<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Santri &#8211; Gerbang Betawi</title>
	<atom:link href="https://gerbangbetawi.com/tag/santri/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://gerbangbetawi.com</link>
	<description>Gerakan Kebangkitan Betawi</description>
	<lastBuildDate>Fri, 24 Jul 2026 22:13:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://res.cloudinary.com/du66xc8mf/images/w_32,h_32,c_fill,g_auto/f_webp,q_auto:low/v1725435610/cropped-gerbang-betawi-4-1/cropped-gerbang-betawi-4-1.webp?_i=AA</url>
	<title>Santri &#8211; Gerbang Betawi</title>
	<link>https://gerbangbetawi.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Ketika Santri Lebih Sukses dari Kyainya: Refleksi atas Transformasi Relasi Kyai-Santri di Era Modern</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/ketika-santri-lebih-sukses-dari-kyainya-refleksi-atas-transformasi-relasi-kyai-santri-di-era-modern/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/ketika-santri-lebih-sukses-dari-kyainya-refleksi-atas-transformasi-relasi-kyai-santri-di-era-modern/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Jul 2026 22:13:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[Santri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=675</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Murodi al-Batawi]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Murodi al-Batawi</strong></em>.</p>
<p>Fenomena santri yang meraih kesuksesan gemilang di luar pesantren—menjadi akademisi bergelar doktor di usia muda, pemimpin lembaga negara, pengusaha sukses, hingga presiden—kyai semakin lazim kita saksikan. Wildani Hefni, alumni Pondok Pesantren Annuqayah, meraih gelar doktor di usia 29 tahun dan kini menjadi Dekan Fakultas Syariah UIN KHAS Jember. Ubaidillah, santri Tebuireng, menjabat sebagai Ketua Komisi Penyiaran Indonesia. Gus Dur menjadi Presiden RI ke-4. Santri-santri lain mendirikan jaringan bisnis, menjadi profesor, birokrat, dan pemimpin di berbagai sektor. Dalam ukuran duniawi—gelar akademik, jabatan struktural, kekayaan, pengaruh sosial—mereka telah &#8220;melampaui&#8221; kyai mereka.</p>
<p>Pertanyaan yang muncul: apakah ini berarti otoritas kyai telah tergerus? Apakah relasi santri-kyai yang selama ini diikat oleh nilai-nilai spiritual dan kultural mulai retak? Atau justru sebaliknya, kesuksesan santri menjadi bukti nyata dari keberkahan dan keberhasilan pendidikan pesantren?</p>
<p>Dalam tradisi pesantren, ada keyakinan kuat bahwa keberkahan hidup seorang santri sangat bergantung pada restu dan doa gurunya. Seorang santri yang cerdas sekalipun, tanpa mendapatkan barokah dari kyai, tidak akan meraih kesuksesan hakiki. Sebaliknya, santri yang secara akademik pas-pasan tetapi memperoleh barokah dari gurunya, bisa sukses dalam kehidupannya. Paradigma ini menempatkan kyai pada posisi yang sangat sentral—sebagai sumber otoritas spiritual yang menentukan nasib santri, baik di dunia maupun di akhirat.</p>
<p>Namun, realitas sosial menunjukkan perubahan yang menarik. Para santri sukses ini tetap mengakui otoritas spiritual kyai mereka. Ubaidillah, saat menerima penghargaan Santri Inspiratif 2024, secara eksplisit menyatakan bahwa kesuksesannya tidak terlepas dari restu kyai selama ia bermukim di pondok pesantren. &#8220;Ini menjadi amanah baru,&#8221; katanya, &#8220;dan sekaligus proses untuk saya pribadi agar menjalankannya dengan sungguh-sungguh. Tanpa restu dari beliau-beliau, santri tentu tidak akan bisa mencapai kesuksesan seperti yang saat ini dia dapatkan.&#8221;</p>
<p>Pernyataan ini menarik. Di satu sisi, ia menunjukkan bahwa dalam kesadaran santri, kesuksesan duniawi tetap berada dalam kerangka spiritual dan moral yang diajarkan oleh kyai. Kesuksesan bukanlah pencapaian individual semata, melainkan hasil dari &#8220;buah istiqomah, keikhlasan, dan ketawaduan selama belajar di pesantren.&#8221; Di sisi lain, ia juga mengindikasikan adanya transformasi relasi: santri tidak lagi sekadar pengikut yang patuh, tetapi telah menjadi mitra yang sederajat dalam ruang publik yang lebih luas.</p>
<p>Fenomena ini dapat dibaca sebagai bagian dari proses &#8220;rutinitas kharisma&#8221; yang dijelaskan Max Weber. Kharisma yang melekat pada diri kyai, yang bersifat personal dan tidak dapat diwariskan secara langsung, harus dirutinkan ke dalam institusi agar dapat bertahan. Dalam konteks pesantren, rutinitas terjadi melalui pembentukan yayasan, sistem kaderisasi, dan pengakuan bahwa santri yang sukses adalah cerminan dari kualitas pendidikan dan barokah pesantren. Dengan demikian, kesuksesan santri tidak menggantikan otoritas kyai, tetapi mentransformasikannya—dari yang bersifat karismatik-personal menuju yang lebih kolektif dan institusional.</p>
<p>Tentu saja, transformasi ini tidak selalu mulus. Kasus Barghowi, mantan khadam (pelayan khusus) Kyai Musta&#8217;in, menunjukkan adanya ketegangan. Setelah menjadi dosen, Barghowi berani mengkritik praktik-praktik yang dianggap tidak demokratis, bahkan di hadapan nyai yang telah membiayai pendidikannya. Ketika ditegur, ia merespons dengan cara yang dianggap &#8220;kurang sopan&#8221; dalam budaya santri. Kasus ini menunjukkan bahwa modernisasi dan keterpaparan terhadap nilai-nilai baru telah mengubah cara santri bersikap terhadap kiai, meskipun secara formal mereka masih mengakui otoritas kyai.</p>
<p>Namun, alih-alih melihat ini sebagai krisis, kita justru bisa menyaksikan bagaimana pesantren beradaptasi. Muncul model kepemimpinan &#8220;kyai transformatif&#8221;—pemimpin pesantren yang tidak hanya menjaga tradisi keilmuan dan spiritualitas, tetapi juga mampu membaca perubahan zaman dan memimpin transformasi sosial, pendidikan, dan ekonomi. Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa pesantren dan santri harus menjadi pelopor transformasi sosial dan adaptif terhadap perkembangan zaman, tanpa meninggalkan akar tradisinya.</p>
<p>Pesantren kini tidak lagi sekadar &#8220;pondok&#8221; yang mengajarkan kitab kuning, tetapi telah menjadi ekosistem yang melahirkan santri akademik, santri profesional, dan santripreneur. Kemandirian ekonomi yang dibangun melalui berbagai unit usaha berbasis pesantren menjadi fondasi bagi santri untuk mengembangkan potensi di berbagai bidang. Relasi kyai-santri yang diikat oleh nilai-nilai kekeluargaan, spiritualitas, dan kebersamaan—yang oleh para peneliti disebut sebagai &#8220;patronase plus&#8221;—justru menjadi modal sosial yang kuat untuk mendorong kemandirian dan kesuksesan.</p>
<p>Pada akhirnya, fenomena santri yang lebih sukses dari kyainya bukanlah pertanda keruntuhan, melainkan transformasi. Kyai tetap menjadi sumber moral dan spiritual, sementara santri menjadi agen yang memperluas pengaruh pesantren ke ruang-ruang publik yang lebih luas. Sebagaimana dikatakan Ketua DPP PDI Perjuangan Said Abdullah, santri adalah jati diri yang terbuka serta entitas yang bisa sangat kosmopolit dalam berpikir dan bertindak. Namun, menjaga diri sebagai santri—dengan segala nilai dan etika yang diwariskan—adalah tanggung jawab yang tetap melekat.</p>
