<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Santri &#8211; Gerbang Betawi</title>
	<atom:link href="https://gerbangbetawi.com/tag/santri/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://gerbangbetawi.com</link>
	<description>Gerakan Kebangkitan Betawi</description>
	<lastBuildDate>Mon, 28 Oct 2024 01:53:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8.2</generator>

<image>
	<url>https://res.cloudinary.com/du66xc8mf/images/w_32,h_32,c_fill,g_auto/f_webp,q_auto:low/v1725435610/cropped-gerbang-betawi-4-1/cropped-gerbang-betawi-4-1.webp?_i=AA</url>
	<title>Santri &#8211; Gerbang Betawi</title>
	<link>https://gerbangbetawi.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Santri dan Soempah Pemoeda</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/santri-dan-soempah-pemoeda/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/santri-dan-soempah-pemoeda/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 28 Oct 2024 01:53:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Santri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=290</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Murodi al-Batawi Dalam tradisi Pesantren, ada adagium berbunyi أنتم شبان <a class="read-more" href="https://gerbangbetawi.com/santri-dan-soempah-pemoeda/" title="Santri dan Soempah Pemoeda" itemprop="url"></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Dalam tradisi Pesantren, ada adagium berbunyi أنتم شبان اليم رجال الغد, “Kalian Pemuda, akan menjadi pemimpin di masa datang. Adagium ini merupakan bagian dari Mahfudzat, sebuah kitab berisi ungkapan, pepatah atau kalimat baik yang menjadi bahan pelajaran yang mesti dihafal di luar kepala. Hampir sebagian besar para santri dan penghuni pondok pesantren sudah mengetahui kalimat itu semua, bahkan sudah menghafal dan mengetahui apa yang akan terjadi di masa mendatang.</p>
<p>Karena unumnya para santri adalah pemuda yang berusia antara 13-18 tahun, maka mereka juga berhak mengetahui peran yang mereka mainkan dalam sejarah bangsa ini, yang sudah berusia 96 tahun. Hampir satu abad peristiwa bersejarah yang dilakukan oleh generasi muda pada 1928, sebuah peristiwa yang mampu mengumpulkan dan menyatukan visi misi kaum muda untuk menuju kemerdekaan Negara Indonesia.</p>
<p>Para pemuda melakukan perkumpulan para pemuda yang datang dari seluruh daerah Indonesia. Mereka mengadakan rapat yang dimulai pada 27-28 Oktober 1928. Mereka menamakan diri dan disematkan asal daerah masing-masing. Ada Jong Java, Jong Islmitent Bond, Perkumpulan Kaum Muda Betawi, Sekar Torkoen Pasundan, Jong Batak, Jong Celebes, dan lain-lain. Semua berkumpul di Jakarta dan mengadakan rapat kaum muda membicarakan langkah-langkah strategis untuk mempercepat gerakan kemerdekaan negara Indonesia.</p>
<p>Setelah mendengar hasil rapat, maka Kaoem Moeda Indonesia pada 28 Oktober 1928, mereka membacakan hasil keputusan yang sudah dirumuskan.</p>
<p>Untuk itu, mereka sepakat menjadikannya sebagai tonggak bagi perjuangan untuk memerdekakan Negara Indonesia.</p>
<h3>Santri dan Sumpah Pemuda</h3>
<p>Lalu pertanyaan yang mesti dimajukan dalam konteks ini adalah di mana peran kaum sarungan saat rapat dan pembacaan teks Soempah Pemoeda pada 1928 itu…?</p>
<p>Dari hasil penelusuran, belum ditemukan tokoh berasal dari pesantren yang terlibat langsung dalam peristiwa Sumpah Pemuda. Kemungkinan, secara tidak langsung ada yang hadir dalam Kongres Pemuda tersebut perwakilan dari kaum pelajar, meski tidak ikut dalam prosesi dan pembacaan teks Sumpah Pemuda pada 1928.</p>
<p>Setelah mereka menyepakati hasil Kongres tersebut, mereka sepakat untuk terus berjuang menggerakkan para pemuda dan masyarakat, termasuk para santri bersatu untuk memerdekakan negara Indonesia yang sangat mereka ciintai.</p>
