Oleh: Murodi al-Batawi
Setiap bulan Rabiul Awal tiba, denyut kehidupan masyarakat Betawi di Jakarta berdetak lebih kencang. Bagi mereka, yang akrab disapa “orang Betawi” atau “orang Jakarta”, Maulid Nabi Muhammad SAW bukan sekadar peringatan tahunan. Ia adalah napas budaya yang telah mengalir selama bergenerasi—sebuah harmoni antara ritual keagamaan dan ekspresi seni yang khas. Tradisi perayaan kelahiran Nabi yang dikenal dengan istilah *Muludan* ini menjadi cermin bagaimana masyarakat Betawi memaknai Islam dengan cara yang unik dan penuh warna.
Ruh Tradisi: Kitab Barzanji dan Samrah Betawi.
Jika ada satu elemen yang paling identik dengan Maulid di Betawi, itu adalah pembacaan Kitab Barzanji. Karya Syaikh Ja’far al-Barzanji ini berisi syair dan prosa yang menuturkan riwayat kelahiran, kehidupan, dan kemuliaan akhlak Nabi Muhammad SAW. Masyarakat Betawi membacakannya secara bergantian bab demi bab dalam berbagai kesempatan—bukan hanya saat Maulid, tetapi juga di acara pernikahan, khitanan, majelis taklim, hingga tasyakuran.
Yang menarik, pembacaan Barzanji di Betawi selalu diawali dengan *tawasul*, yaitu pengiriman doa dan bacaan Al-Fatihah, Surat Yasin, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas untuk sanak saudara yang telah meninggal dunia. Setelah itu, barulah pembacaan Maulid Nabi dilakukan. Tradisi ini menjadi pembeda yang khas dibandingkan tempat lain.
Keunikan lainnya adalah hadirnya Samrah Betawi, sebuah seni pertunjukan teater yang mengiringi perayaan Maulid. Awalnya, Samrah dianggap sebagai seni sakral karena selalu dimainkan setelah ritual Maulid Nabi. Dalam pertunjukannya, Samrah mengangkat kisah-kisah kehidupan masyarakat Betawi—bagaimana menyikapi berbagai permasalahan hidup dengan bimbingan seorang ulama. Unsur Islam sangat terasa, mulai dari lagu pembuka “Assalamualaikum” yang berisi doa-doa, hingga isi lagu yang sarat nasihat tentang hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama .
Tanda Kebersamaan: Petasan dan Nasi Kebuli
Selain Barzanji dan Samrah, ada tradisi yang tak kalah khas: penggunaan petasan dan kembang api. Bagi masyarakat Betawi, petasan bukan sekadar hiburan. Ia adalah kode undangan antar-kampung sebagai media komunikasi tradisional. Bunyi petasan yang meriah mampu menarik perhatian warga dari kampung lain untuk berbondong-bondong hadir di lokasi perayaan. Menariknya, petasan tradisional Betawi dibuat dari bambu atau bledugan yang diberi bahan tertentu, lalu diledakkan dengan air dan percikan api—jauh sebelum petasan pabrikan dikenal.
Tak lengkap rasanya perayaan Maulid tanpa hidangan khas. Nasi Kebuli Betawi menjadi sajian wajib yang menyertai setiap peringatan. Nasi yang kaya rempah ini disajikan bersama daging kambing atau ayam sebagai simbol kemeriahan dan kebersamaan. Dulu, masyarakat Betawi juga menyantap “menu berkah bersama”—makanan yang dibawa dari rumah masing-masing dan dinikmati secara lesehan .
Kitab Maulid Berbahasa Betawi: Akar yang Menguat
Salah satu bukti kuatnya akar tradisi Maulid di Betawi adalah adanya kitab Az-Zahrul Basim fi Athwari Abil Qasim, yang ditulis oleh Sayyid Utsman bin Yahya dalam bahasa Melayu Betawi dengan aksara Jawi . Kitab ini sengaja disiapkan untuk masyarakat Betawi yang gemar shalawat dan maulid, karena selama ini kitab maulid yang beredar umumnya berbahasa Arab yang jarang dimengerti . Kitab ini berisi riwayat kelahiran Nabi, mukjizat, irhash, hingga perangai terpuji Rasulullah—semuanya dalam bahasa yang akrab di telinga orang Betawi .
Ini menunjukkan bahwa tradisi Maulid di Betawi bukanlah sekadar tiruan dari budaya Arab, melainkan hasil akulturasi yang mendalam antara ajaran Islam dan kearifan lokal. Sebagaimana diungkapkan peneliti BRIN Halimatusadiyah, Maulid Nabi, tahlilan, dan Lebaran Betawi adalah “bukan hanya ibadah, tapi juga ekspresi budaya yang melekat dalam keseharian warga” .
Ancaman di Tengah Modernisasi
Namun, di balik kekayaan tradisi ini, ada kabar yang memprihatinkan. Halimatusadiyah mencatat bahwa banyak tradisi Maulid di Betawi kini hanya tinggal kenangan akibat penggusuran kampung dan hilangnya mushola . Lebaran Betawi yang dulu menjadi ritual warga kini diadakan di panggung besar Monas, “lebih terasa sebagai konten wisata daripada ritual budaya warga” . Samrah Betawi pun, yang dulu merupakan pertunjukan sakral, kini sering menjadi hiburan semata karena tidak lagi disandingkan dengan ritual Maulid Nabi .
Menjaga Warisan untuk Generasi Mendatang
Di tengah gempuran modernisasi dan arus informasi yang deras, tradisi Maulid Betawi membutuhkan perhatian serius. Bukan untuk dibiarkan menjadi museum, melainkan untuk dihidupkan kembali dengan cara yang relevan dengan zaman. Sebagaimana dicontohkan di Masjid Al-Alam Marunda pada 2010, perayaan Maulid dapat dipadukan dengan budaya Betawi seperti ondel-ondel, tari zapin, dan sajian lesehan di sepanjang jalan—sebuah upaya melestarikan tradisi sekaligus memperkenalkannya kepada generasi muda .
Masyarakat Betawi pada umumnya adalah penganut Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang menjunjung tinggi tradisi puji-pujian dan shalawat kepada Nabi . Perayaan Maulid bukanlah sekadar seremonial. Ia adalah momen untuk mempererat silaturahmi, menjaga keutuhan masyarakat, dan meneladani akhlak mulia Rasulullah—nilai-nilai yang tak pernah lekang oleh waktu. Sudah saatnya kita bersama menjaga warisan budaya ini agar tidak punah ditelan zaman. Demikian dan terima kasih(odie).
Wallahua’lambishawab.
Palembang, 29 Agustus 2026.
Murodi al-Batawi.