<p>Penutup</p>
<p>Di tengah hiruk-pikuk modernitas, relasi kyai-santri yang telah berusia berabad-abad ini menunjukkan bahwa tradisi dan inovasi tidak harus saling bertentangan. Hal yang diperlukan adalah keberanian untuk membaca perubahan, tanpa kehilangan akar dan identitas. Santri yang sukses bukanlah ancaman bagi otoritas kyai, melainkan mahkota yang menghiasi kejayaan tradisi pesantren—sebuah bukti bahwa ilmu yang diajarkan dengan adab, dan adab yang dijaga dengan tradisi, akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia. Demikian dan terima kasih. Semoga bermanfaat(odie).</p>
<p>Wallahua’lambishawab.</p>
<p>Padarincang, 25 Juli 2026.</p>
<p>Murodi al-Batawi.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/ketika-santri-lebih-sukses-dari-kyainya-refleksi-atas-transformasi-relasi-kyai-santri-di-era-modern/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/www.nahdliyin.com/images/post/content/1/2025/2025-10-16/702861b51bcd277aad4ff41be05da4d9.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Ibu Nyai, Santriwati dan Kitab Kuning: Dinamika Otoritas, Pembacaan, dan Transformasi di Pesantren</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/ibu-nyai-santriwati-dan-kitab-kuning-dinamika-otoritas-pembacaan-dan-transformasi-di-pesantren/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/ibu-nyai-santriwati-dan-kitab-kuning-dinamika-otoritas-pembacaan-dan-transformasi-di-pesantren/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Jul 2026 22:13:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[Santri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=660</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Murodi al-Batawi]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Murodi al-Batawi.</strong></em></p>
<p>Kitab kuning merupakan inti dari tradisi keilmuan pesantren, namun keterlibatan perempuan—baik ibu nyai maupun santriwati—dalam ekosistem kitab kuning kerap luput dari perhatian akademik. Tulisan ini mengkaji bagaimana ibu nyai dan santriwati memosisikan diri dalam tradisi pembacaan, pengajaran, dan penafsiran kitab kuning.</p>
<h2>Narasi Patriarki</h2>
<p>Dengan demikian bisa dikatakan bahwa meskipun kitab kuning kerap memuat narasi patriarki yang menempatkan laki-laki sebagai otoritas utama dan perempuan dalam ranah domestik, ibu nyai dan santriwati bukanlah konsumen pasif dari teks-teks tersebut. Sebaliknya, mereka aktif melakukan negosiasi makna melalui tiga pola pembacaan: literal, rasional, dan spiritual. Ibu nyai berperan sebagai pengajar dan penerjemah kitab kuning bagi santriwati, sekaligus menjadi agen perubahan dalam struktur sosial pesantren melalui pembacaan kontekstual terhadap teks-teks klasik.</p>
<h3>A. Internalisasi Nilai-nilai Kitab Kuning</h3>
<p>Sementara itu, santriwati tidak hanya menerima transmisi keilmuan secara pasif, tetapi juga menginternalisasi nilai-nilai kitab kuning dalam kehidupan sehari-hari dan mengembangkan kapasitas kritis mereka. Dan dapat disimpulkan sementara bahwa relasi antara ibu nyai, santriwati, dan kitab kuning adalah relasi dialektis yang terus bernegosiasi antara kepatuhan terhadap tradisi dan tuntutan transformasi menuju kesetaraan.<br />
Semendara itu, Kitab kuning—kitab-kitab klasik berbahasa Arab yang menjadi kurikulum utama pesantren—merupakan jantung dari tradisi keilmuan pesantren. Sejak pesantren berdiri, kitab kuning menjadi sumber utama transmisi pengetahuan agama, mencakup berbagai disiplin ilmu seperti fikih, akidah, akhlak, tasawuf, tafsir, hadis, dan ilmu tata bahasa Arab (nahwu dan sharaf). Istilah &#8220;kitab kuning&#8221; sendiri merupakan ciri khas Indonesia, merujuk pada kitab-kitab yang umumnya dicetak di atas kertas berwarna kuning dengan tulisan Arab tanpa harakat (gundul), yang dikarang oleh ulama klasik sebelum abad ke-20 M.</p>
<p>Namun, narasi tentang kitab kuning selama ini seringkali berpusat pada figur kyai sebagai otoritas tunggal yang memiliki wewenang penuh dalam pengajaran dan penafsiran. Keberadaan perempuan dalam ekosistem kitab kuning—baik ibu nyai sebagai pengajar maupun santriwati sebagai peserta didik—kerap berada dalam bayang-bayang dominasi maskulin. Padahal, sebagaimana diungkapkan dalam penelitian tentang pesantren Kempek, meskipun kitab kuning disebut-sebut banyak mengandung muatan patriarki, akhir-akhir ini ada gejala meningkatnya peran ibu nyai dengan turut aktifnya mereka dalam menentukan arah perjalanan pesantren.</p>
<p>Pertanyaan kritis yang muncul adalah: bagaimana ibu nyai dan santriwati memosisikan diri dalam tradisi kitab kuning yang sarat dengan narasi gender? Apakah mereka sekadar menerima teks secara pasif, atau justru aktif menegosiasikan makna? Dan bagaimana peran mereka dalam mentransmisikan—sekaligus mentransformasikan—tradisi keilmuan pesantren melalui kitab kuning?</p>
<p>Tulisan ini berupaya menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan mengkaji secara komprehensif relasi antara ibu nyai, santriwati, dan kitab kuning. Pembahasan akan mencakup: karakteristik dan muatan kitab kuning dalam perspektif gender, peran ibu nyai sebagai pengajar dan penafsir kitab kuning, dinamika pembelajaran kitab kuning bagi santriwati, serta transformasi pembacaan kitab kuning yang dilakukan oleh perempuan pesantren. Dengan demikian, diharapkan narasi tentang kitab kuning menjadi lebih utuh dan mencerminkan realitas bahwa perempuan adalah bagian tak terpisahkan dari tradisi keilmuan pesantren.</p>
<h3>B. Kitab Kuning: Karakteristik, Muatan, dan Tantangan Gender.</h3>
<p><strong>Definisi dan Karakteristik Kitab Kuning</strong></p>
<p>Kitab kuning secara istilah diartikan sebagai kitab yang berisi ilmu-ilmu keislaman—khususnya fikih—yang ditulis atau dicetak dalam bahasa Arab, Melayu, Jawa, atau Sunda, umumnya tanpa memakai harakat (tanda baca/baris). Karakteristik utama kitab kuning meliputi: (1) ditulis di atas kertas berwarna kuning; (2) berbahasa Arab tanpa syakal; (3) memuat keilmuan yang sangat berbobot; (4) dikaji di pesantren-pesantren; dan (5) metode penulisannya dianggap klasik.</p>
<p>Terdapat kitab-kitab dasar yang menjadi fondasi pembelajaran di pesantren, di antaranya: Al-Jurumiyah (ilmu nahwu), Amtsilat at-Tashrifiyah (ilmu sharaf), Ta&#8217;lim al-Muta&#8217;allim (akhlak dan etika belajar), Aqidat al-Awwa (akidah), Ar-Risalah (fikih dasar), dan Arba&#8217;in Nawawi, (hadis).</p>
<p>Kitab kuning juga memiliki tradisi sanad, yaitu rantai transmisi keilmuan yang menghubungkan seorang pengajar dengan ulama sebelumnya. Dalam tradisi ini, makna yang ditulis oleh santri pada kitabnya—yang disebut makna gandul atau makna pesantren—mutlak berasal dari lisan gurunya, yang pada gilirannya bersambung hingga ke ulama-ulama terdahulu. Tradisi nembel (menambal) kitab menjadi rutinitas penting bagi santri, karena ketiadaan makna dianggap sebagai kecacatan serius yang dapat menghambat kenaikan kelas dan bahkan menjadi aib di kemudian hari.</p>