<p>Hal ini terbukti, para Kyai dan ulama dari seluruh Indonesia sepakat mendukung gerakan kemerdekaan Indonesia. Hal ini terbukti, KH, Hasyim Asyari, mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad yang mampu menggerakkan para ulama dan santri untuk berjuang dan mempertahankan Negara Republik Indonesia dari penjajahan kembali yang ingin dilakukan Belanda dengan mendompleng serdadu KNIL dan tentara Inggris.</p>
<p>Resolusi Jihad boleh dibilang sebagai puncak dari perjuangan umat Islam dan bangsa Indonedia pada umumnya dalam mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesita dsri penjajahan kembali.</p>
<p>Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Santri yang juga kaum muda, telah memainkan peran yang sangat penting dalam pergerakan dan perjuangan kemerdekaan dan mempertahankannya dari kesewenangan bangsa lain yang ingin menjajah bangsa Indonesia yang sudah dimerdekakan oleh para pejuang muslim dari para penjajah Belanda, Jepang dan Inggris.{Odie}.</p>
<p>Wallau ‘Alam bi sl-Shawab.</p>
<p>Pamulang,28 Oktober 2024<br />
Murodi al-Batawi</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/santri-dan-soempah-pemoeda/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn%3AANd9GcRlmImFFa2yYpLipDAC3_CmEvMv-EAraQAFz4XnM8qtm5HtAv9KiRsLPV4&#038;s=10&#038;ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Kitab Kuning dan Tradisi Pesantren</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/kitab-kuning-dan-tradisi-pesantren/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/kitab-kuning-dan-tradisi-pesantren/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 Oct 2024 02:08:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab Kuning]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[Santri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=281</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Murodi al-Batawi Paling tidak, ada empat komponen yang harus diketahui <a class="read-more" href="https://gerbangbetawi.com/kitab-kuning-dan-tradisi-pesantren/" title="Kitab Kuning dan Tradisi Pesantren" itemprop="url"></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Paling tidak, ada empat komponen yang harus diketahui ketika kita berbicara soal pondok pesantren; yaitu, Pondok Pesantren, Kyai, Santri dan Kitab Kuning.</p>
<h3>Pondok</h3>
<p>Pondok merupakan tempat para santri menginap dan beristirahat. Di tempat inilah para santri banyak beraktifitas di luar mengaji atau bersekolah. Para santri dari berbagai daerah yang datang ke suatu pesantren berkumpul. Mereka bertemu, berdiskusi, tidur, terkadang para santri salafiyah memasak dan makan di pondok tersebut. Kegiatan rutin yang mereka lakukan ini terjadi setiap saat. Dari mulai bangun tidur hingga tidur kembali. Mereka belajar kelompok dan berdiskusi tentang materi yang baru diterima dari pimpinan pondok (kyai) atau dari para asatidz. Mereka saling memperkenalkan diri, mulai dati nama, asal usul dan lain sebagainya. Pada beberapa Pondok Pesantren tradisional, Salafiyah, mereka tidur dalam barak yang luas. Mereka, dahuli, membeli kasur sendiri atau cukup hanya tikar sebagai alas tidur mereka. Namun sekarang, hampir semua Pondok Pesantren sudah memiliki kamar untuk para santri, sehingga jarang yang tidur di barak. Mereka tidur di kamar dengan tempat tidur bertongkat dua. Dalam satu kamar ada yang diisi maksimal delapan orang.</p>
<h3>Kyai atau Ajengan dan Tuan Guru</h3>
