Mereka adalah orang-orang hebat dan potensial. Karena itu, meski dalam kedibukan luar biasa, mereka mau menyempatkan diri hadir guna menggagas berdirinya sebuah organisasi atau forum intelektual Betawi.</p>
<p>Meski belum disepakati namanya, tapi mereka bersepakat untuk secara bersama membentuk sebuah lembaga untuk menghimpun para intelektual Betawi potensial.</p>
<h3>Betawi’s Intellectual Circle</h3>
<p>Gagasan mendirikan forum atau semisal Betawi’s Intellectual Circle bertjuan, antara lain untuk:</p>
<p>Pertama meningkatkan kualitas pemikiran dan penelitian di bidang kebudayaan Betawi.</p>
<p>Kedua Mengembangkan program pengabdian masyarakat yang berbasis kebudayaan Betawi.</p>
<p>Ketiga Meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap kebudayaan Betawi.</p>
<p>Keempat. Membangun jaringan dan kerjasama dengan institusi pendidikan dan penelitian lainnya.</p>
<p>Semua gagasan tersebuat akan dituangkan dalam bentuk Program Diskusi Ilmiah, tentang topik-topik yang relevan dengan kebudayaan Betawi. Selain itu, juga melakukan penelitian kolaboratif dengan institusi pendidikan dan penelitian lainnya tentang kebudayaan Betawi.</p>
<p>Kemudian, ada juga program publikasi Jurnal ilmiah tentang kebudayaan Betawi. Terakhir, program kegiatan budaya yang mempromosikan kebudayaan Betawi, seperti festival, pameran, dan pertunjukan seni.</p>
<p>Dengan demikian, Betawi&#8217;s Intellectual Circle dapat menjadi wadah bagi intelektual Betawi untuk memajukan pemikiran, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang berbasis pada nilai-nilai kebudayaan Betawi.</p>
<p>Hal Itu semua impian kami sebagai intelektual masyarakat Betawi yang tergabung dalam Betawi’s Intellectual Circle. Semoga terwujud semua impian tersebut dalam waktu dekat.</p>
<p><em><strong>Murodi al-Batawi.</strong></em></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/bangkitnya-intelektual-betawi-di-hari-kebangkitan-nasional/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://res.cloudinary.com/du66xc8mf/images/f_webp,q_auto:low/v1747743774/Betawis-Profesor-Club-FILEminimizer/Betawis-Profesor-Club-FILEminimizer.jpg?_i=AA" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lembaga Kebudayaan Betawi dan Forum Jurnalis Betawi Bikin Program Podcast Serial: Betawi-verse Jadi Perbincangan</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/lembaga-kebudayaan-betawi-dan-forum-jurnalis-betawi-bikin-program-podcast-serial-betawi-verse-jadi-perbincangan/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/lembaga-kebudayaan-betawi-dan-forum-jurnalis-betawi-bikin-program-podcast-serial-betawi-verse-jadi-perbincangan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 Apr 2025 00:53:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[LKB]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=516</guid>

					<description><![CDATA[JAKARTA – Forum Jurnalis Betawi (FJB) dan Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) membuat <a class="read-more" href="https://gerbangbetawi.com/lembaga-kebudayaan-betawi-dan-forum-jurnalis-betawi-bikin-program-podcast-serial-betawi-verse-jadi-perbincangan/" title="Lembaga Kebudayaan Betawi dan Forum Jurnalis Betawi Bikin Program Podcast Serial: Betawi-verse Jadi Perbincangan" itemprop="url"></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://gerbangbetawi.com/"><strong>JAKARTA</strong></a> – Forum Jurnalis Betawi (FJB) dan Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) membuat siniar alias podcast bersama. Kolaborasi kekinian ini bertajuk Podcast Betawi: Serial.</p>
<p>Episode perdana Podcast Betawi: Serial mengundang narasumber Dr Siti Elda Hiererra, SKom, MMSI, CDMS, CME. Biasa disapa Elda, adalah dosen di Binus University dan Direktur Program ISACA Indonesia.</p>
<p>Menariknya, Elda adalah anak Betawi asal Rawa Belong, Jakarta Barat, yang pakar di bidang metaverse.</p>
<p>Di episode perdana ini, Mpok Elda menjelaskan apa itu metaverse dan bagaimana implementasinya dapat diterapkan dalam upaya pelestarian dan pengembangan seni-budaya masyarakat Betawi. Termasuk ceritanya mengembangkan metaverse untuk Candi Borobudur di Magelang, sebagai salah satu destinasi wisata superprioritas di Indonesia.</p>