<p><strong>Muatan Gender dalam Kitab Kuning</strong></p>
<p>Salah satu tantangan terbesar dalam relasi perempuan dan kitab kuning adalah muatan gender yang terkandung di dalamnya. Penelitian kritis tentang kurikulum pesantren menunjukkan bahwa analisis terhadap kitab kuning dan materi pengajaran mengungkap adanya reproduksi patriarki: laki-laki diposisikan sebagai otoritas utama, sementara peran perempuan dibatasi pada ranah domestik. Praktik pedagogis, interaksi guru-santri, dan struktur kelembagaan pesantren turut memperkuat konstruksi gender yang timpang.</p>
<p>Kitab kuning yang membahas relasi suami-istri, misalnya, kerap memuat pandangan yang menekankan kewajiban istri terhadap suami. Kitab Uqud al-Lujain, yang banyak diajarkan di pesantren menjadi salah satu contoh yang sering dikritik karena pesan-pesannya yang bias gender. Namun, sebagaimana ditunjukkan dalam penelitian tentang tafsir nyai dan ning, pemaknaan terhadap teks-teks tersebut tidak bersifat monolitik; terdapat beragam penafsiran yang dipengaruhi oleh tradisi, bahasa, pendidikan, kepentingan praktis, dan pengalaman hidup masing-masing pembaca.</p>
<h4>C. Ibu Nyai dan Kitab Kuning: Dari Penerjemah Menuju Penafsir</h4>
<p><strong>Ibu Nyai sebagai Pengajar Kitab Kuning</strong></p>
<p>Dalam ekosistem pesantren, ibu nyai memiliki peran sentral dalam pengajaran kitab kuning, terutama bagi santriwati. Di Pesantren Mamba&#8217;ul Huda 2, misalnya, pengajian kitab kuning dilakukan secara rutin setelah shalat subuh, asar, magrib, dan isya setiap hari. Ibu nyai memberikan pengajaran secara tatap muka yang dilakukan secara terus menerus tanpa batas waktu hingga kitab yang diajarkan selesai dikaji. Kitab-kitab yang diajarkan mencakup Al-Awamil, Jurumiyah, Imrit, Alfiyah Ibnu Malik, dan Tafsir Jalalain.</p>
<p>Metode pengajaran yang umum digunakan adalah bandongan atau wetonan, di mana ibu nyai membacakan dan menerjemahkan kitab kuning di hadapan santri-santri yang menyimak dan mencatat makna pada teks kitab mereka. Di beberapa pesantren, metode ini diintegrasikan dengan pendekatan yang lebih interaktif, seperti yang dilakukan di MBS Limpung, di mana santriwati diajak untuk membaca teks, melakukan translasi kata per kata, dan mendiskusikan makna serta mengaitkannya dengan tantangan zaman modern.</p>
<p>Selain metode bandongan, terdapat pula metode sorogan yang lebih individual, di mana santri menghadap langsung ke ibu nyai untuk membacakan kitab dan mendapat koreksi personal. Metode ini menuntut kesiapan dan penguasaan materi yang tinggi dari santri, karena ibu nyai akan langsung mengoreksi bacaan dan pemahaman mereka.</p>
<p><strong>Ibu Nyai sebagai Agen Perubahan dalam Pembacaan Kitab Kuning</strong></p>
<p>Penelitian tentang peran ibu nyai di Pesantren Kempek menunjukkan bahwa ibu nyai tidak sekadar menjadi pengajar pasif yang menerima kitab kuning apa adanya. Sebaliknya, mereka menjadi agen perubahan dalam struktur sosial pesantren melalui pembacaan kontekstual terhadap teks-teks klasik. Perubahan yang dibawa oleh ibu nyai mencakup perubahan dalam status dan peranan ibu nyai itu sendiri, lembaga pendidikan, kelompok sosial, stratifikasi sosial, dan interaksi sosial di pesantren.</p>
<p>Salah satu bentuk transformasi yang signifikan adalah perubahan kurikulum untuk santri putri. Ibu nyai berperan dalam mengembangkan pendekatan pembelajaran yang tidak sekadar tekstual, tetapi juga kontekstual dengan perspektif gender. Ibu nyai di Pesantren Kempek, misalnya, berupaya membawa perubahan dari metode pendidikan yang kaku menuju pendekatan yang lebih memahami konteks dan kebutuhan santriwati.</p>
<p>Hal senada ditemukan dalam penelitian tentang kepemimpinan nyai pesantren, di mana ibu nyai—terutama ketika memimpin pesantren secara mandiri—menunjukkan karakter kepemimpinan yang demokratis, egaliter, dan terbuka. Karakter ini tercermin dalam cara mereka mengajarkan kitab kuning, tidak hanya menekankan hafalan dan kepatuhan tekstual, tetapi juga mendorong pemahaman yang kritis dan kontekstual.</p>
<p><strong>Tiga Pola Penafsiran Ibu Nyai terhadap Kitab Kuning</strong></p>
<p>Penelitian tentang tafsir nyai dan ning terhadap teks-teks kitab kuning mengungkapkan adanya tiga pola penafsiran yang berkembang di kalangan perempuan pesantren:</p>
<p>Penafsiran Literalis adalah pola di mana teks dipahami secara harfiah sesuai dengan makna lahiriahnya. Pola ini umumnya ditemukan pada ibu nyai dan ning yang memiliki latar belakang pendidikan pesantren tradisional yang kuat dan memegang teguh otoritas teks.</p>
<p>Penafsiran Rasionalis adalah pola di mana teks dipahami dengan mempertimbangkan akal dan konteks. Pola ini menunjukkan adanya upaya untuk menyesuaikan pemahaman teks dengan realitas sosial dan kebutuhan zaman.</p>
<p>Penafsiran Spiritualis adalah pola di mana teks dipahami melalui pendekatan batin dan esoteris. Pola ini menekankan dimensi spiritual dari teks dan bagaimana ia dapat menjadi penuntun bagi kehidupan batin seseorang.</p>
<p>Ketiga pola penafsiran ini menunjukkan bahwa ibu nyai dan ning bukanlah konsumen pasif dari teks kitab kuning. Sebaliknya, mereka aktif menegosiasikan makna berdasarkan tradisi, pengalaman hidup, dan kepentingan praktis mereka. Transformasi pemikiran yang terjadi menghasilkan pemaknaan-pemaknaan baru terhadap pendidikan perempuan di pesantren.</p>
<h5>D. Santriwati dan Kitab Kuning: Subjek Transmisi dan Negosiasi Makna</h5>
<p><strong>Dinamika Pembelajaran Kitab Kuning bagi Santriwati</strong></p>
<p>Bagi santriwati, pembelajaran kitab kuning merupakan pengalaman yang membentuk tidak hanya intelektualitas, tetapi juga kepribadian dan spiritualitas mereka. Di Pondok Pesantren Nurussathi&#8217; Darul Falah, misalnya, pembelajaran kitab kuning diintegrasikan dengan kehidupan sehari-hari santri. Materi yang dipelajari tidak berhenti pada tataran teori, tetapi diamalkan dalam aktivitas ibadah, interaksi sosial, hingga etika keseharian di lingkungan pondok.</p>
<p>Kendala utama yang dihadapi santriwati dalam mempelajari kitab kuning adalah teks yang tidak berharakat, sehingga cukup sulit dipahami terutama bagi santri pemula yang belum menguasai ilmu nahwu dan sharaf. Latar belakang pendidikan santri yang berbeda-beda juga menjadi faktor penghambat. Untuk mengatasi hal ini, pesantren menerapkan berbagai strategi, seperti pendampingan khusus bagi santri pemula, pemanfaatan metode pembelajaran yang memudahkan (misalnya metode Amtsilati), serta pembelajaran bertahap sesuai kemampuan.</p>