<p>Sementara Kyai merupakan ungkapan atau gelar yang diberikan masyarakat Jawa, bagi orang yang dituakan atau berilmu. Sementara Ajengan, merupakan gelar keagamaan yang diberikan oleh masyarakat Jawa Barat. Sedang Guru atau Tuan Guru, gelar yang diberikan oleh masyarakat Betawi dan masyarakat Nusa Tenggara Barat. Dan Buya, merupakan gelar yang diberikan oleh masyarakat Melayu Sumatera. Mereka ini adalah role model bagi masyarakat kebanyakan. Kyai, Ajengan, Guru dan Tuan Guru, merupakan seorang alim pemilik pondok tersebut. Ia memiliki kompetensi keilmuan agama yang mumpuni dan memiliki otoritas keilmuan untuk mengajarkannya pada para santri.</p>
<p>Dahulu, sebelum menjadi Kyai dan pemilik Pondok Pesantren, mereka juga pasti pernah monfok pada pondok pesantren tertentu. Bahkan tidak hanya satu pondok mereka belajar mencari ilmu, selesai menguasai suat bidang ilmu tertentu, mereka pindah ke pondok pesantren lain untuk belajar dan mencari ilmu keagamaan lainnya, seperti usai mondok pada Kyai yang mengusai ilmu hadits, ia belajar pada kyai yang mengajarkan ilmu tafsir dan ilmu hadits. Begitulah tradisi rihlah ilmiah yang dilakukan para santri dahulu dan mungkin juga saat ini. Mereka berpindah dari satu kyai ke kyai lain untuk mempelajari ilmu keagamaan.</p>
<p>Selain mengajar para santri, ia juga mengajar para asatidz dan santri senior tentang disiplin suatu ilmu agama tertentu, seperti fiqh, tauhid, tafsir, hadits, nahwu sharaf dan lain-lain.</p>
<h3>Santri</h3>
<p>Santri merupakan para pelajar yang datang pada suatu lembaga pendidikan Islam, semisal Pondok Pesantren, untuk mempelajari bidang ilmu agama Islam. Mereka sengaja mendatangi dan mondok pada suatu Pondok Pesantren, sesuai dengan keinginan mereka untuk belajar bidang ilmu keagamaan yang menjadi minat besar mereka. Biasanya para santri belajar ilmu dasar terlebih dahulu sebelum melanjutkan ke jenjang lebih tinggi lagi. Seperti belajar ilmu nahwu, dimulai dengan mengkaji Kitab al- Jurumiyah, dilanjutkan dengan belajar kitab Nahwu al-Wadhih, kemudian Kawakib al-Durruyah dan al-Fiyah Ibnu Malik.</p>
<p>Untuk mengkaji kitab fiqh, para santri belajar kitab Safinah al-Najah dan lain sebagainya. Dalam tradidi pesantren, kita yang menjadi bahan belajar dan rujukan sering disebut dengan istilah Kitab Kuning.</p>
<h3>Kitab Kuning: Tradisi Pesantren</h3>
<p>Kitab Kuning meripakan sebuah istilah khas Indonesia. Disebut kitab kuning karena hampir sebagian besar kitab tersebut dicetak dengan kertas warna kuning. Dalam Undang-Undang No. 18 tahun 2019 tentang Pesantren telah ditegaskan bahwa kitab kuning adalah kitab keislaman berbahasa Arab atau kitab keislaman berbahasa lainnya yang menjadi rujukan tradisi keilmuan Islam di pesantren.</p>
<p>Sebagai sistem pengetahuan di pesantren, eksistensi Kitab Kuning sudah ada sejak abad 1-2 Hijriyah dan berkembang hingga sekarang. Tradisi literasi keislaman ini mampu tetap bertahan sebab ia memiliki khazanah keilmuan yang sangat luas(Fayumi). Dengan kata lain, Kitab Kuning ini merupakan hasil kreatifitas dan ijtihadi para ulama Pondok Pesantren yang terdiri dari berbagai bidang krilmuan Islam dan mampu bertahan hingga kini karena pesantren telah mengembangkan dan mempertahankan tradisi keilmuan Islam ini dengan baik, sehingga generasi muslim selalu mencarinya dengan mendatangi dan mondok di sebuah pesantren di Indonesia.</p>
<p>Kitab kuning memiliki banyak bidang keilmuan seperti tafsir, hadis, fikih, sejarah, dan lain sebagainya. Dalam bidang fikih saja sangat luas macamnya, misalnya ada fikih umum, fikih ibadah, fikih perkawinan, fikih perdagangan (mu’amalah), fikih perbandingan madzhab, fikih kontemporer, fikih lingkungan hidup, fikih perempuan, fikih politik, dan lain-lain. Selain itu, ada juga macam kitab kuning yang menggunakan model syarakh (penjelasan) sebagai Meski Kitab Kuning menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa yang digunakan. Tetapi, ada Kitab Kuning yang ditulis dalam huruf Arab berbahasa Melayu atau seting disebut dengan Arab Pegon atau Arab Jawi.</p>