<p>“Dengan memanfaatkan teknologi metaverse, aye punya harapan untuk membuat Betawi-verse sehingga konten dan literasi Betawi dapat lebih dinikmati oleh banyak kalangan terutama generasi muda, Gen Z, yang punya gaya hidup digital,” jelasnya bersemangat.</p>
<p>Ketua Umum Lembaga Kebudayaan Betawi Beky Mardani menyambut setiap kolaborasi yang disampaikan pada LKB demi literasi Betawi. Sebab kegiatan pelestarian dan pengembangan seni-budaya Betawi tidak dapat dilakukan sendirian, tapi memerlukan kerja sama dengan segala pihak yang peduli dan cinta terhadap Betawi.</p>
<p>“Jadi LKB siap berkolaborasi dengan pihak mana pun, termasuk bersama Forum Jurnalis Betawi (FJB) untuk meninggikan konten dan literasi Betawi. Salam kolaborasi!” kata Bang Beky.</p>
<p>M Syakur Usman, Ketua FJB, menambahkan program podcast, hasil kolaborasi FJB dengan LKB sebagai lembaga paling depan untuk upaya pelestarian dan pengembangan seni-budaya Betawi di Jakarta.</p>
<p>“Menyambut perayaan 5 Abad kota Jakarta pada 2027, FJB dan LKB memandang perlu memperbanyak konten-konten tentang Betawi di dunia maya, supaya literasi tentang Betawi semakin tinggi bagi penikmat media sosial zaman sekarang, supaya lebih mengenal dan cinta terhadap Betawi sebagai masyarakat inti kota Jakarta,” ujar Bang Syakur Usman.</p>
<h3>Live di TikTok LKB</h3>
<p>Episode perdana Podcast Betawi: Serial ini dipandu oleh Mpok Amira Kareem, mantan None Jakarta dan pengurus LKB. Alhasil, podcast berjalan lancar, mengalir, dan jenaka saat disiarkan secara langsung (live) di akun TikTok @lkbtiktok123.</p>
<p>Bang Syakur Usman menjelaskan, secara umum FJB dan LKB mempunyai beberapa tujuan dengan menggagas Podcast Betawi: Serial pada tahun ini: upaya pelestarian budaya Betawi dengan mendiskusikannya dari berbagai perspektif keilmuan.</p>
<p>Kedua, meningkatkan kesadaran publik/warga tentang Betawi dengan segala aspek dan sistem nilainya, sekaligus sebagai sarana edukasi yang informatif serta menghibur. Ketiga, membangun kebanggaan terhadap identitas dan warisan budaya Betawi melalui cerita dan diskusi inspiratif.</p>
<p>“Yang juga penfing, podcast ini menjadi platform hub bagi komunitas-komunitas Betawi untuk berbagi ide, pengalaman, dan inovasi untuk masyarakat Betawi, selain memperluas jangkauan konten Betawi dengan memanfaatkan platform digital sehingga dapat menjadi rereferensi termasuk diaspora-diaspra Betawi di seluruh dunia,” pungkas Bang Syakur.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/lembaga-kebudayaan-betawi-dan-forum-jurnalis-betawi-bikin-program-podcast-serial-betawi-verse-jadi-perbincangan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://www.kebudayaanbetawi.com/wp-content/uploads/2025/04/WhatsApp-Image-2025-04-24-at-06.17.12-660x330.jpeg.webp" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pesantren: Asal-usul Kelembagaan</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/pesantren-asal-usul-kelembagaan/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/pesantren-asal-usul-kelembagaan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 16 Apr 2025 02:47:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=506</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Murodi al-Batawi Pesantren yang kita kenal sekarang ini, memiliki latar histotis <a class="read-more" href="https://gerbangbetawi.com/pesantren-asal-usul-kelembagaan/" title="Pesantren: Asal-usul Kelembagaan" itemprop="url"></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Pesantren yang kita kenal sekarang ini, memiliki latar histotis yang sangat lama dan panjang. Institusi ini merupakan lembaga pendidikan tertua dan khas Indonesia. Ia telah memainkan peran yang sangat penting dalam proses pencerdasan generasi Muslim Indonesia.</p>
<p>Dari lembaga inilah lahir para Ulama, Mujahid, Pemikir, budayawan dan intelektual hebat serta para pejuang kemerdekaan Indonesia dan ternama. Sebut saja, miisalnya, KH. Wahab Hasbullah. KH. Hasyim Asy’ari, KH. Holil Bangkalan. Syeikh Nawai al-Bantani, KH. Nur Ali, dan lain sebagainya.</p>