<p>Di Pondok Pesantren Nurul Qur&#8217;an, santriwati mengikuti majelis kitab dua kali dalam seminggu (Sabtu dan Minggu), mempelajari kitab-kitab seperti (Amtsilah Tashrifiyyah)(bidang sharaf), Lughotut Takhotubul Mushowwaroh (bahasa Arab), Lubabul Hadits, dan Matan Al-Jurumiyah, Ungkapan yang ditemukan dalam muqaddimah kitab Al-Qawa&#8217;id ash-Sharfiyah—&#8221;ketahuilah, bahwa sharaf adalah induk dari segala ilmu dan nahwu adalah ayahnya&#8221;—menjadi motivasi bagi santriwati dalam mempelajari tata bahasa Arab, dengan penekanan pada pentingnya mendahulukan &#8220;ibu&#8221; (sharaf) atas &#8220;ayah&#8221; (nahwu).</p>
<p><strong>Kitab-Kitab yang Dikaji Santriwati</strong></p>
<p>Beragam kitab kuning dikaji oleh santriwati di berbagai pesantren. Secara umum, kitab-kitab tersebut dapat dikelompokkan ke dalam beberapa bidang:</p>
<p>Bidang Akhlak dan Etika Belajar. Kitab Ta&#8217;lim al-Muta&#8217;allim, karya Syekh al-Zarnuji menjadi salah satu kitab dasar yang mengajarkan etika mencari ilmu. Kitab ini sangat populer di pesantren dan menjadi pedoman bagi santri dalam mengarungi proses belajar.</p>
<p>Bidang Fikih. Fikih merupakan disiplin ilmu yang paling banyak diajarkan di pesantren. Dari sekitar 900 judul kitab kuning yang beredar, sekitar 20% (180 kitab) membahas fikih. Kitab-kitab seperti Taqrib dan syarahnya Fath al-Qarib, menjadi yang paling populer, hampir tidak ada pesantren yang tidak menggunakannya. Kitab Safinatus Sholah juga menjadi kitab dasar yang sering diajarkan kepada santriwati untuk memahami tata cara ibadah.</p>
<p>Bidang Nahwu-Sharaf. Ilmu nahwu dan sharaf menjadi fondasi bagi pemahaman kitab kuning. Kitab Al-Jurumiyah menjadi pintu masuk bagi santri dalam mempelajari tata bahasa Arab, dilanjutkan dengan kitab-kitab yang lebih tinggi seperti Imrithi, Mutamima, dan Alfiyah Ibnu Malik. Kitab Amtsilah Tashrifiyyah, karya KH. Ma&#8217;shum &#8216;Ali dari Jombang menjadi kitab dasar dalam mempelajari ilmu sharaf.</p>
<p>Bidang Akidah dan Tasawuf. Kitab Aqidat al-Awwam, karya Syaikh Ahmad Marzuqi al-Maliki menjadi rujukan dasar dalam mempelajari akidah. Kitab ini berisi 57 bait nadzam yang mudah dihafalkan.</p>
<p>Bidang Hadis dan Sirah Nabawiyah. Kitab Arba&#8217;in Nawawi dan Syamail Muhammadiyah menjadi pilihan bagi santriwati untuk mendekatkan diri kepada Rasulullah SAW melalui pemahaman tentang akhlak dan keseharian beliau.</p>
<p><strong>Negosiasi Makna dan Resistensi Santriwati</strong></p>
<p>Penelitian tentang dekonstruksi norma gender dalam kurikulum pesantren menunjukkan bahwa resistensi terhadap narasi patriarki dalam kitab kuning muncul dari para santriwati dan pendidik progresif melalui reinterpretasi teks, diskusi kritis, dan praktik alternatif. Meskipun pemisahan ruang belajar berdasarkan gender memperkuat patriarki, terdapat potensi transformasi mikro yang membutuhkan dukungan kebijakan berkelanjutan, pelatihan guru, dan kurikulum yang responsif gender.</p>
<p>Santriwati tidak hanya menerima transmisi keilmuan secara pasif. Sebagaimana diungkapkan dalam wawancara dengan santri, ibu nyai memberikan kesempatan kepada santri untuk memilih kegiatan ekstra di luar pengajaran agama sesuai dengan minat dan bakat mereka. Hal ini menunjukkan adanya ruang bagi santriwati untuk mengembangkan kapasitas diri di luar narasi yang dibatasi oleh teks-teks klasik.</p>
<p>Selain itu, tradisi membaca kitab kuning di kalangan santriwati juga melahirkan budaya kolektif yang khas. Di Pesantren Nurussathi&#8217; Darul Falah, kegiatan lataran—mengulang atau membacakan nadzam hafalan secara bersama-sama—menjadi rutinitas yang tidak hanya menjaga hafalan, tetapi juga membangun solidaritas dan ukhuwah di antara santriwati.</p>
<h6>E. Transformasi dan Tantangan: Membaca Kitab Kuning di Era Modern</h6>
<p><strong>Digitalisasi dan Akses terhadap Kitab Kuning</strong></p>
<p>Di era digital, akses santriwati terhadap kitab kuning mengalami transformasi. Kitab-kitab kuning kini tidak hanya tersedia dalam bentuk fisik, tetapi juga dalam format digital yang dapat diunduh dan dipelajari melalui perangkat elektronik. Namun, muncul pertanyaan tentang otoritas dan kesahihan pembelajaran kitab tanpa bimbingan guru. Sebagaimana ditegaskan dalam tradisi pesantren, mempelajari kitab kuning tanpa guru dapat menyebabkan kesesatan, karena teks-teks klasik mengandung banyak masalah rumit yang membingungkan bagi orang yang tidak memiliki bimbingan langsung.</p>
<p>Syekh Imam As-Suyuthi dalam Al-Itqan fi &#8216;Ulum, menjelaskan bahwa ijazah dari seorang guru bukanlah syarat mutlak untuk mengajar atau membacakan kitab, selama seseorang yakin bahwa dirinya sudah ahli. Namun, pendapat ini tidak menafikan pentingnya sanad dan bimbingan guru dalam tradisi keilmuan pesantren. Imam Abu Hayyan al-Andalusy bahkan menegaskan: &#8220;Apabila engkau mencari ilmu tanpa guru, maka engkau dapat tersesat dari jalan yang lurus&#8221;.</p>
<p><strong>Pembacaan Kontekstual dengan Perspektif Gender</strong></p>
<p>Salah satu tantangan terbesar dalam relasi perempuan dan kitab kuning adalah bagaimana membaca teks-teks klasik yang sarat dengan narasi patriarki secara kontekstual. Penelitian tentang tafsir nyai dan ning menunjukkan bahwa perempuan pesantren tidak sekadar menerima teks secara literal, tetapi juga mengembangkan penafsiran rasional dan spiritual yang membuka ruang bagi pemaknaan baru.</p>
<p>Di Pesantren Kempek, misalnya, ibu nyai berperan dalam mengubah pendekatan pembelajaran kitab kuning dari tekstual ke kontekstual dengan perspektif gender. Hal ini menunjukkan bahwa transformasi pembacaan kitab kuning bukanlah fenomena baru, melainkan proses yang terus berlangsung dan melibatkan negosiasi antara tradisi dan tuntutan kesetaraan.</p>
<p><strong>Peran Ibu Nyai dan Santriwati dalam Melestarikan dan Mentransformasikan Tradisi</strong></p>
<p>Ibu nyai dan santriwati memiliki posisi strategis dalam menjaga keberlanjutan tradisi kitab kuning sekaligus mentransformasikannya. Sebagai pengajar, ibu nyai tidak hanya mentransmisikan teks, tetapi juga menanamkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Sebagaimana diungkapkan oleh seorang ustadzah: &#8220;peran kitab kuning untuk pembelajaran PAI di pondok pesantren itu sangat besar&#8230; kita yang mempelajari fikih, akhlak itu tidak hanya sekedar mempelajarinya saja, tapi juga praktik&#8230; kita dapat membentuk akhlak kita lewat kitab akhlak tersebut&#8221;.</p>
<p>Di sisi lain, santriwati sebagai generasi penerus membawa dinamika baru dalam pembacaan kitab kuning. Dengan latar belakang pendidikan yang semakin beragam dan akses terhadap wacana kesetaraan gender, santriwati memiliki potensi untuk mengembangkan pembacaan yang lebih kritis dan kontekstual terhadap teks-teks klasik. Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) 2017, yang melibatkan banyak ibu nyai dan santriwati, menjadi bukti bahwa perempuan pesantren mampu menjadi agen perubahan dalam wacana keagamaan di Indonesia.</p>
<h6>F. Penutup</h6>