<p>Tradisi mengaji Kitab Kuning biasanya dilakukan dengan model pengajaran Sorogan, Wtonan dan Bandongan. Model sorogan, santri biasanya mendatangi Kyai ata Ustadz dengan membawa kitab tertentu untuk dipelajari. Sedang Wetonsn, bissanya santri belsjar Kitab Kuning sesuai waktu yang ditentukan oleh Kyai. Sementara Bandongan, para ssntri membentuk lingkaran untuk mengkaji Kitab Kuning bersama para santri lsinnya. Dsn sang Kyai berada di tengah lingkaran menjadi pengajarnya (Odie).</p>
<p><em>Pamulang,</em><br />
<em>25 Oktober 2025.</em></p>
<p><em>Murodi al-Batawi</em></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/kitab-kuning-dan-tradisi-pesantren/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn%3AANd9GcSnAyyz425nawVnN6xTOJaWkNqrrilbhmqVPQ&#038;usqp=CAU&#038;ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Rihlah Ilmiah  dan Karier Santri</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/rihlah-ilmiah-dan-karier-santri/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/rihlah-ilmiah-dan-karier-santri/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Oct 2024 08:21:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Santri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=274</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Murodi Saat mondok di Pondok Pesantren, kita selalu dididik mandiri. <a class="read-more" href="https://gerbangbetawi.com/rihlah-ilmiah-dan-karier-santri/" title="Rihlah Ilmiah  dan Karier Santri" itemprop="url"></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi</strong></em></p>
<p>Saat mondok di Pondok Pesantren, kita selalu dididik mandiri. Dalam segala hal, termasuk apakah setelah usai mondok di suatu tempat, kita dianjurkan untuk melanjutkan pendidikan di pondok lain atau bahkan ke Timur Tengah, sebagai pusat arus perkembangan ilmu agama Islam, untuk memperdalam suatu bidang ilmu. Hal ini biasa terjadi dalam dunia pesantren dahulu, entah sekarang. Tapi yang jelas, kemungkinan hal itu masih terjadi dalam dunia pesantren model Salafiyyah, juga Khalafiyah. Cara seperti ini bisa terjadi manakala sang Santri belum merasa puas dengan ilmu yang diperolehnya saat dia mondok.</p>
<p>Jadi, berdasarkan saran dan restu Kyai, ia melanjutkan studinya ke pondok pesantren lain, untuk mengaji memperdalam ilmu bidang lain pada Kyai lain. Biasanya, Kyai tersebut adalah sahabat atau kerabatnya yang memang memiliki tingkatan ilmu lebih tinggi dibanding dirinya atau memiliki spesifikasi keilmuan khusus yang dimiliki Kyai tersebut.</p>
<h3>Tradisi Rihlah Ilmiah</h3>
<p>Tradisi _Rihla Ilmiah_ seperti ini menjadi semacam suatu keniscayaan bagi para pencari ilmu. Tujuannya, selain memperdalam ilmu juga membuka jaringan atau sanad keilmuannya untuk memperkuat otoritas dirinya bahwa dia secara otoritatif memiliki kewenangan untuk mengajarkan ilmu tersebut kepada para santri atau pihak lain.</p>
<p>Dengan demikian, maka dia sudah sah disebut seorang _Alim_, yang memiliki wawasan pengetahuan bidang ilmu tertentu. Karena itu, hubungan guru-murid, menjadi lazim di kalangan para pencari ilmu untuk memperkuat sanad keilmuannya. Misalnya, Kyai &#8220;A&#8221; yang ahli dalam ilmu al-hadits belajar kepada Kyai &#8220;B&#8221;untuk bidang fiqh. Begitu seterusnya yang terjadi hubungan keilmuan antara guru-murid jaman dahulu. Suatu saat ia menjadi guru di saat lain ia menjadi murid ketika mempelajari suatu bidang ilmu pengetahuan.</p>
<p>Selain itu, banyak pula santri yang selesai mondok, baik di Pondok Pesantren _Salafiyah maupun Khalafiyah_ yang melanjutkan studinya di dalam dan luar negeri.</p>