<p>Mereka telah memainkan persan pada posisi mssing, dengan tidak meninggalkan peran dan fungsinya sebagai Ulama. Bahkan tidak hanya sebatas perjuangan kemerdekaan Indonesia, juga pra kemerdekaan dan pascakemerdekaan. Menjadi penyuluh di tengah gulitanya ilmu pengetahuan.</p>
<h3>Pengertian dan Asal Usul Pesantren</h3>
<p>Banyak ahli berbeda pendapat mengenai asal usul dan penamaan pesantren. Salah seorang di antaranya, Abu Hamid. Ia mengatakan bahwa diksi pesantren berasal dari bahasa Sanskerta yang memperoleh wujud dan pengertiannya tersendiri dalam bahasa Indonesia. Kata Pesantren berasal dari kata Sant yang berarti orang baik.</p>
<p>Kemudian disambung dengan kata tra/tri, yang betarti Suka Menolong. Di diksi Santri diberi awalan Pe dan akhiran an. Jadi kata Pesantreaan dan kemudian berubah menjadi Pesantren, yang berarti tempat pendidikan anak-anak supaya menjadi orang baik. Institusi ini sudah ada jauh sebelum agama Islam datang ke Indonesia.</p>
<p>Pada saat itu, Pesantren merupakan lembaga pendidikan agama Budha dan Hindu. Dan Pesantren mengalami transformasi luar biasa semenjak awal kedatangan Islam di Infonesia.</p>
<p>Sedangkan menurut Zamakhsyari Dhofier, bahwa kata Pesantren berasal dari kata dasar Santri yang berasal dari bahasa Tamil yang berarti Guru Mengaji. Sedangkan menurut CC. Berg, diksi pesantren berasal dari kata Shastra yang berarti Buku-Buku Suci, Buku-buku Agama dan Buku-buku pengetahuan.</p>
<p>Dengan demikian, istilah pesantren tersebut masuk ke Indonesia bersamaan dengan kedatangan dan perkembangan agama Hindu sebelum kedatangan agama Islam. Setelah datangnya agama Islam institusi ini ditransformasikan ke dalam sistem Islam dan kemudian kontens lembaga pesantren ini diisi dengan program pendidikan Islam sesuai dengan tujuan program pengembangan agama Islam.</p>
<p>Berdasarkan alasan terminologis, persamaan bentuk antara pesantren dan pendifikan Hindu di India dapat dianggap sebagai petunjuk untuk menjelaskan mengenai asal usul sistem pendidikan pesantren.</p>
<p>Pada zaman kerajaan dahulu, ada kebijakan yang dikeluarkan oleh kerajaan untuk memberikan satu wilayah atau daerah yang diperuntukan bagi pengembangan pendidikan dan diserahkan kepada tokoh agama untuk dimanfaatkan sebagai daerah otonomi penuh untuk pengembangan ajaran agama Hindu. Daerah itu diberi nama Perdikan, yang dibebaskan dari berbagai pungutan pajak, seperti yang dikenakan pada daerah lain.</p>
<p>Para pengelola dan guru di lembaga pendidikan Hindu ini tidak mendapat gaji, tetapi mendapatkan penghormatan luar biasa dari kerajaan dan masyarakat. Daerah perdikan biasanya terketak di pedesaan dan jauh dari pusat kota dan keramaian, sehingga mereka, baik para guru maupun para murid terbebas dari pengaruh dari luar, dan mereka hanya fokus mengajarkan dan mengembangkan ajaran agama Hindu dan Budha.</p>
<p>Diperkirakan, menurut Ziemek, pesantren di Indonesia mencontoh bentuk lembaga pendidikan Hindu-Budha dengan mengubah bentuk pendidikan Asrama dan Mandala, seperti lembaga pendidikan yang ada di Infia, Burma/Myanmar dan Muangthai ataupun di Jawa pra Islam.</p>
<p>Sedangkan menurut Clifford Geertz mengatakan bahwa pengertian Santri diturunkan dari bahasa Sanskerta, Shasstri yang berarti ilmuan Hindu yang pandai menulis. Kata Shashtri punya arti seirang pelajar yang ingin memperdalam ilmu agama. Kemudian diksi ini dalam tradisi penduduk Jawa muslim diadopsi menjadi penduduk Jawa yang menganut Islam dengan sunguh-sungguh, rajin shalat, dan sebagainya. Demikian pengertian istilah Santri dan pesantren. {Odie}</p>
<p><em><strong>Murodi Al Batawi</strong></em></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/pesantren-asal-usul-kelembagaan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://www.senibudayabetawi.com/wp-content/uploads/2022/08/pesantren-lama.jpg" medium="image"></media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