<p>Relasi antara ibu nyai, santriwati, dan kitab kuning adalah relasi dialektis yang terus bernegosiasi antara kepatuhan terhadap tradisi dan tuntutan transformasi. Kitab kuning sebagai inti dari tradisi keilmuan pesantren memang memuat narasi patriarki yang sering kali menempatkan laki-laki sebagai otoritas utama dan perempuan dalam ranah domestik. Namun, ibu nyai dan santriwati bukanlah konsumen pasif dari teks-teks tersebut. Sebaliknya, mereka aktif melakukan negosiasi makna melalui berbagai pola penafsiran—literal, rasional, dan spiritual—yang dipengaruhi oleh tradisi, pengalaman hidup, dan kepentingan praktis mereka.</p>
<p>Ibu nyai berperan sebagai pengajar dan penerjemah kitab kuning bagi santriwati, sekaligus menjadi agen perubahan dalam struktur sosial pesantren melalui pembacaan kontekstual terhadap teks-teks klasik. Mereka membawa perubahan dalam metode pendidikan, kurikulum santri putri, dan pendekatan pembelajaran yang lebih memahami kebutuhan santriwati.</p>
<p>Sementara itu, santriwati tidak hanya menerima transmisi keilmuan secara pasif. Mereka menginternalisasi nilai-nilai kitab kuning dalam kehidupan sehari-hari, mengembangkan kapasitas kritis, dan—dalam banyak kasus—melakukan resistensi terhadap narasi patriarki melalui reinterpretasi teks dan diskusi kritis. Tradisi membaca kitab kuning di kalangan santriwati juga melahirkan budaya kolektif yang memperkuat ukhuwah dan solidaritas di antara mereka.</p>
<p>Di era modern, tantangan terhadap otoritas kitab kuning dan relasi gendernya semakin kompleks dengan hadirnya digitalisasi dan akses informasi yang lebih luas. Namun, hal ini juga membuka peluang bagi transformasi pembacaan kitab kuning yang lebih inklusif dan responsif gender. Peran ibu nyai dan santriwati dalam melestarikan sekaligus mentransformasikan tradisi kitab kuning menjadi kunci bagi kelangsungan pesantren sebagai institusi pendidikan yang relevan dengan tuntutan zaman, tanpa kehilangan akar tradisi keilmuan yang menjadi ciri khasnya. Demikian dan terima kasih{odie}.</p>
<p>Wallahua’lambishawab.</p>
<p>Pamulang, 22 Juli 2026.</p>
<p>Murodi al-Batawi.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/ibu-nyai-santriwati-dan-kitab-kuning-dinamika-otoritas-pembacaan-dan-transformasi-di-pesantren/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/konsultasisyariah.com/wp-content/uploads/2012/10/kitab-kuning.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Santri dan Soempah Pemoeda</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/santri-dan-soempah-pemoeda/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/santri-dan-soempah-pemoeda/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 28 Oct 2024 01:53:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Santri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=290</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Murodi al-Batawi Dalam tradisi Pesantren, ada adagium berbunyi أنتم شبان <a class="read-more" href="https://gerbangbetawi.com/santri-dan-soempah-pemoeda/" title="Santri dan Soempah Pemoeda" itemprop="url"></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Dalam tradisi Pesantren, ada adagium berbunyi أنتم شبان اليم رجال الغد, “Kalian Pemuda, akan menjadi pemimpin di masa datang. Adagium ini merupakan bagian dari Mahfudzat, sebuah kitab berisi ungkapan, pepatah atau kalimat baik yang menjadi bahan pelajaran yang mesti dihafal di luar kepala. Hampir sebagian besar para santri dan penghuni pondok pesantren sudah mengetahui kalimat itu semua, bahkan sudah menghafal dan mengetahui apa yang akan terjadi di masa mendatang.</p>
<p>Karena unumnya para santri adalah pemuda yang berusia antara 13-18 tahun, maka mereka juga berhak mengetahui peran yang mereka mainkan dalam sejarah bangsa ini, yang sudah berusia 96 tahun. Hampir satu abad peristiwa bersejarah yang dilakukan oleh generasi muda pada 1928, sebuah peristiwa yang mampu mengumpulkan dan menyatukan visi misi kaum muda untuk menuju kemerdekaan Negara Indonesia.</p>
<p>Para pemuda melakukan perkumpulan para pemuda yang datang dari seluruh daerah Indonesia. Mereka mengadakan rapat yang dimulai pada 27-28 Oktober 1928. Mereka menamakan diri dan disematkan asal daerah masing-masing. Ada Jong Java, Jong Islmitent Bond, Perkumpulan Kaum Muda Betawi, Sekar Torkoen Pasundan, Jong Batak, Jong Celebes, dan lain-lain. Semua berkumpul di Jakarta dan mengadakan rapat kaum muda membicarakan langkah-langkah strategis untuk mempercepat gerakan kemerdekaan negara Indonesia.</p>
<p>Setelah mendengar hasil rapat, maka Kaoem Moeda Indonesia pada 28 Oktober 1928, mereka membacakan hasil keputusan yang sudah dirumuskan.</p>
<p>Untuk itu, mereka sepakat menjadikannya sebagai tonggak bagi perjuangan untuk memerdekakan Negara Indonesia.</p>
<h3>Santri dan Sumpah Pemuda</h3>
<p>Lalu pertanyaan yang mesti dimajukan dalam konteks ini adalah di mana peran kaum sarungan saat rapat dan pembacaan teks Soempah Pemoeda pada 1928 itu…?</p>
<p>Dari hasil penelusuran, belum ditemukan tokoh berasal dari pesantren yang terlibat langsung dalam peristiwa Sumpah Pemuda. Kemungkinan, secara tidak langsung ada yang hadir dalam Kongres Pemuda tersebut perwakilan dari kaum pelajar, meski tidak ikut dalam prosesi dan pembacaan teks Sumpah Pemuda pada 1928.</p>
<p>Setelah mereka menyepakati hasil Kongres tersebut, mereka sepakat untuk terus berjuang menggerakkan para pemuda dan masyarakat, termasuk para santri bersatu untuk memerdekakan negara Indonesia yang sangat mereka ciintai.</p>
<p>Hal ini terbukti, para Kyai dan ulama dari seluruh Indonesia sepakat mendukung gerakan kemerdekaan Indonesia. Hal ini terbukti, KH, Hasyim Asyari, mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad yang mampu menggerakkan para ulama dan santri untuk berjuang dan mempertahankan Negara Republik Indonesia dari penjajahan kembali yang ingin dilakukan Belanda dengan mendompleng serdadu KNIL dan tentara Inggris.</p>
<p>Resolusi Jihad boleh dibilang sebagai puncak dari perjuangan umat Islam dan bangsa Indonedia pada umumnya dalam mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesita dsri penjajahan kembali.</p>
<p>Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Santri yang juga kaum muda, telah memainkan peran yang sangat penting dalam pergerakan dan perjuangan kemerdekaan dan mempertahankannya dari kesewenangan bangsa lain yang ingin menjajah bangsa Indonesia yang sudah dimerdekakan oleh para pejuang muslim dari para penjajah Belanda, Jepang dan Inggris.{Odie}.</p>
<p>Wallau ‘Alam bi sl-Shawab.</p>
<p>Pamulang,28 Oktober 2024<br />