<p>Bagi mereka yang studi di dalam negeri, biasanya melanjutkan studinya Perguruan Tinggi Islam, negeri maupun swasta untuk mengikuti jenjang pendidikan S1 sampai S3. Bagi mereka yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri, S1-S3, mereka wajib meng _upgrade_ bahasa dan berbagai pengetahuan lain yang mendukung studi tersebut.</p>
<p>Biasanya, para alumni Pondok Pesantren, banyak yang melanjutkan Studi S1 hingga S3 ke wilayah Timur Tengah untuk kajian keislaman. Setelah lulus, mereka kembali ke negerinya dan meniti karier, mulai jadi _mublalligh_ atau menjadi Dosen merangkap pengurus Ornas Islam, dan bahkan mendirikan Pondok Pesantren dan menjadi Kyai. Dari situlah karier hidupnya dimulai hingga kemudian bisa menjadi tokoh masyarakat yang berkiprah di dunia akademis dan non akademis.</p>
<p>Bagi para santri yang mau melanjutkan studinya di Barat, biasanya mereka menyelesaikan studinya di Indonesia atau di negara-negara non Barat, seperti Mesir. Usai menamatkan pendidikan S1, biasanya mereka berkompetisi untuk memperoleh beasiswa ke luar negeri. Jika berhasil, mereka lanjut studi S2 dan S3. Bila demikian, mereka menjadi intelektual muslim muda berbakat yang dapat meniti kariernya dengan baik. Karena banyak lembaga yang ingin menampung mereka sebagai orang yang bisa diandalkan dalam pengembangan keilmuan dan pengembangan lembaga. Jika nasib baik, karier terus melonjak, bahkan banyak pula yang menjadi politisi, pengurus partai dan anggota dewan, menjadi menteri, bahkan menjadi wakil presiden RI, seperti Prof. Dr. KH. Ma&#8217;ruf Amin. Itulah karier yang bisa dititi oleh mantan santri.</p>
<p>Yang jelas, pesantren dan santri satu entitas. Mereka berkewajiban memperdalam ilmu agama, bukan sains dan teknologi. Karena pesantren sejak awal didirikan, sebagai lembaga &#8220;Tafaqquh fi al-Dien&#8221;. Kalau toh mereka melanjutkan studinya, pasti bidang agama dan humaniora, bukan bidang lain, dan juga berkarier dalam bidang keilmuan mereka masing-masing.</p>
<p>Selamat berjuang para santri. Sekali santri, tetap santri.</p>
<p>Selamat Hari Santri Nasional<br />
22 Oktober 2024</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/rihlah-ilmiah-dan-karier-santri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn%3AANd9GcQnDe2cYLrzjTc2-E9FC53gNqVwDisHOfgFHmMREi8eK-ovVSbvb42ukMk&#038;s=10&#038;ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Anak Betawi Jadi Santri: Berbagi Pengalaman di Hari Santri Nasional 22 Oktober 2024</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/anak-betawi-jadi-santri-berbagi-pengalaman-di-hari-santri-nasional-22-oktober-2024/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/anak-betawi-jadi-santri-berbagi-pengalaman-di-hari-santri-nasional-22-oktober-2024/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 Oct 2024 10:59:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Santri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=270</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Murodi al-Batawi Bagi masyarakat Betawi yang sangat religius, selalu berharap <a class="read-more" href="https://gerbangbetawi.com/anak-betawi-jadi-santri-berbagi-pengalaman-di-hari-santri-nasional-22-oktober-2024/" title="Anak Betawi Jadi Santri: Berbagi Pengalaman di Hari Santri Nasional 22 Oktober 2024" itemprop="url"></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Bagi masyarakat Betawi yang sangat religius, selalu berharap generasi penerus orang tuanya mampu memiliki ilmu pengetahuan agama Islam. Karena itu, semua anaknya disekolahkan di Madrasah, Dininyah dan Madrasah Ibtidaiyah sampai Madrasah Aliyah. Selesai lulus dari Madrasah Ibtidaiyah, mereka kemudian di kirim ke Pondok Pesantren Tradisional dan Pondok Modern. Mereka