Oleh: Murodi al-Batawi.
Di tengah hiruk-pikuk modernisasi dan arus informasi yang deras, eksistensi pondok pesantren di Indonesia tetap menjadi benteng moral dan pusat peradaban. Salah satunya adalah Pondok Pesantren Al-Masyhad yang terletak di Kampung Cijurai, Desa Cikurutug, Kecamatan Cireunghas, (dahulu kampung Cijuray, desa Tegal Panjang, kecamatan, Sukaraja), Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Lembaga pendidikan Islam ini tidak hanya sekadar tempat menimba ilmu agama, melainkan sebuah institusi yang sarat akan sejarah, kontribusi sosial, serta ketahanan dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
Jejak Sejarah dan Peran Strategis
Sejarah Pondok Pesantren Al-Masyhad tidak dapat dilepaskan dari sosok pendirinya, Almarhum Al-Habib Hamid bin Alwi bin Hud Alathas. Beliau dikenal sebagai ulama yang memiliki wawasan keilmuan luas dan mengedepankan akhlak dalam berdakwah. Menurut pengakuan Ketua MUI Kabupaten Sukabumi, KH Fatahillah Nadziri yang juga merupakan pengasuh pesantren ini, peran Habib Hamid sangat sentral, terutama dalam memperkenalkan dan mensyiarkan Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah Sukabumi pada masanya. Di saat banyak pesantren lain belum terbuka dengan organisasi tersebut, Al-Masyhad menjadi pelopor dengan menjadikan kitab kuning (kutub al-turats) sebagai rujukan utama dalam memperkenalkan paham Ahlussunnah Wal Jama’ah An-Nahdliyah .
Pesantren ini didirikan setelah Habib Hamid menikahi putri dari Ajengan Ahmad Nadzir, seorang tokoh ulama kharismatik di Cijurey. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Masyhad lahir dari persilangan dua garis ulama besar, yang kemudian memperkuat posisinya sebagai pusat penyebaran ajaran Islam yang moderat dan berpegang teguh pada tradisi. Bahkan, pesantren ini menjadi tempat bagi para Ajengan (kyai) dari berbagai pondok untuk menimba ilmu dan mengenal organisasi keagamaan. Warisan ini terus dijaga oleh generasi penerus, termasuk KH. Aly Abdil Barr, M.Ag., yang memimpin pesantren di era kontemporer.
Konsep Pendidikan dan Kemandirian.
Pondok Pesantren Al-Masyhad, sebelum menerapkan sistem pendidikan yang terpadu, seperti sekarang ini, sekira awal tahun 70-an, masih menerapkan sistem pesantren tradisional, seperti sorogan, wetonan dan bandongan. Mengkaji kitab kuning (Kutub al-turats), seperti kitab safinatunnajah, fathul mu’in, fathul qarib) dan lain sebagainya, meski sudah ada bangunan sekolah ala kadarnya.
Sejak awal, pesantren ini tidak terpisah dengan masyarakat sekitar. Bahkan mereka menyatu dengan kehidupan pedesaan dengan masyarakat di sekitar pondok pesantren al-Masyhad, Cijuray. Setiap hari Jum’at, pintu rumah masyarakat Cijuray dan sekitarnya selalu terbuka untuk menerima tamu para santri. Mereka menyediakan makanan untuk disantap para santri. Gratis tanpa harus bayar. Karena mereka berharap berkah dengan cara seperti itu. Tetapi, kalau para santri makan di warung Mang Apud, Ceu Odah dan Mang Oleh (Soleh) mereka harus bayar. Kadang bagi para santri yang tidak punya, bisa mengutang dengan mencatat di buku atau kalender pemiliki warung. Bayarnya kalau sudah dapat kiriman uang. Selain itu, sebagai akibat keterbukaan dan menyatu dengan masyarakat, para santri dan asatidz selalu diundang saat acara Haulan, Maulid dan Rajaban dan acara lainnya, untuk dzikir tahlil dan do’a bersama. Bahkan ada olah raga volly dan sepak bola yang dilakukan bersama masyarakat.
Tapi sejak 2013 pesantren al-Masyhad sudah banyak perubahan, ketika menerapkan sistem pendidikan Islam terpadu, mulai dari pendidikan dasar hingga menengah, seperti yang terlihat pada keberadaan SMP Al-Masyhad yang didirikan pada tahun 2013. Hal ini sejalan dengan visi pesantren untuk mencetak generasi yang tidak hanya paham agama, tetapi juga memiliki kecakapan hidup. Ciri khas lain yang menarik adalah fokusnya dalam melahirkan para penghafal Al-Qur’an (tahfiz) yang bahkan dikirim untuk belajar ke Yaman, al-Azhar, Mesir dan Saudi Arabia.
Lebih dari itu, Al-Masyhad menunjukkan ketangguhan dalam hal kemandirian ekonomi. Di masa pandemi COVID-19, ketika banyak lembaga pendidikan mengalami krisis keuangan, pondok ini mampu bertahan. Hal ini berkat strategi pengelolaan unit-unit usaha yang dimiliki, seperti bisnis gamis dan koko, serta agribisnis, yang tidak sepenuhnya bergantung pada keberadaan santri. Hal ini memungkinkan pesantren untuk tetap memenuhi kesejahteraan para guru dan staf tanpa harus melakukan pemutusan hubungan kerja. Ini adalah contoh konkret bagaimana sebuah pesantren dapat menjadi ekosistem yang mandiri dan tangguh.
Tantangan dan Relevensi di Era Modern.
Seperti institusi pendidikan lainnya, Al-Masyhad juga menghadapi berbagai tantangan. Di masa pandemi, mereka harus beradaptasi dengan protokol kesehatan yang ketat, mengganti tradisi bersalaman dengan menaruh tangan di dada, serta menyesuaikan kegiatan belajar mengajar. Namun, tantangan terbesar mungkin adalah menjaga esensi ajaran tarekat Alawiyyah yang menjadi basis pesantren ini agar tidak terjadi kesalahpahaman di tengah masyarakat yang semakin plural.
Di sisi lain, keberadaan Al-Masyhad di Sukabumi turut mengangkat citra pesantren sebagai tempat yang tidak hanya “kumuh” dan kuno, tetapi juga asri dan modern. Potret pesantren yang digambarkan memiliki suasana “adem” layaknya tempat healing, dengan fasilitas yang memadai serta dipisahnya area santri putra dan putri, menunjukkan bahwa pesantren ini mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisionalnya.
Penutup
Pondok Pesantren Al-Masyhad adalah cermin dari dinamika pesantren di Indonesia: memiliki akar sejarah yang kuat, berperan penting dalam sejarah kebangsaan (terutama dalam penyebaran Islam moderat), mampu mandiri secara ekonomi, serta adaptif terhadap perubahan. Kontribusi para pendirinya, terutama Habib Hamid bin Alwi bin Hud Alathas, telah menjadi fondasi yang kokoh bagi perkembangan Islam di Sukabumi. Demikian dan terima kasih[odie].
Pamulang, 05 Agustus 2026.
Murodi al-Batawi.