Murodi al-Batawi</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/santri-dan-soempah-pemoeda/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn%3AANd9GcRlmImFFa2yYpLipDAC3_CmEvMv-EAraQAFz4XnM8qtm5HtAv9KiRsLPV4&#038;s=10&#038;ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Kitab Kuning dan Tradisi Pesantren</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/kitab-kuning-dan-tradisi-pesantren/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/kitab-kuning-dan-tradisi-pesantren/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 Oct 2024 02:08:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab Kuning]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[Santri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=281</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Murodi al-Batawi Paling tidak, ada empat komponen yang harus diketahui <a class="read-more" href="https://gerbangbetawi.com/kitab-kuning-dan-tradisi-pesantren/" title="Kitab Kuning dan Tradisi Pesantren" itemprop="url"></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Paling tidak, ada empat komponen yang harus diketahui ketika kita berbicara soal pondok pesantren; yaitu, Pondok Pesantren, Kyai, Santri dan Kitab Kuning.</p>
<h3>Pondok</h3>
<p>Pondok merupakan tempat para santri menginap dan beristirahat. Di tempat inilah para santri banyak beraktifitas di luar mengaji atau bersekolah. Para santri dari berbagai daerah yang datang ke suatu pesantren berkumpul. Mereka bertemu, berdiskusi, tidur, terkadang para santri salafiyah memasak dan makan di pondok tersebut. Kegiatan rutin yang mereka lakukan ini terjadi setiap saat. Dari mulai bangun tidur hingga tidur kembali. Mereka belajar kelompok dan berdiskusi tentang materi yang baru diterima dari pimpinan pondok (kyai) atau dari para asatidz. Mereka saling memperkenalkan diri, mulai dati nama, asal usul dan lain sebagainya. Pada beberapa Pondok Pesantren tradisional, Salafiyah, mereka tidur dalam barak yang luas. Mereka, dahuli, membeli kasur sendiri atau cukup hanya tikar sebagai alas tidur mereka. Namun sekarang, hampir semua Pondok Pesantren sudah memiliki kamar untuk para santri, sehingga jarang yang tidur di barak. Mereka tidur di kamar dengan tempat tidur bertongkat dua. Dalam satu kamar ada yang diisi maksimal delapan orang.</p>
<h3>Kyai atau Ajengan dan Tuan Guru</h3>
<p>Sementara Kyai merupakan ungkapan atau gelar yang diberikan masyarakat Jawa, bagi orang yang dituakan atau berilmu. Sementara Ajengan, merupakan gelar keagamaan yang diberikan oleh masyarakat Jawa Barat. Sedang Guru atau Tuan Guru, gelar yang diberikan oleh masyarakat Betawi dan masyarakat Nusa Tenggara Barat. Dan Buya, merupakan gelar yang diberikan oleh masyarakat Melayu Sumatera. Mereka ini adalah role model bagi masyarakat kebanyakan. Kyai, Ajengan, Guru dan Tuan Guru, merupakan seorang alim pemilik pondok tersebut. Ia memiliki kompetensi keilmuan agama yang mumpuni dan memiliki otoritas keilmuan untuk mengajarkannya pada para santri.</p>
<p>Dahulu, sebelum menjadi Kyai dan pemilik Pondok Pesantren, mereka juga pasti pernah monfok pada pondok pesantren tertentu. Bahkan tidak hanya satu pondok mereka belajar mencari ilmu, selesai menguasai suat bidang ilmu tertentu, mereka pindah ke pondok pesantren lain untuk belajar dan mencari ilmu keagamaan lainnya, seperti usai mondok pada Kyai yang mengusai ilmu hadits, ia belajar pada kyai yang mengajarkan ilmu tafsir dan ilmu hadits. Begitulah tradisi rihlah ilmiah yang dilakukan para santri dahulu dan mungkin juga saat ini. Mereka berpindah dari satu kyai ke kyai lain untuk mempelajari ilmu keagamaan.</p>
<p>Selain mengajar para santri, ia juga mengajar para asatidz dan santri senior tentang disiplin suatu ilmu agama tertentu, seperti fiqh, tauhid, tafsir, hadits, nahwu sharaf dan lain-lain.</p>
<h3>Santri</h3>
<p>Santri merupakan para pelajar yang datang pada suatu lembaga pendidikan Islam, semisal Pondok Pesantren, untuk mempelajari bidang ilmu agama Islam. Mereka sengaja mendatangi dan mondok pada suatu Pondok Pesantren, sesuai dengan keinginan mereka untuk belajar bidang ilmu keagamaan yang menjadi minat besar mereka. Biasanya para santri belajar ilmu dasar terlebih dahulu sebelum melanjutkan ke jenjang lebih tinggi lagi. Seperti belajar ilmu nahwu, dimulai dengan mengkaji Kitab al- Jurumiyah, dilanjutkan dengan belajar kitab Nahwu al-Wadhih, kemudian Kawakib al-Durruyah dan al-Fiyah Ibnu Malik.</p>
<p>Untuk mengkaji kitab fiqh, para santri belajar kitab Safinah al-Najah dan lain sebagainya. Dalam tradidi pesantren, kita yang menjadi bahan belajar dan rujukan sering disebut dengan istilah Kitab Kuning.</p>
<h3>Kitab Kuning: Tradisi Pesantren</h3>
<p>Kitab Kuning meripakan sebuah istilah khas Indonesia. Disebut kitab kuning karena hampir sebagian besar kitab tersebut dicetak dengan kertas warna kuning. Dalam Undang-Undang No. 18 tahun 2019 tentang Pesantren telah ditegaskan bahwa kitab kuning adalah kitab keislaman berbahasa Arab atau kitab keislaman berbahasa lainnya yang menjadi rujukan tradisi keilmuan Islam di pesantren.</p>
<p>Sebagai sistem pengetahuan di pesantren, eksistensi Kitab Kuning sudah ada sejak abad 1-2 Hijriyah dan berkembang hingga sekarang. Tradisi literasi keislaman ini mampu tetap bertahan sebab ia memiliki khazanah keilmuan yang sangat luas(Fayumi). Dengan kata lain, Kitab Kuning ini merupakan hasil kreatifitas dan ijtihadi para ulama Pondok Pesantren yang terdiri dari berbagai bidang krilmuan Islam dan mampu bertahan hingga kini karena pesantren telah mengembangkan dan mempertahankan tradisi keilmuan Islam ini dengan baik, sehingga generasi muslim selalu mencarinya dengan mendatangi dan mondok di sebuah pesantren di Indonesia.</p>
<p>Kitab kuning memiliki banyak bidang keilmuan seperti tafsir, hadis, fikih, sejarah, dan lain sebagainya. Dalam bidang fikih saja sangat luas macamnya, misalnya ada fikih umum, fikih ibadah, fikih perkawinan, fikih perdagangan (mu’amalah), fikih perbandingan madzhab, fikih kontemporer, fikih lingkungan hidup, fikih perempuan, fikih politik, dan lain-lain. Selain itu, ada juga macam kitab kuning yang menggunakan model syarakh (penjelasan) sebagai Meski Kitab Kuning menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa yang digunakan. Tetapi, ada Kitab Kuning yang ditulis dalam huruf Arab berbahasa Melayu atau seting disebut dengan Arab Pegon atau Arab Jawi.</p>
<p>Tradisi mengaji Kitab Kuning biasanya dilakukan dengan model pengajaran Sorogan, Wtonan dan Bandongan. Model sorogan, santri biasanya mendatangi Kyai ata Ustadz dengan membawa kitab tertentu untuk dipelajari. Sedang Wetonsn, bissanya santri belsjar Kitab Kuning sesuai waktu yang ditentukan oleh Kyai. Sementara Bandongan, para ssntri membentuk lingkaran untuk mengkaji Kitab Kuning bersama para santri lsinnya. Dsn sang Kyai berada di tengah lingkaran menjadi pengajarnya (Odie).</p>
<p><em>Pamulang,</em><br />
<em>25 Oktober 2025.</em></p>
<p><em>Murodi al-Batawi</em></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/kitab-kuning-dan-tradisi-pesantren/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn%3AANd9GcSnAyyz425nawVnN6xTOJaWkNqrrilbhmqVPQ&#038;usqp=CAU&#038;ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Rihlah Ilmiah  dan Karier Santri</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/rihlah-ilmiah-dan-karier-santri/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/rihlah-ilmiah-dan-karier-santri/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Oct 2024 08:21:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Santri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=274</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Murodi Saat mondok di Pondok Pesantren, kita selalu dididik mandiri. <a class="read-more" href="https://gerbangbetawi.com/rihlah-ilmiah-dan-karier-santri/" title="Rihlah Ilmiah  dan Karier Santri" itemprop="url"></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi</strong></em></p>