mondok untuk menjadi santri dan melanjutkan pendidikan mulai dari MTs (Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah). Usai mondok, banyak di antara mereka yang melanjutkan studinya ke Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Syria, Irak, Yordania, Mesir, Tunisia, al-Jazair, Sudan hingga Maroko. Mereka melanjutkan studi S1,S2 dan S3. Jika selesai, umumnya menjadi tenaga pengajar di Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta. Bahkan banyak juga di antara mereka yang menjadi Ustadz fi tempat tinggal mereka masing-masing atau di Masjid dan Mushalla yang sengaja dibuatkan oleh orang tua mereka agar mereka mengisi pengajian di tempat tersebut. Dengan jama’ah penduduk sekitar atau jama’ah yang sengaja berniat mendatanginya untuk mencari ilmu. Mereka dahulu semua adalah para santri, yang pernah mondok di salah satu pondok di Indonesia.</p>
<p>Menjadi Santri:<br />
Sebuah Pengalaman Mengasyikan.</p>
<p>Menjadi santri sekarang tidak mengasyikan, menurut anak muda zaman sekarang. Beda pada zaman dahulu, menurut para santri yang sudah tidak muda lagi. Menjadi santri itu sangat mengasyikan, meski banyak sekali tantangan dan ketidaknyamanannya. Tulisan ini hanya sekadar berbagi pengalaman untuk mereka yang mau menjadi santri.</p>
<p>Saat menjadi santri dahulu, sekira tahun 70 an, waktu yang penuh dengan momen suka dan duka serta bernilai sejarah. Suka, karena kita dipertemukan dengan kawan baru dari berbagai daerah di tanah air. Belajar bersama. Bermain dan bahkan tidur juga bersama dalam barak, kamar atau Kobong. Kita digembleng mandiri dan terus mencari serta belajar ilmu untuk bisa hidup mandiri di kemudian hari.</p>
<p>Dukanya atau tidak enaknya saat tidak punya uang. Menunggu uang kiriman dari orang tua, lama gak datang2. Karena kemungkinan besar, orang tua juga tidak punya uang. Jadi belum bisa kirim uang, Sedih, memang. Habis mau bagaimana lagi. Di tahun itu, belum ada tukang penghantar surat atau kiriman lainnya, termasuk wesel ke pesantren saya yang cukup terpencil di daerah Cijurai, Tegal Panjang, Sukaraja, Sukabumi, perbatasan dengan daerah Cianjur, Jawa Barat. Akhirnya, untuk menyambung hidup, makan seadanya. Kadang, bahkan seringnya, kami ngutang di warung Ceu Odah, Mang Afud dan lainnya. Dibayarnya saat dapat kiriman uang.</p>
<p>Saat itu, memang terasa sulit sekali. Makan dan tidur ala kadarnya. Makan, masak nasi sendiri. Pakai kastrol. Di pinggir kompor ditaruh ikan asin dan terasi. Nasi mateng, ikan dan terasi juga mateng. Langsung diambil dan ditaruh di atas daun pisang atau piring kaleng. Meski panas, langsung diembat. Dimakan. Lauknya ikan asin dan terasi. Semua itu terasa nikmat sekali. Terlebih ditambah sambal terasi dan lalaban daun singkong, daun pepaya atau daun genjer. Boleh dibilang, saat itu, semua makanan tak bergizi baik. Tapi, itulah kenyataan hidup sebenarnya ketika hidup sebagai seorang santri Pondok Pesantren.</p>
<p>Untungnya, Pondok Pesantren saya di pedesaan, dekat dengan persawahan yang dikelilingi perbukit an nan hijau. Untuk menambah gizi, kadang seminggu 2 atau 3 kali saya mencari belut di malam hari. Lumayan buat perbaikan gizi. Selesai mencari belut, kami olah seperti digoreng untuk lauk makan malam dengan nasi liwet yang enak sekali. Itu kami lakukan sehabis ngaji dan belajar bersama di malam hari sekira pukul 23.00-24.00. Larut malam, memang. Tapi itulah waktu yang kami miliki untuk bisa melakukan hal ini.</p>
<p>Hal yang paling menyenangkan kalau diundang tahlilan, acara maulid atau isra mi&#8217;raj oleh masyarakat sekitar pondok. Kita ikut zikir bersama. Mendengarkan ceramah. Makan bersama. Terkadang, pulang dibungkusin buat dimakan lagi di kamar.</p>