<p>Saat mondok di Pondok Pesantren, kita selalu dididik mandiri. Dalam segala hal, termasuk apakah setelah usai mondok di suatu tempat, kita dianjurkan untuk melanjutkan pendidikan di pondok lain atau bahkan ke Timur Tengah, sebagai pusat arus perkembangan ilmu agama Islam, untuk memperdalam suatu bidang ilmu. Hal ini biasa terjadi dalam dunia pesantren dahulu, entah sekarang. Tapi yang jelas, kemungkinan hal itu masih terjadi dalam dunia pesantren model Salafiyyah, juga Khalafiyah. Cara seperti ini bisa terjadi manakala sang Santri belum merasa puas dengan ilmu yang diperolehnya saat dia mondok.</p>
<p>Jadi, berdasarkan saran dan restu Kyai, ia melanjutkan studinya ke pondok pesantren lain, untuk mengaji memperdalam ilmu bidang lain pada Kyai lain. Biasanya, Kyai tersebut adalah sahabat atau kerabatnya yang memang memiliki tingkatan ilmu lebih tinggi dibanding dirinya atau memiliki spesifikasi keilmuan khusus yang dimiliki Kyai tersebut.</p>
<h3>Tradisi Rihlah Ilmiah</h3>
<p>Tradisi _Rihla Ilmiah_ seperti ini menjadi semacam suatu keniscayaan bagi para pencari ilmu. Tujuannya, selain memperdalam ilmu juga membuka jaringan atau sanad keilmuannya untuk memperkuat otoritas dirinya bahwa dia secara otoritatif memiliki kewenangan untuk mengajarkan ilmu tersebut kepada para santri atau pihak lain.</p>
<p>Dengan demikian, maka dia sudah sah disebut seorang _Alim_, yang memiliki wawasan pengetahuan bidang ilmu tertentu. Karena itu, hubungan guru-murid, menjadi lazim di kalangan para pencari ilmu untuk memperkuat sanad keilmuannya. Misalnya, Kyai &#8220;A&#8221; yang ahli dalam ilmu al-hadits belajar kepada Kyai &#8220;B&#8221;untuk bidang fiqh. Begitu seterusnya yang terjadi hubungan keilmuan antara guru-murid jaman dahulu. Suatu saat ia menjadi guru di saat lain ia menjadi murid ketika mempelajari suatu bidang ilmu pengetahuan.</p>
<p>Selain itu, banyak pula santri yang selesai mondok, baik di Pondok Pesantren _Salafiyah maupun Khalafiyah_ yang melanjutkan studinya di dalam dan luar negeri.</p>
<p>Bagi mereka yang studi di dalam negeri, biasanya melanjutkan studinya Perguruan Tinggi Islam, negeri maupun swasta untuk mengikuti jenjang pendidikan S1 sampai S3. Bagi mereka yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri, S1-S3, mereka wajib meng _upgrade_ bahasa dan berbagai pengetahuan lain yang mendukung studi tersebut.</p>
<p>Biasanya, para alumni Pondok Pesantren, banyak yang melanjutkan Studi S1 hingga S3 ke wilayah Timur Tengah untuk kajian keislaman. Setelah lulus, mereka kembali ke negerinya dan meniti karier, mulai jadi _mublalligh_ atau menjadi Dosen merangkap pengurus Ornas Islam, dan bahkan mendirikan Pondok Pesantren dan menjadi Kyai. Dari situlah karier hidupnya dimulai hingga kemudian bisa menjadi tokoh masyarakat yang berkiprah di dunia akademis dan non akademis.</p>
<p>Bagi para santri yang mau melanjutkan studinya di Barat, biasanya mereka menyelesaikan studinya di Indonesia atau di negara-negara non Barat, seperti Mesir. Usai menamatkan pendidikan S1, biasanya mereka berkompetisi untuk memperoleh beasiswa ke luar negeri. Jika berhasil, mereka lanjut studi S2 dan S3. Bila demikian, mereka menjadi intelektual muslim muda berbakat yang dapat meniti kariernya dengan baik. Karena banyak lembaga yang ingin menampung mereka sebagai orang yang bisa diandalkan dalam pengembangan keilmuan dan pengembangan lembaga. Jika nasib baik, karier terus melonjak, bahkan banyak pula yang menjadi politisi, pengurus partai dan anggota dewan, menjadi menteri, bahkan menjadi wakil presiden RI, seperti Prof. Dr. KH. Ma&#8217;ruf Amin. Itulah karier yang bisa dititi oleh mantan santri.</p>
<p>Yang jelas, pesantren dan santri satu entitas. Mereka berkewajiban memperdalam ilmu agama, bukan sains dan teknologi. Karena pesantren sejak awal didirikan, sebagai lembaga &#8220;Tafaqquh fi al-Dien&#8221;. Kalau toh mereka melanjutkan studinya, pasti bidang agama dan humaniora, bukan bidang lain, dan juga berkarier dalam bidang keilmuan mereka masing-masing.</p>
<p>Selamat berjuang para santri. Sekali santri, tetap santri.</p>
<p>Selamat Hari Santri Nasional<br />
22 Oktober 2024</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/rihlah-ilmiah-dan-karier-santri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn%3AANd9GcQnDe2cYLrzjTc2-E9FC53gNqVwDisHOfgFHmMREi8eK-ovVSbvb42ukMk&#038;s=10&#038;ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Anak Betawi Jadi Santri: Berbagi Pengalaman di Hari Santri Nasional 22 Oktober 2024</title>
		<link>https://gerbangbetawi.com/anak-betawi-jadi-santri-berbagi-pengalaman-di-hari-santri-nasional-22-oktober-2024/</link>
					<comments>https://gerbangbetawi.com/anak-betawi-jadi-santri-berbagi-pengalaman-di-hari-santri-nasional-22-oktober-2024/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[INzANE]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 Oct 2024 10:59:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Santri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gerbangbetawi.com/?p=270</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Murodi al-Batawi Bagi masyarakat Betawi yang sangat religius, selalu berharap <a class="read-more" href="https://gerbangbetawi.com/anak-betawi-jadi-santri-berbagi-pengalaman-di-hari-santri-nasional-22-oktober-2024/" title="Anak Betawi Jadi Santri: Berbagi Pengalaman di Hari Santri Nasional 22 Oktober 2024" itemprop="url"></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh : Murodi al-Batawi</strong></em></p>
<p>Bagi masyarakat Betawi yang sangat religius, selalu berharap generasi penerus orang tuanya mampu memiliki ilmu pengetahuan agama Islam. Karena itu, semua anaknya disekolahkan di Madrasah, Dininyah dan Madrasah Ibtidaiyah sampai Madrasah Aliyah. Selesai lulus dari Madrasah Ibtidaiyah, mereka kemudian di kirim ke Pondok Pesantren Tradisional dan Pondok Modern. Mereka mondok untuk menjadi santri dan melanjutkan pendidikan mulai dari MTs (Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah). Usai mondok, banyak di antara mereka yang melanjutkan studinya ke Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Syria, Irak, Yordania, Mesir, Tunisia, al-Jazair, Sudan hingga Maroko. Mereka melanjutkan studi S1,S2 dan S3. Jika selesai, umumnya menjadi tenaga pengajar di Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta. Bahkan banyak juga di antara mereka yang menjadi Ustadz fi tempat tinggal mereka masing-masing atau di Masjid dan Mushalla yang sengaja dibuatkan oleh orang tua mereka agar mereka mengisi pengajian di tempat tersebut. Dengan jama’ah penduduk sekitar atau jama’ah yang sengaja berniat mendatanginya untuk mencari ilmu. Mereka dahulu semua adalah para santri, yang pernah mondok di salah satu pondok di Indonesia.</p>