<p>Kalau tidur, juga ala kadarnya. Tidur di atas tikar di atas bale bambu atau papan kayu. Dingin hembusan udara malam di tengah perbukitan. Tidur tidak nyenyak, karena banyak Tumila (bangsat). Badan habis korengan karena selalu digaruk akibat gigitan tumila (bangsat). Dan ini pasti dirasakan oleh para santri.</p>
<p>Hal menarik lainnya soal mandi. Kalau mau mandi, kita harus antre. Sebelum subuh, sekitar pukul 3.30 pagi, kita sudah dibangunkan siap-siap pergi ke masjid untuk persiapan Shalat Subuh berjama&#8217;ah. Sebelum itu, kita sudah mandi. Sebab, kalau kesiangan, kita harus antre. Kalau siang hari, kami biasa mandi di sungai yang airnya masih sangat jernih. Hampir setiap hari kami mandi di sungai dekat Pondok Pesantren.</p>
<p>Pernah suatu ketika, saat mandi berbarengan dengan bebek. Kita mandi dari air saluran yang akan masuk ke kolam, bebek di saluran itu mencari makan, mandi dan buang kotoran. Jadi gak bersih mandinya dan badan gatel-gatal jadinya.</p>
<p>Meski cukup perih menanggung beban di pesantren, tapi, semua itu merupakan pelajaran berharga dan momen penting dalam meniti kehidupan. Belajar Kitab Kuning dan buku-buku klasik lainnya menjadi kegiatan rutin. Melalu metode Sorogan, Wetonan atau Bandongan, kami belajar. Dan alhamdulillah, berkat bimbingan Kyai/ Ajengan serta para asatidz, ilmu itu kami peroleh sebagai bekal buat kehidupan di kemudian hari.</p>
<p>Bisanya, saya dan kawan-kawan santri lainnya mengkaji ulang secara berkelompok materi yang diperoleh dari Kyai dan para asatidz di malam hari. Dan itu kami lakukan setelah pengajian malam, sekitar pukul 22-24 malam hari, sehingga kami betul-betul paham materi dari kitab yang kami kaji.</p>
<p>Dan saat melanjutkan studi lebih lanjut, kuliah, misalnya, tampaknya semua yang diajarkan di lembaga pendidikan tradisional tersebut, sudah dipelajari di pesantren. Jadi, gak mulai dari awal. Tinggal pendalaman saja.</p>
<p>Ada hal menarik dari pengalaman saat nyantri di Pondok Pesantren, tidak ada bullying. Semua santri memiliki posisi dan status yang sama. Tidak ada senioritas-junioritas. Bahkan, saling bantu dan mengingatkan. Jika kita punya masalah, baik masalah dalam bidang keuangan maupun materi pelajaran. Saling bantu dalam mengatasi masalah tersebut.</p>
<p>Untuk itu, ijinkan kami mengucapkan banyak Terima Kasih kepda para Kyai/Ajengan dan para asatidz serta para sahabat santri lainnya yang telah membimbing, mengarahkan dan menggembleng kami, dan teman belajar yang asyik, hingga kami menjadi manusia mandiri dan bermanfaat untuk umat, bangsa dan negara.</p>
<p>Terima Kasih Kyai/Ajengan dan para Asatidz, yang telah mengajari kami berbagai ilmu agama dengan penuh keikhlasan dan kesabaran. Mengajari kami kemandirian, kesabaran dan keikhlasan untuk kehidupan masa depan saya lebih baik lagi.</p>
<p>Insyaalah, semua itu bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa. Amiin.</p>
<p>Kini, para santri itu sudah menjadi pengabdi dan penyebar ilmu. Dan banyak sahabat santri yang sudah lebih dahulu menghadap Allah swt. Sementara ada Kyai, ajengan dan para asatidz, yang telah berjuang keras mengajari kami, telah berpulang ke rahmatullah. InsyaAllah Husnul Khatimah dan Surga tempat mereka semua.</p>
<p>Untuk itu, izinkan saya mendo’akan mereka melalui pembacaan Qs al- Fatihah.</p>
<p>( لهم الفاتحة)Lahum al-fatihah</p>
<p>SELAMAT HARI SANTRI NASIONAL.</p>
<p>22 OKTOBER 2024.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/anak-betawi-jadi-santri-berbagi-pengalaman-di-hari-santri-nasional-22-oktober-2024/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn%3AANd9GcQ-ZTfXAT6XFbZiGvj0FtFuinLcywEVCnLdQ9ZsBPX6CQQq7FYEomRFq1Y&#038;s=10&#038;ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
	</channel>
</rss>