<p>Menjadi Santri:<br />
Sebuah Pengalaman Mengasyikan.</p>
<p>Menjadi santri sekarang tidak mengasyikan, menurut anak muda zaman sekarang. Beda pada zaman dahulu, menurut para santri yang sudah tidak muda lagi. Menjadi santri itu sangat mengasyikan, meski banyak sekali tantangan dan ketidaknyamanannya. Tulisan ini hanya sekadar berbagi pengalaman untuk mereka yang mau menjadi santri.</p>
<p>Saat menjadi santri dahulu, sekira tahun 70 an, waktu yang penuh dengan momen suka dan duka serta bernilai sejarah. Suka, karena kita dipertemukan dengan kawan baru dari berbagai daerah di tanah air. Belajar bersama. Bermain dan bahkan tidur juga bersama dalam barak, kamar atau Kobong. Kita digembleng mandiri dan terus mencari serta belajar ilmu untuk bisa hidup mandiri di kemudian hari.</p>
<p>Dukanya atau tidak enaknya saat tidak punya uang. Menunggu uang kiriman dari orang tua, lama gak datang2. Karena kemungkinan besar, orang tua juga tidak punya uang. Jadi belum bisa kirim uang, Sedih, memang. Habis mau bagaimana lagi. Di tahun itu, belum ada tukang penghantar surat atau kiriman lainnya, termasuk wesel ke pesantren saya yang cukup terpencil di daerah Cijurai, Tegal Panjang, Sukaraja, Sukabumi, perbatasan dengan daerah Cianjur, Jawa Barat. Akhirnya, untuk menyambung hidup, makan seadanya. Kadang, bahkan seringnya, kami ngutang di warung Ceu Odah, Mang Afud dan lainnya. Dibayarnya saat dapat kiriman uang.</p>
<p>Saat itu, memang terasa sulit sekali. Makan dan tidur ala kadarnya. Makan, masak nasi sendiri. Pakai kastrol. Di pinggir kompor ditaruh ikan asin dan terasi. Nasi mateng, ikan dan terasi juga mateng. Langsung diambil dan ditaruh di atas daun pisang atau piring kaleng. Meski panas, langsung diembat. Dimakan. Lauknya ikan asin dan terasi. Semua itu terasa nikmat sekali. Terlebih ditambah sambal terasi dan lalaban daun singkong, daun pepaya atau daun genjer. Boleh dibilang, saat itu, semua makanan tak bergizi baik. Tapi, itulah kenyataan hidup sebenarnya ketika hidup sebagai seorang santri Pondok Pesantren.</p>
<p>Untungnya, Pondok Pesantren saya di pedesaan, dekat dengan persawahan yang dikelilingi perbukit an nan hijau. Untuk menambah gizi, kadang seminggu 2 atau 3 kali saya mencari belut di malam hari. Lumayan buat perbaikan gizi. Selesai mencari belut, kami olah seperti digoreng untuk lauk makan malam dengan nasi liwet yang enak sekali. Itu kami lakukan sehabis ngaji dan belajar bersama di malam hari sekira pukul 23.00-24.00. Larut malam, memang. Tapi itulah waktu yang kami miliki untuk bisa melakukan hal ini.</p>
<p>Hal yang paling menyenangkan kalau diundang tahlilan, acara maulid atau isra mi&#8217;raj oleh masyarakat sekitar pondok. Kita ikut zikir bersama. Mendengarkan ceramah. Makan bersama. Terkadang, pulang dibungkusin buat dimakan lagi di kamar.</p>
<p>Kalau tidur, juga ala kadarnya. Tidur di atas tikar di atas bale bambu atau papan kayu. Dingin hembusan udara malam di tengah perbukitan. Tidur tidak nyenyak, karena banyak Tumila (bangsat). Badan habis korengan karena selalu digaruk akibat gigitan tumila (bangsat). Dan ini pasti dirasakan oleh para santri.</p>
<p>Hal menarik lainnya soal mandi. Kalau mau mandi, kita harus antre. Sebelum subuh, sekitar pukul 3.30 pagi, kita sudah dibangunkan siap-siap pergi ke masjid untuk persiapan Shalat Subuh berjama&#8217;ah. Sebelum itu, kita sudah mandi. Sebab, kalau kesiangan, kita harus antre. Kalau siang hari, kami biasa mandi di sungai yang airnya masih sangat jernih. Hampir setiap hari kami mandi di sungai dekat Pondok Pesantren.</p>
<p>Pernah suatu ketika, saat mandi berbarengan dengan bebek. Kita mandi dari air saluran yang akan masuk ke kolam, bebek di saluran itu mencari makan, mandi dan buang kotoran. Jadi gak bersih mandinya dan badan gatel-gatal jadinya.</p>
<p>Meski cukup perih menanggung beban di pesantren, tapi, semua itu merupakan pelajaran berharga dan momen penting dalam meniti kehidupan. Belajar Kitab Kuning dan buku-buku klasik lainnya menjadi kegiatan rutin. Melalu metode Sorogan, Wetonan atau Bandongan, kami belajar. Dan alhamdulillah, berkat bimbingan Kyai/ Ajengan serta para asatidz, ilmu itu kami peroleh sebagai bekal buat kehidupan di kemudian hari.</p>
<p>Bisanya, saya dan kawan-kawan santri lainnya mengkaji ulang secara berkelompok materi yang diperoleh dari Kyai dan para asatidz di malam hari. Dan itu kami lakukan setelah pengajian malam, sekitar pukul 22-24 malam hari, sehingga kami betul-betul paham materi dari kitab yang kami kaji.</p>
<p>Dan saat melanjutkan studi lebih lanjut, kuliah, misalnya, tampaknya semua yang diajarkan di lembaga pendidikan tradisional tersebut, sudah dipelajari di pesantren. Jadi, gak mulai dari awal. Tinggal pendalaman saja.</p>
<p>Ada hal menarik dari pengalaman saat nyantri di Pondok Pesantren, tidak ada bullying. Semua santri memiliki posisi dan status yang sama. Tidak ada senioritas-junioritas. Bahkan, saling bantu dan mengingatkan. Jika kita punya masalah, baik masalah dalam bidang keuangan maupun materi pelajaran. Saling bantu dalam mengatasi masalah tersebut.</p>
<p>Untuk itu, ijinkan kami mengucapkan banyak Terima Kasih kepda para Kyai/Ajengan dan para asatidz serta para sahabat santri lainnya yang telah membimbing, mengarahkan dan menggembleng kami, dan teman belajar yang asyik, hingga kami menjadi manusia mandiri dan bermanfaat untuk umat, bangsa dan negara.</p>
<p>Terima Kasih Kyai/Ajengan dan para Asatidz, yang telah mengajari kami berbagai ilmu agama dengan penuh keikhlasan dan kesabaran. Mengajari kami kemandirian, kesabaran dan keikhlasan untuk kehidupan masa depan saya lebih baik lagi.</p>
<p>Insyaalah, semua itu bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa. Amiin.</p>
<p>Kini, para santri itu sudah menjadi pengabdi dan penyebar ilmu. Dan banyak sahabat santri yang sudah lebih dahulu menghadap Allah swt. Sementara ada Kyai, ajengan dan para asatidz, yang telah berjuang keras mengajari kami, telah berpulang ke rahmatullah. InsyaAllah Husnul Khatimah dan Surga tempat mereka semua.</p>
<p>Untuk itu, izinkan saya mendo’akan mereka melalui pembacaan Qs al- Fatihah.</p>
<p>( لهم الفاتحة)Lahum al-fatihah</p>
<p>SELAMAT HARI SANTRI NASIONAL.</p>
<p>22 OKTOBER 2024.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://gerbangbetawi.com/anak-betawi-jadi-santri-berbagi-pengalaman-di-hari-santri-nasional-22-oktober-2024/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn%3AANd9GcQ-ZTfXAT6XFbZiGvj0FtFuinLcywEVCnLdQ9ZsBPX6CQQq7FYEomRFq1Y&#038;s=10&#038;ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
	</channel>
</rss>
